Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 110


__ADS_3

Alena dan Edward sudah berada di Apartemen, kini suasana apartemen sudah sedikit berubah, kamar yang ditempati Alena berubah menjadi ruang kerja yang di desain Moderen, semua buku dan arsip Alena maupun Edward sudah tertata di dalamnya dengan rapi, beberapa kursi sofa dan dua meja kerja ada disana, Alena tersenyum saat melihat ruang kerja yang sangat sempurna baginya


"Lumayan Honey, aku bisa menghabiskan waktu membaca di ruangan yang nyaman ini"


"Hem, aku tau hoby mu memang membaca kalau ada waktu luang, mangkanya aku segera menyiapkan ruangan ini sementara kamu ada di Surabaya, nantinya aku harap kamu lebih berhati-hati Bee"


"Iya honey, aku hanya 3 sampai 4 bulan saja kok, mengurus semuanya sampai benar-benar beres, aku ingin meninggalkan kesan yang baik pindah ke Jakarta"


"Aku tau, apa kau perlu teman, asisten rumah tangga misalnya?"


"Tidak usah honey, aku sudah biasa mengurus diriku sendiri, lagi pula ini hanya Apartemen, aku masih bisa membersihkannya sendiri"


"Baiklah, aku tetap akan menempatkan 2 pengawal di sekitarmu, nantinya aku juga akan sering datang"


"Jangan terlalu sering, nanti malah akan menggangu jadwal kerjamu, ingat honey, perusahaan pusat Eagle Company di Jakarta membutuhkan extra energi darimu, jangan kau samakan dengan perusahaan cabang disini"


"Hem, aku tau Bee, rasanya aku tidak sanggup membayangkan jauh darimu"


"Jangan manja Edward Runcel Eagle, ingat siapa dirimu, seorang CEO pemilik Perusahaan Besar yang menguasai kawasan Eropa"


"Ck, aku lebih suka seorang Edward Runcel Eagle suami dari Alena Bilqis Nugraha"


"Hey, ayolah, keberadaan ku jangan membuatmu menjadi lemah honey, aku ingin diriku menjadi salah satu kekuatanmu ok?!"


"Tentu saja Bee, maafkan aku, kadang terlalu ingin di manja olehmu"


Alena hanya tersenyum dan memeluk suaminya dengan erat dan menciumi wajahnya


*


Seminggu kemudian seorang laki-laki berpakaian rapi dan memasuki kawasan Rumah Sakit Royal Murrage Hospital, semua orang yang berpapasan menyapa dengan ramah dan tersenyum ke arahnya, hingga terjadi sesuatu yang mengejutkan terjadi di depannya, seorang dokter wanita yang sangat ia ingin temui melintas di depannya, namun ada yang membuat hatinya terasa teriris, ketika dengan santai dan tanpa menoleh ke arahnya Dokter wanita yang tak lain adalah Amaya berlalu dari hadapannya begitu saja


"Amaya"


Lirih suara laki-laki itu yang tak lain adalah Dokter Aditama


Dengan langkah sedikit tidak bersemangat Aditama melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya, Aditama terduduk sambil menghela nafas berusaha menata hatinya yang hancur saat Amaya seakan tidak mengenalnya lagi


"Ya Tuhan, kenapa ini rasanya sangat sakit sekali, mohon kuatkan lah aku, aku ingin berjuang menebus semua kesalahanku Amaya" batin Aditama


*


Kali ini Delia segera bergegas menuju taman belakang di area Rumah Sakit


"Ada apa sih Am, aku langsung kesini waktu lihat pesan mu"


Amaya langsung memeluk Delia dan menangis, Delia terkejut dan langsung mengusap punggung Amaya untuk menenangkannya


"Ada apa Am, kenapa kamu menangis gini?


"Aku sudah berusaha menghindari nya kak, tapi tadi aku tidak sengaja berpapasan dengan Aditma kak, Rasanya luka hatiku berdarah kembali, sakit kak"


"Sabar Am, bukannya kamu sudah mendengar kabar ini sebelumnya, Aditama memang bekerja kembali di sini, kamu harus bisa menerima kenyataan ini"


"Iya kak, tapi saat melihatnya rasanya aku masih belum sanggup, hatiku sangat sakit kak"


"Aku tau, kamu harus kuat, jangan tunjukkan kelemahan mu di depan Aditama ok"


"Iya kak, aku tau, aku tidak ingin lagi di permainkan oleh laki-laki breng*sek itu"


Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang dari belakang


"Kalian kenapa?, Amaya nangis?"


"Biasa Al, ketemu sama si Aditama, dah beberapa hari menghindar, eh, tadi ketemu juga, mewek dah tu si Amaya"


"Sabar Am, harus kuat ya, ada kita nih, yang siap kamu butuhin kapan saja, hebatan kita dari pada Aditama lo, ya kak ya?" Ucap Alena berusaha menghibur


"Hehehe, dasar kamu Al, selalu saja bisa menghiburku, sini aku gelut dulu kamu tuh"


Amaya langsung memeluk Alena sambil sedikit menggoncangkan badan Alena

__ADS_1


Merekapun akhirnya saling tertawa dan meledek satu sama lain


"Jadi udah gak mau lagi nih sama dokter Aditama Am?" Tanya Alena


"Tau Al, aku_"


"Masih cinta kan?" Sahut Delia


"Kak, jangan ngeledek terus" jawab Amaya


"Sudah, jadi kamu masih cinta sama Aditama?"


"Gak tau, aku sangat membencinya, tapi juga begitu merindukan nya, kira-kira itu namanya apa ya?"


"CINTA"


sahut Alena dan Delia bareng


"Terus aku harus bagaimana?" Tanya Amaya


"TERSERAH"


sahut Alena dan Delia lagi tidak sengaja bareng


"Kalian ini kembar ya?" Tanya Amaya jengkel


"ENGGAK LAH"


Tanpa sengaja jawaban Alena dan Delia bareng lagi


PLAK


Amaya langsung menabok bo*kong keduanya


"Aduh!" Teriak Delia


"Auh!" Teriak Alena


Tak lama kemudian tiba-tiba saja handphone Amaya berbunyi


"Siapa?" Tanya Delia


"Tau kak, hanya nomer doang"


"Angkat, siapa tau pasien" ucap Alena


Amaya langsung mengangkat panggilan di handphonenya, seketika itu juga tubuh Amaya menegang mendengar siapa yang sudah menelponnya


"Aku baik, jangan telpon aku lagi" ucap Amaya kemudian langsung menutup sabungan telponnya


"Siapa?" tanya Alena penasaran


"Jangan bilang Aditama" sahut Delia kepo


"Aditama" jawab Amaya sambil duduk kembali dengan muka sedihnya


"Aaakh!!"


"Bagaimana ini !!"


Tiba-tiba saja Amaya berteriak membuat kedua sahabatnya terkejut dan memegang dadanya


"Ampun Am, kelakuan kamu, bikin jantungku mau copot ni!" Ucap Alena kesal


"Tau ini anak, Teriak kenceng banget kayak orang gila saja, kaget aku nya" ucap Delia sewot


"Aku kangen kak, aku pengen ketemu, aku pengen meluk Aditama, aku pengen_"


"Pengen apa?, Ayo dilanjut, ngapain berhenti, gak ingat tadi habis nangis-nangis?" kata Delia


"Aku harus gimana kak, jangan marah, aku bingung kak" jawab Amaya sambil tertunduk sedih

__ADS_1


"Sudah, kita cuma bercanda aja kok tadi Am, Semua keputusan ada padamu, tapi aku sarankan untuk tidak terburu-buru, kamu lihat aja dulu bagaiman perasaan Aditama terhadapmu"


"Iya, aku yakin jodoh tidak akan lari kemana, kalau memang kalian di takdir kan bersama pasti akan bersatu juga, bagaimanapun kamu menolaknya, dan juga sebaliknya"


"Iya kak, aku juga tidak ingin sakit lagi"


"Sudah yok, jam istirahat udah selesai ni, kita balik lagi ke ruangan, setelah itu bersiap pulang" ucap Delia


Ketiganya langsung pergi menuju ke ruangan kerja masing-masing untuk menyelesaikan tugasnya dan bersiap pulang


*


Edward menyiapkan segala sesuatu untuk persiapannya pindah ke Jakarta, hingga mengadakan rapat interen di dalam perusahaan Diamond Eagle Company, keputusan sudah diambil bahwa perusahaan cabang itu akan di pegang oleh pak Hari sebagai tangan kanan Edward dalam menjalankan Kelangsungan perusahaannya


"Tuan, sebenarnya saya lebih suka melayani anda saja dari pada harus memegang sebuah perusahaan"


"Jangan begitu, aku tidak ingin menyia-nyiakan kemampuan Pak Hari"


"Terimakasih atas kepercayaan yang tuan Edward berikan"


"Hem, sama-sama Pak, aku berharap perusahaan ini akan semakin berkembang nantinya"


"Saya akan berusaha sebaik mungkin tuan"


Sementara itu istri tercinta Edward Runcel Eagle tengah masuk ke dalam perusahaan suaminya, tentu saja selalu terjadi kehebohan para karyawan terutama kaum Adam, apalagi Alena selalu menyapa dan tersenyum ramah kepada siapapun yang sedang berpapasan dengannya


"Pengumuman, Ratu Peri datang!"


Sontak semua kaum Adam mengambil ancang-ancang melakukan actionnya


"Siang Dokter Alena" seorang pegawai yang sengaja berjalan di depan Alena


"Iya siang" ucap Alena sambil tersenyum


"Ampun bro, senyumnya, rasanya gue mau pingsan" ucap lirih pegawai yang habis di sapa Alena


Sesaat kemudian banyak sekali karyawan laki-laki melakukan hal yang sama, hingga Alena menyadari kalau sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di kantor suaminya


Untuk menghentikan semua itu Alena segera pergi ke toilet dan menelpon Edward


"Halo Honey, susul aku di toilet lantai 1, cepet!"


"Halo Bee, memang kenapa?"


"Udah cepetan sini!"


"Oke, tunggu aku di sana!"


Tak lama kemudian Edward segera datang, tentu saja kedatangan Edward di toilet lantai satu membuat heboh semua karyawan


"Kenapa Bee?"


"Karyawan kamu pada caper semua lihat aku datang ke kantor kamu, gak sampai-sampai aku jadinya menuju pintu liff"


"Memang mereka berbuat apa sampai menghalangi jalanmu Bee?"


"Pada berlagak nyapa mondar mandir depan aku gitu honey"


"Hahaha, ya sudah, lain kali aku yang akan jemput kamu ke bawah, biar perjalanan mu menemui suami tercintamu tidak terhambat"


"Ish, apaan sih, yok jalan"


Kini sudah tak ada satu orangpun yang berani berbuat yang aneh-aneh saat Alena berjalan sambil di gandeng oleh Edward sang pemilik perusahaan


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2