
Masih dengan seringai iblisnya Nickel berbicara
"Jadi kalian ingin menghancurkan perusahaan ini?"
"Kami hanya ingin memutuskan kontrak kerja sama kita, setelah di setujui, kami tidak akan perduli lagi dengan urusan kalian" ucap Edward
"Kau kira aku bodoh, perusahaan akan menanggung kerugian besar akan hal itu, jadi kesepakatan itu akan tetap berjalan, tidak ada yang akan memutuskan kontrak disini!" Teriak Nickel mulai emosi
"Baik kalau begitu, kau sendiri yang menginginkan kehancuran perusahaan mu Nickel, aku akan melaporkan semua tindakan kejahatan di perusahaan ini, ingat, penggelapan dan pencucian uang yang kalian lakukan bukan hal kecil di mata hukum" ucap Edward
"Hahaha!" Nickel tertawa cukup keras, "kau mengancamku, jangan mimpi!", Kemudian Nickel mengeluarkan handphone dan memberikannya ke Edward, "Sebaiknya kau pikir dulu sebelum bertindak tuan Edward yang terhormat!" ucap Nickel dengan senyum iblisnya
Edward segera menyahut handphone Nickel, dirinya sangat terkejut melihat putri kecilnya sedang tertidur di sebuah kamar dan ada Janeta di sana, Daniel langsung melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang dilihat, bagaimana bisa Ailin sudah berada di sana
"Baji*ngan, kau benar-benar ingin cari mati rupanya, ha!" Teriak Daniel marah seketika
"Kurang ajar kau Nickel, berani tangan anak buah mu menyentuh anakku, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup!" Ucap Edward pelan namun terlihat aura kemarahan yang mematikan
"Tenanglah tuan Edward, semua terjadi karena kesalahanmu sendiri, sebenarnya aku sama sekali tidak berniat untuk mengganggu anak-anak mu" ucap Nickel
"Bajin*gan, apa maksud perkataanmu, aku tidak pernah mencari masalah denganmu ataupun kelompok mu!" Ucap Edward
"Tutup mulutmu, aku menginginkan Alena, hanya Alena, dan aku akan melepaskan kalian semua setelah mendapatkannya!" Teriak Nickel seperti orang gila
"Bangsat!, Ku bunuh kau sekarang juga Bajingan!" Teriak Edward hampir saja kehilangan kontrol
Untung saja Daniel segera menahan dan menyadarkan sahabatnya, karena Daniel sangat tau di ruangan ini pasti banyak Cctv, kalau sampai Edward lepas kendali semua akan bertambah kacau
"Bagus, kendalikan dirimu Edward, jangan sampai kau menyesal, sekarang pergi dari sini dan jangan macam-macam, Alena akan ku bawa pergi jauh bersamaku, setelah ku pastikan semua aman, aku akan melepaskan anakmu"
"Kau_, berani menyentuh Alena, Aku akan_" ucap Edward tertahan
"Aku pastikan Alena sendiri yang akan merelakan dirinya ikut denganku Edward!" Ucap Nickel lantang
Daniel segera memegang tangan Edward dan mengajaknya segera keluar dari ruangan itu, keduanya segera keluar kemudian dengan langkah cepat menuju ke mobil masing-masing, disana sudah ada Kaisar dan Raka, sementara Edward langsung menghubungi handphone istrinya yang ternyata mati
"Tenanglah Ed, kita sebaiknya kembali ke perusahaan dulu, kita tenangkan dulu pikiran, lalu mengatur rencana, Alena kini juga sudah ada di tangan mereka" ucap Kaisar
"Kau juga sudah tau Kai?!" Tanya Edward terkejut
__ADS_1
"Kita semua yang disini sudah tau, bahkan Ethan dan Evan sudah meluncur ke Perusahaan bersama dengan Alex untuk menemui kita" jawab Kaisar
"Oke, cepatlah" perintah Edward dan segera masuk ke dalam mobilnya
*
Delia yang terkejut saat mendapati pesan dari Daniel segera berlari mencari keberadaan Ratu, kebetulan sekali pelayanan di rumah sakit itu sudah selesai dan waktunya mereka pulang
"Ratu!, Boleh aku masuk?" Ucap Delia masih ngos-ngosan
"Masuklah, kenapa denganmu Del?" Tanya Ratu terkejut
"Alena, Ailina" ucap Delia terputus-putus
"Apa maksudmu, Alena apa Ailina?, Kau ini, minumlah dulu" ucap Ratu sambil menyodorkan minuman ke Delia yang masih mengatur nafasnya
"Keduanya Ratu, kau belum mendengar kabar dari suamimu?" Tanya Delia
"Kabar?, Maksudnya?"
