Dokter ALENA

Dokter ALENA
episode 48


__ADS_3

Alena sangat sulit memejamkan mata, kejadian tadi membuat hatinya masih berdenyut sakit


"Kenapa sih, aku masih mikirin Edward, dasar brengsek, mau aja disuruh nikah sama aku, tapi hatinya masih untuk orang lain" batin Alena


Semakin memejamkan mata, Alena semakin teringat dengan kejadian itu dan segera bangun, di lihatnya sudah jam 2 pagi, Akhirnya Alena segera mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam untuk menenangkan dirinya


Dalan doa yang panjang, Alena sempat menitikkan air mata, menumpahkan segala kekesalan dan sakit hatinya, memohon kepada sang Khalik untuk menemukan jalan keluar yang di ridhoiNYA, setelah memantapkan dan yakin akan Takdir terbaik yang di berikan Alloh atas dirinya, hatinya kembali tenang dan bisa tidur lelap bersama kedua sahabatnya


Memang ya, kalau semua masalah itu curhat nya sama sang PENCIPTA, itu rasanya bener-bener Syahdu, Author sering melakukanya, melihat masalah itu jadi enteng banget, Jalan keluar Akhirnya ketemu dengan indah, Alhamdulillah


Menjelang subuh Alena, Delia dan Amaya sudah terbangun, setelah sholat subuh berjamaah ketiganya segera bersiap


"Eh, Al, kamu ngapain ikutan bersiap juga, kamu kan masih cuti, kurang 3 hari nih, cuti kamu baru habis" ucap Delia heran


"Aku bosen, aku sudah sehat, pengen ikutan kerja, kangen sama pasien-pasienku, hehe" ucap Alena sambil nyengir


"Gak ada alasan ya, kamu harus nemani suami sama keluarga kamu dulu, masak kamu tega ninggalin mereka gitu aja" ucap Amaya


"Ayolah, aku males nemani mereka full 24 jam, yang ada aku pasti di kerjai lagi, apalagi ada Edward, tambah males akunya" ucap Alena


"Heh, ini bocah, udah gesrek apa ya otaknya, itu keluarga kamu bisa marah dan dibakar rumah sakit tempat kita kerja, bisa panjang urusannya Al, udah deh jangan aneh-aneh" sahut Delia


"Iya, iya, kalian bisa pergi dari kamar ini, ayo, cepat!" Alena langsung mengangkat koper kedua sahabatnya dan melemparnya ke depan pintu kamar hotel


"Alena!"


Teriak Delia dan Amaya bareng sambil berlari mengejar koper yang sudah terlempar


"Keterlaluan kamu ya, Alena, bocah tengik, dasar!"


Teriak Amaya, sementara Alena sudah terkekeh sambil menutup pintu kamar hotel


"Bener deh kak, Aku pengen becek tu si Alena, tega nyuruh kita keluar kayak orang ngusir gitu, main lempar koper orang aja" ucap Amaya jengkel sambil berjalan keluar hotel bersama Delia


"Xixixi, Alena tu ya, kalau marah ma kita kayak anak kecil banget tau nggak, kadang aku gak percaya tu anak seorang dokter spesialis Bedah" ucap Delia


"Xixi, iya juga ya kak, pasti dia juga lagi kesel tu, disuruh nemani suaminya, pak Edward, gak bisa alasan lari lagi tu bocah" sahut Amaya


*


Pagi hari, semua berkumpul di Ruang makan yang disediakan khusus oleh pihak hotel hanya untuk keluarga Nugraha, Edward ikut bergabung disana, sedangkan pak hari sudah pamit untuk pergi ke perusahaan untuk mengurus hal penting


Alex duduk di dekat Edward dan berbincang kecil


"Dimana Alena, aku tidak melihatnya bersamamu Ed?" tanya Alex


"Aku tadi langsung ke sini, aku kira Alena sudah berada di ruangan ini, apa aku panggil dulu, mungkin dia masih kecapekan" jawab Edward akan berdiri namun gak jadi saat melihat kemunculan Alena dari balik pintu

__ADS_1


"Oh itu dia" sahut Alex sambil melambaikan tangan memanggil Alena


"Hai kak, selamat pagi semuanya, maaf terlambat" ucap Alena sambil tersenyum dan segera duduk di dekat kakaknya Alex tanpa menoleh ke Edward sama sekali, hati Alena masih tidak enak dengan kejadian semalam


"Eh, jangan duduk disini" ucap Alex


"Kenapa sih kak, duduk aja repot banget" jawab Alena


"Ini tempat duduk kakakmu Reyna, duduk sebelah Edward sana" perintah Alex


Alena langsung pindah duduk di sebelah Edward, masih dengan muka datarnya


"Kenapa terlambat, Delia dan Amaya gak ikut?" tanya Edward


"Mereka sudah pulang, ada piket pagi di rumah Sakit" jawab Alena


"Oh, kamu gak perlu masuk dulu, cuti mu masih 3 hari lagi"


