Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 59


__ADS_3

Setelah membereskan kamar Edward, Alena segera pamit untuk keluar dan beristirahat dikamarnya


"Ed, aku pergi ke kamar dulu ya, mau tidur, badanku rasanya masih sakit semua"


"Kamu gak tidur sini aja, katanya tadi minta peluk"


"Hehe, nggak, nanti aja kalau kita dah resmi nikah KUA, kita bakalan tidur bareng, berpelukan tiap malam, ok"


"Nggak mau lah, masak pelukan doang, yang lebih dari pelukan, baru aku mau"


"Eh, dasar, itu pikiran di kondisikan, masih belum waktunya ini, nanti kalau kebablasan mommy bisa ngomel Senin sampai Minggu gak selesai-selesai"


"Ha ha ha" keduanya tertawa dan Alena langsung keluar masuk ke kamarnya sendiri


*


Malam hari Edward mendengar ada suara merintih dan menangis dari kamar Alena, Edward segera bangun dan berjalan cepat mendatangi Alena, dilihatnya Alena berkeringat dan mengigau, ternyata badannya demam


"Panas banget badan Alena, pasti gara-gara latihan dan udara dingin di luaran tadi" batin Edward dan panik dengan keadaan Alena


"Al, Al, Alena, bangun dulu, kamu panas banget ini" ucap Edward membangunkan Alena


"Egh, iya, shh, kepalaku pusing"


"Bangun dulu, ini badan kamu panas, bisa duduk?" tanya Edward sambil membantu Alena duduk


"Kamu disini Ed?"


"Aku dengar kamu merintih sama menangis, aku langsung terbangun dan kesini, mimpi buruk?" Tanya Edward sambil memberikan air minum ke Alena


"Hem, mimpi buruk soal Amaya, kenapa ya?" ucap Alena setelah meminum air putih yang diberikan Edward


"Jangan di pikir, cuma mimpi, lagian badan kamu gak beres ini, aku ambilkan obat penurun panas dulu ya?"


"Gak perlu Ed ,itu ada di tasku, kebetulan aku juga bawa"


Edward segera mengambil obat yang dimaksud dari dalam tas Alena, setelah meminum obat, Alena berbaring di kasur lagi, sambil memijit lengannya dan menggosok perutnya sendiri karena nyeri bekas tendangan kakaknya Alex tambah terasa sakit, Edward melihat hal itu dan berniat memeriksanya

__ADS_1


"Kenapa Al, badan kamu sakit semua?, aku yakin banyak luka Memar di tubuhmu, selain di tanganmu, dimana lagi yang paling kerasa nyerinya?"


"Di perut, padahal tadi siang kayak gak kerasa apa-apa, ini kok kerasa sakit ya" ucap Alena sambil menggosok pelan perutnya


Edward langsung menggerakkan tangannya untuk membuka baju tidur Alena


"Eh, mau ngapain Ed?" Ucap Alena terkejut dan menahan tangan Edward


"Lihat lukamu di perut, ngapain ditahan tanganku?"


"Gak usah Ed, biar nanti aku obati sendiri"


Namun Edward tentu saja tidak memperdulikan perkataan Alena, dia lebih mencemaskan luka yang di keluhkan oleh istrinya, Edward membuka tali piyama tidur Alena dengan perlahan, dada berbalut kain warna merah yang menutupi kedua gunung kembarnya dan kain segitiga warna senada membalut sebagian perut Alena kini terlihat oleh Edward dengan sempurna, sebuah pemandangan yang membuat Edward menelan ludah pelan


"Shit!, Kamu harus kuat Edward, ayolah junior jangan turn on kebangetan dulu, tahan Edward, harus tahan" batin Edward berusaha mengontrol pikirannya sendiri


"Ed, kamu baik-baik saja?" tanya Alena menyadarkan pikiran galau Edward


"Ha, oh, iya, ini luka memar di perutmu lumayan Al, biar aku obati dulu, mana obat oles yang aku kasih tadi siang"


"Ada di tas itu juga"


"Alex bener-bener keterlaluan, sudah tau kamu gak sebanding dengannya, masih saja menyerang, pakek acara nendang kayak gini, sempat protes aku tadi sama kakakmu itu, ngehajar adiknya kayak sama musuhnya" omel Edward gak terima Alena di pukul oleh Alex, tanpa di sadari Alena mendengar dan memperhatikan ocehan Edward yang membela dirinya, Alena tersenyum dan merasakan kehangatan di dalam hatinya


"Sudah ngomelnya?, kak Alex melakukan itu untuk membuatku lebih kuat, aku juga yang salah, selama jauh dari mereka jarang melatih tenaga dalam dan bela diriku"


"Ya tapi itu sudah keterlaluan Al, aku Sampek panik waktu serangan tenaga dalam Reyna hampir menghantam mu, untung aku langsung memutus serangan itu dengan menarik Reyna, coba aku terlambat, bisa-bisa kamu terpental dan terluka dalam akibat tenaga dalam Reyna"


Deg


Alena langsung terpaku dan merasa bersalah karena berpikiran buruk telah menyangka Edward lebih memilih menolong Reyna dari pada dirinya, dan ternyata Edward melakukan itu karena tidak ada pilihan lain untuk menyelamatkannya, Alena tersenyum


"Sudah aku olesi lukanya, tidurlah" ucap Edward dan langsung masuk ke dalam selimut yang Alena pakai


"Ed, ngapain kamu baring disini?" tanya Alena kaget


"Kamu sakit, badan kamu masih panas, biar aku temani kamu tidur, nanti kalau ada apa-apa, aku bisa langsung ngerti, sudah jangan protes, aku cuma di samping kami doang, gak akan ngapa-ngapain"

__ADS_1


Alena mengatur posisinya agak bergeser menjauh dari Edward, namun dengan cepat Edward menarik kembali tubuh Alena dan menjatuhkannya di dalam pelukannya, Alena terkejut dan hanya menarik nafas dalam, kondisinya sekarang tidak memungkinkan lagi mengajak Edward berdebat


Edward menikmati bau harum mawar dari tubuh Alena, dengan pelan Edward menenggelamkan wajahnya di tengkuk Alena, berusaha menghirup sebanyak-banyaknya bau tubuh Alena


"Ed, jangan gerak mulu, aku malah gak bisa tidur, dah ngantuk banget ini" ucap Alena pelan dan merasakan geli dilehernya


"Hem, sorry, aku suka bau tubuh kamu Al, udah tidur aja" jawab Edward pelan sambil memejamkan mata dan masih memeluk Alena dari belakang.


Akhirnya keduanya tertidur pulas karena kecapekan dengan aktifitas yang lumayan menguras energi seharian


*


Mendengar adzan Subuh dari alarm handphonenya, Edward segera terbangun, Edward tersenyum menatap wajah Alena yang tertidur pulas dan masih berada dalam pelukannya, setelah mengecup pelan kening Alena, Edward bangun pelan-pelan agar tidak mengganggu tidur Alena, kemudian berjalan ke kamar mandi membersihkan diri dan bersiap menunaikan sholat subuh di dalam kamar


"Al, bangun, sudah subuh, kamu gak sholat dulu?" ucap Edward lembut membangunkan Alena yang masih tidur terlelap, Edward menyentuhkan tangganya yang dingin ke pipi Alena agar terbangun


"Emh, dingin, apa sih Ed?" Alena melen*


uh dan terbangun merasakan sesuatu yang dingin di pipinya


"Bangun, sholat subuh dulu" ucap Edward sambil mengecup gemas hidung Alena


"Aku gak sholat, baru datang bulan semalam" ucap Alena


"Oh, ya sudah, tidur lagi ,ini masih gelap, aku keloni lagi ya?"


"Hem" jawab Alena sambil memejamkan mata dan pasrah, karena tidak kuat menahan kantuk


Jam enam pagi Alena terbangun karena kebelet kencing, dengan perlahan Alena memindahkan tangan Edward dari pinggangnya


"Ini tangan Edward berat juga ya, apalagi tubuhnya, bisa penyet aku kalau di tindihnya" batin Alena sesaat sambil membayangkan yang iya-iya dengan Edward


"Ish, ini kenapa sih pikiran kotorku kok muncul gini" batin Alena dan langsung melesat ke kamar mandi, setelah selesai, Alena keluar dan kembali ke kasur lagi dengan merangkak pelan untuk memposisikan tidur yang nyaman, namun di luar dugaan Alena di kejutkan dengan gerakan Edward yang langsung menyambar tubuh Alena dan menindihnya


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2