
Sementara itu Edward bersama dengan rombongan Alena dan beberapa pengawalnya kini sudah memasuki halaman rumah, terlihat Kirana sudah menyambut kedatangan mereka di depan pintu
Sambil berlari kecil Kirana membantu Alena membawa beberapa tas masuk ke dalam rumah, sementara Edward dan Kaisar kini sudah berjalan masuk ke dalam menyusul keberadaan Kirana dan Alena
Sampai di dalam kamar, Alena segera masuk ke dalam kamar mandi kemudian membersihkan dirinya, saat Alena keluar terlihat Edward sudah duduk di sofa sambil menyandarkan kepala dan tubuhnya, sesaat terlihat betapa suaminya itu merasa sangat cemas dengan keadaannya
Alena segera berganti pakaian kemudian perlahan berjalan mendekati Edward dan duduk disampingnya
"Honey, aku minta maaf sudah membuatmu cemas dan tidak berkata jujur tentang keadaanku selama di Surabaya"
Edward menegakkan tubuhnya lalu melihat ke arah Alena
"Bee, kau tahu, aku paling tidak bisa mendengar kamu dalam bahaya apalagi sampai melihatmu mengalami kesulitan seperti itu, kabar dari Pak Hari sempat membuatku murka" ucap Edward
"Aku tau Honey, maafkan aku ya, aku juga tidak menyangka akan terjadi hal itu, tapi untunglah ada Kaisar dan para pengawal yang selalu menjagaku"
"Dan kau kira, aku sebagai suamimu suka melihat dirimu menghadapi bahaya saat tidak berada di sampingku?" Ucap Edward dan membuat Alena langsung terdiam
Masih menahan emosi di dadanya, Edward segera beranjak dan pergi meninggalkan Alena menuju ke ruang kerja, tampak Alena terdiam dan merasa dirinya sangat bersalah sudah membuat suaminya menderita karena memikirkan dirinya
Alena segera berpindah tempat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sesaat matanya terpejam dan tanpa disadari air matanya menetes, diusapnya lembut perutnya sambil berkata
"Maafkan mommy sayang, sudah membuatmu berada dalam bahaya dan sekarang Deddy mendiamkan mommy mu, Apa kalian bisa membantuku?" ucap Alena lirih
Alena tersenyum saat merasakan anak-anaknya sedang merespon perkataannya dengan menendang beberapa bagian di dinding perutnya
Hingga akhirnya Alena tertidur karena tubuhnya merasa sangat kelelahan
*
Sementara itu di tempat lain tampak dua orang laki-laki sedang melakukan sesuatu yang berhubungan dengan foto dan rambut Alena, Sang guru spiritual segera melakukan rencananya untuk mengirimkan ilmu hitam ke dalam tubuh Alena
Diawali dengan sebuah ritual yang biasa digunakan oleh seseorang yang memuja ilmu sesat, maka Laki-laki setengah baya itu mengucapkan sebuah mantra-mantra yang terdengar mengerikan
Tentu saja Redrik yang menemaninya hanya tersenyum licik karena sudah terbiasa melakukan hal ini saat melawan musuh-musuh bisnisnya yang tidak bisa dia kalahkan lewat persaingan yang sehat
Satu persatu tatanan Ritual sudah di jalankan, terlihat sang guru spiritualnya sangat serius mengucapkan mantra hingga membuat yang melihatnya pasti merinding, bau menyengat menyan dan dupa serta wewangian bunga tujuh rupa di lengkapi dengan mau amis dari hewan yang diambil darahnya membuat ruangan itu penuh sesak dengan bau yang memuakkan
__ADS_1
Kini Foto dan Rambut Alena di campurkan kedalamnya, segera mantra yang terdengar keras dan mengerikan sudah di ucapkan, terlihat senyum iblis dari bibir Redrik
"Mampus kau Edward, sebentar lagi kamu akan gila melihat bagaimana istri tercintamu dan anak-anaknya mati mengenaskan" Batin Redrik
Sang guru spiritual itu membuka matanya sambil tertawa penuh dengan kepuasan
"Sudah aku kirimkan tel*uh yang akan membuat wanita itu mati, sesuai permintaanmu, kamu ingin membuat dia kesakitan dulu bukan, untuk itu, malam ini aku kirimkan sesuatu yang akan membuat tubuhnya terasa terbakar"
"Bagus, aku ingin besok mendengar kehebohan yang terjadi di keluarga Bajin*gan Edward yang sudah berani macam-macam denganku!" Ucap Redrik
Kedua manusia iblis itu masih duduk di samping sesaji yang dipersiapkan untuk ritual malam ini
"Apa masih belum ada reaksi Ki?" Tanya Redrik saay melihat lilin yang ada di tengah sesaji masih terpancar tenang
"Sabarlah, sebentar lagi, aku yakin habis ini kau akan tertawa senang melihatnya'' jawab sang guru spiritual
Dan benar sekali, api dari lilin itu mulai bergerak kesana kemari, dari gerakan lambat kini menjadi gerakan cepat
Keduanya terus mengawasi pergerakan lilin itu yang menandakan bahwa kiriman te*luh nya terlihatnya sudah mulai bereaksi terhadap sasaran yang dituju
*
Saat membuka pintu terlihat Edward tertidur di sofa ruangan kerjanya, perlahan Alena mendekati suaminya dan membenarkan posisi kepalanya di ganjal dengan bantal agar tidak sakit
Tiba-tiba saja Alena merasa ada angin dingin yang berhembus dan menghantam tubuhnya, Alena menoleh ke belakang, di lihatnya pintu ruangan itu sudah tertutup
"Aneh, angin dari mana itu tadi" ucap Alena lirih bicara sendiri
Alena tersenyum melihat wajah tampan suaminya sudah tertidur pulas di sofa, Alena mencium kening, mata, hidung dan bibir suaminya perlahan
"Besok jangan marah lagi ya honey, maafkan aku, aku sangat mencintaimu" ucap lirih Alena
Sesaat kemudian Alena beranjak pergi meninggalkan Edward dan berjalan Pelan akan meninggalkan ruangan, belum sampai di pintu ruangan itu, tiba-tiba saja Alena merasakan tubuhnya sangat panas dan terbakar
Alena merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, saat akan melangkahkan kaki, dia melihat bayangan ular yang sangat besar menahan kaki nya hingga membuatnya memekik dan terjatuh
"Akh!"
__ADS_1
Edward yang terkejut mendengar teriakan Alena, langsung membuka matanya dan melihat istrinya akan terjatuh, secepat kilat Edward menyambar tubuh Alena
Edward segera membawa Alena di atas Sofa, ada keanehan yang terjadi, saat tubuh Edward menyentuh Alena Rasa panas di seluruh badannya perlahan menghilang
"Ada apa denganmu Bee?, Kau tidak apa-apa?" Ucap Edward
Alena bukannya menjawab tapi malah memeluk erat kembali suaminya , Edward terkejut Kemudian mengusap lembut punggung istrinya saat berada di dalam pelukannya
"Honey, maafkan aku, jangan marah lagi, aku tidak bisa tidur kalau tidak kamu temani" ucap Alena sambil terisak
"Bee, kamu menangis, hem?" Tanya Edward
"Aku tau aku salah honey, tapi jangan hukum aku dengan mendiamkan ku, aku dan anak-anak kita tidak bisa sedetik saja kau diamkan seperti sekarang ini" ucap Alena sambil menangis
"Bee, jangan menangis, aku minta maaf ya, sudah membuat air matamu menetes, aku janji tidak akan berbuat begini lagi, sudah, jangan menangis lagi Bee, love you so much" ucap Edward sambil menciumi wajah istrinya
Alena tersenyum dan menyeka air matanya, kemudian Edward mengajak Alena dengan menggandeng jari jemari istrinya pergi ke kamar untuk beristirahat kembali
"Kita sholat malam dulu ya Bee, setelah itu kita tidur" ucap Edward
Alena tersenyum dan kemudian mengangguk, Edward yang semakin gemes melihat wajah cantik Istrinya langsung menyambar bibirnya sebentar, kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri
Saat Edward mulai menjauh, rasa panas itu muncul kembali, saat ini semakin dahsyat Alena Rasakan di tubuhnya hingga rasanya ingin pingsan, dengan sekuat tenaga Alena menggedor pintu kamar mandi dengan tubuhnya yang kesakitan menahan panas dan melemah
Bersambung
Author hari ini UPDATE LEBIH DARI SEKALI, Ditunggu ya gaes..
Ikuti juga cerita "SAHABATKU KEKASIHKU" yang semakin seru
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE