Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 69


__ADS_3

Edward langsung meletakkan barang bawaan Alena di atas meja tengah yang berada di antara sofa tamu dalam ruangan kerja Edward


"Hem, luas banget ruangan kerja kamu Ed"


Edward tidak menjawab hanya merebahkan tubuhnya di kursi kerja sambil memijit kepalanya yang terasa sedikit pening, Alena memperhatikan Edward dan tersenyum, dengan langkah cepat Alena segera mengeluarkan sesuatu dari dalam paper bag, Edward yang sedang memejamkan matanya dan memijit pelipisnya tidak menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Alena


Alena mendekat ke arah Edward dan pelan-pelan duduk di samping Edward, kursi yang di tempati Edward di geser pelan oleh Alena, Edward terkejut dan membuka matanya


"Apa yang kamu lakukan Al?" Tanya Edward terkejut mendapati muka Alena yang sudah senyum meong di depan muka Edward


"Aak, buka mulut kamu" Alena tersenyum sambil bersiap memasukkan suapan makanan ke dalam mulut Edward


Edward tersenyum sebentar dan membuka mulutnya, Alena menyuapi Edward dengan tangannya tanpa menggunakan sendok


"Enak?" Tanya Alena


"Hem, Lezat" jawab Edward sambil manggut-manggut dan mengacungkan jempolnya


Hati Edward menghangat, jantungnya berdebar-debar mendapati Alena menyuapinya dengan pelan dan telaten, sesekali Alena mengusap mulut Edward dengan tisue, saat Edward menatap Alena, tiba-tiba Alena mengalihkan pandanganya tepat dimanik hitam mata Edward, seketika Edward salah tingkah, sedangkan Alena langsung tertawa


"Ngapain kamu tertawa Al?"


"Nggak ada, aku serasa lagi ngerawat orang sakit aja"


"Eh, dasar kamu, pengen kamu, aku sakit beneran?"


"Ish ngomongnya, ya nggak lah, mangkanya ini aku suapin kamu biar perut gak kosong, gak sampek sakit karena kelaperan"


"Hehehe, ternyata kamu tau aku lagi lapar?"


"Ya taulah Ed, perut kamu dari tadi ngeluarin bunyi aneh gitu"


Edward tersenyum bahagia melihat Alena juga senyum-senyum dan terlihat sangat manis, kalau sudah begini pikiran usil Edward langsung muncul, saat Alena memasukkan suapannya lagi, Edward sengaja menggigit jari Alena yang sebagian masuk ke mulutnya


"Auh, Edward!" teriak Alena dan segera memeriksa jarinya


"Sakit?" tanya Edward sambil tertawa


"Ya sakit tau, malah ketawa, sengaja pasti ya, kamu itu kayak bayi aja, main gigit jari orang, dasar!" ucap Alena


"Udah, sini jarinya" ucap Edward langsung memasukkan jari Alena, kali ini tidak menggigitnya tapi melu*atnya lembut


"Ih, ngapain pakek di giniin, geli tau Ed"


Alena hendak menarik tangannya tapi ditahan oleh Edward dengan mata yang menggoda lucu


Tiba-tiba saja pak hari membuka pintu ruang kerja Edward


"Ehem, maaf tuan, sepertinya waktunya kurang tepat, saya akan keluar dulu"


Alena langsung ter jingkat dan menarik paksa tangannya, kali ini Edward melepaskannya dan menoleh santai ke arah pak Hari

__ADS_1


"Masuk pak hari, kita sudah selesai makannya" ucap Edward


"Apa kabar Pak Hari?" Sapa Alena


"Oh nona Alena, Alhamdulillah saya baik" ucap pak hari


"Ada yang penting pak?" Tanya Edward


"Emm, gini tuan, gimana ya?" Jawab pak Hari bingung


"Kenapa pak Hari, ditanya kok malah bingung" ucap Edward


"Apa perlu saya keluar dulu, mungkin ini Rahasia Kalian?" ucap Alena menyudahi suapannya dan beranjak pelan gak enak hati


"Jangan berani keluar!" ucap Edward dingin sambil menatap tajam Alena,


Alena pun tersenyum aneh sambil duduk kembali


"Katakan pak, ada apa?" Tanya Edward lagi


"Itu tuan, nona Monalisa ada di ruang tunggu, ada sesuatu yang ingin dibicarakan sendiri dengan anda, kali ini bersama dengan nyonya Marina Ravinsi ibunya"


"Hemh" Edward menarik nafas panjang


"Baiklah pak Hari, suruh mereka masuk, sudah lama juga aku tidak bertemu dengan Tante Marina"


"Baiklah Tuan" pak Hari keluar sambil menunduk dan tersenyum kepada Alena sebelumnya


"Ok, aku akan membereskan semuanya" Alena membersihkan semua dan duduk kembali di sofa


"Siapa sebenarnya Monalisa dan Marina, sepertinya Edward sedikit gelisah dengan kedatangannya" batin Alena


"Ed, apa gak sebaiknya aku keluar dulu, ada tamu, aku takut mengganggu"


"Gak perlu, kamu bisa istirahat di ruangan pribadiku" ucap Edward sambil berjalan membuka pintu rahasia yang berada di belakang lemari buku, Alena terkejut saat lemari itu bergeser dan pintu sebuah ruangan rahasia terbuka, Alena berjalan mengikuti langkah Edward dan masuk ke dalam ruangan itu


"Wow, lengkap sekali ruangan kamu ini Ed" Alena terkejut melihat isi ruangan Edward terkesan mewah, dengan dilengkapi Kasur, kamar mandi, televisi besar, lemari pendingin, dan alat olah raga


"Ruangan ini dilengkapi dengan peredam suara, kamu bisa mengaktifkan kalau mau, ini remote control nya"


"Oh ya, siapa yang sudah menggunakan peredam untuk ******* mu Ed" ucap Alena memancing Edward


"Aku menggunakannya selama ini bukan untuk meredam ******* Al, jauhkan pikiran kotor mu" ucap Edward sambil menyentil kening Alena


"Au, sakit Ed"


"Biar otak kamu bersih, Dasar!"


"Ya kali aja, biasanya bos-bos perusahaan kan begitu kelakuannya"


"Hem, kalau begitu nanti akan aku gunakan ruangan ini untuk meredam ******* mu"

__ADS_1


"Eh, dasar, dah keluar sana, nanti tamu kamu nunggu lo"


Edward tersenyum dan keluar dari ruangan pribadinya, Alena mencoba semua tombol-tombol otomatis yang ada di sana, dan terkejut ketika menekan salah satu tombol remote yang secara otomatis membuka ruang kaca antara ruangannya dan ruangan kerja Edward, otomatis Alena bisa dengan jelas melihat apa yang dilakukan Edward dan apa yang terjadi diruang kerja Edward


Alena tersenyum mendapati Edward menoleh ke arah Alena, seolah tau Alena sedang melihatnya, padahal kalau dari ruangan Edward kaca itu tidak tembus pandang ke ruang Alena


"Hem, ternyata ketampanan suamiku memang diatas rata-rata" batin Alena sambil senyum-senyum sendiri


Tak lama kemudian, Edward segera membuka pintu dan menyuruh kedua tamunya masuk, senyum Alena langsung sirna ketika melihat siapa yang sedang masuk ke ruangan kerja Edward, dua orang wanita yang satunya masih Alena kenal karena tampilannya yang Vulgar terbuka dan kurang bahan, Alena mengambil minuman dan membuka salad buah untuk menemaninya duduk bersantai sambil mengamati apa yang terjadi diruang kerja Edward


"Bagaimana kabarmu Edward?" Ucap Marina


"Baik Tante Marina, lama kita tidak berjumpa"


"Iya, aku kangen sekali denganmu, semenjak kematian mommy mu, aku jarang mampir ke rumahmu, maafkan Tante"


"Gak apa-apa Tante, saya mengerti dengan waktu anda sangat padat, Tante dan Monalisa sudah menyempatkan mampir ke sini, apa ada hal yang ingin dibicarakan?"


Seperti biasa Monalisa langsung berpindah tempat, duduk manja di sebelah Edward, Alena membelalakkan matanya dan hampir tersedak saat melihat Monalisa dengan tidak tau malu menempelkan tubuhnya ke Edward


"Sial*n ini perempuan, mirip cicak didinding aja, nempelnya pakek banget gitu" ucap Alena lirih


Edward segera menggeser tempat duduknya berusaha menghindar, namun Monalisa ikut menggeser duduknya hingga tetap menempel tanpa jarak ke tubuh Edward, bahkan tangan Monalisa mengelus punggung Edward beberapa kali, hingga Edward merasa risih


"Mon, jangan seperti ini, gak enak sama mommy kamu" ucap Edward lirih


"Apa sih, mommy aja gak keberatan, ya kan mom?"


"Iya sayang, mommy malah suka lihat kalian mesra gini, adem gitu lihatnya" jawab Marina


"Tuh kan Ed, mommy bilang apa, ngrestuin kita lo" sahut Monalisa kegirangan


Edward menarik nafas panjang dan hanya tersenyum tipis, sesekali melirik ke arah kaca penghubung ruangan pribadinya


"Mudah-mudahan Alena gak menghancurkan ruangan ku setelah melihat kelakuan Monalisa dan Tante Marina" batin Edward sedikit cemas


"Baiklah, kita kembali ke topik, ada sesuatu yang ingin Tante atau Monalisa bicarakan?" tanya Edward


"Yah, tentu saja, ini sesuatu yang sangat penting" jawab Marina


"Apa itu Tante?" Ucap Edward


"Karena keluarga kita sudah saling kenal sejak lama, dan melakukan kerjasama bisnis yang tidak sebentar, aku ingin menguatkan semuanya dengan sebuah ikatan" ucap Marina


"Maksutnya ?"


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2