
Semuanya masih terdiam, hingga kemudian Kaisar datang bersama ketiga bocah kembarnya
"Assalamualaikum" teriak Ethan dan kedua saudaranya mengucap salam
"Waalaikumsalam" ucap semua orang yang ada di dalam ruangan
Ketiganya masuk bersama dengan Kaisar lalu di persilahkan duduk di tempat yang seadanya
"Ailina?" Ucap Aisyah terkejut melihat gadis kecil itu ada di sana
"Hai Bu Aisyah, aku mau sekolah disini bersama dengan kedua kakakku" ucap Ailina polos, tidak sadar bahwa yang diajaknya bicara bertambah shock menyadari gadis kecil yang biasa bermain ke sekolahnya itu adalah anak dari Edward Runcel Eagle
"I iya, jadi Ailina_, ini kedua orang tua Ailina?" Ucap Aisyah tak percaya, sedangkan guru yang lain juga mengalami hal yang sama
"Baguslah kalau begitu, rupanya Ailin sudah pada kenal dengan guru disini" ucap Alena
"Iya nyonya, kami sudah mengenal Ailina dan kami tidak pernah menyangka kalau ternyata anak dari tuan dan nyonya Edward" ucap Aisyah
"Baiklah, jadi kapan kami bisa mulai mendaftar?" Tanya Edward lagi
"Apa anda berdua tidak berfikir lebih dahulu, sekolahan kami sangat sederhana, dan tidak ada kurikulum moderen yang bisa belajar sambil berwisata kemanapun karena kami minim biaya" ucap pak Fajar
"Kami sudah mantap Pak Fajar" ucap Alena
"Iya baik, kalau begitu, anda bisa mendaftarkan sekarang tuan Edward" jawab pak Fajar, "Ridho bantu tuan Edward mengurusi administrasinya!" Perintahnya kemudian
Ridho di bantu Aisyah dan Mahmud mempersilahkan Edward untuk mendengarkan penjelasan tentang biaya pendaftaran sampai dengan biaya seragam yang harus mereka beli, Edward tertegun saat mendengar masing-masing anaknya hanya habis kurang lebih satu juta, itu pun sudah bersama dengan ongkos jahitnya
"Maaf, apa anda tidak salah menghitung?" Tanya Edward masih bingung
"Tidak pak Edward, maaf kalau tahun ini memang di naikkan, karena harga kain juga sudah naik, tahun kemaren hanya sembilan ratus ribu"
"Apa!" Teriak Edward makin terkejut dan heran, "Maksud saya apa ini tidak terlalu murah pak Mahmud?" Tanya Edward
"Iya pak, coba di hitung lagi" ucap Alena yang juga terkejut tak percaya biaya masuk sekolah semurah itu
Pak Fajar tersenyum dan memaklumi apa yang di kagetkan oleh kedua orang tua murid yang ada di depannya
"Maaf tuan Edward, kain yang kami beli bukan kain terbaik yang mungkin biasa Anda pakai, dan ongkos jahitnya juga di penjahit rumahan, bukan penjahit profesional seperti yang anda berdua biasa lakukan" ucap pak Fajar
__ADS_1
Sontak keduanya saling bertatapan dan kemudian tersenyum menyadari ketidak tahuannya
"Oh iya pak, maaf-maaf" ucap Edward kemudian segera membayar dengan mengeluarkan black Card nya
Semua tampak bingung saat Edward menyodorkannya, dari belakang Kaisar langsung memberikan uang tunai sejumlah tiga juta dengan menggelengkan kepala
"Ini uangnya pak" ucap Kaisar
Pak Mahmud segera menerima uang itu lalu mencatatkan kwitansi sebagai tanda bukti pembayaran, sedangkan Edward dan Alena hanya tersenyum aneh menyadari kekonyolan mereka
"Bagaimana mungkin mereka bisa memakai black Card nya di tempat seperti ini" batin Kaisar
"Thanks Ka, aku akan menggantinya nanti" ucap Alena
Edward berjalan ke arah pak Fajar dan bertanya apa tidak keberatan menerima uang dalam bentuk transfer atau Cek
"Bisa tuan Edward, kalau uang SPP bulanan, nanti anda bisa transfer atau tunai saja setiap bulan atau bisa d bayar tiap berapa bulan sekali" ucap Pak Fajar menjelaskan
"Begini pak, sudah menjadi kebiasaan keluarga kami menjadi salah satu Donatur di sekolah anak-anak kami, jadi saya ingin menjadi Donatur aktif yang ada di sekolah ini, apa pak Fajar tidak keberatan?"
"Hah, Oh, jadi begitu, maaf pak saya terkejut, soalnya selama ini hampir tidak ada yang memikirkan sekolah ini kecuali kita" ucap Pak Fajar
"Iya pak Kami ingin menjadi Donatur tetap dan aktif disini" ucap Edward
"Baik pak, terimakasih" Edward tersenyum senang dan kemudian mengeluarkan handphone nya untuk melakukan transaksi bank dengan mengirim sejumlah uang ke rekening sekolah yang di berikan oleh Pak Fajar
Setelah itu menuliskan sebuah cek, karena jumlah uang lumayan besar yang akan di berikan ke sekolah, total uang 500 juta tertulis di Cek yang membuat tangan pak Fajar tergetar
"Maaf pak Edward, mungkin anda salah menuliskan angkanya, ini lima ratus juta rupiah?"
"Benar sekali pak, masa awal sekolah masih satu setengah bulan lagi, saya ingin bapak memperbaiki sekolah ini agar tidak membahayakan keselamatan siswa siswi yang sekolah disini, jadi anda bisa mulai merehapnya, dan saran saya akan meminta bantuan teman arsitek saya untuk bertemu dan membantu pak Fajar, apa anda tidak keberatan?"
"Hah, i iya tuan, tentu saja kami tidak keberatan, kami sangat berterimakasih tuan Edward, sungguh, rupanya Alloh menjawab semua doa kita"
"Iya benar Ayah, sepertinya Doa kita di jawab oleh-NYA" Ucapan Aisyah yang langsung memeluk Ayahnya sambil meneteskan air mata kebahagiaan
Begitu juga dengan Mahmud dan Ridho sampai terharu dan saling pandang dengan senyum penuh haru dan kebahagiaan
Alena dan Kaisar tersenyum penuh haru, begitu juga dengan ketiga bocah kembarnya yang langsung memeluk Daddy nya dan mengucapkan terimakasih
__ADS_1
"Mulai saat ini, saya dan teman saya juga akan mengadakan kunjungan kesehatan ke sini gratis setiap tiga bulan sekali untuk melakukan pemeriksaan berkala kesehatan siswa, semoga anda semua juga menerima niat baik kita" ucap Alena
"Tentu saja nyonya, kami sangat berterimakasih"
"Dan saya ingin menyumbangkan Dana untuk semua seragam siswa tahun ini, saya melihat tadi banyak siswa memakai seragam yang tidak layak pakai, dan juga sepatu juga tas mereka, bisakah saya membantu dalam hal ini?" Tanya Kaisar
Niat Kaisar disambut dengan baik oleh semuanya, hari itu merupakan hari dimana terukir indah kenangan di hati ketiga bocah kembar, mereka melihat orang-orang yang mereka sayangi juga sangat perduli dengan nasip Masa depan banyak anak di sana
Dalam hati Alena menyadari sesuatu, terkadang kita di tuntun di suatu peristiwa yang mungkin kurang menyenangkan untuk membuat kita menyadari bahwa kita harus lebih banyak bersyukur dan membantu sesama
Edward melihat interaksi ketiga anaknya dengan siswa siswi di sana, keluguan anak-anak yang serba kekurangan justru terkadang membuat ikatan pertemanan mereka sangat kuat, nasip yang sama membuat mereka saling melindungi satu dengan yang lain, saling berbagi juga kental terlihat disana, rupanya guru disini benar-benar mengajarkan moral dan akhlak dasar yang kuat
Tidak ada handphone ataupun barang-barang mewah yang di pegang oleh murid-murid disana, bahkan banyak diantara mereka tidak memakai sepatu, namun yang sangat membuat Edward terkesima adalah cara mereka tertawa lepas saat berinteraksi dengan sesama teman-temannya dan bermain dengan bahagia dengan keadaan yang seadanya
"Kebahagiaan dan pemandangan indah yang tidak bisa di beli dengan apapun bukan?" Ucap Kaisar mengagetkan Edward
"Hem, bahkan waktu aku kecil tidak bisa merasakan apa yang mereka lakukan" jawab Edward
"Aku juga, pertama aku menginjakkan kaki di tempat ini tadi, hatiku merasakan kedamaian, dan aku langsung berpikir itulah kenapa anak-anak memilih untuk sekolah disini Ed"
"Aku tau Kai, rasa penasaranku akan keputusan mereka akhirnya terjawab, dan aku akan membantu membesarkan sekolah ini, Visi dan Misi mereka patut di acungi jempol"
"Hem, cara mendidik mereka juga hebat, rupanya keikhlasan hati saat mendidik itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa, lihatlah mereka semua Ed"
"Aku tau, mereka orang-orang yang pantang menyerah, bisa di bayangkan bukan, kalau mental anak-anak kita terbentuk dengan baik disini?"
"Aku yakin, mereka akan menjadi pribadi yang luar biasa" jawab Kaisar
Rasa sosial yang tinggi juga bisa dirasakan saat Alena ingin membersihkan kakinya, beberapa anak langsung membantunya menuju ke kamar mandi dengan melewati jalan yang aman, bahkan mereka mengambilkan ember tempat air saat kran kamar mandi mereka tidak bisa di gunakan, Alena tersenyum, hatinya menghangat dan berkata, sangat tepat sekali telah memilih sekolah ini untuk anak-anaknya
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE