
Edward sudah meluncur ke tempat dimana istrinya sedang makan siang, sampai di sana kebetulan sekali semuanya sudah selesai menikmati makanannya, Delia dan kaisar menyapa Edward saat sudah berada di dekat mereka
"Halo pak Edward"
"Hai Ed"
"Halo semua, kalian sudah selesai makan?"
"Hai Honey, kita sudah selesai makan, berangkat sekarang?"
"Tentu saja, Oh ya Del, jangan temui Daniel sekarang ini" ucap Edward
"Hah!, Memang kenapa?"
"Suhu kepalanya sedang panas"
"Maksudnya?" Tanya Delia bingung
"Kamu bisa di hamilnya kalau sampai bertemu Daniel sekarang ini"
"APA!"
Teriak Kaisar, Delia dan Alena bersamaan
Edward membalikkan badan dan berjalan cuek meninggalkan tempat sambil berkata
"Ayo Bee, sadarkan Kaisar biar tidak terbengong "
Alena menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya, dan sesaat kemudian tertawa melihat Kaisar dan Delia masih melongo shock dengan ucapan Vul*gar Edward
TAK
Alena menjentikkan jarinya mengenali jidat Kaisar hingga membuat tersadar
"Ayo kita ikuti Edward Kai" ucap Alena
"Dasar, mulut suamimu itu kalau ngomong makin keterlaluan Al"
"Hihihi, mangkanya kamu cepetan nikah Kai, biar gak panas dingin dengar omongan Edward"
"Gak ada hubungannya" ucap Kaisar
"Adalah, kamu bisa menyalurkan hasrat mu, biar lebih lega, rasanya nik_"
"Cukup Al, jangan diteruskan, lama-lama kamu makin mirip Edward juga"
Alena membungkam mulutnya sendiri yang hampir los dol seperti Edward, Kaisar hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan pasangan suami istri yang makin gila, sementara itu Delia masih berpikir keras dengan ucapan Edward tentang Daniel yang akan menghamili nya
"Sia*lan pak Edward, apa maksudnya coba, apa Daniel lagi ingin_?, AAH!" teriak Delia tiba-tiba dan membuat pelayan yang akan membersihkan mejanya sangat terkejut
*
Edward dan Alena sudah sampai di sebuah Rumah Sakit tempat Arini selama ini di rawat, keduanya kini sudah berjalan masuk menuju kamar perawatan VVIP, Edward menggandeng tangan Alena dengan mesra, beberapa petugas yang berpapasan sampai di buat senyum senyum di buatnya, pemandangan hangat dan mesra dari pasangan yang sangat serasi ini menyihir banyak pasang mata untuk menikmatinya
Hingga kemudian Edward melihat pengawalnya memberikan salam hormat, keduanya segera masuk dan memberikan salam, mendengar suara Edward, Arini tersenyum, namun kemudian dirinya terkejut saat Edward menggandeng seorang wanita yang sangat cantik dan terlihat segar dengan kehamilannya
"Dokter Alena?"
__ADS_1
"Hai Arini, ketemu lagi ya, bagaimana kabarmu?" Ucap Alena mendekati Arini dan memeluknya
"Sa,saya baik Dokter Alena"
"Hei, kenapa kau gugup sekali hem, bukankah kita sudah 3 kali ini bertemu?"
"I, iya dokter, saya hanya tidak menduga anda akan ikut kesini menjenguk saya"
"Sebenarnya Edward sudah sering mengajakku, hanya terkadang waktunya masih belum bisa" ucap Alena
"Dimana Gadis Cantikku, aku tidak melihatnya?" Ucap Edward
"Ambar sedang pamit sama temannya yang ada di Rumah Sakit ini, mereka anak pasien yang kebetulan sering nunggu orang tuanya di rawat disini juga tuan"
"Oh, baiklah, kita tunggu gadis cantikmu Honey" ucap Alena
"Apa kau sedang cemburu Bee?"
"Tentu saja"
CUP
Edward langsung mencium bibir istrinya dan tanpa di sadari ada hati seseorang yang sangat terluka
"Apa ciumanku ini sudah meredakan cemburu mu Bee?"
"Hei, sudahlah Honey, aku bercanda, mana mungkin aku cemburu dengan putri kecil yang pernah kamu ceritakan itu"
Edward terkekeh dan menarik tubuh Alena ke dalam pelukannya ,hingga akhirnya terdengar suara bocah kecil memanggil Edward
Edward dan Alena menoleh ke belakang kemudian Edward segera menangkap tubuh bocah itu, Ambar kini sudah berada dalam gendongannya
"Ayah, Ambar kangen"
"Ayah juga"
"Ayah, siapa Tante cantik ini, seperti bidadari dalam buku dongeng yang Ambar pernah lihat"
"Oh ya, mungkin wanita ini memang bidadari yang diturunkan untuk mendampingi ayah"
"Apa, jadi ayah punya bidadari?"
"Hahaha" Edward dan Alena tertawa bersamaan mendengar celoteh dan ekspresi lucu Ambar yang terkejut saat melihat Alena, kemudian Alena mengulurkan tangan
"Kenalkan, namaku Alena, bidadari ayah Edward, apa kamu Ambar bocah kecil yang cantik, baik hati dan sangat kuat?"
"Iya, saya Ambar, boleh saya panggil Tante Alena?"
"Hei, itu tidak adil, Ambar harus panggil bunda ya, kan Ambar sudah panggil Ayah Edward"
"Oh, jadi Ayah Edward sama bunda Alena?"
"Yap, setuju" ucap Alena
"Tapi, bukannya Ayah Edward sama ibu Arini?"
"Uhuk-uhuk"
__ADS_1
Arini yang sedang minum langsung tersedak
Edward sangat terkejut mendengar perkataan Ambar, sedangkan Alena hanya tersenyum sambil mendekat ke wajah Ambar
"Siapa yang bilang begitu?" Tanya Alena
"Ambar sini, jangan ngomong sembarangan, ibu gak pernah ngajari Ambar kurang ajar ya!" Bentak Arini dan membuat Ambar ketakutan sambil berjalan pelan ke arah Arini
"Hei sudahlah, Ambar hanya anak kecil, masih belum memahami apa yang dia ucapkan" kata Alena
Edward segera mencairkan suasana dengan menyuruh Arini dan Ambar bersiap untuk pulang, kali ini Alena ingin ikut mengantar sampai di rumah Arini yang pernah di ceritakan oleh Edward, dan tak berapa lama akhirnya sampai di rumah Arini, betapa pemandangan yang sangat membuat Alena hampir menangis, Edward mengusap punggung Alena untuk menguatkan hati Alena yang sangat sedih melihat keadaan rumah Arini dan Ambar
"Kalian ikut aku saja, tidak usah tinggal disini lagi" ucap Alena tiba-tiba dan membuat Edward dan Arini sangat terkejut
"Bee?"
"Honey, aku tidak bisa melihat mereka harus tinggal di rumah seperti ini, ini tidak layak untuk dihuni, apalagi ada Ambar yang masih sekecil itu" ucap Alena
"Maaf dokter Alena, kami sudah terbiasa, tidak apa-apa"
"Tidak bisa, kamu kira aku bisa tidur dengan tenang melihat kalian seperti ini" ucap Alena
"Tapi saya tidak ingin merepotkan tuan Edward dan Dokter Alena lagi?"
"Sudahlah, istriku sedang hamil, turuti saja apa maunya ya" ucap Edward ke Arini yang kini sudah terdiam dan mengangguk
Sementara Alena berjalan keluar dari rumah Arini dan menghubungi seseorang untuk menyiapkan satu apartemen sederhana yang di beli atas namanya, tak butuh waktu lama, kemudian Alena kembali lagi untuk menjemput Arini dan Ambar
"Ambar, yok kita pergi ke rumah ambar yang baru" ucap Alena
"Apa, Asik, Ambar akan punya rumah baru Bu, ayo Bu" ucap Ambar
Edward tersenyum dan mendekati istrinya, mencium keningnya perlahan dengan penuh kasih sayang, kemudian memeluknya dengan erat
"Terimakasih Bee, aku bersyukur memiliki mu my love" bisik Edward lirih di telinga Alena dan membuat Alena juga tersenyum
"Kita punya segalanya honey, untuk apa semua harta yang kita punya kalau tidak ada manfaatnya untuk sesama, jangan sampai kekayaan yang kita miliki membuat kita malah miskin hati"
Edward tersenyum dan bersyukur berulang kali dalam hati, sudah diberikan seorang wanita yang luar biasa di dalam hidupnya
Bersambung
PERHATIAN
Author akan tetap UPDATE SETIAP HARI
Sampai Novel ini tamat
Author minta tolong ya..mampir dong di karyaku"SAHABATKU KEKASIHKU", aku ucapin makasih sekebon buat pembaca setiaku yang udah mampir, yang belum, ayoo buruan,.muach muach
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1