
"Raka!" teriak Alena lirih dan langsung membawa Raka ke ruang pemeriksaan
"Ini bukannya Raka" Tanya Amaya ke Alena, dan dijawab dengan anggukan oleh Alena, Amaya dan yang lainya segera membantu Alena memeriksa dan menangani Raka
"Untunglah, hanya luka luar, gak harus dioperasi Am" ucap Alena lirih sambil melihat hasil foto Rontgen dan pemeriksaan yang lainnya
"Hem, semoga bentar lagi Raka terbangun Al, kasian aku melihatnya, dia sendirian Al, itu dompetnya masih di taruh ruang simpan barang di IGD"
"Biar aku yang bawa, sementara untuk administrasi biar aku juga yang bertanggung jawab" ucap Alena segera menuju ruang Administrasi pasien untuk memberitahu
Setelah semua urusan administrasi selesai, Alena segera kembali ke IGD dan melanjutkan kembali melayani pasien yang berdatangan ke IGD, Alena tersenyum dan lega mendengar Raka sudah siuman dan di bawa ke ruang perawatan VIP
Akhirnya jam istirahat pun datang, Amaya segera berlari ke arah Alena
"Al, akhirnya kita bisa istirahat dulu nih, ampun hari ini banyak banget pasiennya ya"
"Iya, yok " ucap Alena, keduanya kini menuju ke kantin
Setelah makan siang Amaya langsung kembali ke Ruang IGD untuk segera operan dengan tenaga kesehatan sif siang, sementara itu Alena teringat dengan Raka, Alena berniat mengembalikan dompet dan melihat keadaan Raka, Alena berjalan menuju ke kamar perawatan Raka, namun belum sampai tempat yang dituju Alena mendengar seseorang berlari mendekat dan memanggil namanya
"Alena tunggu!"
Alena segera berhenti dan mendapati Aditama sedang berlarian ke arahnya
"Adit, ada apa?" tanya Alena heran
"Aku pengen ngomong soal kita, kemana saja kamu beberapa hari ini, pesanku gak kamu balas, panggilanku juga gak kamu angkat"
"Maaf Dit, aku masih repot ini, nanti aja dibahasnya ya" ucap Alena
"Gak bisa, kamu cuma ngehindar aja dari aku kan, ikut aku" ucap Aditama langsung menarik Alena dan masuk ke dalam ruangan Aditama
"Sekarang kita ngomong jujur Al, kamu nerima aku atau enggak?" tanya Aditama
"Nggak Dit, Aku gak bisa nerima kamu" ucap Alena
"Alasannya?"
"Adit, kita ini teman kan, ada banyak wanita yang lebih baik buat kamu, lihat disekitar mu Dit, Amaya misalnya, dia wanita yang baik dan memberimu begitu banyak perhatian, apa kau tidak sadar itu Dit?"
"Oh, jadi kamu tidak bisa menerima cintaku, karena Amaya menyukaiku?"
"Gak seperti itu Dit, aku memang gak ada perasaan lebih selain pertemanan kita"
"Bohong, kamu hanya mencari alasan karena tidak ingin menyakiti hati Amaya kan"
"Nggak Dit, aku memang gak ada rasa apa-apa sama kamu, berapa kali aku harus menjelaskan ini, hati gak bisa dipaksakan Dit, aku mohon mengertilah"
Tiba-tiba saja Aditama bersujud dikaki Alena, Sontak Alena terkejut melihat hal itu dan berusaha menarik Aditama untuk berdiri
"Aku mohon Al, aku sangat mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon Al, cobalah untuk membuka hatimu untuk cintaku Al, aku rela melakukan apapun yang kau minta"
__ADS_1
"Dit, gak seperti ini caranya, aku sudah bilang, aku benar-benar gak bisa, aku minta maaf Dit, aku mohon berdirilah, jangan kayak gini"
"Aku mohon Al, aku benar-benar gak bisa tanpamu Al"
"Dit, kamu bisa, masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dari aku, percayalah, kamu akan mendapatkan yang lebih baik Dit"
"Aku gak bisa Al" ucap Adit sambil berdiri dan tiba-tiba memeluk paksa Alena
"Dit, lepas!, lepas Dit!" Alena meronta dan berhasil lepas dari pelukan Aditama
Aditama tidak terima dan mencoba meraih wajah Alena, memaksa mencium bibirnya, Alena makin murka dan langsung mendorong wajah Aditama kemudian menampar dengan keras
PLAK
"Kamu tau Dit, aku menyayangimu sebagai seorang teman, bahkan aku anggap kakakku, tapi yang kamu lakukan hari ini sangat keterlaluan, kamu membuatku sangat kecewa Dit, harusnya kamu sadar, cinta itu tidak bisa dipaksakan, harusnya cinta saling melindungi, gak seperti ini"
BRAK
Alena langsung berjalan keluar dan membanting pintu ruangan Aditama dengan keras
"Aku tidak bisa Al, kamu hanya membuat alasan saja karena ingin menjaga hati Amaya, baik, aku akan wujudkan keinginan mu, akan aku jadikan Amaya alat untuk membalas perlakuan mu padaku" batin Aditama
Dengan perasaan sakit dan dongkol Alena berjalan cepat menuju Toilet, setelah merapikan hijab dan membasuh mukanya, Alena tenang kembali, dengan langkah cepat Alena segera menuju kamar perawatan Raka
Raka tersenyum ketika Alena masuk ke ruangannya
"Wow, seorang Dokter Wanita Cantik rupanya, hebat bisa menyembunyikan identitas sebagai keluarga Nugraha, Hem?"
"Hahaha, baik tuan putri, hamba akan menjaga rahasia ini dengan nyawa hamba"
"Ish, apaan sih Ka, gimana keadaanmu?"
"Beginilah, aku masih nunggu perawat untuk makan siang, ini tanganku masih sakit buat gerak"
"Ya sudah, biar aku bantu, ini sudah jam berapa, kamu belum makan" Alena mengambil makanan Raka dan menyuapinya pelan
Raka menatap Alena, rasa di hatinya sudah tidak bisa di bayangkan, rasa bahagia, senang, bergetar melebur menjadi satu
"Ka , boleh aku tanya?"
"Silahkan"
"Kamu di Indonesia sendirian?"
"Iya, keluargaku ditempat yang aman di luar negeri, pak Edward dulu yang membantuku"
"Oh iya, ini dompet kamu Ka"
"Makasih nona Alena"
"Apaan sih Ka, panggil aku Alena saja, kita kan teman"
__ADS_1
"Takut di tendang sama yang punya"
"Hahaha"
Keduanya tertawa mengingat Edward murka waktu Raka memanggil Alena
"Udah Ka, gak apa-apa, Edward emang suka gitu orangnya, tapi dia baik kok"
"Aku tau Al, seandainya saja aku datang duluan ketemunya sama kamu ya, beneran gak akan aku lepaskan deh kamu Al"
"Emangnya aku maling ketangkep, gak akan dilepas gitu aja"
"Hahaha, kamu itu maling hatiku, tau nggak"
"Eleh, ngaco ngomongnya ,efek peluru ni pasti ya"
"Hahaha, dasar kamu Al, tapi aku benar-benar bersyukur pak Edward yang mendampingi mu, dia laki-laki yang bertanggung jawab"
"Iya, Alhamdulillah, rezeki wanita Solehah ya Ka"
"Hahaha" kini keduanya tertawa bareng
Alena masih menyuapi Raka dengan pelan sambil sesekali Raka menceritakan profesinya sebagai seorang yang di sewa untuk tugas-tugas bahaya di sebuah perusahaan, Raka juga bercerita suka sekali dengan tantangan, keahliannya sebagai sniper dan menguasai bela diri serta strategi perang sangat mendukung profesinya, namun resikonya nyawa orang-orang yang disayanginya akan melayang, untuk itu Raka menyembunyikan keberadaan keluarganya, Alena tersenyum dan trenyuh mendengar cerita kehidupan Raka Ardiansyah
*
Sementara itu di ruangan perusahaan Diamond Eagle Company, ada seseorang yang lagi di buat emosi oleh sebuah handphone, siapa lagi kalau bukan Edward yang berkali-kali menghubungi Alena tapi tidak diangkat, pesan yang dikirim juga tidak di buka, Edward makin kalang kabut, padahal Alena hanya teledor saja, lupa naruh handphone nya di loker dan belum sempat di lihat sama sekali
"Ini kemana sih Alena, di hubungi dari tadi gak ada respon sama sekali"
Edward segera menghubungi Amaya dan langsung diangkat
"Iya pak Edward, ada apa ya?"
"Apa Alena masih sibuk?"
"Oh, nggak kok pak, kita sudah jam istirahat ini, cuma saya kok gak lihat Alena ya, bapak gak telepon Alena saja?"
"Sudah dari tadi, nyambung tapi gak diangkat, pesanku juga gak ada yang dibaca sama Alena"
"Oh gitu ya, saya cari dulu pak, tadi ada sih habis makan siang bareng"
Tut Tut
Sambungan handphone diputus oleh Edward
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE