
"Kalau kak Alex ingin menghabisi Edward, berarti kakak harus lebih dulu membunuhku" ucap Alena
"Apa yang kau lakukan Al, minggir!, Kenapa kau membelanya!" bentak Alex geram
"Aku harus bilang apa lagi, sialan Edward, bikin puyeng kepalaku saja" batin Alena berpikir keras
"Karena kami kekasih, sial, maksutnya kami sepasang kekasih" ucap Alena tanpa berpikir panjang
"Al, apa kau gila, apa yang kau lakukan?" Bisik Edward pelan dan masih sangat terkejut
"Diam, ini demi nyawamu brengs#k" ucap Alena berbisik dan kesal dengan Edward
"Oh jadi begitu, kau menjalin hubungan dengan laki-laki brengs#k seperti ini Al, apa kau lupa apa yang dulu pernah dia lakukan pada ku dan Reyna?" tanya Alex sambil melepaskan tangannya dari leher Edward
"Kak, itu masa lalu, Edward tidak seperti dulu kak, percayalah" ucap Alena
"Apa kau sedang membuat drama untuk menyelamatkan Edward?" tanya Alex penuh selidik
"Nggak, nggak kak, ini kenyataan" jawab Alena
"Oh jadi begitu, kau sangat yakin sekali sepertinya Al, bagaimana denganmu Ed, apa yang dikatakan Alena itu benar?" tanya Alex
Alena langsung membalikkan tubuhnya menghadap Edward sambil melototkan matanya memberi kode
"Iya, iya seperti yang Alena bilang" ucap Edward sambil merutuki dirinya, kenapa harus berada di situasi seperti ini
"Baik, aku tidak ingin kamu berbuat zina walaupun cuma berdekatan dengan Edward, jadi aku beri waktu kalian satu minggu untuk mempersiapkan pernikahan" ucap Alex bagaikan sambaran petir di malam bolong bagi Alena dan Edward
"Apa !, Kak, kita perlu waktu untuk melangkah ke jenjang itu, gak bisa mendadak seperti ini kak" ucap Alena panik seketika
"Satu minggu itu waktu yang cukup, bukankah kalian bilang sendiri kalau kalian sepasang kekasih, itu lebih dari cukup untuk melangkah ke pernikahan" ucap Alex santai duduk di sofa
"Ed, katakan sesuatu, jangan sampai ini terjadi" ucap Alena merengek di depan Edward
"Memangnya apa yang bisa aku katakan, kau sendiri yang menyuruh ku menyetujui ide gila mu" ucap Edward yang juga bingung
*
Sementara itu Delia langsung membuka handphone dan mencari tau tentang sosok laki-laki yang sepertinya pernah menjadi idolanya di majalah dunia pembisnis muda, dan benar saja, Delia langsung melebarkan matanya seakan tak percaya
__ADS_1
"Dia adalah Brian Alex Nugraha, tidak salah lagi, ya Tuhan, apa aku sedang bermimpi" ucap Delia lirih tapi masih bisa di dengar oleh Amaya
"Kak Del, ada apa, kenapa bersikap aneh sih" ucap Amaya
"Ini lihat, siapa laki-laki itu, ada di sini" ucap Delia memberikan handphonenya ke Amaya, sontak mulut Amaya ternganga tak percaya
"Terus siapa Alena kak, mungkinkah dia adik satu-satunya Brian Alex Nugraha itu?" tanya Amaya
"Hah, entahlah Am, kepalaku jadi puyeng sendiri" ucap Delia lemas
"Sama kak, aku juga masih shock" sahut Amaya
Alena masih terus merayu dan memohon ke Alex untuk menarik keputusannya, sementara itu Edward makin pusing dan mendekati pak Hari berharap bisa membantunya
"Pak hari, apa yang harus aku lakukan, apa kau tidak punya ide untuk mengatasi masalah ini?" tanya Edward sambil duduk di sebelah pak Hari dan terus memperhatikan Alena dan Alex yang sedang berdebat
"Kalau masalah ini, saya menyerah tuan, melawan tuan Alex sama saja dengan mencari mati"
"Jadi maksudmu aku harus menikah dengan Alena?"
"Itu tidak merugikan tuan"
"Sudah 22 tahun tuan, itu usia produktif wanita untuk meneruskan keturunannya, bukankah itu sangat menguntungkan?" ucap pak Hari sambil tersenyum manis
"Pak, jangan main-main, menikah itu bukan sekedar urusan ranjang dan keturunan" ucap Edward makin risau
"Lalu kita bisa apa tuan, tuan Edward sendiri tadi yang mengklaim sebagai kekasih nona Alena"
"Itu ulah si bocil itu, kenapa juga aku tadi mendukungnya"
"Sudahlah tuan, mungkin ini takdir, untuk mengobati semua luka di hati tuan Edward"
"Entahlah pak, aku masih ragu, apa mungkin aku bisa melupakan Reyna"
"Nona Alena gadis yang luar biasa tuan, jangan sampai anda menyesal nanti, saya sarankan untuk mencoba membuka hati dan menerima nona Alena"
"Tapi pak, Aku sendiri tidak tau bagaiman Alena, apa dia menyukaiku atau hanya menganggap ku seperti kakaknya, aku masih bingung"
"Setidaknya nona Alena sudah mau membela bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk tuan Edward di depan tuan Alex kakaknya"
__ADS_1
Edward terdiam dan merebahkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya
*
Perdebatan antara Alena dan Alex masih berlangsung sengit, keduanya tidak ada yang mau mengalah
"Kak, aku mohon, aku sama Edward tidak pernah melakukan hal-hal yang aneh, kita perlu waktu kalau harus ke jenjang pernikahan"
"Tidak melakukan hal aneh, apa ucapanmu bisa aku percaya, kau bahkan membohongiku kalau kamu selalu baik-baik saja di kota ini"
"Apa maksud kak Alex, jangan bilang kakak mengawasi ku, aku gak suka kak, aku ingin merintis karierku sendiri dengan namaku, bukan dengan nama besar keluarga kita"
"Oke, kakak setuju soal itu, tapi apa kamu pernah berpikir, apa yang akan terjadi denganmu tadi, kalau kakak tidak datang tepat waktu menyelamatkanmu"
"Iya, oke ,aku ngaku salah soal kejadian tadi, terlalu sembrono kak"
"Heh, enak sekali kamu ngomong, bahkan aku saja yang mengingatnya masih ingin rasanya membunuh kekasihmu si Edward itu, dasar brengs#k, tidak bisa menjagamu dengan baik"
Alena terdiam beberapa saat, tidak tau harus berkata apa lagi dan berharap kakaknya mau merubah keputusannya, Alena berdiri untuk melangkah ke arah Edward, sesaat Alena merasa kepalanya sangat pusing, hampir saja Alena di tempat Edward tiba-tiba terjatuh dan Edward langsung menyambar tubuh Alena
Semua orang segera berlari mendekati Alena, Edward langsung menggendong dan membawa Alena masuk ke dalam kamarnya, dengan pelan meletakkan tubuh Alena di atas kasur, Alex sangat cemas dan memeriksa keadaan Alena, Delia dan Amaya meminta izin ke Alex untuk memeriksa keadaan sahabatnya
"Gimana keadaan Alena?" tanya Edward cemas
"Apa adikku terluka parah" tanya Alex panik
"Tidak apa-apa, Alena hanya kecapekkan saja, tubuhnya juga banyak luka memar akibat kejadian penculikan itu, aku akan memberikan infus dulu"
ucap Amaya sambil mencium kening Alena dan meneteskan air mata
"Tenanglah Am, aku akan membersihkan tubuh Alena dulu, dia akan baik-baik saja, Alena kita itu wanita yang tangguh" ucap Delia memeluk Amaya dan menggenggam tangan Alena
"Iya kak, aku tau, aku hanya tidak tega melihat Alena seperti ini" ucap Amaya sambil menyeka air matanya dan bersiap memasangkan infus dibantu oleh Delia
Edward yang masih berada di samping Alena, tanpa di sadari masih terus menggenggam tangan Alena, pak Hari yang melihat hal itu tersenyum
"Semoga kalian berjodoh selamanya" batin pak Hari
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih, jangan lupa jejak dukungannya (like, komen, vote dll)