
Sementara itu Alex melihat semua pemandangan yang sangat mengharukan, dalam hati, Alex sangat bersyukur Alena dikelilingi orang-orang yang tulus menyayanginya bukan karena statusnya, Alex juga melihat ke dalam diri Edward saat bersama dengan Alena, kedekatan keduanya memang masih samar di mata Alex, tapi insting kuat seorang Alex masih tidak bisa diremehkan
"Kenapa aku merasa Edward berjodoh dengan Alena, ya Alloh kalau memang ini kehendakmu, lindungi dan dekatkanlah hati mereka" doa Alex di dalam batinnya
"Ed, aku ingin bicara denganmu secara pribadi" ucap Alex
"Hem, kita ke ruang kerjaku" jawab Edward
Akhirnya mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang kerja Edward
"Aku ingin kau melindungi Alena, jangan sampai hal ini terjadi lagi" ucap Alex tajam
"Iya Lex, aku minta maaf atas kejadian yang menimpa Alena"
"Keputusanku untuk menikahkan kalian sudah bulat, aku akan menceritakan semuanya ke orang tuaku, jadi kau bersiaplah"
"Tapi Lex, apa ini tidak terlalu cepat"
"Jadi maksudmu kau bisa menyentuh dan menjamah Alena tanpa berstatus sebagai muhrimnya, apa kau sadar perbuatan dosa kalian akan bertambah besar, kau pikir aku akan membiarkan adikku berbuat zina?"
"Maaf Lex, bukan itu maksudku, aku tidak pernah berbuat macam-macam dengan Alena, hanya waktu itu_" Edward langsung menghentikan kalimatnya
"Lanjutkan, jangan berani membohongiku" ucap Alex menatap tajam ke arah Edward
"Waktu itu aku bermaksud melindungi diri dengan mencium bibir Alena"
PLAK
Tamparan keras dari tangan Alex langsung menghantam muka Edward, darah dari sudut bibir Edward langsung keluar dan segera di sapu dengan tangan Edward
"Seminggu lagi pernikahan kalian akan dilangsungkan, jangan pernah menawar apapun lagi, kau mengerti!"
"Baiklah, aku minta maaf Lex"
"Sudahlah, aku akan pulang dan membicarakan semuanya dengan keluargaku, aku titipkan Alena padamu, jaga dia baik-baik"
Edward berjalan keluar mengantarkan kepergian Alex sampai di depan pintu apartemennya
*
Setelah infus terpasang dan semua luka ditubuh Alena dibersihkan, beberapa saat kemudian Alena tersadar, Delia dan Amaya tersenyum disamping Alena
"Shh, kepalaku kenapa pusing begini?" ucap Alena lirih
"Sudah sadar ni tuan putri?" kata Delia
__ADS_1
"Masih sakit kepalanya?, ni dayang-dayang siap membantu apapun yang putri inginkan" ucap Amaya menggoda
"Apaan sih kalian ini, jangan bikin kepalaku tambah puyeng ma tingkah aneh kalian ya" jawab Alena
"Gak usah ngeluh, kita berdua udah kamu buat puyeng dari tadi, tega kamu ya bertahun-tahun bohongi kita" ucap Delia
"Tau ni bocah, kita hampir shock tau nggak, gara-gara kelakuan kamu Al, keterlaluan banget" sahut Amaya sambil matanya berkaca-kaca
"Kalian ini ngomong apa, apa yang aku lakuin, bukannya disini aku yang terluka, harusnya aku yang merengek minta perhatian, kenapa malah kalian, Aneh?" ucap Alena bingung
"Kamu bohongi kita selama ini Al, hidup susah sama aku, makan makanan warung sama kita, berlagak seperti orang biasa saja, padahal kamu, hik hik" ucap Amaya sambil menangis
"Iya, ingat waktu kamu dan Amaya ngutang uang buat makan waktu pertama diterima di rumah sakit, kamu juga menolak untuk tinggal di Apartemenku, malah nyuruh aku nyarikan kontrakan yang murah, hik hik" Delia pun ikut ngomel sambil menangis
Alena hanya terdiam melihat satu-satu kedua sahabatnya yang menangis tersedu-sedu seperti di tinggal kabur pasangannya
"Belum lagi saat keluarga Murrage mempermalukanmu, menghina statusmu sebagai wanita kelas rendah, kami sampai ikut sakit hati Al, kenapa kamu lakuin ini Al, kenapa gak jujur sama kita, kita ini sahabatmu, apa kamu masih belum mempercayai kami, hik hik" ucap Delia sambil menangis
"Apa kamu gak pernah menganggap ketulusan hati kami berteman dengan mu Al, hik hik" ucap Amaya masih sesenggukan
"Sudah nih dramanya, apa masih ingin lebih lama lagi nangisnya, aku tunggu sampai kalian tenang dan diam, baru aku akan menjelaskannya" ucap Alena
Ucapan Alena langsung mujarab, membuat Delia dan Amaya menghentikan tangisannya
"Iya Al, tapi_" ucap Amaya
"Keluarga milyarder itu tidak seenak yang kalian pikir, musuh kami tidak sedikit, orang yang ingin dekat dengan kami juga ribuan, tapi hampir semuanya hanya memanfaatkan kedudukan dan kekayaan kita saja, aku hanya manusia biasa sama kayak kalian, apakah aku gak berhak hidup mencari jati diri sendiri, mencari orang yang tulus berteman tanpa melihat siapa aku sebenarnya, harta memang berharga tapi tanpa orang-orang yang tulus dan bisa dipercaya, semuanya percuma, apa kalian mengerti?" kata Alena menjelaskan
"Iya Al, maafkan kami" ucap Amaya
"Satu lagi, tolong rahasiakan ini semua ya, hanya kalian yang tau tentangku, please ?" mohon Alena
"Iya, iya, kami janji"
Keduanya menangis lagi dan langsung memeluk erat Alena
"Ish, sudah-sudah, badanku sakit semua ini, kalian jangan menyiksaku" teriak Alena di sertai dengan suara tertawa lepas dari kedua sahabatnya
Edward dan pak Hari yang dari tadi melihat pemandangan mengharukan itu saling bertatap muka dan tersenyum, kemudian kembali duduk di ruang tengah
"Apa anda yakin akan melepaskan begitu saja wanita seperti nona Alena tuan?"
"Entahlah pak, dia memang wanita berhati malaikat, tapi aku masih ragu, apa hatiku bisa berpaling sepenuhnya ke Alena"
"Kalau anda ada niat pasti semuanya akan di permudah, hanya Alloh pemilik hati manusia dan hanya DIA yang bisa membolak-balikkan hati hambanya"
__ADS_1
"Kau benar pak, terimakasih"
"Sama-sama tuan, saya hanya bisa memberikan saran saja"
Pembicaraan Edward dan pak Hari terpotong ketika Delia dan Amaya pamit
"Maaf pak Edward, Alena sudah baikan, infusnya juga sudah saya lepas, kami akan pamit kembali ke Apartemen" ucap Delia
"Baiklah ,tapi sebaiknya kalian tinggalah disini beberapa hari sambil merawat Alena dulu, apa kalian bisa?"
"Tentu saja pak Edward, kami akan bergantian menjaga Alena disini, saya juga akan mengurusi ijin cuti Alena" ucap Amaya
"Gak perlu, aku sudah mengurusnya, terimakasih sudah menjaga Alena selama ini, kalian teman-teman yang baik"
"Oh itu, kami sudah menganggap Alena seperti saudara kami sendiri, walaupun dia sering bandel" ucap Delia
Keduanya segera pamit untuk kembali ke Apartemennya dulu, mereka akan bergantian menjaga Alena disiang hari saat Edward dan Pak hari sedang bekerja
*
Malam saat Alena tertidur, tiba-tiba Alena berteriak seperti orang ketakutan, menyebut nama Amelia berkali-kali, dan berteriak seperti ada orang yang akan menjamahnya, Edward terbangun dan berlari ke kamar Alena
"Al, hei, Al, bangunlah, buka matamu" ucap Edward lirih
Alena terbangun dan langsung memeluk Edward erat dengan tubuh yang penuh dengan keringat
"Ed, aku takut, aku bermimpi kejadian itu lagi"
"Hei, sudah-sudah, ini minum dulu airnya, biar kamu tenang"
Alena langsung meminum air dari gelas yang di berikan oleh Edward, setelah itu berniat bangun dari tempat tidurnya
"Kamu mau kemana Al?" tanya Edward
"Mau curhat, biar tenang" ucap Alena
"Curhat gimana maksudmu, sama siapa, jangan aneh-aneh, ini sudah malam" kata Edward makin penasaran
"Makin aneh ini bocah, masak iya, jam segini main curhat-curhatan, sama siapa juga ni?" batin Edward sambil menatap heran kepergian Alena
Alena masih terus berjalan masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Edward, sementara Edward segera keluar dari kamar Alena masih dengan kondisi penasaran
Bersambung
Terimakasih, jangan lupa jejak dukungannya (like, komen, vote dll)
__ADS_1