Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 31


__ADS_3

Pintu terbuka dan mata seseorang yang tengah berdiri hendak masuk langsung membulat melihat posisi Edward memangku Alena


"Ma maaf pak Edward, sepertinya waktunya kurang tepat" ucap Dokter Bagas sang Direktur Rumah Sakit


Edward terkejut dan langsung melepaskan Alena


"Tidak Dokter Bagas, Masuklah" ucap Edward mengembalikan ekspresi datar wajahnya


Sementara itu Alena yang sangat malu luar biasa, langsung berjalan cepat keluar ruangan yang sebelumnya menunduk memberi hormat kepada Atasannya


"Edward, rasanya aku ingin mencincangmu, awas saja, aku akan membuat perhitungan denganmu" batin Alena geram sambil menahan malu


Edward segera mempersilahkan Dokter Bagas untuk duduk


"Maaf dengan pemandangan tadi, saya hanya bercanda dengan Dokter Alena" ucap Edward


"Oh, iya pak, tidak masalah, Dokter Alena memang wanita luar biasa, sederhana, cerdas, masih muda dan kecantikannya tidak terbantahkan lagi"


Sesaat Edward mengerutkan dahi saat Dokter Bagas begitu memuja Alena


"Hem, apa Dokter Bagas menyukainya?"


"Hahaha, tentu saja, siapa laki-laki yang bisa menolak pesona yang luar biasa seperti itu pak Edward"


"Maksud bapak?"


Tanya Edward penuh curiga


"Saya mengagumi Dokter Alena tidak seperti yang anda pikirkan pak Edward, saya memandang Dokter Alena seperti saya kepada anak saya sendiri"


"Oh, begitu"


Ucap Edward tersirat tanda hilangnya kekhawatiran


"Jangan bilang anda tadi sempat cemburu dengan saya pak Edward" sindir Dokter Bagas dengan tersenyum


"Hem, tentu saja tidak Dokter Bagas, saya hanya berteman dengan Dokter yang masih bocah itu" ucap Edward menutupi kenyataan yang tidak dia sadari


"Bisa kita kembali ke topik pembicaraan?" ucap Dokter Bagas


"Oh, tentu saja, silahkan"


Akhirnya kedua orang penting di Rumah Sakit Royal Murrage Hospital itu mendiskusikan sesuatu hal yang berhubungan dengan kelangsungan kemajuan Rumah Sakitnya


"Jadi anda sudah menemukan klausul bagaimana rumah sakit ini bisa kerjasama dengan perusahaan Otomotif penjualan Mobil Mewah?"


"Iya pak Edward, ada yang saya curigai, yaitu Dokter Amelia, dia sepertinya punya hubungan dengan semua ini"


"Apa Dokter yakin akan hal itu?"


"Entahlah pak Edward, bagian keuangan juga menemukan sesuatu yang ganjil, yaitu pembayaran dalam jumlah besar Rumah Sakit ini ke perusahaan Otomotif itu"


"Maksudnya selain pembayaran cicilan mobil mewah yang diambil dari perusahaan itu Dokter?"


"Iya pak Edward"


"Hem, ini semakin menarik, siapa yang berani coba-coba bermain di Rumah Sakit ini"


"Saya juga tidak mengerti pak Edward"


"Baiklah Dokter Bagas, terimakasih informasinya, saya akan mencari tau lebih lanjut masalah ini"


"Baik pak Edward"


*


Disebuah Restoran tak jauh dari Rumah Sakit Royal Murrage Hospital


"Kayaknya kita dapat traktiran nih" ucap Amaya


"Mulai nih anak, minta traktiran mulu" jawab Delia


"Sudah, aku traktir deh, gih sana kalian pesen" ucap Alena


Amaya langsung menjentikkan tanam tanda memanggil seorang pelayan Restoran, setelah itu memesan semua menu yang diinginkannya


"Kenapa sih Al, kusut banget mukanya, capek banyak pasien pasti ya tadi?" tanya Delia

__ADS_1


"Aku pengen hajar orang kak"


"Ha, mau alih profesi jadi preman kamu?" tanya Delia


"Kak, aku serius , hari ini aku malu banget sama Pak Direktur Rumah Sakit" ucap Alena kesal


"Emang kenapa, kamu ketauan ngupil depan pak Direktur?" tanya Amaya


"Amaya,!"


Teriak Alena kenceng hingga semua orang yang lagi makan di Restoran itu langsung menatap ke sumber suara


"Ish, jaga kelakuan kamu Al, malu itu dilihatin banyak orang" ucap Delia sambil menahan malu dengan sikap Alena yang main teriak kayak di pasar


"Biarin, mangkanya jangan ngeledek mulu, aku lagi suntuk"


"Ye, mangkanya cerita yang jelas, jangan separo-separo gitu, kitanya yang pusing" ucap Amaya


"Tau ah, aku kesel, bingung ceritanya dari mana Am" Alena kesal


"Dari Sabang sampai Merauke" sahut Delia


"Dari barat ke timur" sahut Amaya


"Dari atas ke bawah" sahut Delia lagi


"Dari ujung ke pangkal" sahut Amaya lagi


"Stop, sekali lagi kalian terusin, aku tabok mulut kalian satu-satu, mau?"


ucap Alena geram


Amaya dan Delia langsung tertawa geli melihat wajah Alena, tak lama kemudian Alena menceritakan semua kejadian siang itu di ruangan Edward mulai dari Amelia yang telanj@ng, sampai kepergok Dokter Bagas saat di pangkuan Edward


"Hahaha"


Amaya dan Delia tertawa ngakak mendengar Alena yang kepergok Dokter Bagas


"Wah, ini berita kalau kita ekspos bisa viral nih kak" goda Amaya


"Kan seru Al, sayang lo" ucap Delia


"Mau aku tendang kalian masuk alih profesi jadi anggota gosip lambe-lambean?"


"Ih, mulai ngancam ni" sahut Amaya


Sesaat kemudian semua terdiam saat makanan pesanan sudah datang, dengan tenang ketiganya menikmati makan malam sebelum pulang, sesaat kemudian ada pesan masuk dari handphone Alena


Percakapan di watshap


" Lagi ngomongin apa, kayaknya seru" Edward


Alena langsung celingak celinguk mencari sosok yang mengirimkan pesan


"Kamu dimana, lihat kita?" Alena


"Disini, nggak perlu di cari, kamu lagi ngomongin apa?" Edward


"Ngomongin rencana pembunuhan" Alena


"Wih, ngeri" Edward


"Banget" Alena


"Pembunuhan siapa?" Edward


"Edward Runcel Eagle, orang paling mengesalkan dan tidak tau malu sedunia!"


BRAK


Alena membanting handphone nya dengan emosi selesai mengetik sesuatu di Watshap


"Astagfirullah!"


ucap Delia dan Amaya yang kaget setengah mati


"Al, kira-kira dong kalau banting sesuatu, kaget kita tau" ucap Amaya kesal

__ADS_1


"Tau ini bocah, ngapain sih, habis ngetik main banting aja, itu handphone mahal Lo, pemberian dari pak Edward" kata Delia


"Bodo, jangan sebut nama itu lagi, aku makin kesal kak!" ucap Alena


"Udah deh, jangan balas Watshap dulu, biar gak ilang itu n@fsu makannya" ucap Delia


Akhirnya mereka bertiga menikmati makan malamnya dengan sedikit guyonan yang membuat semakin hidup suasana


Tak lama kemudian ada telpon masuk dari handphone Alena


"Halo Al, lagi ngapain?"


"Halo, lagi makan malam, ini kamu dit?"


"Iya, kalian bertiga?"


"Hem, emang kenapa, mau ikutan gabung, Ayok" ucap Alena sambil menoel lengan Amaya


"Boleh, kalian selesai belum?" tanya Aditama


"Cepetan kesininya, kita barusan makan kok" ucap Alena


"Ok, lima menit lagi, aku nyampek" kata Aditama


Tut Tut


Sambungan telepon terputus


*


"Kok cepet amat itu orang nyampek sini?" Tanya Delia


"Adit dari Rumah Sakit kok, langsung sini, mangkanya cepet" sahut Amaya


Tak lama kemudian datanglah Aditama sambil berlarian kearah Alena dan teman-temannya


"Aku gak telat kan?" ucap Aditama masing ngos-ngosan, dan segera duduk di antara Alena dan Amaya


Semuanya langsung melanjutkan makannya, hingga terdengar lagi suara pesan masuk di handphone Alena


"Hati-hati, nanti pulang bareng sama yang lain, jangan diantar Dokter Aditama sendirian" Edward


"Emang kenapa, suka-suka aku lah, lagian Adit juga baik kok" Alena


"Jangan melanggar ucapan ku, kau akan tau hukumannya" Edward


Alena meletakkan kembali handphone nya dan tidak memperdulikan pesan-pesan yang masuk dari Edward


"Al, kamu bawa mobil sendiri?" tanya Aditama


"Nggak kebetulan tadi di jemput kak Delia"


"Oh, nanti ikut aku aja, aku antar Sampek tempatmu" Satria


Sejenak Alena terdiam dan teringat omongan Edward


"Emangnya kenapa kalau aku bareng Adit, main hukum orang aja, memangnya dia bisa apa" batin Alena


Selesai makan malam, semuanya berniat untuk segera pulang, Amaya yang sudah janji untuk menemani Delia di Apartemen, akhirnya segera masuk ke mobil meninggalkan Alena dan Aditama


"Ayo aku antar" ucap Aditama


"Hem, baiklah" ucap Alena sedikit ragu, memikirkan peringatan yang di berikan oleh Edward


didalam mobil tak ada suara apapun, Akhirnya Aditama menghidupkan musik dengan pelan, tak lama mata Alena seperti di lem, pengen segera merem tapi di tahan oleh Alena, Aditama mengetahui hal itu


"Tidurlah Al, ini masih jauh, nanti aku bangunkan kalau sudah nyampek"


"Maaf, aku ngantuk banget, makasih ya" beberapa detik berikutnya Alena sudah tertidur lelap


Sampai di depan kontrakan Alena, Aditama menghentikan mobilnya pelan dan mematikan mobilnya, sejenak di pandanganya wajah Alena hingga pandangan mata Aditama jatuh ke bibir ranum milik Alena


Aditama masih terus memandangi wajah Alena, hingga terbesit pikiran ibl#snya, dengan pelan Aditama mendekatkan wajahnya ke wajah Alena dan bibirnya semakin dekat dengan bibir Alena, hingga kemudian


Bersambung


Terimakasih, jangan lupa jejak dukunganya (like komen, vote dll)

__ADS_1


__ADS_2