Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 122


__ADS_3

Sementara itu pak hari dan Raka berada di suatu ruangan membicarakan suatu hal


"Aku akan mengaktifkan pelacak yang ada pada nona Alena" ucap pak Hari


"Hah, maksut bapak, anda memasang pelacak di dalam tubuh Alena?"


"Bukan dalam tubuhnya, tapi tuan Edward memasangnya di sebuah liontin yang selalu di pakai nona Alena"


"Oh, jadi begitu, rupanya pak Edward selalu mempersiapkan segalanya"


"Tentu saja, dia tidak akan membiarkan orang yang sangat dicintainya sampai kenapa-napa"


"Iya, tentu saja" jawab Raka


Tak berapa lama akhirnya di temukan keberadaan Alena oleh pak Hari, keduanya langsung menuju ke tempat itu dengan beberapa orang terlatih nya


*


Alena sangat terkejut ternyata Valentino yang telah merencanakan semua penculikan ini


"Kenapa kamu melakukan ini Valen, aku tidak pernah punya masalah denganmu" ucap Alena heran


"Sejak bertemu denganmu, hatiku bermasalah dengan mu Alena, dan kau sudah mempermalukan ku dengan menolak dan menghajar ku di depan umum, apa kau lupa itu cantik?" Ucap Valentino sambil berjalan maju terus mendekati Alena yang sudah mundur ke belakang


"Itu karena kamu yang memaksaku Valen!"


"Dan sekarang aku terpaksa harus berbuat ini juga untuk memilikimu Alena" ucap Valentino dan segera menarik Alena ke dalam pelukannya


"Lepaskan!, Jangan berani menyentuh ku!" Teriak Alena


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan Alena!" Teriak Delia


"Jangan kurang ajar, lepaskan Alena!" Teriak Amaya


Anak buah Valentino segera mengamankan Delia dan Amaya dengan mendorong mereka untuk kembali duduk


Valentino terus memeluk paksa Alena dengan kuat karena tubuh Alena yang terus bergerak memberikan perlawanan


"Diam!, atau aku akan menyakiti kedua temanmu" ancam Valentino dan membuat Alena terpaksa diam


Valentino melanjutkan aksi bejatnya lagi, dipegangnya wajah Alena, di lihatnya wajah wanita yang dipujanya dengan lekat, jari-jarinya menelusuri wajah Alena hingga menjatuhkan sentuhannya di bibir ranum milik Alena


"Aku sangat menyukai semua yang ada padamu Alena, matamu, hidungmu juga bibirmu, berikan semua padaku sayang"


CUIH


Alena langsung meludahi wajah Valentino


"Aku tidak akan sudi menyentuhmu apalagi harus menyerahkan diriku, jangan bermimpi Valentino" ucap Alena


"Kurang ajar, kau berani meludahi ku Ha!" Teriak Valentino


PLAK


Valentino menampar Alena dengan keras, dan sesaat kemudian langsung memaksa untuk mencium bibirnya, namun aksinya berhenti saat melihat ada liontin yang mengeluarkan sinar berkedip-kedip dari balik hijab Alena


Valentino segera mengambil Liontin itu dengan paksa


"Kembalikan liontin itu, jangan berani mengambilnya!" Teriak Alena


Valentino tidak menggubris dan mengamati liontin itu dengan teliti, hingga dia menyadari sesuatu


"Sh*it, liontin ini di pasangi alat pelacak, hancurkan dan kita segera berpindah ke tempatku, disini sudah tidak aman!" Teriak Valentino


Alena segera di bawa oleh Valentino untuk berpindah tempat, sedangkan Amaya dan Delia di bawa oleh ketua penjahat bersama masuk ke dalam mobil Valentino


*


Didalam pesawat, Edward terdiam memikirkan sesuatu, terkadang matanya terpejam sambil menghela nafas panjang, Daniel memperhatikannya dan sangat tau kalau saat ini Edward sangat mencemaskan keadaan istrinya


"Tenanglah Ed, Alena bukan wanita lemah, dia pasti akan selamat"


"Aku tau, kalau sampai terjadi sesuatu dengannya, lebih baik aku mati Niel"


Keduanya kini terdiam dengan kekhawatiran masing-masing, tak lama kemudian di kagetkan dengan suara handphone Edward yang berdering


"Assalamualaikum, Edward?"


"Waalaikumsalam, iya Lex"


"Apa yang terjadi, kenapa ada berita seperti ini, kau dan Alena baik-baik saja?"

__ADS_1


"Iya, itu hanya rekayasa, tidak ada kejadian apa-apa antara aku dan wanita itu"


"Wanita ini dari keluarga Zerald?"


"Iya Lex, kenapa?"


"Tidak ada, hanya ingin memberi pelajaran kepada keluarga Zerald agar lebih baik dalam mendidik anaknya"


"Terserah, apa kau sedang di luar negeri?"


"Aku ada urusan bisnis di Rusia"


"Hem, semoga sukses"


"Selamatkan Alena, jangan berani membohongiku lagi, aku bahkan bisa merasakan detak jantung adikku di manapun aku berada, aku mengandalkan mu Edward, Assalamualaikum"


Tut Tut Tut


Sambungan telpon terputus tanpa sempat Edward menjawab salam saking terkejutnya ketika Alex ternyata mengetahui keadaan Alena yang sebenarnya


"Sh*it, apa-apaan ini Ed, Alex bahkan bisa mendeteksi keberadaan Adiknya hanya dengan detakkan jantungnya" ucap Daniel tercengang


"Aku juga kaget Niel, bagaimana bisa Alex melakukan hal itu, kekuatannya sangat luar biasa"


Tak lama kemudian keduanya sudah mendarat di Surabaya, dan langsung menghubungi pak Hari untuk memberitahu posisinya, Edward pun langsung menyusul keberadaan Pak Hari dan Raka


Setelah mereka tiba di tempat terakhir terlacak nya liontin Alena, betapa terkejutnya Raka dan pak Hari ternyata tempat itu kosong, Edward berjalan masuk dan memperhatikan sekeliling, pandangan nya jatuh di sebuah kalung dengan liontin yang tergeletak di sebuah meja


"Sh*it, Baji*ngan, mereka sudah memindahkan Alena" ucap Edward sambil memukul meja hingga hancur


"Sepertinya mereka menyadari kalau tempat ini sudah terlacak tuan" sahut pak Hari


"Apa tidak ada cara lain untuk kita melacaknya lagi?" Tanya Daniel


"Sebaiknya kita berpencar, aku dan Daniel akan mencari di tempat Apartemen Monalisa" ucap Edward


"Saya dan Raka akan ke tempat Valentino, karena kecurigaan saya mengarah ke sana" sahut pak Hari


Akhirnya mereka berpencar, kini petunjuk keberadaan Alena benar-benar pudar


Saat Raka dan Pak Hari menuju ke suatu tempat, tiba-tiba saja Anggel menelponnya


"Ka, kamu ada dimana, ini gawat Ka!"


"Valentino Ka"


"Ada apa dengan Valentino?"


"Dia menculik Alena dan sekarang ada di rumah lamanya, ini tadi kebetulan aku mau mengambil sesuatu yang tertinggal di rumah itu, waktu aku mau masuk aku melihat Valen dan kedua temannya di bawa kedalam dengan tangan terikat"


"Bang*sat, ternyata benar dugaan kita, apa kau bisa memberi tau tempatnya Anggel?"


"Aku kirim alamat nya"


"Baik, kamu menjauh lah dari tempat itu Anggel dan tunggu aku"


"Iya Ka"


Kemudian Raka segera melaju dengan kencang ke tempat yang di berikan oleh Anggel, pak Hari segera menghubungi Edward dan mengirim kan titik koordinat dimana Alena berada saat ini


*


Alena dan kedua sahabatnya di hempas kan ke sebuah kamar dengan mata yang masih tertutup dan kedua tangan terikat, sesaat kemudian penutup matanya di buka dan terlihat ada Valentino dan beberapa orang di sana menutup pintu dan meninggalkan Alena


Amaya teringat sesuatu dan segera menyuruh tangan Delia yang terikat ke belakang untuk mengambil handphone yang masih ada di saku celananya dan berhasil, seketika itu juga tangan Amaya memencet nomor Aditama


"Halo Dit, ini aku, kita sedang di culik, lacak nomor handphone ku, cepat"


Tut


Tiba-tiba saja Handphone Amaya Mati karena kehabisan baterai


"Aduh, kak, bagaimana ini?" Ucap Amaya


"Sudahlah, aku yakin Aditama mendengar dan sedang melacak nomermu Am"


