Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 89


__ADS_3

Tak terasa kurang 4 hari lagi pernikahan Alena dan Edward akan dilangsungkan, Alena pusing sepagi ini sudah beberapa kali mendapatkan telpon dari orang tua dan kakaknya


"Al, kamu kenapa, sakit?, rambut kamu masih acak-acakan gitu" tanya Edward melihat Alena duduk malas di ruang santai setelah sholat subuh"


"Nggak, pusing aku Ed, udah hampir 10 kali aku dapat telpon dari keluargaku, semuanya pada ngingetin besok kita sudah harus ada di Jakarta, akh!"


Edward tertawa geli melihat tingkah manja Alena yang seperti anak kecil sedang kesal


"Sudah, gak usah dipikirin, kan memang besok dah hari Kamis Al, kita juga sudah nyiapkan segalanya untuk berangkat ke Jakarta"


"Hem, ya udah aku masak buat makan pagi dulu, kamu masih kerja kan Ed hari ini?"


"Eh, tunggu, Jangan beranjak dulu, sini aku benerin rambut kamu itu, kayak orang habis tempur dikasur kamu tu"


"Padahal di ja*mah aja enggak ya Ed" ucap Alena mengurungkan niatnya dan di tarik ke dalam pelukan Edward


"Memang mau aku ja*mah sekarang?, Mumpung masih pagi ini" jawab Edward sambil merapikan rambut Alena dengan jarinya


"Jangan mulai, pengen aku tinggal lari lagi, kayak kemaren"


"Semenjak nikah jadi pelari maraton kamu ya Al" sahut Edward


"Hehehe, ya habisnya kamu, suka Onn mulu kalau dekat aku, kan jadi takut Akunya Ed"


"Dikasih enak malah takut, nanti ketagihan minta-minta mulu, Awas!" Ucap Edward sambil duduk membantu Alena masak


"Awas kenapa?"


"Awas aku gempur sampek kamu gak bisa jalan" sahut Edward


"Ih, pikiran me*sum mulu deh kamu tu ya, emang ada Sampek kayak gitu"


"Ya nanti kita buktikan saja, atau ingin aku buktikan sekarang?" Ucap Edward dengan nada se*xi menggoda dan berjalan mendekati Alena


Alena langsung menoleh ke Edward mundur ke belakang


"Eh, kamu mau ngapain, jangan aneh-aneh ya, ini di dapur Ed" ucap Alena sambil terus mundur saat Edward terus maju ke arahnya


"Mau di mana saja aku siap, di dapur sensasinya tambah Ho*t" ucap Edward sengaja mengerjai Alena


"Diam, jangan maju lagi, beneran ini pisau bisa nancep ke tubuh kamu ya Ed" ucap Alena mengacungkan Pisau dapurnya karena tubuhnya sudah mentok ke tembok dan tidak bisa lari lagi


Edward tertawa sejadi-jadinya, melihat kelakuan Alena, sedangkan Alena langsung menendang kaki Edward karena sudah berhasil mengerjainya, setelah sarapan pagi keduanya berangkat bersama seperti biasa


Sampai di perusahaannya Edward langsung menuju ke ruang kerjanya, namun belum sempat Edward masuk ke dalam, pak Hari segera menghentikan langkah Edward


"Maaf tuan, ada nona Monalisa di dalam" ucap pak Hari


"Kenapa bisa masuk?"


"Tadi membuat onar dan sempat mencakar salah satu pegawai disini karena bertengkar di larang masuk ke dalam tuan"


"Heh, lain kali, panggil satpam, biar satpam yang ngusir secara langsung"


"Iya tuan, maaf, lain kali akan saya lakukan sesuai perintah tuan Edward"


"Hem, ya sudah, biar aku masuk ke dalam, pak hari jangan jauh-jauh, tunggu di ruangan sebelah, barangkali aku membutuhkan bantuan mu"


"Siap tuan"


Edward segera masuk ke dalam ruangan kerjanya dan mendapati sudah ada disana dengan wajah yang tidak menyenangkan, Edward melangkah tanpa menyapa Monalisa dan langsung duduk di meja kerjanya, membuka laptop dan memulai pekerjaannya, Monalisa terheran melihat sikap Edward yang menganggap sepertinya dia tidak ada disana


"Ed, sikap macam apa ini, Edward!" Teriak Monalisa penuh emosi

__ADS_1


"Jaga bicaramu Mona, ini kantorku, jangan berbuat semau mu" ucap Edward


"Kalau begitu ayo kita mulai bicara, kenapa kau menghindari ku, kenapa kau tidak memperdulikan ku, aku menunggu mu Ed, setiap hari aku merakan sakit dihatiku karena selalu menunggumu!"


"Benarkah?, Apa kau tidak ingin meralat ucapanmu sebelum kau menyesal?"


"Apa maksudmu Ed, kau kira aku membohongimu, untuk apa?"


"Apa perlu aku yang menjawab untuk apa kamu melakukan semua sandiwara yang menji*jikkan ini"


"Ap, apa maksudmu Ed, kau berkata kasar padaku?, Kau sungguh tega Ed" ucap Monalisa yang mulai khawatir rencana bu*suknya sudah tercium oleh Edward


"Pergi dari hadapanku sebelum aku bertindak lebih jauh Monalisa, aku peringatkan sekali lagi, hubungan kita hanya sebatas teman Bisnis, tidak lebih, jangan coba-coba bertindak di luar batas"


"Kau_ , Oh benar-benar, aku tidak percaya ini adalah dirimu Ed, kau berubah, ingat Edward, jangan berani mengancamku, aku juga bisa menghancurkan mu"


"Sebelum kau melakukan itu, pikirkan baik-baik Monalisa, jangan sampai kau menyesal, ingat, aku sudah memperingatkan mu"


Monalisa langsung pergi meninggalkan Edward dengan dendam dihatinya, sementara Edward menyandarkan kepalanya di kursi sebentar, kemudian segera menghubungi Raka dan mengajaknya bertemu jam 4 sore, setelah itu melanjutkan pekerjaannya


*


Raka segera memberesi semua barangnya untuk bersiap pulang dari Rumah Sakit Royal Murrage Hospital, setelah itu menghubungi Alena untuk berpamitan, Raka berjalan keluar kamar perawatan untuk pulang


"Raka, kau sudah boleh pulang?" Panggil Amaya saat berpapasan dengan Raka di lorong Rumah Sakit


"Hei Am, iya, makasih bantuan kalian semua ya, sudah menemaniku selama perawatan"


"Hei, ayolah, kita berteman kan?, Jangan sungkan kalau butuh bantuan kita, pasti aku bantu"


"Iya, terimakasih, kau tampak kelelahan Am, apa kau sakit?" Tanya Raka


"Oh, enggak, aku hanya kelelahan"


Amaya merasakan sebuah kehangatan saat berbicara dengan Raka, berbeda dengan kekasihnya Aditama yang sifatnya kadang berubah-ubah dan lebih banyak dingin kepada Amaya


*


Alena baru saja keluar dari kamar Operasi dan merebahkan badannya di kursi ruang istirahat Dokter, Entah kenapa perasaanya tidak enak dan selalu teringat Edward, setelah membersihkan diri Alena segera menghubungi Edward, namun kali ini pak hari yang mengangkatnya


"Halo nona Alena, maaf tuan Edward masih di ruang rapat, 30 menit lagi akan selesai, apa perlu saya sampaikan panggilan nona ini sekarang?"


"Oh, gak perlu pak, biar nanti saja, aku gak keburu kok, ya sudah, kali Edward selesai tolong segera menghubungiku ya pak hari, maaf saya mengganggu"


"Siap nona Alena, nanti akan saya sampaikan"


Setelah itu Alena segera menutup handphonenya


"Hah, syukurlah Edward baik-baik saja, tapi kenapa perasaanku masih tidak enak ya, hemh, sudahlah" batin Alena dan melanjutkan pekerjaannya


Alena melangkah lesu ke kantin untuk mencari makan siang


"Idih, lemes banget neng, kurang bumbu dari bang Ed ya?" Goda Delia


"Iya, hambar ini" ucap Alena cuek


"Eh, tumben jujur banget, emang kurang apa?, manis, asam, asin atau pedes?" Sahut Delia


"Kurang ajar, dasar Edward, masak Sampek jam segini belum telpon juga, ngapain aja coba, mana perasaanku gak enak banget ini, menyebalkan!" Teriak Alena sukses membuat beberapa mata sempat memandang ke arahnya


"Eh, apa-apaan sih kamu Al, main nge gas seenaknya, malu-maluin aja, jadi wanita itu mbok yang punya wibawa juga gitu lo, kalau gak ditelpon ya biarin aja, berlagak jual mahal dikit gitu kek, ini malah teriak, kayak wanita kegatelan tau nggak" ucap Delia


"Apaan sih kak, emang gatel ma suami sendiri gak boleh, enakkan nanti di garukin"

__ADS_1


Plak


Delia langsung memukul lengan Alena


"Sakit kak, apaan sih main pukul aja deh"


"Kalau ngomong soal gituan jangan sama aku, aku gak mau telingaku tercemar lagi mendengar kata-kata Vul*gar kamu itu"


"Eleh, lagaknya, suka kan, pasti sering mbayangin gituan kan, sama artis Korea siapa itu namanya, Paimin ho"


"Ish ngarang aja, pakek ganti nama idolaku, Lee min Ho yang bener Al!"


"Bodo, sama-sama Ho, masih aja protes" sahut Alena


"O, dasar bocah sableng" ucap Delia kesal


Sampai pada Akhirnya, setelah makan siang Alena mendapati panggilan di handphone dari Edward


"Ed, kamu baik-baik saja kan?"


"Iya, emang kenapa, aneh gitu pertanyaannya"


"Nggak ada, perasaan ku cuma gak enak dari tadi, kepikiran kamu terus"


"Kangen?" Tanya Edward


"Tau, biasanya juga gak gini"


"Pengen di peluk?"


"Ish, apaan sih Ed, aku tu cuma kepikiran kamu aja, gak tau kenapa"


"Apa aku perlu ke sana?"


"Gak usah Edita, dengar suara kamu udah cukup"


"Ya udah Alpan, nanti dari Apartemen aku keloni, aku cium, aku peluk, aku_, apa lagi ya?"


"Gak ada, itu aja dulu yang boleh, ingat, besok kita ke Jakarta"


Tut Tut


Sambungan telepon dimatikan oleh Alena


"Dasar ini bocah, dimatikan gitu aja telponnya" belum kelar Edward menggerutu, Alena menghubungi kembali


"Ya Al"


"Assalamualaikum Edita, sorry tadi lupa"


"Waalaikumsa_" belum selesai Edward membalas salam, sambungan telepon dimatikan kembali oleh Alena


"Alpan!" Teriak Edward penuh emosi


Sesaat kemudian Edward mengirim pesan bahwa akan pulang terlambat karena ada urusan penting yang perlu dibicarakan dengan Raka di Cafe, Alena pun membalas akan pulang duluan bareng dengan Delia


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2