
Keesokan harinya semua keluarga yang menginap di gedung, langsung mempersiapkan diri untuk kembali, selesai sarapan pagi Edward pamit kepada Edoardo dan Abraham untuk kembali ke kediamannya sendiri, semua orang sangat terkejut mendengar hal itu, pasalnya tidak ada yang tau kalau ternyata Edward memutuskan hal itu, bahkan Alena juga sempat terkejut, karena setahu Alena, Edward dulu tinggal di mansion Dadynya dan tidak ada Mansion yang lain, namun demikian, kedua keluarga menyetujui dan mendukung keputusan Edward
Edward membawa Alena ke sebuah tempat yang dimaksud, sopir pribadi yang membawa mobil Edward tersenyum melihat tuannya yang kini sudah banyak berubah, lebih segar dan tidak terlalu dingin, di belakang ada satu buah mobil lagi berisi enam orang anak buah Edward yang kini di tugaskan untuk mengawal, Alena duduk bersandar di bahu Edward menikmati perjalanan menuju tempat yang menjadi kejutan untuk dirinya
"Masih jauh Honey?"
"Sebentar lagi kita akan sampai Bee"
"Hem, jadi kejutan kali ini apa honey?"
"Sebentar lagi kau akan tau sendiri"
Tak lama kemudian tibalah Alena di sebuah tempat yang sangat indah, Halaman yang luas dengan berbagai tanaman bunga menghiasinya, ada beberapa pohon besar yang rindang di sepanjang halaman dan membuat suasana sangat sejuk, tepat di tengahnya sebuah rumah mewah dan megah bergaya Klasik Moderen menyilaukan setiap mata yang memandangnya, Alena melebarkan senyumannya serasa tidak percaya, apa yang dilihat sekarang persis seperti sebuah gambar yang dia simpan dari kecil di buku diary nya, yah, ini adalah rumah impiannya
"Honey, ini_, ya Alloh, aku benar-benar tidak percaya, benarkah apa yang aku lihat, apa aku sedang bermimpi?"
"Ini hadiah pernikahanku untukmu Bee, dan kamu tidak sedang bermimpi"
"Akh!!,
Alena berteriak dan langsung keluar dari mobil tanpa menunggu sang sopir membukakan pintunya
Semua orang sangat terkejut melihat nyonya mudanya berlari dan berteriak menikmati keindahan halaman rumah mewah yang di hadiahkan oleh Suaminya, para pengawal hendak menyusul Alena yang berlarian kesana kemari, tapi Edward segera melarangnya
"Anda benar-benar beruntung tuan Edward, seorang wanita yang Sangat Cantik, Muda, Ceria, Konyol tapi kemampuannya luar biasa" ucap Herman supir pribadi Edward
"Jaga bicaramu, jangan mengamati istriku berlebihan, atau kau mau merasakan sesuatu dariku?"
"Oh, iya, maaf tuan, maafkan saya" ucap Herman segera menunduk
*
Setelah seharian ikut membatu membereskan baju dan sebagainya, Alena segera membantu kedua pelayan wanita yang sedang mempersiapkan makan malam, Alena sudah bisa menghapal semua orang-orang baru yang berada di rumahnya
"Bik Asih, biar aku bantu ya" ucap Alena
"Ha, jangan nyonya, apa kata tuan Edward nanti kalau tau nyonya ikut masak di sini"
"Gak apa-apa bik, aku dah biasa menyiapkan hidangan sendiri, suamiku juga sangat menyukainya"
"Oh, iya nyonya, silahkan"
Alenapun langsung mengambil alih pekerjaan bik Asih, sementara bik Asih hanya membantu apa yang diperintahkan oleh Alena
Dimeja makan sudah ada bik Amah yang menata dan merapikan meja untuk persiapan makan malam, mang Ujang suami bik Amah juga ikut membantu membersihkan ruangan hingga terlihat sangat rapi, setelah semuanya siap, Alena celingukan mencari keberadaan suaminya
"Dimana Edward ya, nih rumah gede banget, repot nih kalau mau manggil, teriak juga percuma kayaknya" gumam Alena
__ADS_1
"Maaf nyonya, apa perlu saya carikan tuan Edward?" Ucap mang Ujang
"Oh, iya mang, makasih ya"
Mang Ujang langsung keluar dan segera mencari keberadaan Edward yang ternyata sedang memutari halaman untuk mengecek keamanan rumahnya dengan menggunakan kendaraan kusus saking luasnya kawasan rumah Edward, sesaat kemudian makan malam pun terjadi dengan romantis diantara pengantin baru itu, hingga akhirnya jam 8 malam Edward mengajak Alena untuk melihat pemandangan dari dalam kamarnya yang berada di lantai atas
"Wah, honey, ini sangat indah"
"Kau suka Bee?"
"Sangat Suka"
"Kita akan hidup disini nantinya, aku berencana kembali ke Jakarta, bagaimana menurutmu?"
"Sama, aku juga akan tinggal di sini bersamamu honey, tapi kepindahan ku akan aku atur dulu, aku masih perlu waktu, mungkin 2 sampai 3 bulan"
"Hem, terserah kau saja Bee, aku akan segera pindah, mungkin satu bulan kedepan, atau aku menunggumu dulu?"
"Nggak perlu honey, kamu bisa duluan"
"Baik, tapi kamu harus jaga diri disana, aku akan menempatkan pengawal pribadiku untuk menjagamu nanti"
"Gak usah honey, aku_"
"Kali ini jangan membantah Bee, aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu"
"Baiklah, honey, terserah kau saja, aku ngikut"
"Rasanya manis Bee, aku suka"
Sesaat kemudian Edward membawa tubuh Alena kedalam dekapannya lagi, kali ini Edward meraih tengkuk Alena dan mengecap bibir Alena dengan gerakan lambat, Edward semakin memperdalam Ciumannya dan kali ini menggigit bibir bawahnya, hingga Alena terjingkat dan membuka mulutnya, lidah Edward berhasil masuk menjelajah ke dalam mulut Alena, Edward memeluk posesif pinggang istrinya
Kini suasana semakin panas, Edward membopong tubuh Alena tanpa melepaskan ciumannya, dengan cepat Edward merebahkan tubuh Alena di atas tempat tidur mewah yang sudah di persiapkan oleh Edward, Alena terhenyak ketika menyadari dirinya sudah di atas ranjang, Edward tersenyum dengan lembut meminta persetujuan
"Kamu siap Bee?"
Alena mengangguk dan menatap Edward dengan wajah sedikit cemas dan tegang
Edward membaca sebuah Doa dan meniupkannya di ubun-ubun Istrinya, sesaat kemudian mencium keningnya,ciuman lembut kini turun di kedua mata kemudian kedua pipi Alena, Ciuman Edward berlanjut mendarat di bibir Alena dan makin dalam melu"mat bibir Alena, tangan Edward tidak tinggal diam, perlahan Edward menying*kap gaun malamnya hingga kini terlihat kulit lembut dada istrinya, ciuman Edward turun ke leher dan menjelajahi tiap inci disana
Edward sangat berhati-hati, begitu memuja dan memastikan kulit tubuh selembut sutera ini tetap terjaga, Alena mende*sah dan menggerakkan tubuhnya saat sentuhan itu kini semakin turun kebawah dan bermain intens di bagian dada
"Aaaa, Sakit Honey, pelan-pelan"
Ucap Alena saat dia merasakan ada gigitan di puncak bukit kembarnya, namun ini terlalu nik*mat, sesuatu yang hangat dan basah itu kini semakin turun ke bawah, tubuh Alena bergetar ketika merasakan gaun malamnya mulai terlepas dan kini tubuh Alena benar-benar polos
"Aaah, Honey, aku takut"
__ADS_1
Alena merintih hebat saat kehangatan itu kini menguasai tubuhnya, Alena mencengkram kuat pundak kokoh Edward yang kini sudah mengungkung nya, Mata Alena terpejam saat merasakan sesuatu yang keras dan hangat berusaha masuk kedalam bagian intinya.
Air mata Alena seketika terjatuh saat merasakan sakit yang teramat sangat seakan tengah membelah dirinya saat ini, tanpa sadar Alena menggigit bahu Edward untuk melampiaskan rasa sakit yang di rasakan saat ini, Edward pun tersadar ketika merasakan sakit gigitan istrinya, Edward mengangkat wajahnya yang tadi terbenam di lekuk leher Alena dan sudah penuh dengan kabut gairah, Edward meraih wajah Alena dan melihatnya masih terpejam
"Maaf, akan sangat menyakitkan bagimu Bee, kalau kamu tidak tahan aku akan berhenti"
Alena membuka matanya, wajah Alena memerah menahan sakit dan malu secara bersamaan
"Aku siap Honey"
Alena tersentak saat tiba-tiba merasakan sesuatu yang keras dan hangat kembali berusaha memasuki bagian intinya, kali ini gerakannya lebih lembut dan kuat hingga melesak masuk ke dalam dan membuatnya semakin sesak
Alena meraih apapun yang ada di sekitar tangganya, hingga mencengkram kuat sprei saat rasa sakitnya lebih dari yang dirasakan sebelumnya, Alena membuka mata dan kini bertatapan dengan Netra suaminya
"Sakit Bee?"
Alena tidak menjawab dan hanya menggigit bibir bawahnya, Edward dengan pelan mengecup bibir Alena agar terlepas dari gigitannya
Edward mendiamkan miliknya di dalam inti surgawi Alena, memberi jeda agar Alena terbiasa, dengan lembut Edward menyeka buliran air mata Alena yang tumpah di sudut matanya, Edward kembali mencium kening Alena dan bermain di dalam bibirnya, dengan pelan Edward menggerakkan pinggulnya dan membuat gerakan memaju mundurkan pusakanya
"Aaaah, sakit Honey, aku rasanya tidak kuat"
"Tahan sebentar Bee, aku janji sakit Ini tidak akan lama"
"Tapi ini sakit honey, sungguh"
"Aku tau, maaf Bee, sakit ini akan segera berlalu"
Bisik Edward sambil kembali melu*mat bibir Alena dan berusaha mengalihkan rasa sakitnya
Alena memeluk Edward yang sudah polos tanpa sehelai benangpun, menyatukan hati dan jiwa mereka, Akhirnya setelah beberapa saat, keduanya kini merasakan kenik*matan Surga Dunia, rasanya benar-benar nyata dan semua itu membawa keduanya terbang dan terlempar kedalam lembah kenik*matan yang tiada tara
Keduanya semakin menggila, mende*sah, meraung dalam limpahan rasa Nikmat yang kini menyatukan mereka, hingga Akhirnya
"Aaakh!, Honey!"
"Oough!, Bee!"
Mereka bersama mencapai puncak Nirwana, peluh bercucuran, Sungguh suatu Rasa Nikmat yang sanggup menembus relung hati yang paling dalam, Nafas mereka yang memburu perlahan di normal kan kembali, hingga akhirnya Alena tertidur dalam pelukan tubuh Edward yang masih polos sama seperti dirinya
(Akhirnya Author pun ikut melongo ketika membaca ulang tulisannya sendiri, haredang haredang haredang, panas panas panas)
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE