
Perlahan Arini mendekat dan duduk dengan gaya yang menggoda di meja kerja Edward
"Apa ada yang bisa aku bantu tuan Edward?" Tanya Arini
Edward masih terdiam dan tidak menjawab pertanyaan Arini, hingga kemudian dia berhasil mengendalikan dirinya, luka yang ada di lengan bawahnya segera di usap untuk menghentikan perdarahannya
Detik berikutnya Edward perlahan mendongakkan wajahnya dan melihat keberadaan Arini yang sudah duduk tidak sopan sengaja menggoda dirinya
"Dasar wanita tidak tau diri, aku lihat sampai dimana permainan mu, kau pikir bisa meracuniku dengan obat perang*sang dan berakhir di ranjang denganku, jangan mimpi!' batin Edward
Arini semakin berani mendekati tubuh Edward yang dikira sudah berada di bawah pengaruh obat yang di minumnya, saat tangannya hampir menyentuh wajah laki-laki yang di kagumi nya, tiba-tiba tangan Edward mencengkram kuat tangan Arini hingga meringis kesakitan
"Ah, Sakit, apa yang kau lakukan tuan, lepaskan tanganku, Sakit!" Ucap Arini
Dan dengan sekali hentakan Edward langsung melempar tubuh Arini hingga jatuh ke lantai, Arini berteriak kencang menahan Sakit, suara teriakan itu membuat Kirana dan Bik Asih terkejut hingga kemudian berlari ke ruangan kerja Edward
Kirana langsung masuk dan terkejut mendapati Arini sudah terduduk di lantai, sedangkan bik Asih membelalakkan mata melihat ada darah berceceran di lantai dekat meja kerja tuanya
"Ya Alloh, kenapa ini tuan, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa lengan tuan terluka dan banyak darah berceceran di lantai?" Ucap Bik asih berlari menghampiri Edward
"Apa yang terjadi pak Edward, ada apa dengan kalian?" Tanya Kirana bingung
"Aku tidak apa-apa bik, itu hanya darahku yang berisi Racun dari minuman yang di berikan oleh Arini" ucap Edward
"Apa!"
Kirana dan Bik asih terkejut dan berteriak bersama
"Sekarang katakan dengan jujur Arini, apa kau sengaja menjebak ku, atau ada orang yang menyuruhmu?" Tanya Edward
"Arini, apa kau sudah gila, pak Edward suami kak Alena yang sudah membantumu selama ini, apa yang sudah kau lakukan?" Bentak Kirana
"Iya, aku memang sudah gila, cinta ku pada tuan Edward yang sudah membuatku gila, aku ingin hidup bahagian bersama dengan orang yang aku cintai, apa itu salah!" Teriak Arini dengan tangisannya
"Cukup, sekarang juga, antar Arini pulang Kiran!, Ini sudah malam dan aku ingin beristirahat, mulai hari ini, jangan pernah menampakkan mukamu di hadapanku atau menginjakkan kaki di rumah ini lagi, biar pengawal ku yang akan menjemput Ambar kalau dia ingin bertemu denganku" ucap Edward
Kirana segera menarik tangan Arini untuk segera keluar dari ruangan Edward, sedangkan bik Asih langsung membersihkan darah yang berceceran di lantai setelah Edward keluar dari ruang kerjanya dan masuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat
Ambar di biarkan tidur di kamar tamu dan di temani oleh bik Amah, sedangkan Kiran sudah menyeret Arini dan memasukkan nya ke dalam mobilnya untuk di antar pulang ke Apartemen
Sepanjang perjalanan Arini masih menangis dengan memar di lengan dan beberapa tubuhnya, Kirana kini juga sangat marah dengan kelakuan Arini yang sampai berani memberikan obat perangsang untuk menjebak Edward
"Aku tidak menyangka, kamu bisa berbuat se hina ini Arini, keterlaluan!" Ucap Kirana
__ADS_1
"Aku mencintai tuan Edward Kiran, aku bisa mati kalau tidak bisa hidup dengannya" jawab Arini
"Cukup, hilangkan pikiran gila mu itu, pikirkan baik-baik semua kelakuan mu Arini, masih beruntung pak Edward tidak membunuhmu tadi, apa yang sudah kau lakukan itu tidak bisa dimaafkan, dimana otakmu Ha!" Bentak Kirana dengan emosi
"Aku mencintai nya Kirana, aku tidak bisa menghilangkan perasaan itu"
"Itu bukan cinta, tapi hanya obsesi mu Arini, kau tidak mungkin tega menjebak dan berniat melukai orang yang kamu cintai, kau kira dengan menghancurkan pernikahan mereka, kamu bisa memiliki pak Edward, jangan mimpi!"
Pak Edward lebih baik kehilangan nyawanya dari pada harus berpisah dengan Kak Alena, apa kau mengerti!"
Arini terdiam seribu bahasa, hingga kemudian teriakan Kirana mengagetkan dirinya
"Turun!, Masuklah ke Apartemen mu dan istirahat lah, mulai hari ini jangan berani menampakkan dirimu di depan pak Edward lagi, besok pagi pengawal dan Bik Amah akan mengantar Ambar pulang ke sini" ucap Kirana dan kemudian Membalikkan mobilnya melesat kembali pulang
Kirana langsung masuk kedalam rumah setelah memarkirkan mobilnya di garasi luar, dilihatnya kamar tamu yang di tempati oleh Ambar yang sedang tertidur pulas di temani oleh bik Amah
"Nona Kiran?" Ucap Bik Amah
"Ssatt, bibik tidur di situ aja bareng Ambar, gak apa-apa kok bik " ucap Kirana
"Baik non"jawab bik Amah
Kemudian Kiran kembali lagi ke kamarnya, setelah membersihkan tubuhnya hanya dirinya ingin segera beristirahat
Seketika Kirana mendapat telpon dari Kaisar yang ingin memastikan keadaan di Jakarta
"Iya kak, aku baik-baik saja dan akan ikut menjaga keluarga ini" jawan Kirana
"Bagus, tetap waspada Kiran, keluarga Nugraha memang banyak sekali orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya"
"Iya kak, Kiran tau , banyak orang yang tidak suka dan ingin mencelakai keluarga ini" ucap Kirana
"Kak, sebaiknya apa yang sudah aku katakan jangan sampai terdengar oleh kak Alena dulu, aku yakin pak Edward akan memberi tahu kejadian ini nanti setelah semuanya kembali ke Jakarta"
"Iya, aku mengerti" jawab Kaisar
Kaisar segera memutuskan sambungan telepon dan segera beristirahat, Kaisar tidak menceritakan kejadian penyerangan semalam karena Alena juga ingin merahasiakan dulu dari Edward sampai Acara Amaya nanti selesai
Sementara itu Delia yang sedang terlelap di kejutkan dengan suara panggilan dari handphone nya, dengan malas Delia segera mengangkatnya
"Halo, siapa ini?" Tanya Delia
"Seseorang yang sangat merindukanmu Honey, apa kau sudah tidur?" Tanya Daniel
__ADS_1
"Hem, kau ini iseng sekali honey, aku ngantuk, kenapa telpon jam segini?" Ucap Delia kesal
"Kangen honey, kamu jadi pulang kapan?" Jawab Daniel
"Aku baru nyampek tadi siang honey, kenapa sudah kau tanya aku akan pulang, udah deh, jangan ganggu istirahatku, aku ngantuk banget ni, besok mesti datang ke acara tujuh bulanan Amaya"
Daniel terkekeh sudah membuat Delia jengkel dan kemudian segera menutup kembali handphonenya
*
Alena terbangun di tengah malam merasakan hatinya tidak enak, hingga kemudian melakukan sholat malam, mengaji sebentar dan kemudian mengirim pesan ke Suaminya, Menanyakan apa sudah tidur, namun tiba-tiba saja handphone Alena berdering, sebuah panggilan dari suaminya
"Assalamualaikum Bee, masih belum tidur hem?" Ucap Edward
"Waalaikumsalam Honey, kau juga belum tidur?" Jawab Alena
"Ini baru saja menyelesaikan pekerjaan yang tertunda tadi siang, kamu gimana, apa tidak bisa tidur, atau kau sudah merindukan ku Bee?"
"Tentu saja aku dan anak-anak sangat merindukanmu, selain itu tadi perasaan ku tidak enak, entak kenapa teringat denganmu terus honey, kau baik-baik saja kan?"
"Tentu saja Bee, aku baik, dan sekarang beristirahat lah, ini sudah tengah malam ok!"
"Baiklah honey, good night, sweet dreams my love" ucap Alena
"Thank you Bee, good night, mimpikan aku malam ini ya" jawab Edward
Edward terkekeh dan segera memutuskan panggilannya agar Alena segera beristirahat, sengaja Edward tidak menceritakan kejadian malam ini, karena takut akan membuat istrinya terkejut dan menambah beban pikirannya selama jauh darinya
Bersambung
Author akan tetap UPDATE SETIAP HARI
Sampai Novel ini tamat
Author minta tolong ya..mampir dong di karyaku"SAHABATKU KEKASIHKU", aku ucapin makasih sekebon buat pembaca setiaku yang udah mampir, yang belum, ayoo buruan,.muach muach
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1