Alena diam tidak menyahut omongan Edward, sejenak Edward menatap Alena, merasa ada yang Aneh, biasanya Alena paling usil dan cerewet di dekatnya, tapi sekarang berbeda


"Kamu sehat?" tanya Edward


Alena langsung menoleh ke arah Edward sambil mengerutkan kening mendengar pertanyaan aneh Edward


"Kalau aku sakit ngapain aku ada disini" ucap Alena


Edward langsung kaget mendengar jawaban Alena yang terkesan agak ketus


"Iya, maafkan istri, suami" ucap Alena nyleneh, dan membuat Edward langsung menatap tajam Alena


"Apa!, jangan ngajak ribut disini" ancam Alena sambil membalas tatapan Edward


Edward melepas tatapan tajamnya dari Alena saat melihat Reyna melintas dan duduk di sebelah Alex suaminya


"Hai, selamat pagi semuanya, Al, mata kamu sedikit merah, semalam kurang tidur?" Tanya Reyna


"Pagi kak Rey, masak sih kak, mungkin kebanyakan begadang semalam, guyon ma teman-teman dikamar, hehe" jawab Alena


"Oh, mereka gak ikut sarapan bareng kita?"


"Nggak bisa kak, ada piket pagi di Rumah Sakit"


Percakapan terputus ketika kyai Rahmat segera memimpin doa untuk makan pagi bersama, semua makan dengan tenang, sesekali di ributkan dengan teriakan bocah kecil yang sedang berebut makanan yang disuapkan oleh Alena


Edward melihat Alena dengan telaten menyuapi kedua ponakannya hingga lupa akan makannya sendiri, dengan lembut Edward memegang lengan Alena, dan membuat Alena menoleh ke arahnya


"Apa?" tanya Alena

__ADS_1


"Makan juga ini punyak mu, dari tadi cuma sesuap yang masuk di mulut kamu, nanti perut kamu sakit" ucap Edward lirih


"Iya, bentar lagi aku habiskan, kasian ini bocah, mumpung lagi seneng aku suapin" jawab Alena kembali meladeni kedua ponakannya


Edward melanjutkan makannya kembali, sambil sesekali mengawasi Alena yang masih belum menyentuh makannya dan lagi asik dengan keponakannya


"ini, buka mulut kamu!" ucap Edward tiba-tiba sambil memberikan suapan di depan mulut Alena


"nanti aku makan sendiri Ed, apaan sih" jawab Alena kaget dengan kedua tangan yang masih memegang piring dan sendok untuk menyuapi keponakannya


"buka, atau aku paksa!" sahut Edward dan berhasil menyuapi Alena


Edward melanjutkan makannya dengan sesekali menyuapi Alena yang masih ribet menyuapi keponakannya


Tentu saja pemandangan yang sangat indah dan syahdu bagi semua orang yang ada di sana, Author ngebayangin Sampek gimana gitu, kemesraan yang sangat dalam, tapi sayang keduanya belum menyadarinya


Sampai akhirnya acara makan selesai, dan semuanya berbincang kecil disana


"Edward, Alena sudah menjadi tanggung jawabmu sekarang, Dady harap dia sebaiknya tinggal bersama kamu"


"Iya Dad, Edward berpikir juga begitu, pak hari asisten saya juga sudah mendapatkan Apartemen baru yang akan di tempati bersama keluarganya di kota ini"


"Oh, baguslah kalau begitu, bagaimana menurutmu Al?" tanya Jasmine


"Al ngikut, gak setuju juga percuma di depan kalian semua, ujung-ujungnya juga Al harus nurutkan"


"Memang mau kamu gimana sih Al?" tanya Reyna sambil tersenyum geli


"Mau Al sih, enakkan di kontrakan Al dulu, suka Al disana, Rame"


"Oh gitu, ya sudah apa mau kamu Al, kita turuti deh, ya nggak honey?" ucap Reyna ke Alex sambil tersenyum penuh arti dan membuat Alena curiga


"Beneran ini, kalian semua setuju?"


"Tentu saja kami setuju, tapi kalau Edward rela istrinya tinggal di kontrakan sendirian, bagaimana Ed?" tanya Abraham sambil menoleh ke Edward memberikan kode


"Oh, tentu Edward setuju Dad" jawab Edward cepat sambil tersenyum ke arah Alena


Bersambung


Terimakasih, jangan lupa jejak dukungannya


Tinggalkan LIKE


Tinggalkan KOMEN


Tinggalkan VOTE

__ADS_1


Tinggalkan HADIAH


Jangan lupa Klik FAVORIT ya


__ADS_2