
Tengah malam Alena terbangun dan ingin buang air kecil ke kamar mandi, Alena sangat terkejut mendapati ada seseorang yang sedang berada di tempat tidur bersamanya
"Akh!"
Teriak Alena, dan langsung membungkam mulutnya sendiri dengan tangannya
"Astagfirullah, kenapa aku jadi lupa kalau aku sudah punya suami, untung Edward tidak terbangun" batin Alena
Dengan sangat pelan Alena membebaskan dirinya dari pelukan suaminya, sesaat kemudian Alena masih bingung menoleh kesana kemari mencari gaun tidurnya yang entah kemana, dan Alena melihatnya berada di lantai yang sedikit jauh dari tempatnya, terpaksa tanpa memakai apapun di tubuhnya Alena berusaha berdiri untuk mengambil gaun malamnya, dan Alena tersentak ketika mendapati rasa nyeri yang sangat di bagian Intimnya
"Akh!"
BRUG
Alena terjatuh di tepi tempat tidur karena tidak kuat menahan nyeri yang masih sangat terasa
Edward langsung terbangun dan terkejut mendapati istrinya terduduk di tepian kasur sambil meringis kesakitan
"Bee, Kenapa, masih sakit?"
Ucap Edward segera menggendong Alena dan menyandarkan pelan di tempat tidur
"Iya honey, mau aku buat jalan ngambil gaunku, rasanya sakit, perih, ngilu banget"
"Ini gaunmu, pakailah, jangan beranjak dari tempat tidur dulu"
"Iya, makasih, Honey kamu pakek baju dulu, jangan polosan gitu ih"
Ucap Alena sambil menghindarkan pandangannya dari tubuh Edward yang tinggi besar dengan dada sixpack dan sangat mengundang has*rat kaum hawa
"Memang kenapa, kamu juga sudah tau semuanya tadi"
"Iya tapi gak harus kesana kemari gak pakek baju kan?"
Edward hanya tersenyum dan mencium singkat bibir Alena, setelah itu mencari kimono tidur nya untuk segera dipakai, Alena meringis tidak kuat lagi menahan ingin buang air kecil, sekali lagi dia mencoba menggeser duduknya dan ingin berdiri
"Mau apa lagi Bee, nanti kamu kesakitan lagi lo"
"Aku pengen pipis ini, kebelet banget"
"Kenapa gak bilang dari tadi ,yok sini!"
Edward langsung membopong tubuh Alena dan mendudukkannya di closet duduk sambil menunggunya
"Kamu keluar dulu honey, aku gak apa-apa"
"Sudah, aku tunggu sini aja"
Ucap Edward sabil menciumi puncak kepala istrinya yang tengah meringis kesakitan saat mengeluarkan air kencingnya
"Perih Bee?"
"Banget"
__ADS_1
"Sabar Bee, nanti lama-lama perihnya ganti enak terus"
"Ish, dasar!
Edward terkekeh sambil melihat ekspresi Alena saat membersihkan diri, Edward juga sangat menahan hasratnya yang muncul tiba-tiba ketika melihat kaki telanjang Alena saat duduk di closet
"Sh*it, come on junior jangan bangkit dulu, Istriku masih kesakitan" batin Edward
"Aku keluar dulu Bee!"
Tiba-tiba saja Edward langsung ngacir meninggalkan Alena
"Yang nyuruh nunggu juga siapa" batin Alena
Dengan pelan Alena mengguyur organ in*timnya dengan air hangat agak lama, hingga kemudian rasa perih dan ngilu nya berkurang banyak, Alena mencoba berdiri, kemudian tersenyum sendiri karena sudah tidak terlalu sakit saat dibuat berjalan cukup pelan, Alena menuju di bawah shower dan melakukan mandi besar, setelah itu kembali lagi ke tempat tidur di samping Edward, kini berganti Edward yang melakukan rutinitas di kamar mandinya sebentar dan segera menyusul istrinya kembali ke tempat tidur
"Bee?"
"Hem"
Edward langsung memeluk Alena dari belakang, menciumi tengkuknya perlahan dan membuat Alena menggeliat, tangan Edward kini beraksi dengan membelai dan meremas lembut bukit kembar istrinya, Alena yang sudah setengah tidur hanya mele*nguh pelan merasakan sensasi sentuhan suaminya antara sadar dan tidak, ha*srat Edward makin bergejolak mendengar desi*san suara Alena, tangan Edward kini menjelajah ke area inti, senyuman mengembang ketika merasakan di sana tidak ada penghalang satupun, perlahan gaun Alena tersibak hingga punggungnya terekspos dan terpampang di depan mata Edward
Bibir dan lidah Edward beraksi, menciumi dan sedikit memberikan ji*latan di seluruh punggung Alena, leng*uhan dari bibir Alena lolos terdengar di telinga Edward, gigitan kecil yang diberikan mampu membawa Alena tersadar dan menerima kenik*matan yang di berikan oleh Suaminya
"Aku menginginkanmu Bee"
Bisik lirih Edward di telinga Alena
Alena makin mende*sah ketika tangan Edward membelai lembut barang berharganya, mencoba masuk perlahan dan memberikan sensasi yang luar biasa, Edward menenggelamkan jarinya disana, rasanya sangat hangat membuat ha*sratnya makin meminta lebih, kecu*pan, luma*an bahkan gigitan sudah menjelajahi hampir seluruh tubuh Alena dan kini membuat tubuhnya benar-benar panas terbakar
"Tahan dulu Bee, sebentar lagi"
Edward segera memposisikan Alena di bawah tubuhnya, melu*mat bibirnya, kedua lidah saling membelit dan mencecap, jari tangan Alena masih berusaha mencengkram sesuatu, melihat hal itu Edward menenangkanya dengan memberikan telapak tangannya, kini kedua tangan saling berpegangan, membuat Alena lebih tenang, perlahan Alena merasakan sesuatu yang keras dan hangat masuk ke dalam dirinya
"Aaah, pelan honey"
"Ooh, Masih sakit Bee?"
"Emh, sedikit"
Setelah semuanya sempurna, Edward langsung melakukan instingnya, memompa Alena perlahan kemudian semakin mempercepat temponya, Alena tersentak ketika Edward merubah posisinya terduduk dan meraih kedua kaki Alena sedikit terangkat, sungguh sensasi yang sangat luar biasa, Alena mampu merasakan betapa milik suaminya sanggup menerjangnya penuh hingga di mulut rahimnya, Alena berusaha menahan teriakannya, ketika sesuatu dalam dirinya seakan mau meledak, sedangkan Edward menikmati pemandangan indah istrinya dan semakin mempercepat tempo permainannya
"Honey, aku mau keluar!"
Ucap Alena tertahan
"Kita lakukan Bersama Bee"
"Ooh, Honey, ini_"
"Teriaklah, jangan di tahan Bee"
"AAAH!"
__ADS_1
"OOHG!"
Keduanya menjerit bersama saat hasratnya meledak dan melebur bersama menjadi satu
kali ini sangat berbeda, baik Edward maupun Alena rasanya ingin mengulanginya kembali, hasrat mereka seakan tidak pernah mati, Edward tidak memberikan jeda lagi kepada Alena, dengan has*rat yang masih membumbung tinggi, Edward membalikkan posisi, kini Alena berada di pangkuannya, Alena terkejut dan membelalakkan mata, saat ini semuanya adalah pengalaman pertama bagi keduanya, namun insting seorang Edward memang sangat luar biasa
"Masukkan perlahan Bee"
Ucap Edward memberi petunjuk sambil mengarahkan tangan Alena untuk memegang benda keras dan kokoh miliknya
Alena sempat bingung sesaat, namun kemudian melakukan apa yang dikatakan Edward, perlahan tapi pasti Alena menuntun benda itu untuk masuk ke dalam intinya, dan betapa terkejutnya Alena saat sensasi yang dirasakan begitu hebat, Alena mende*sah, begitu juga dengan Edward, entah dari mana semuanya itu terjadi, Alena tiba-tiba menggerakkan pinggulnya ke depan dan belakang dengan pelan, sang pusaka terlihat begitu mengimbanginya, Mata Edward terpejam dan mulutnya mende"sah
"Ooh, Bee, ini sangat Nikmat"
Alena sempat tersenyum melihat suaminya yang begitu menik*mati permainannya, semakin cepat Alena menggerakkan pinggulnya, organ int*im Alena semakin berkedut, ada rasa kenik*matan yang luar biasa di sana, hingga akhirnya keduanya di buat benar-benar gila, saling mende*sah dan berteriak
"Ooh, Terus Bee, sebentar lagi"
"Honey, aku hampir, Ahh"
Edward langsung merubah posisi duduk dan sesekali mengu*lum puncak bukit kembar istrinya, tangannya membantu menggerakkan pinggul Alena lebih cepat lagi, suara teriakan dan ******* semakin tidak terkontrol, hingga Akhirnya teriakan keduanya begitu shahdu terdengar
"Love you Bee!"
"love you Honey!"
"AAAH!"
Ledakan Dahsyat kesekian kali dalam tubuh keduanya kini sudah terjadi, tak bisa di bayangkan lagi derasnya peluh yang bercucuran dari tubuhnya h mereka, Alena langsung ambruk dalam pelukan Edward, mereka saling berpelukan beberapa saat, sampai Edward tersenyum melihat wajah Alena yang sudah sangat berantakan tapi terlihat sangat cantik dan sek*si
"Thanks Bee"
"Sama-sama Honey, Selamat kamu sudah berhasil meremukkan tubuhku"
"Hehehe, maaf Bee, kamu terlalu nik*mat dan luar biasa bagi ku"
"Sama-sama Honey, aku Capek"
"Iya, Tapi pusaka ku masih di dalam milikmu Bee, apa kamu tidak rela melepaskannya?"
"Hah, hehehe, sorry Honey, Aku lupa"
Alena segara mengangkat pinggulnya dan menggeser tubuhnya di samping Edward, kini keduanya benar-benar tertidur di jam 2 dini hari
(Haduh, wes mboh lah, Begitulah Adanya, puas-puasin ya bacanya, kipas mana kipas, AC Tolong hidupin!)
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE