
"Ed, lepas, ngapain sih, turunkan!" Teriak Alena sambil meronta-ronta, sesaat kemudian Alena di hempaskan di dalam kasur yang ada di kamar Edward, Alena segera bangun dan berniat lari, Namun tangan Edward lebih dulu menariknya dan kini tubuh Alena di tindih tubuh Edward
"Eh, tunggu, mau ngapain kamu ni, cepet ah, siap-siap, katanya mau ke Mon Mon, ditunggu lo kamunya, mati dia kalau gak mau makan" ucap Alena membuat alibi biar Edward segera melepaskannya
"Beneran gak marah kan kamu, aku gak akan berangkat kalau kamu gak ikhlas, takut ada apa-apa nanti di jalan" ucap Edward masih mendekap Alena di bawahnya dan memandang wajah Alena lekat
"I'm fine Edward, sudah ah, lepasin dulu ini, aku juga mau siap-siap ke kak Delia" pinta Alena
"Cium dulu boleh?"
"Nggak bo_"
CUP
Belum selesai Alena ngomong, Edward sudah mencium dan sedikit melu*at bibir Alena
"Manis" ucap Edward melepas bibir Alena dan mengusapnya dengan lembut
"Kamu itu kebiasaan Ed, suka banget ngerjain aku, sudah ah, minggir dulu, aku mau siap-siap ini"
Edward menggeser tubuhnya menjauhi tubuh Alena, kemudian masuk ke dalam kamar mandi
"Aku juga mau siap-siap dulu Al, ingat nanti keluar apartemen nunggu aku dulu, jangan keluar sendirian"
"Iya, diulang-ulang terus ngomongnya, aku balik ke kamar dulu, itu baju kamu dah aku siapin, pakek ya" teriak Alena sambil berlalu pergi dari kamar Edward dengan tersenyum
Edward yang mendengar Alena sudah menyiapkan bajunya langsung terdiam dan hatinya berbunga-bunga, ada perasaan senang, bahagia, terharu dan sebagainya hingga tanpa sadar senyum-senyum sendiri di dalam kamar mandi
Alena segera keluar setelah merapikan dirinya untuk pergi keluar menemui Delia, tampak Edward sudah menunggu di kursi ruang tengah dengan setelan baju yang di pilihkan oleh Alena
"Sip kan, cocok banget kamu pakek baju itu Ed, very handsome" ucap Alena sambil menilai tampilan Edward dan mengacungkan kedua jempol nya
"Thank you my beautiful wife" ucap Edward sambil merangkul Alena dan berjalan berdampingan meninggalkan Apartemen
Sampai di depan pintu Apartemennya Delia, Alena segera memencet bel, tak berapa lama Delia membukakan pintunya, dan memasang wajah jutek melihat Edward masih merangkul Alena dengan mesra sambil mengelus kepalanya pelan
"Ehem, kalau mau pamer kemesraan bukan disini pak Edward, tolong hargai jiwa kejombloan saya" ucap Delia
"Hahaha" sorry kak Delia yang Cantik, Sengaja!" Ucap Alena menggoda
"Dasar bocah sableng" ucap Delia dongkol
Edward tersenyum dan melepaskan rangkulannya
"Aku titip Alena dulu ya, Hati-hati Al, aku pergi dulu, ingat makan siang jangan kelewat" ucap Edward kemudian berjalan meninggalkan Alena dan Delia menuju pintu liff
Delia langsung mencubit lengan Alena dan menyeretnya masuk, Alena hanya tertawa dan merangkul Delia ikut masuk ke dalam Apartemen
"Kenapa kamu gak ikut suami kamu, malah datang ke sini mengganggu ketenangan ku" ucap Delia sambil mengambil air minum dan duduk santai di dekat Alena di ruang tengah
__ADS_1
"Mau ngomong serius aku kak"
"Soal apa sih, tumben kamu Al"
"Amaya kak"
"Amaya, memang kenapa dengan Amaya, dia lagi bahagia lo sekarang, kamu gak di kasih tau ma tu anak kalau udah jadian ma Dokter Aditama?"
"Itu masalahnya kak, aku khawatir banget, tau nggak"
"Khawatir gimana sih kamu Al, aku gak paham deh"
"Aku cerita dulu semuanya kak"
Alena langsung menceritakan bagaimana Aditama satu hari sebelum nembak Amaya sudah menyatakan cinta dan bahkan menagis memaksa Alena untuk menerima Cintanya, Alena juga menceritakan bagaimana Aditama berusaha memeluknya dan berbuat kurang ajar akan menciumnya
"Breng*ek, Kurang ajar itu Aditama, Gila ya itu orang, lah terus kenapa sekarang malah nembak Amaya, jangan-jangan dia cuma mau nyakitin Amaya saja ni Al"
"Itulah kak, mangkanya aku khawatir banget, Edward nyaranin aku hati-hati dengan Aditama dan menjaga Amaya juga"
"Eh, kamu juga cerita sama pak Edward soal ini Al"
"Iya kak, tadi soalnya pas Amaya telpon, Edward ada di dekatku, dengarlah dia"
"Syukur deh, aku malah seneng pak Edward tau, biar nantinya gak menimbulkan masalah sama hubungan kalian"
"Eh, tapi gak pa pa waktu kamu cerita, emosi gak pak Edward"
"Awalnya yan banget, tapi aku kasih pengertian, ngerti deh tu orang"
"Oh, syukurlah, soal kekurang ajaran Aditama mau meluk dan cium kamu, cerita juga ke pak Edward?"
"Ya kalau itu nggak lah kak, bisa dibunuh itu Aditama hari ini juga sama Edward, kak Delia juga jangan Sampek cerita soal itu sama Edward ya"
"Siap, mudah-mudahan gak kelepasan"
"Jangan sampek kak, tambah runyam nantinya"
"Iya iya, akan aku ingat itu"
"Terus gimana sama Amaya ya kak, aku jadi khawatir banget lo, takut terjadi sesuatu yang buruk aku kak"
"Kita awasi saja dulu Al, dia lagi seneng-seneng nya sama hubungannya dengan Aditama, kalau kita langsung cerita ini semua, takutnya nanti dikira kita gak suka sama kebahagiaan dia"
"Iya kak, setidaknya kita sahabatnya ikut jagain Amaya, semoga yang kita khawatirkan tidak terjadi dan Amaya bisa benar-benar membuat Aditama jatuh Cinta" ucap Alena
*
Edward sudah berada di Apartemen mewah Monalisa yang masih baru saja di tempati beberapa hari, dalam hati Edward sebenarnya ada kekhawatiran yang tidak dimengerti oleh Edward
__ADS_1
Marina membukakan pintu Apartemennya dan mempersilahkan Edward segera masuk
"Ayo aku antar ke kamar Mona Ed" ucap Marina
"Iya Tante, gimana keadaanya sekarang?"
"Kamu bisa lihat sendiri nanti"
Edward berjalan mengikuti langkah Marina menuju kamar Monalisa, sampai di dalam kamar Marina segera mengajak perawat pribadinya untuk ikut keluar bersamanya, dan tentu saja ini adalah skenario yang sudah diatur agar Edward dan anaknya bisa berdua saja di dalam kamar Monalisa
Edward menghela nafas melihat makanan yang masih utuh di samping Monalisa yang masih meringkuk sambil memejamkan matanya di kasur
"Mon, hei, aku datang, gimana keadaan kamu?" Ucap Edward pelan dan sangat merdu bagi Monalisa yang sangat kegirangan akhirnya Edward datang untuknya
Monalisa menggerakkan tubuhnya seakan benar-benar lemah dan membuka matanya pelan, menatap Edward dan tersenyum
"Kau datang Ed?"
"Iya, aku disini, gimana kabarmu Mon?"
"Aku merasa tidak ada gunanya hidup Ed, untuk apa kalau orang yang aku cintai saja menolak ku, untuk apa lagi Ed, aku merasa sangat hina"
"Mon, jangan seperti itu, banyak orang yang menyayangimu dan membutuhkanmu, keluargamu dan teman-temanmu menginginkan kamu baik-baik saja"
"Tapi kamu tidak menyayangi dan mencintaiku Ed, bahkan kamu menolak ku, sakit ini tidak bisa aku menanggungnya"
"Mon, jangan berkata seperti itu, aku juga menyayangimu sebagai teman, keluargamu juga sangat mencintaimu, aku yakin kamu akan menemukan pasangan yang lebih baik nantinya"
"Tapi aku ingin kamu, aku hanya mencintai kamu, seumur hidup hanya kamu yang ada di hati aku sejak dulu Ed, sejak aku kecil"
"Mon, jangan seperti ini, aku sudah mengatakan aku tidak bisa membalas semua perasaanmu, maaf, aku benar-benar tidak bisa"
Monalisa menunduk dan terdiam, air matanya menetes lagi, Edward mendekat dan duduk di tepi ranjang tepat di samping Mona, dengan pelan Edward menghapus air matanya
"Makanlah sesuatu, kamu harus segera sehat, jangan berbuat konyol lagi, aku masih temanmu seperti dulu"
Monalisa menoleh ke arah Edward
"Maukah kau memelukku Ed?"
(Kira-kira di bolehin nggak ya sama Pembaca??)
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1