
Sampai di ruangan kerja suaminya, Alena segera duduk di sofa sambil mengeluarkan buku dan membacanya, sedangkan Edward masih sibuk melanjutkan pekerjaannya lagi
"Aku lanjutkan pekerjaanku Bee, kalau kamu ingin beristirahat, bisa keruangan dalam, kamu bisa memanfaatkan 3 jam kedepan untuk tidur dulu atau apapun di sana"
"Nggak Honey, aku juga sedang mempelajari sesuatu dulu, nanggung"
"Baiklah"
Tiba-tiba saja terdengar suara panggilan masuk di handphone Edward, dan langsung diangkatnya
"Halo Mona, ada apa?"
Alena langsung menoleh ke arah Edward saat suaminya mengucapkan nama Mona
"Load speaker honey, cepat!" ucap Alena mengancam Edward
Edward tersenyum geli melihat kelakuan Alena yang berubah seperti rubah betina dan langsung merubah mode panggilannya
"Bagaimana kabarmu Ed?"
"Oh baik, ada masalah apa kau menelpon ku?"
"Ada yang ingin aku bicarakan tentang bisnis kita, apa aku bisa menemui mu?"
"Sebaiknya semua urusan bisnis di Diamond Eagle Company bisa kamu bicarakan dengan Pak Hari"
"Tapi ini penting, dan aku akan menemuimu beberapa jam lagi, titik"
Tut Tut Tut
Suara panggilan dimatikan oleh Monalisa
Alena masih menatap tajam Edward
"Apa ada yang salah dengan suamimu ini Bee?"
"Katakan dengan jujur, apa kau pernah tertarik dengan Monalisa?"
"Tidak"
"Pernah menyentuhnya?"
"Pernah"
"Edward!, katakan dimana kamu menyentuhnya dan apa alasannya!"
"Hahaha, Alena ku sedang cemburu rupanya, hemm?" Edward segera beranjak mendekati Alena
"Jangan mendekat!, Aku beneran marah ini sama kamu honey!"
"Kamu itu hanya cemburu Bee, sini!"
Cup Cup Cup
Edward menangkap tubuh istrinya dan menciuminya berkali-kali, setelah itu menjelaskan semuanya ke Alena hingga amarahnya mereda
*
Aditama terkejut melihat Amaya berjalan dengan seorang laki-laki ketika menuju tempat parkir mobil ketika akan pulang
"Siapa laki-laki itu, sepertinya Amaya sangat akrab dengannya" batin Aditama
Amaya sedang berbincang dengan seorang laki-laki ketika akan naik masuk ke dalam mobilnya
"Jadi Alena nantinya tidak ikut pak Edward ke Jakarta?"
"Ikut Ka, tapi mungkin Pak Edward duluan yang pindah ke sana, Alena ingin beberapa bulan dulu bekerja disini sebelum kepindahannya"
"Oh, sayang sekali, kita nantinya akan jauh dari Alena"
"Hei, berhati-hatilah dengan ucapanmu, ingat, Alena sekarang sudah menjadi nyonya Edward, apa kau mau mencari masalah dengan suaminya itu, hem?"
"Hehehe, tentu saja tidak, tapi aku juga sangat merindukan Alena, aku suka melihatnya berbuat konyol dan membuat kita semua tertawa"
"Hahaha, begitulah Alena, maklumlah usianya juga masih sangat muda"
"Hahaha, aku dengar juga begitu"
Keduanya tertawa bersama membicarakan Alena, semua orang yang melewatinya hanya tersenyum dan menyapa ramah sambil bergunjing tentang kedekatan mereka
Aditama semakin meradang, tiba-tiba saja hatinya terasa panas dan sakit, bergegas dia masuk ke dalam mobilnya dan menelpon Amaya
__ADS_1
Kini terdengar suara dering handphone Amaya, dengan cepat Amaya merijek panggilan itu beberapa kali, namun Aditama tidak mau menyerah, hingga akhirnya Amaya mematikan handphonnya
"Sh*it, kenapa handphone malah dimatikan" ucap Aditama makin emosi
Masih dengan melihat Amaya sedang asik ngobrol dengan Raka, hati Aditama semakin terbakar, hingga akhirnya memutuskan mendatangi Amaya
"Hem, permisi, aku ingin berbicara penting dengan Dokter Amaya, apa anda bisa meninggalkan kami sekarang?"
