
Alena masih berusaha merebut handphone dari tangan Edward, setelah tersadar dirinya berada di dalam kamar Edward, Alena langsung berhenti
"Ya sudah, ambil aja handphone ku, bodoh amat, aku mau keluar" ucap Alena
"Berhenti Al, jangan berani keluar, ada yang perlu kita bicarakan" ucap Edward menghentikan langkah Alena yang hampir sampai di pintu kamar Edward
"Gak ada yang perlu kita bicarakan, aku mau istirahat, capek" ucap Alena melanjutkan langkahnya dan membuka pintu kamar Edward, dan tentu saja tidak bisa, karena Edward sudah menguncinya tanpa disadari oleh Alena
"Ed, apa ini, kenapa pintunya gak bisa di buka" ucap Alena masih terus menarik-narik handel pintu kamar
"Jangan dipaksa, aku menguncinya" ucap Edward santai masih mengutak-atik dan mengecek handphone Alena
"Apa maksudmu, jangan macam-macam, buka Ed, jangan keterlaluan!" bentak Alena hingga membuat Edward kaget
"Kau membentak ku Al?, membentak suamimu?!, Keterlaluan sekali kamu ha!" Ucap Edward tersulit emosi dan melempar handphone Alena ke atas kasur dengan kasar
"Kamu yang keterlaluan, buka pintunya Ed, buka!" Teriak Alena lagi
Edward tidak perduli dengan teriakan Alena, dan menatapnya dengan tajam
"Katakan padaku, kenapa tadi tidak mengangkat panggilanku?"
"Aku tidak ingin diganggu" jawab Alena
"Oh, jadi panggilan dariku, dari suamimu yang mengkhawatirkan mu, itu kamu anggap mengganggu?!" ucap Edward makin emosi dengan jawaban Alena
"Suami apa, sikapmu saja lebih mirip musuhku dari pada suamiku, bahkan orang lain yang mampu melakukan hal itu"
"Apa, ulangi ucapanmu Al, ulangi!" Bentak Edward
"Jangan berani membentakku, gak ada yang perlu ku ulangi, buka pintunya sekarang!" Teriak Alena
Edward makin emosi dan menarik Alena kedalam pelukannya, Alena meronta dan memukuli dada Edward berkali-kali hingga Edward melepaskannya
"Katakan, apa maksudmu ada laki-laki lain yang lebih bisa bersikap seperti suamimu?, Katakan Alena!"
"Iya, memangnya kenapa, apa salah membiarkan orang lain memperhatikanku sementara suamiku hanya memperhatikan orang lain" jawab Alena
__ADS_1
"Apa maksudmu, kalau yang kau maksud adalah aku memperhatikan Reyna, kamu salah, Reyna hanya masa laluku" ucap Edward menyangkal
Alena tertawa dan mengatakan
"hati-hati dengan caramu memperlakukan masa lalu mu Ed, jangan sampai melukai orang yang berada di masa depanmu"
"Oh, jadi kau sakit hati dengan Reyna?" tanya Edward
"Bukan kak Reyna, tapi sikapmu, selebihnya pikirkan saja sendiri" jawab Alena ketus
"Sikap seperti apa maksudmu, kamu sendiri bagaimana dengan sikapmu yang sangat manis dengan laki-laki yang baru kau kenal tadi, menjijikkan" ucap Edward
"Apa perduli mu, apa yang dia lakukan hanya untuk membantuku, harusnya kamu malu, kenapa malah orang lain yang bisa membantuku, bukan kamu sebagai suamiku" balas Alena
"Kau pikir aku terima ada laki-laki lain melakukan hal itu, kau milikku Al dan kau harus diberi pelajaran!"
Edward langsung menarik Alena lagi, kali ini Alena sudah bersiap dan langsung melakukan tendangan tepat mengenai perut Edward, tentu saja Edward sangat terkejut karena tidak menyangka Alena akan tega melakukan hal itu ke dirinya
"Kau berani menendang suamimu rupanya, bagus, aku rasa aku gak perlu lagi kasihan padamu Al"
Edward langsung menyerang Alena dengan tenaga dalamnya, tentu saja kini kamar Edward porak poranda, tak butuh waktu lama akhirnya Edward mematahkan gerakan Alena dan membanting tubuh Alena dengan posisi tengkurap di atas kasur, Edward kini menindih tubuh Alena dari belakang dengan tubuhnya, Alena benar-benar tidak bisa berkutik
"Lepaskan Ed, jangan berani menyentuhku, lepaskan brengs*k!"
"Oh, jadi kau ingin melihat sejauh mana kebrengsekanku, akan aku tunjukkan padamu sekarang juga" ucap Edward langsung membuka hijab dan baju atas Alena, kemudian membuang kesembarang arah, kini tubuh mulus putih bersih Alena hanya memakai bra warna hitam
"Edward, apa yang kau lakukan, lepaskan Edward, jangan keterlaluan!" Teriak Alena yang berubah menjadi ketakutan
Edward membuka baju atasnya membiarkan tubuhnya polos dan langsung membalik tubuh Alena, tangan Alena di satukan diatas kepalanya dengan cengkraman tangan kiri Edward, kini Alena benar-benar terkejut melihat dengan jelas bagaimana Edward sudah bertelanjang dada berada di atasnya
"Ed, apa yang akan kau lakukan,Ed, jangan seperti ini, lepaskan Ed!" teriak Alena takut dan marah bercampur menjadi satu
"Kenapa, bukankan kau ingin aku bersikap seperti layaknya suami" ucap Edward dan langsung membungkam mulut Alena dengan ciumannya, Alena berusaha menghindari luma*an bibir Edward berkali-kali, Alena bahkan sampai menggigit bibir Edward hingga terluka dan berdarah, namun Edward tidak perduli lagi, kini sesapan bibir Edward turun ke leher Alena, Alena semakin meronta ketika merasakan gigitan kecil di lehernya, namun semua percuma, hingga akhirnya Alena tak berdaya, pasrah dan menangis
"Jangan lakukan ini Ed, ini menyakitiku, tolong jangan lakukan Ed, aku takut" ucap Alena sambil menangis
Edward mendengar tangisan Alena dan tersadar dari tindakannya, dengan cepat Edward melepaskan Alena dan duduk di samping Alena yang masih menangis
__ADS_1
"Shit!, apa yang aku lakukan, aku hampir kehilangan kontrol dan menyakiti Alena" batin Edward menyesal dan segera menyelimuti tubuh atas Alena
"Maafkan aku Al, maaf, aku kehilangan kendali karena terlalu emosi" ucap Edward sambil menyeka air mata Alena dengan lembut dan mencium keningnya, Alena terdiam dan duduk di samping Edward dengan memegangi selimut yang digunakan untuk nutupi bagian atas tubuhnya, melihat hal itu, Edward langsung mencari keberadaan baju Alena dan segera mengambil untuk di berikan ke Alena
Edward pergi keluar, meninggalkan Alena sendiri di kamarnya, Alena segera memakai bajunya kembali dan keluar menuju ke kamarnya, di depan cermin Alena menatap dirinya dan menangis sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, merasakan sakit hatinya serta ketakutan yang baru saja dia rasakan
Edward kembali ke kamar membawa air putih untuk Alena, namun tidak mendapati Alena di dalam kamarnya, Edward segera berbalik keluar dan berniat mengetuk pintu kamar Alena, niat Edward diurungkan ketika mendengar tangisan lirih dari balik pintu kamar Alena, dengan perlahan Edward membuka pintu kamar dan mendapati Alena menunduk sedang menangis di depan cermin rias di kamarnya
Edward meletakkan gelas di meja dengan pelan, ditatapnya Alena sesaat dan heran karena bisa ikut merasakan sakit yang Alena rasakan, Edward melangkah pelan, memeluk Alena dari belakang dengan erat
"Al, maafkan aku sudah membuatmu sakit, aku benar-benar tidak sadar sudah sangat menyakitimu, maafkan aku Al" ucap lirih Edward di telinga Alena sambil menciumi kepala Alena dari belakang
Alena yang mendengar hal itu merasa bertambah sakit, Alena menangis hingga tubuhnya terguncang di dalam pelukan Edward, pelukan yang diberikan Edward makin bertambah erat, tak berapa lama Alena akhirnya bisa lebih tenang dan mengontrol emosinya, merasakan tubuh Alena diam dalam pelukannya, Edward memutar tubuh Alena dan meraih wajahnya, kini mereka saling berhadapan
Mata Alena tidak berani menatap Edward, Alena menghapus air matanya dengan tangan, Edward mencegahnya dan membersihkan air mata Alena dengan lembut, Alena masih terdiam dan sesekali menarik nafas panjang
"Apa kau sudah bisa tenang?" Tanya Edward
"Hem" jawab Alena mengangguk
"Bisa kita bicara dengan jujur sekarang?" tanya Edward sambil mengusap lembut pipi Alena
Bersambung
Tetap waspada wabah Covid-19 dengan melakukan 3 M (Menjaga jarak, memakai Masker, Mencuci tangan)
Waspada juga dengan wabah baru Noveltoon-21 dengan melakukan 4 M
"Meng LIKE LIKE LIKE LIKE
"Meng KOMEN KOMEN KOMEN
"Memberi HADIAH HADIAH
"Mem VOTE VOTE VOTE VOTE
Salam sehat dan jangan lupa Bahagia
__ADS_1