
"Ngapain pakek lari-lari, kayak anak kecil saja" ucap Edward
"Kamu itu bikin aku takut Ed"
"Takut apa, aku gak akan nyium lagi, lagian tadi kan gak sengaja, itu darurat"
"Darurat sih memang, tapi kamu juga memanfaatkan"
"Apa yang aku manfaatkan, ciuman kamu kaku gitu, jangan-jangan itu tadi yang pertama, benar Al?"
"Brisik, gak usah tanya-tanya, pikir saja sendiri!"
Edward langsung tersenyum mendengar jawaban Alena, apalagi sekarang Alena ngomong tanpa berani menatap wajahnya, itu semakin membuat Edward geli sendiri
Sampai di Apartemen Delia, Alena langsung masuk, mendapati ruangan tengah sudah remang-remang, Alena berjalan dengan pelan-pelan dan
Ceklek
Ruangan langsung kembali terang benderang setelah lampu dihidupkan, Alena langsung meringis kambing melihat kedua temannya yang sudah berlagak seperti jaksa yang mengadili penjahatnya
"Kamu itu dari mana saja, jam segini baru pulang" ucap Delia bersedekap
"Anak perawan keluyuran malam-malam, jam berapa ini baru pulang!" sahut Amaya sambil mendudukkan dirinya di sofa
Sumpah ni ya, Author ngebayangin posisi Alena saat ini seperti anak yang lagi disidang orang tuanya, wkwkwk
"Maaf, tadi ada keadaan darurat jadi gak bisa langsung pulang, bukannya aku dah nitip pesan sama Adit untuk bilang ke kalian, emang Adit gak bilang apa-apa?" jawab Alena ikut duduk di samping Amaya
"Bilang sih, kamu keluar ada perlu sama Edward, tapi kenapa Sampek hampir subuh gini, emang apa yang kalian lakuin?"
"Kalian gak usah mikir macem-macem, aku sama si kampret itu gak ngelakuin apa-apa, malah pengen nonjok muka tu orang aja aku, kesel, udah deh, aku ngantuk mau tidur dulu!" Ucap Alena nyolot sambil nylonong masuk ke kamar untuk tidur
"Hah, kok malah dia yang nyolot kak, bukannya harusnya kita yang marah ni, dasar bocah gila" ucap Amaya
"Bodo ah, yok tidur lagi, kamu tidur di kamarku aja, biar Alena tidur sendirian, tuh anak kayaknya capek banget, besok kita lanjut interogasinya"
"Ok, siap kak,yok"
Alena yang habis keluar dari kamar kamar mandi langsung meluncur di atas tempat tidur dan hampir memejamkan mata saat kemudian melek kembali mendengar suara Handphonenya berbunyi
"Halo, ngapain telpon?" ucap Alena ketus
"Cih, judes amat buk, cuma mau bilang apa yang kamu dengar tentang masalah tadi tolong dirahasiakan" kata Edward
"Iya, aku ngerti"
"Untuk saat ini, sebaiknya kita saling menjauh atau seperti hanya sebatas kenal saja, sampai keadaan aman, masalah ini cukup serius, Orang yang kita temui tadi malam berhasil mereka serang, aku juga belum tau kabarnya sampai detik ini, mudah-mudahan dia selamat, mereka juga mulai mengejar ku untuk menutupi tindak kejahatan perusahaan Setya Rajawali Company terhadap rumah sakit Royal Murrage Hospital"
Alena terdiam, hatinya terasa sakit, khawatir dan sedih mendengar penjelasan Edward
"Al, Al, kamu dengar nggak yang aku katakan, Halo, Al!"
__ADS_1
"Iya Ed, aku dengar semuanya, Ed apa kamu akan baik-baik saja?"
"Hei, apa maksudmu, tentu aku akan baik-baik saja, kau takut aku tidak bisa mengajarimu berciuman?"
"Ish, dasar kau ini, minta dihajar, sudah aku tidur dulu, ngantuk, hati-hatilah Ed!"
"Ok, tidurlah!"
Tut Tut
Sambungan diputus oleh Edward
Alena menarik nafas panjang, pikirannya sudah bercampur aduk, antara takut, khawatir dan Sakit saat mendengar masalah yang dihadapi Edward
"Kok aku jadi mikirin Edward ya, emang tu orang siapa coba, bisanya hanya buat aku kesel aja, tapi kenapa hatiku ikut sakit, ada apa ini, ah bodo, aku ngantuk" Alena ngomong sendiri lalu segera menyelimuti dirinya dan tidur
*
Edward segera meletakkan Handphone nya setelah menghubungi Alena
"Ada apa tuan, bagaimana pertemuan anda tadi, apa berjalan baik?"
"Hem, aku mendapatkan semuanya disini pak hari" sambil menunjukkan map dan sebuah flashdisk
"Apa kita akan mempelajarinya sekarang tuan?"
"Apa istirahatmu sudah cukup pak hari?"
"Sudah tuan"
"Baik tuan"
Edward menyerahkan semua file ke pak Hari, kemudian berjalan masuk kamar untuk segera tidur
*
Pagi hari di Apartemen Delia
"Alena! Bangun! dah siang ini" teriak Amaya membangunkan Alena sambil menggedor-gedor pintu
"Alena belum bangun?" tanya Aditama dari belakang Amaya
"Tau ni bocah, susah banget di bangunin, mana pintu kamar di kunci lagi"
"Emang semalam pulang jam berapa?"
"Jam 3 pagi, keluyuran aja ni bocah semalam sama pak Edward"
Ceklek
Alena membuka pintu kamar dengan wajah bantalnya
__ADS_1
"Kalian ngapain nimbrung depan pintu kamar gini, gak ada tempat lain yang enak gitu?" ucap Alena tanpa dosa
Tak
Amaya menjitak kepala Alena
"Au, apaan sih Am, sakit tau"
"Biar, lagian kamu itu, kita disini Khawatir sama kamu, dibangunin dari tadi gak ada respon, jam berapa ini coba, kamu juga belum makan pagi"
"Iya iya, kamu makin mirip emak-emak yang banyak anak" sambil menutup cepat pintu kamarnya
"Alena!, Awas kamu gak segera keluar, aku dobrak pintunya!" Teriak Amaya
Sementara Aditama hanya tertawa melihat kekonyolan dua wanita yang ada di depannya
"Udah, yok kita ke balkon nyusul Delia, katanya mau nyantai sambil denger aku main gitar"
"Siap dokter Adit, yok, dari pada mikirin bocah gila itu, bikin pusing aja"
Keduanya langsung menuju balkon yang disana sudah ada Delia sedang nyiapkan tempat untuk bersantai, setelah semuanya berkumpul, semuanya segera menjalankan Aksinya, Aditama memetik gitar sambil bersenandung, Amaya ikutan nyanyi, Delia menggerakkan badannya mengikuti alunan musik, beda lagi dengan Alena yang cuma selonjoran sambil memejamkan matanya lagi
*
Di apartemen Edward
"Tuan Edward sudah bangun, sarapan sudah saya siapkan di meja tuan"
"Hem, saya akan sarapan dulu"
Pak Hari masih berkutat dengan laptop dan berkas yang di berikan oleh Edward, sementara Edward masih menikmati sarapan pagi yang dia makan diwaktu tidak pagi lagi
"Bagaimana pak Hari, kau sudah bisa menyalin semuanya?"
"Sudah tuan, semua data yang dibutuhkan untuk melemparkan Setya Rajawali Company ke ranah hukum sudah cukup"
"Bagus, kita akan melakukan negosiasi dulu pak, aku ingin semua uang yang mereka sedot bisa kembali ke Royal Murrage Hospital, jangan sampai kita merugi"
"Baik tuan, setelah semuanya kembali, apa kita akan memberikan pelajaran pada mereka?"
"Hem, beri kejutan kecil saja, dengan menghancurkan perusahaan anak cabang mereka, itu akan memberi efek jera, hingga Jordi Setiawan tidak berani bermain kotor dengan kita"
"Baik tuan, saya rasa itu tidak sulit, hanya saja orang ini berbahaya tuan, mereka bekerja sama dengan para penjahat yang dibayar mahal untuk menghajar bahkan membunuh musuh-musuh bisnisnya"
"Itu aku sudah tau, tenang saja, yang penting kita harus berhati-hati, bukankah kita dulu pernah menghadapi yang lebih dari ini?"
"Iya tuan, tapi tetap jangan sampai lemah, kalau mereka berani bertindak kasar, kita akan menghajar mereka"
"Hem, aku juga sudah lama tidak menggunakan kekuatanku, mungkin mereka bisa ku gunakan untuk melatih kembali kekuatanku"
Keduanya tersenyum saling pandang dan melanjutkan pekerjaannya lagi
__ADS_1
Bersambung
Terimakasih, jangan lupa jejak dukunganya (like komen, vote dll)