"Oh, Anda_?"
"Saya Dokter Aditama, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Dokter Amaya"
"Oh baiklah, saya permisi dulu"
"Gak usah!,kamu jangan pergi Ka, Tidak ada hal penting yang akan kita bicarakan, kalau soal pekerjaan bisa di bicarakan di jam kantor saja" ucap Amaya
"Aku ingin membicarakan masalah kita Am!" Ucap Aditama meninggi
"Tidak ada kata KITA sekarang, jadi jangan campuri urusanku Dokter Aditama"
"Apa maksudmu, aku tidak pernah memutuskan hubungan kita, ingat itu" ucap Aditama
"Mulai sekarang, aku yang memutuskan hubungan kita, aku dan kamu tidak ada hubungan apa-apa lagi!"
"Amaya!!" teriak Aditama emosi
"Apa!!" Sahut Amaya tak kalah kerasnya
"Tunggu-tunggu, kepada saudara-saudara yang terhormat, jangan berteriak-teriak di tempat umum , ini tidak baik ok, sebaiknya kalian cari tempat yang pantas untuk melampiaskan emosi kalian masing-masing, saya permisi dulu" ucap Raka sambil bergegas berlalu pergi
"Gila, mau berantem soal perasan di depan gue, ngga tau apa betapa semua itu membuat jiwa jomblo ku meronta-ronta, hemmh, dasar Amaya" batin Raka
"Aku tidak menerima, kamu masih kekasihku Am, tidak akan ada yang bisa merubah itu"
BRAK
Amaya masuk mobil dengan membanting pintu mobilnya, kemudian segera melajukan mobilnya tanpa memperdulikan teriakan Aditama lagi
Sementara itu Aditama makin geram mendapatkan perlakuan kasar dari Amaya
*
"Duduklah Mon, apa yang sedang kamu lakukan, aku jadi pusing melihatnya"
"Edward mom, kenapa masih belum pindah juga ke Jakarta, ini sudah hampir satu bulan aku menunggunya di Jakarta"
"Mungkin Edward masih sibuk menyelesaikan semua urusan di Surabaya sebelum pindah ke Jakarta"
"Tapi aku sangat merindukannya mom, sudah lama dia gak menelpon ku, apalagi menemui ku"
"Ingatlah Mona, sudah ada sosok wanita yang sudah berhasil mengalihkan dunianya sekarang, kau pikir Alena Bilqis Nugraha akan membiarkan suaminya jauh darinya, apalagi sekarang mereka masih penganten baru"
"Mommy!, Kenapa malah mendukung mereka sih!"
"Aku hanya mengatakan kenyataan, biar kamu tidak bertindak gegabah"
"Aku tidak perduli, pesonaku lebih dari wanita manapun, termasuk Alena"
"Lalu apa yang akan kau lakukan?"
"Aku merindukannya, aku akan menemuinya ke Surabaya hari ini, lagi pula ada yang ingin aku bicarakan soal bisnis"
"Bukannya perusahaan di Surabaya sudah di handle oleh orang kepercayaannya?"
"Sudahlah mom, aku akan berangkat ke bandara sekarang" ucap Monalisa
Monalisa pun segera berangkat ke bandara tanpa bisa di cegah oleh siapapun
*
Edward selesai melakukan pekerjaannya dan menoleh ke Istrinya yang masih sibuk mencatat dan membuka buku kedokterannya
"Hari ini ada berapa operasi Bee?"
"Aku hanya melakukan 2 saja, dan semuanya berjalan baik, Alhamdulillah, sekarang pekerjaanku agak ringan honey, sudah ada Aditama"
"Oh, bagaimana kabar Aditama, apa dia sudah berubah Bee?"
"Iya, aku juga kaget Honey, sangat berubah, seperti saat pertama datang dulu, sopan dan ramah, bahkan dengan aku pun hanya ngomong soal kerjaan, selain itu sepertinya menghindari ku"
"Hem, bagus lah"
__ADS_1
"Tunggu honey, jangan bilang kau sudah tau sesuatu tentang Aditama"
Edward hanya tersenyum dan menatap istrinya sebentar, kemudian melanjutkan pekerjaannya
"Honey!, Jangan buat aku penasaran nih, kamu tau apa yang terjadi dengan Aditama kan?"
"Aku hanya habis menghajarnya saja waktu di Spanyol kemaren"
"Hah, jadi kalian ketemuan di Spanyol, kapan, kok bisa?"
Kemudian Edward berdiri dan mendekati istrinya, menceritakan semua yang terjadi di malam itu bagaimana dia menghajar Aditama, dan Aditama menangis menyesali perbuatannya, hingga ingin dia membunuhnya"
"Aditama sebenarnya orang yang baik Bee, aku melihat kesungguhan dimatanya saat dia menyatakan penyesalannya"
"Oh, Alhamdulillah, pantesan sikapnya berubah gitu, dan sekarang sering menghubungi Amaya"
"Hem, mungkin dia ingin menebus semua kesalahannya ke Amaya"
"Sepertinya begitu honey, tapi Amaya masih bimbang, takut tersakiti lagi"
"Apa Amaya masih mencintainya?"
"Tentu saja honey, dokter Aditama adalah cinta pertamanya, tentu saja akan sangat sulit untuk melupakannya begitu saja"
"Kalau cinta pertamamu Bee?"
Ucap Edward tiba-tiba dan mendekatkan wajahnya ke Istrinya
"Tentu saja kamu, yang waktu itu sudah mengerjai ku, dasar!"
BUG
Alena memukul dada suaminya agar lebih menjauh
Namun yang terjadi Edward malah langsung menyambar bibir Alena dan melu*matnya perlahan, Alena membalas ciuman Suaminya, kini lidah Edward sudah menjelajah masuk ke dalam mulut istrinya, Edward melepas ciumannya dan memberi jeda untuk saling mengambil nafas, disaat itulah dia tersenyum
"Kita lanjutkan di sini Bee?"
"Hah, ini di_"
"Humpp"
Alena di bungkam kembali oleh ciuman panas suaminya
Tangan Edward kini mulai menjelajahi tubuh istrinya, kini tubuh Alena di buat setengah polos, hanya tinggal baju atasan yang masih menempel ditubuhnya, Edward membuka kancing dan mengeksplor dada istrinya, bermain aktif di kedua bukit kembar milik Alena, kini keduanya sudah mulai mende*sah, Alena terkejut ketika Edward tiba-tiba saja menggendong nya bak koala dan memangku nya berpindah di kursi kerjanya
"Honey, Ooh, ini di ruangan kerjamu"
"Aku sedang menginginkanmu Bee, jadi nikmatilah, sshh"
Edward mulai menuntun tubuh istrinya untuk mengangkat pinggang dan memasukkan sesuatu di bawah sana yang sudah siap bertempur dan menyem*bur
"Masukkan sekarang Bee, Ouuhg"
BLES
Kini penyatuan yang sempurna tengah terjadi, Edward semakin intens bermain di bukit kembar istrinya dan meninggalkan jejak kebiruan yang sangat banyak di sana, Alena mulai mengikuti instingnya menggerakkan pang*gulnya membuat pusaka milik suaminya keluar masuk di dalam dirinya
"Aah, Ooh, Honey!
"Love you Bee, Ough"
Sementara itu di depan ruang kerja Edward sedang terjadi keributan ketika seorang wanita memaksa ingin bertemu dengannya
"Nona saya mohon kerjasamanya, pak Edward tidak bisa menemui Tamu tanpa membuat jadwal terlebih dahulu"
"Aku tidak perduli!" Monalisa langsung berjalan masuk dan membuka pintu ruangan kerja Edward yang tadi lupa di kunci
CEKLEK
(Eng ing eng, apa yang akan terjadi? semoga Monalisa tidak jatuh pingsan nantinya, hehehe)
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1