"Ish, kau ini, dimana handphone mu, pasti masih kamu silent kan?"
"WHAT!"
Ratu sangat terkejut saat membaca pesan dari suaminya
"Jadi Alena dan Ailin di culik kelompok Mafia, Bagaimana bisa ini terjadi?" Ucap Ratu panik seketika, berdiri dan mondar-mandir tidak jelas
"Diamlah Ratu, kau membuatku tambah pusing, sebaiknya kita ke rumah Anggel sekarang juga, dia lagi hamil, aku takut dia kenapa-napa karena kepikiran soal Ailina" Ucap Delia
"Iya,iya, Ayok!" ucap Ratu yang langsung berlari keluar ruangannya tanpa menunggu Delia
"Hei tunggu, Ratu!" Teriak Delia jengkel dengan kelakuan wanita satu ini, kemudian segera ikut berlari mengejar Ratu menuju parkiran mobil
Kini keduanya sudah meluncur ke apartemen Anggel, saat Anggel membuka pintu apartemen, dirinya langsung menubruk dan memeluk Ratu begitu juga dengan Ambar yang langsung di peluk oleh Delia saat melihatnya ikut menangis
"Sudah, kalian tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka, Alena dan Ailin itu wanita yang sangat tangguh, kalian juga tau itu kan?" Ucap Ratu menenangkan Anggel dan kini tangisnya mulai reda
Semua berkumpul di ruang tengah sambil duduk dan saling memberikan dukungan, hingga keadaan lebih santai dan tenang
__ADS_1
"Kalian temani kita dulu di apartemen ini ya, aku bisa lebih tenang kalau kalian ada disini" ucap Anggel
"Iya Tante, kami jadi lebih tenang" ucap Ambar dengan wajah sedihnya
"Iya, tentu saja kami akan menemani kalian disini" ucap Delia
"Setidaknya sampai suami kita nanti sudah kembali, okey?" Ucap Ratu
Anggel dan Ambar kini sudah bisa tersenyum kembali walaupun masih ada raut kesedihan di sana, Delia dan Ratu mengirim pesan ke suami mereka untuk berhati-hati dan memberitahukan kalau saat ini sedang berada di rumah Anggel untuk membantu menenangkannya
*
Alena sudah berada di ruangan tersendiri dan rupanya sudah ada di dalam ruangan rahasia yang ada di Mansion Nickel, di dalam ruangan itu lengkap dengan sebuah kamar tidur, kamar mandi, televisi dan sofa, sangat kelihatan sekali kalau ruangan ini sering di bersihkan dan di pakai
Tak lama kemudian Alena di kejutkan dengan suara pintu yang terbuka pelan dan langkah kaki seseorang yang ternyata adalah Nickel Hodmer
Alena langsung berdiri dari duduknya dengan sikap waspada, Nickel perlahan melangkah maju mendekat kearah Alena, menatapnya intens dengan perasaan rindu yang luar biasa
"Bagaimana kabarmu Cantik?" Apa kau suka tempat ini?" Ucap Nickel yang kini sudah berada tepat di depan Alena
"Tidak, aku lebih suka tempatku sendiri" ucap Akena tanpa menatap mata Nickel
"Tatap mata orang yang berbicara denganmu, jangan tidak sopan seperti ini" Nickel hendak meraih dagu Alena, namun dengan cepat Alena menepis tangannya
"Jangan berbuat kurang ajar tuan Nickel!" Ucap Alena yang kini sudah memundurkan tubuhnya
Nickel tersenyum saat mata indah Alena menatapnya sekejab, perlahan dirinya maju mendekati Alena kembali, kali ini Alena tidak bisa mundur karena sudah menempel di dinding, Alena semakin cemas, mungkin mudah baginya untuk menghajar Nickel, tapi saat teringat nyawa anaknya ada di tangan laki-laki baji*ngan yang ada di depannya, Alena semakin tidak bisa berbuat apapun saat ini
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE