Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 97


__ADS_3

Alena dan Edward menyambut dan menyalami satu persatu keluarga dekat yang memberikan ucapan selamat dan doa restu kepada mereka, selanjutnya para tamu undangan pun menyusul memberikan ucapan selamat secara bergantian, keduanya melebarkan senyum kepada semua orang yang memberikan ucapan selamat, Edward sempat melirik Alena sebentar saat melihat gelagat Aneh Alena yang terlihat sedikit tidak nyaman dengan kakinya


"Kenapa?" tanya Edward


"Shh, kakiku Ed, ga biasa pakai high heels, sakit" ucap Alena


"Kita masuk ke dalam dulu ya, ganti saja sepatunya, dari pada menyakiti kakimu"


"Hem, ayok"


Edward segera menggandeng Alena dan pamit sebentar masuk ke dalam sebuah ruangan ganti khusus penganten yang sudah di sediakan di dalam gedung pernikahan itu, Alena mengutarakan maksudnya untuk mengganti sepatu yang nyaman dikakinya, tim tata Rias pengantin profesional segera mengganti sepatu yang diinginkan Alena, senyum Edward mengembang saat Alena sudah bisa berjalan dengan nyaman lagi


"Yok, kita kembali ke tempat acara pesta" ucap Alena


Edward segera menggandeng Alena kembali, sesekali Edward menggoda Alena dengan menginjak gaunnya saat berjalan, hingga tubuh Alena limbung dan jatuh di pelukan Edward, Alena terkejut dan memukul lengan Edward hingga mereka tertawa bersama


Sementara para tamu undangan semuanya menikmati acara pesta pernikahan yang sangat mewah itu, kebanyakan dari mereka membicarakan tentang mas kawin yang di berikan penganten laki-laki kepada penganten perempuan


"Ya ampun sis, tau nggak apa mas kawin buat nona Alena tadi?"


"Apaan sis? Penasaran akunya nih"


"Dua buah Berlian Black Diamond Carbonado dan satu pulau pribadi Ferradura Islan sis"


"APA!!"


Jawab serempak beberapa tamu undangan yang sedang ngerumpi tentang mas kawin sang penganten


"Itu Berlian langka kan, hanya ada 3 buah di Dunia, dan tuan Edward sudah membelinya 2 sekaligus untuk Istrinya"


"Bukan dua jeng, aku dengar tadi, katanya satu berlian langka tadi ada yang di buat cincin kawinnya"


"APA!!"


Mereka serempak histeris kembali


"Jadi ketiga Berlian langka di Dunia itu sudah di borong oleh tuan Edward semua"


"Tau gak sis harga satu Berlian itu berapa?"


"Memang berapa?"


"Oh my God, 85 jeng, per buahnya loh"


"85 milyar?"


"Bukan, 85 Triliun!"


"APA!!"


Teriakan mereka kali ini membuat mereka langsung kipas-kipas kepanasan


"Sudah-sudah jangan ngomong lagi soal harga Mas Kawin Pulau nya, nyerah aku jeng, Sis, bisa pingsan kita habis ini"


Delia dan Amaya yang mendengar rumpian panjang dari para tamu undangan itu langsung tertawa dan saling menatap


"Eh Am, itu pak Edward sadar kan ya ngasih itu semua ke Alena?"


"Ya iya lah kak, kan pak Edward ngomong sendiri tadi waktu ijab qobul"


"Bisa ya, ada orang segitu kaya nya, main enak aja ngasih aset Segede gitu buat mas kawin"


"Kak, itu namanya cinta beneran tu, gak pandang harta atau apapun, akan di serahkan segalanya untuk orang yang dicintainya"


"Alena sangat beruntung ya Am, kita kapan?"

__ADS_1


Ucap Delia sambil melamun dan menatap Alena dari kejauhan


"Maunya kapan?" Sebuah suara laki-laki melanjutkan percakapan, tak lain tak bukan adalah Daniel


"Pengennya sih sekarang" tanpa sadar Delia menjawabnya


"Ayok, mumpung pak penghulu belum pulang, aku siap" ucap Daniel


"Hah, Breng*sek, ngapain jadi aku ngobrol sama kamu, mana Amaya?" Ucap Delia


"Noh, lagi makan, katanya kelaparan dari tadi cuman dengar curhatan kamu"


"Ish, mana ada, terus ngapain kamu tiba-tiba nongol disini gak jelas?"


"Kurang dekat nih aku berarti ya?" Sahut Daniel segera mendekatkan dirinya ke Delia


"Eh, eh, ngapain sih dekat-dekat gini"


"Ya biar kamu jelas, katanya tadi aku gak jelas, kalau dekat kan kamu bisa lihat aku dengan jelas nona Delia"


Delia langsung ngacir menghindari Daniel dan berjalan cepat menyusul Amaya, sementara Amaya yang tengah mengisi perutnya tertawa sambil menikmati pertunjukan Delia dan Daniel


Tamu undangan begitu banyak, hingga hampir jam 10 malam, ruangan pesta pernikahan sudah mulai sepi, Alena segera menarik nafas panjang tanda di hatinya sudah mulai lega, sedangkan Edward meninggalkan sejenak Alena dan mengambil handphone untuk menghubungi seseorang, Alena hanya memperhatikan Edward sejenak, kemudian duduk bersandar di sebuah kursi


"Ada masalah Ed?" Tanya Alena


"Nggak ada, hanya urusan kecil"


"Emm, semua keluarga sudah bersiap untuk istirahat di gedung ini, hari ini sangat membahagiakan, sekaligus melelahkan, tapi aku suka"


"Hem, kau kelihatan lelah, ayo kita juga beristirahat" ucap Edward


Sesaat kemudian Edward menarik tubuh istrinya dan merangkulnya sambil berjalan menuju kamar pengantin yang sudah di persiapkan, keduanya segera masuk dan merebahkan tubuhnya sejenak di atas kasur, sedangkan Edward langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tak lama kemudian Edward keluar dan mendapati Alena tertidur dengan masih memakai baju pengantinnya


"Kau lelah sekali Alena" ucap Edward lirih


"Emmh, aku ketiduran Ed?"


"Hem, sekarang bangunlah, bersihkan dirimu dulu, mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"


"Nggak usah Ed, biar aku sendiri saja"


Alena segera duduk dan berdiri, gaun pengantinnya yang lumayan sedikit berat dan panjang menjuntai sedikit mengganggu pergerakannya, Alena melepaskan hijabnya dan berusaha melepaskan sendiri gaunnya, namun terasa kesulitan, Edward memperhatikan sambil tersenyum tipis


"Ish, ini baju susah amat dibukanya" gumam Alena


"Sini aku bantu"


Edward langsung mendekat ke arah Alena dan kini sudah berada di belakangnya, perlahan tangan Edward menyibak rambut Alena ke samping dan meraih resleting gaun pengantin, perlahan Edward menariknya ke bawah hingga sedikit demi sedikit terlihat kulit putih mulus Alena, sesaat Edward menghentikan aksinya, berusaha mengatasi detakan jantung yang semakin kencang


"Cukup Ed, biar aku yang melanjutkan sendiri, aku masuk kamar dulu" ucap Alena


Dengan langkah cepat Alena masuk ke dalam kamar mandi, dikamar mandi Alena langsung bersandar di tembok sambil memegangi dadanya, rupanya Alena juga merasakan hal yang sama dengan Edward, setelah sedikit tenang, Alena segera melepas semua pakaiannya dan membersihkan wajah dan tubuhnya dari semua riasan yang menempel, dirasa sudah cukup Alena segera keluar dengan masih menggunakan bathrob, melihat Edward yang sepertinya sudah tertidur, Alena berjalan pelan untuk mengambil bajunya, setelah memakai pakaian tidur kimono Alena mengambil tempat di sebelah Edward dan bersiap tidur


Edward tiba-tiba menarik tubuh Alena dan memeluknya


"Ed!"


"Kenapa?"


"Emm, gak ada, kaget aja, aku kira kamu sudah tertidur tadi"


"Hem, tertidur sebentar"


Edward makin mengeratkan pelukannya, hingga Alena merasa seperti susah bernafas

__ADS_1


"Ed, aku susah nafas ini"


"Sorry, aku suka memeluk mu, tubuhmu segar dan Harun Al"


"Kamu juga"


Alena sudah sangat cemas dengan apa yang nanti akan dilakukan Edward di malam pertamanya, hingga wajah kecemasan itu terlihat jelas oleh Edward


"Ada yang ingin kamu katakan Al?"


"Emm, apa, aduh gimana ya?"


"Katakan saja, ada apa?"


"Apa, kamu meminta hak kamu sebagai suami malam ini?"


"Apa kau sudah siap malam ini?" Tanya Edward


"Apa kau tidak kecapekan Ed, kamu baru saja sembuh dari luka yang serius" ucap Alena


"Apa kau meragukan kemampuan ku?"


"Maksudnya?


"Kau ingin aku memperlakukanmu seperti apa hem, berapa kali kau ingin aku memuaskan mu Alena ku?"


"Ha, ish, kau ini, suka sekali mengerjai ku, aku jadi merinding ini Edward!"


"Hahaha, sudahlah, malam ini kita istirahat dulu, besok ada kejutan untukmu BEE"


Alena terkejut dan langsung membalikkan badan menghadap Edward


"Apa?"


Tanya Edward


"Kau tadi memanggil ku apa?"


"BEE, apa ada yang salah?"


Alena langsung tersenyum marona


"Oh, jadi kamu maemanggilku lebah?"


"Bukan seperti itu, itu panggilan sayangku, kamu sangat manis seperti madu, Doaku selaku berharap cinta kasih kita selalu manis seperti madu, nikmat dan menyehatkan, aku suka memanggilmu BEE, Apa kau keberatan?"


"Enggak, jadi aku harus manggil kamu apa Ed?"


"Terserah, asal jangan panggil Edward lagi, kita sudah menikah, tidak baik memanggil pasangan dengan namanya saja"


"Emm baiklah, HONEY"


Kini Edward tersenyum sambil menatap mata Alena lekat


"Thanks Bee, love you so much"


"You're welcome Honey, love you to"


Edward mendaratkan ciuman di bibir Alena, melu*matnya lembut kemudian melepaskan kembali, kini mereka berdua tertidur dengan lelap karena kelelahan


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN

__ADS_1


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2