"Dimana kita Al?" Ucap Delia langsung mendekat ke arah Alena, begitu juga dengan Amaya


"Aku juga tidak tau kak, tapi ini seperti sebuah kamar, paling tidak masih lebih baik dari pada yang tadi" ucap Alena


"Al, pipimu sedikit membiru, kau tidak apa-apa?" Tanya Amaya

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, hanya bekas tamparan saja Am, tenanglah" jawab Alena


Tiba-tiba saja terdengar keributan dan beberapa kali suara tembakan dan juga pukulan di luar sana, beberapa jam kemudian seseorang di lempar ke dalam ruangan Alena


BRUG


Alena dan kedua temannya sangat terkejut ternyata Aditama jatuh tersungkur disana, Amaya segera berlari dan menangis mendekati Aditama


"Sayang, bangunlah, kau tidak apa-apa?" Teriak Amaya


"Am, kau baik-baik saja, kalian baik-baik saja?" Ucap Aditama ketika mendapati Amaya dan yang lainya berada di ruangan yang sama


"Kita baik, kenapa kamu ke sini sendirian Dit, mereka orang-orang yang sangat berbahaya" ucap Alena


CEKLEK


Suara pintu terbuka dan semuanya terdiam


Ada seringai mengerikan dari tiga orang yang sedang menghampiri mereka, tak lain adalah Valentino dan Dua orang tangan kanannya, Valentino mendekat ke arah Alena dan menariknya kembali dalam pelukannya


"Aku akan memberikan sebuah tawaran cantik, aku akan membebaskan mereka dengan selamat, tapi dengan syarat kamu mau menjadi milikku dan melayaniku secara suka rela"


DUK


Alena membentur kan kepalanya mengenai hidung Valentino hingga berdarah


"Bang*sat!, Kau menyakitiku lagi Alena!" Teriak Valentino


"Itu pantas untukmu, Baji*ngan!" Ucap Alena


Valentino semakin marah dan berusaha lagi mencium bibir Alena, namun Alena berusaha menghindari dan meronta


Amaya, Delia dan Aditama berteriak untuk mencegah perbuatan Valentino tapi percuma, kedua anak buah Valentino sudah memegangi ketiganya, hingga Delia dan Amaya menjerit dan menangis tidak tega melihat Alena


DUG


Kaki Alena berhasil menendang Valentino hingga terhuyung ke belakang


Valentino semakin murka dan kehilangan akal sehatnya


"Kurang ajar kau Alena!, Kalian berdua panggil dua orang lagi, dan perkosa ke dua wanita itu, sekarang!"


"Baji*ngan, jangan berani menyentuh teman-temanku!" Teriak Alena dan lari berada di depan kedua temannya untuk melindungi


"Bangsat!, Lawan aku baji*ngan, jangan menyakiti wanita!" Teriak Aditama dan lari menyerang Valentino, namun usaha nya sia-sia, tubuhnya di pukul hingga terjatuh di lantai


Saat satu pukulan sebuah tongkat bisbol hampir mendarat di kepala Aditama, Alena langsung berlari melindungi Aditama dengan tubuhnya


BUG


Alena terpelanting saat pukulan itu mengenai tubuhnya


"Alena!"


Teriak Delia, Amaya dan Juga Aditama


Semuanya tidak menyangka Alena akan mengorbankan dirinya demi teman-temannya


"Apa kau gila, jangan berani memukul Alena ku!" Teriak Velentino sambil memukul anak buahnya


"Jangan harap kau bisa menyentuh dan menyakiti teman-teman ku Valentino" ucap Alena yang tengah menahan sakit di tubuhnya


"Tembak mereka cepat!" Teriak Valentino


Semua senjata api mengarah ke Delia, Amaya dan Aditama, Alena terjejut dan langsung meloncat menghadang di depan ketiga temannya, amunisi berterbangan menuju ke mereka, mata Alena terpejam dan pasrah, sebuah doa terpanjat dari mulutnya


"Aku serahkan semua padamu ya Alloh" ucap Alena pelan


Dan apa yang terjadi kemudian, di luar nalar manusia, semua peluru terhenti di udara


(Dan apakah yang akan terjadi, yuk bersabar menunggu Up dari Author selanjutnya, terimakasih, jangan lupa dukungannya)


(Jangan lupa mampir di karya terbaruku "SAHABATKU KEKASIHKU", mohon dukungannya ya)


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2