
Terdengar suara teriakan Alena yang sudah berdiri di depan pintu kamar Daniel
"Jangan berani!, Atau aku tendang kalian!"
Daniel dan Delia terkejut bukan main, pikiran kedua manusia yang di landa asmara itu langsung ambyar seketika, Alena menarik tubuh Delia hingga menjauh dari Daniel
"Alena?, bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Daniel yang akhirnya harus menghentikan has*rat nya dengan paksa dan membuatnya tambah pusing
"Untung pintunya masih terbuka, aku bisa langsung masuk, coba kalau enggak, bisa-bisa kalian sudah keenakan buat Daniel junior" ucap Alena dan membuat Daniel terkekeh
"Sorry aku tadi lupa nutup pintunya Niel, panik lihat kamu kayak gitu" ucap Delia sambil tersenyum aneh
Alena membawakan obat, makanan dan buah, serta Salep untuk menghilangkan memar yang ada di badan Daniel, kemudian segera pamit pulang setelah yakin keadaannya baik-baik saja
"Aku kerja dulu ya kak Del, nitip Daniel, dan ingat kalian jangan macam-macam lagi Lo, belum halal, sabar dulu"
"Iya Al, bawel banget, belum juga resmi jadi emak-emak" jawab Delia
"Ye, biarin, habis kalian ini bawaannya nyosor aja kalau ketemu, dapat salam dari Edward Niel, belum sempat jenguk kamu, ada pertemuan penting hari ini, nanti waktu pulang mau mampir ke sini dulu katanya"
"Iya, gak apa-apa Al, hati-hati dijalan ya"
"Ok, aku pergi dulu ya"
Alena langsung mengucap salam, kemudian berjalan keluar pintu apartemen dan menutupnya kembali
Daniel segera beristirahat setelah reaksi obat yang diminum nya mulai terasa membuat matanya mengantuk, Delia tersenyum mendapati Kekasihnya sudah tertidur dengan pulas
*
Sementara itu seorang wanita yang masih dilakukan perawatan untuk pemulihan cideranya terkejut saat membuka dan membaca beberapa berita yang berisi tentang seorang milyarder muda bernama Edward Runcel Eagle yang merupakan suami dari anak di keluarga Nugraha bernama Alena Bilqis Nugraha yang merupakan Dokter spesialis bedah di rumah sakit yang pernah dia datangi
"Jadi, tuan Edward suami Dokter Alena yang aku temui beberapa kali itu?" Batin Arini masih tidak percaya dengan apa yang terjadi
Arini segera tersadar dari lamunannya saat Ambar anaknya memeluk tubuhnya
"Bu, apa kita akan tinggal di sini terus?"
"Tentu saja tidak, memang kenapa?"
"Yah, kalau pulang ke rumah itu lagi, gak seru Bu, kotor, disini saja Ambar suka"
"Eh, ini rumah sakit sayang, tempatnya orang yang sakit, kalau ibu sudah sembuh, harus keluar dari sini"
"Oh, jadi gitu ya Bu, Ambar ikut apa kata ibu saja deh"
"Gitu dong, anak pintar"
Arini memandangi anaknya yang kini melanjutkan mainnya di lantai rumah sakit, sejenak hati Arini menjerit menyadari bahwa dirinya tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anaknya, Arini menatap handphone barunya kembali dan teringat akan Edward yang memberikan perhatian tulus untuk anaknya, senyuman terlihat dari bibir Arini dan kemudian menelepon seseorang
"Assalamualaikum tuan Edward, Ini saya Arini"
"Waalaikumsalam, iya ada apa Arini?"
"Maaf mengganggu tuan Edward, saya ingin mengucapkan terimakasih sudah memberikan saya handphone baru"
"Oh iya, itu untuk Ambar, biar aku mudah saat menghubungi nya menggunakan vidio call"
"Iya tuan, saya tau, maaf Ambar jadi merepotkan tuan"
"Tidak apa-apa, dia masih kecil, kasian, aku hanya ingin membuatnya merasakan kebahagiaan"
__ADS_1
Arini terdiam, hatinya sangat bahagia saat Edward mengatakan ingin membahagiakan Ambar anaknya, tak lama Arini tersentak saat Edward memanggil namanya di dalam panggilan handphone
"Arini, halo, Arini?"
"Eh iya pak, maaf"
"Aku tutup handphonenya kalau sudah tidak ada yang ingin kamu omongkan"
"Maaf tuan, boleh saya bertanya sesuatu, mungkin ini kurang sopan" ucap Arini
"Apa, katakan saja"
"Apa tuan Edward adalah milyarder muda sukses seperti yang ada di berita sosial media?"
"Oh itu, iya, begitulah"
"Apa tuan Edward juga suami dari dokter spesialis Bedah, Alena Bilqis Nugraha?"
"Iya, apa kau mengenalnya?" Tanya Edward
"Iya tuan, kebetulan kemaren waktu saya periksa di Rumah Sakit Elite Healthy Hospital, Dokter Alena yang menangani saya"
"Oh jadi begitu, ok aku tutup dulu, ada yang harus kerjakan'
"Iya iya tuan, maaf mengganggu waktu Anda"
"Tidak apa-apa, jaga dirimu dan Ambar dengan baik, kalau ada waktu aku akan mengajak istri ku menjenguk kalian" ucap Edward
"Baik Tuan" jawab Arini dan kemudian Edward memutuskan sambungan telepon
Arini merasa hatinya sangat senang dan bahagia mendengar Edward mengucapkan kata yang menyuruhnya untuk menjaga diri, senyuman manis dari bibir Arini langsung mengembang
*
"Hai Del, apa Edward ada di dalam?"
"Hai pak Edward, ada, barusan bangun, sekarang lagi mandi"
"Hem, baiklah, aku akan menunggunya disini, kamu dari tadi di sini Del?"
"Iya pak, dari pagi sudah ada di sini"
"Apa pagi tadi Alena mampir kesini?" Tanya Edward
"Iya pak Edward, ini saya masak apa yang di bawakan Alena tadi pagi"
"Oh, jadi begitu" ucap Edward
Tak lama kemudian Daniel sudah muncul dan duduk di sebelah Edward, tangan Edward menyentuh kepala Daniel untuk melihat suhu badannya
"Sudah dingin badan kamu Niel, katanya kamu sempat demam tadi pagi?"
"Iya, sudah dingin sekarang, pagi tadi dibawakan obat dan salep sama Alena, dia sepertinya sayang padaku"
"Cih, asal kamu masih manusia, Alena akan berbuat seperti itu, kecuali kamu sudah jadi monster, baru dia akan membunuhmu"
"Sepertinya ada yang tidak suka melihat hubunganku dengan Alena" sindir Daniel
"Sepertinya juga ada sahabat Alena disini yang siap menghajar mu karena sudah berani menggoda sahabatnya yang sudah menjadi istri seseorang"
Daniel segera menoleh ke Delia yang sudah menatapnya tajam, kemudian tersenyum aneh ke Delia
__ADS_1
"Aku bercanda saja Del, biar orang yang di sampingku ini sedikit terluka, hehe" ucap Daniel yang kini sudah mendekat ke Delia sambil kemudian memeluknya dari belakang
BUG
Edward melempar bantal sofa ke punggung Daniel hingga membuatnya terkejut
"Apa sih Ed?"
"Belum muhrim, jaga kelakuanmu!" Bentak Edward
Delia kemudian berjalan menjauh menjaga jarak dengan Daniel dan sekarang sedang mempersiapkan makanan di atas meja
"Sudah, kalian gak usah ribut terus, ini aku buat kue nastar, mau nggak?"
Edward dan Daniel langsung berjalan mendekati meja makan kemudian duduk disana sambil mencicipi kue yang di buat oleh Delia, kelezatan kue buatan Delia membuat kedua laki-laki di depannya melanjutkan kan ngemil kuenya
"Eh, yang di wadah itu jangan dihabiskan, buat Alena, dia paling suka kue buatan ku yang ini"
Edward langsung menghentikan makannya dan menyahut satu kue yang ada di tangan Daniel yang hampir masuk mulutnya
"Edward, sial*an, itu milikku!" Ucap Daniel sambil mengejar Edward
Kemudian Edward langsung memasukkan kue itu ke dalam mulutnya tanpa dosa
"****, dasar brengsek!" Teriak Daniel
Edward mengunyah dengan pelan dan tersenyum puas melihat wajah jengkel Daniel sahabatnya, sementara Delia sudah tertawa cekikikan melihat tingkah konyol dua laki-laki di depannya
*
Tiga hari kemudian, terdengar kabar kehancuran Cellin, bukti rekaman penyerangan nya terhadap Daniel di Restoran itu beredar di dunia Maya, semua media menampilkan rencana pembunuhannya terhadap Daniel, kini dirinya sudah di seret ke penjara bersama dengan manajernya yang di duga otak dari semua kejahatan yang di lakukan Cellin, Daniel sempat terkejut melihat berita itu, kemudian dia tersenyum
Daniel masuk ke ruangan Edward sambil membawakan sesuatu
"Ini, aku belikan makanan kesukaan mu Ed, salad buah istimewa dari restoran terkenal, dan masih banyak lagi, makanlah" ucap Daniel sambil tersenyum
Edward mengambil makanan yang di bawakan Daniel dan mencicipinya sambil menatap sahabatnya itu
"Tumben, ada apa?" Tanya Edward
"Aku mau berterimakasih, aku tau kamu kan yang mengurus tertangkapnya Cellin dan komplotannya" ucap Daniel
"Oh, jadi itu, jangan kepedean, aku tidak berniat menolong mu, itu aku lakukan karena mereka sudah berani menyerang Alena dan membuat ketiga anakku ikut bertarung bersama mommy nya" ucap Edward sambil menikmati makanannya
"Ish, kau ini, selalu tidak rela membuat ku senang" ucap Daniel yang sebenarnya sangat tau betapa Edward sangat menyayanginya dan tidak akan membiarkan nya sampai terluka
Edward tersenyum kemudian memasukkan salad buah ke dalam mulut Daniel, keduanya kini tertawa bersama sambil menikmati pagi dengan hati yang bahagia
Bersambung
Author akan tetap UPDATE SETIAP HARI
Sampai Novel ini tamat
Author minta tolong ya..mampir dong di karyaku"SAHABATKU KEKASIHKU", aku ucapin makasih sekebon buat pembaca setiaku yang udah mampir, yang belum, ayoo buruan,.muach muach
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE