
"Aku ingin kalian menjalin hubungan yang lebih serius, sebuah pernikahan Edward" ucap Marina
"Maaf, maksut Tante saya dan Monalisa?" tanya Edward lagi
"Tentu saja, kalian ini sudah sangat dewasa, mau nunggu sampek kapan lagi, toh keluarga kita sama-sama bukan orang sembarangan, aku rasa sangat cocok, bukan begitu Mona, apa kau setuju sayang?"
"Tentu saja mom, makasih sudah merestui kami, love you mom"
"Tunggu-tunggu, saya rasa ada kesalahpahaman disini" ucap Edward menyela
"Maksudnya apa sih Ed?" ucap Monalisa kaget
"Saya mohon maaf, saya menganggap Monalisa hanya sebatas teman, kita tidak ada hubungan apapun selain pertemanan tante, apalagi saya sudah me_" Edward langsung mengerem ucapannya
"Shit!, Seandainya Alena tidak memintaku berjanji merahasiakan ini semua, aku pasti akan mengatakan sudah menikahinya" batin Edward
"Me_, apa?, Maksud kamu gimana sih Ed" ucap Monalisa tidak mengerti
"Begini Tante, saya tidak bisa menerima sebuah ikatan yang Tante inginkan dari saya" ucap Edward pelan
"Alasannya?" Tanya Monalisa terkejut hampir menangis karena merasa di remehkan dengan penolakan Edward
"Alasannya karena aku hanya menganggap kamu teman saja Mona, tidak ada perasaan lebih dari itu, aku menghormatimu dan Tante karena hubungan baik keluarga kita dari dulu, tapi bukan berarti saya harus menikahimu"
"Tapi aku menyukaimu dari dulu Edward, aku mencintaimu"
"Mona, tolong jangan seperti ini, kamu mencintaiku aku tidak bisa melarangnya, tapi memaksa aku untuk mencintaimu dan menerimamu aku sungguh tidak bisa"
"Kau menyakitiku Edward, aku tidak terima, aku bersumpah akan membuatmu mencintaiku, kamu hanya akan menjadi milikku!" Ucap Monalisa sambil berderai air mata dan pergi meninggalkan ruangan kerja Edward
"Aku benar-benar tidak menyangka kamu akan Setega ini dengan Monalisa Edward" ucap Marina
"Maaf Tante, saya berusaha jujur dari sekarang dari pada terlambat dan nantinya akan membuat lebih dalam melukai hati Monalisa" jawab Edward
"Setidaknya berusahalah untuk membuka dulu hatimu untuk Mona"
"Maaf Tante, saya tidak bisa"
"Baiklah, aku tidak akan ikut campur lagi urusan kalian, tapi aku akan mendukung apapun keputusan Monalisa" ucap Marina dan langsung keluar dari ruangan Edward
*
Sementara itu didalam ruang pribadi Edward, Alena masih memperhatikan Edward, terus terang Alena tidak tau apa yang mereka bicarakan karena suara di ruangan kerja Edward tidak bisa terdengar oleh Alena
Edward menyandarkan kepalanya di kursi kursi kerjanya sambil memijit pelipisnya, sementara Alena hanya memperhatikan apa yang di lakukan Edward
__ADS_1
"Sepertinya Edward begitu kepikiran setelah dua wanita itu pergi, ada apa ya, aku harus tanya atau nunggu Edward sendiri cerita?" Batin Alena
Satu jam kemudian Edward berjalan masuk ruangan pribadinya dan mendapati Alena tertidur pulas di sofa sambil Televisi yang masih menyala, Edward tersenyum mendapati mode ruangan tembus pandang yang belum dimatikan oleh Alena, perlahan Edward mendekat ke wajah Alena, di lepaskan hijab Alena yang tidak beraturan, kini terlihat rambut indah dan kulit mulus tubuh atas Alena, Edward membelai rambut Alena, menyentuh lembut kening, mata, hidung, bibir dan leher jenjang istrinya
"Sangat cantik, aku tidak menyangka semakin tergila-gila dengan bocil ini, Seluruh duniaku akan aku berikan padamu Istriku" batin Edward kemudian mengecup kening Alena agak lama, dan membiarkan Alena terlelap dalam tidurnya
Tepat jam 5 sore, Alena terbangun dan segera keluar dari ruangan
"Ed, ini sudah sore, kapan kita pulang?" Tanya Alena sambil mendekati Edward yang sedang menandatangani beberapa berkas
"Kamu baru bangun?" Tanya Edward terkejut mendapati Alena keluar yang tidak menyadari tanpa memakai hijabnya
"Iya, sorry, tadi ngantuk banget ketiduran, yok kita pulang sekarang hehe"
Edward berdiri dan menarik Alena ke pelukannya
"Kamu mau pulang keadaan kayak gini, bisa-bisa aku mencongkel banyak mata di jalan" ucap Edward sambil meraih wajah Alena dan menatapnya lekat
"Maksutnya?" ucap Alena bingung
Edward tersenyum dan menggigit hidung Alena
"Aduh sakit Ed, kamu ini kanib*l banget sih Ed kalau sama aku, main gigit-gigit aja deh" ucap Alena sambil mengusap hidungnya
"lihat itu muka sama rambut kamu berantakan, ****i banget noh, yakin mau keluar keadaan gini?"
"Hah, hehehe, aku gak nyadar kalau tampangku kayak gini, lagian perasaan tadi aku gak nglepasin hijab deh"
"Udah, cepet dirapikan dulu, setelah itu kita pulang, aku bersiap dulu diruang kerja"
"Siap, Bos tampan"
Edward hanya tersenyum dan berjalan keluar sambil menggelengkan kepalanya mendengar celoteh Alena
*
Didalam perjalanan pulang Alena meminta Edward untuk menurunkannya dulu di minimarket untuk mencari bahan makanan yang akan di masak, sampai di sebuah minimarket Alena segera masuk sendirian, Edward duduk di kursi depan minimarket menunggu Alena
Alena segera mengantri di kasir, tanpa sengaja Alena melihat luka lebam di tangan seorang Wanita yang menyodorkan Credit Card, Alena sempat terhenyak, sesaat kemudian kasir memberitahukan bahwa kartu itu sudah tidak bisa di gunakan lagi, wanita itu bingung dan malu hingga akhirnya berbalik dan akan pergi, betapa terkejutnya Alena melihat Wanita itu adalah Dokter Amalia, dengan cepat Alena menahan tangannya
"Tunggu Amalia, dan ini mbak, bayar belanja temanku ini dengan kartuku"
Ucap Alena ke Amelia dan petugas kasir, selesai melakukan pembayaran Alena langsung menggandeng tangan Amelia untuk duduk di sebuah kursi yang ada di depan minimarket
*
__ADS_1
Beberapa menit yang lalu, Edward mengangkat sebuah telepon dan segera pergi melesatkan mobilnya cepat meninggalkan Alena, sebelumnya Edward mengirim pesan agar Alena menunggu sampai Edward akan menjemputnya kembali
*
Setelah mengecek handphonenya, Alena duduk berhadapan dengan Amalia yang terus menunduk seakan menyembunyikan wajahnya dari Alena
"Amalia, apa yang terjadi, aku dengar kamu mengajukan pengunduran dirimu dari Royal Murrage Hospital"
Amalia hanya mengangguk, Alena segera bangkit, mendekat dan melepas topi Amalia, Alena sangat terkejut melihat muka Amalia yang penuh dengan luka lebam, bahkan sudut bibirnya tampak ada luka robek sedikit
"Astagfirullah, siapa yang melakukan ini Amalia, katakan apa yang terjadi denganmu?" Ucap Alena terkejut
"Keluarga angkat ku Al, mereka tidak terima dengan semua kenyataan yang Daddy lakukan padaku dan menganggap aku yang menggodanya, mereka menyuruh orang untuk menghajar ku, mereka tidak menerimaku dan membuang ku ke jalanan, "
"Bajin*an mereka semua, kurang ajar, terus kamu sekarang tinggal dimana?"
"Aku tinggal di Motel untuk sementara, makasih kamu sudah membayari belanjaku tadi"
"Amalia, kamu sudah gak ada uang sama sekali?"
Amalia menjawab dengan menggelengkan kepalanya
"Panggil aku Lia, itu nama kecilku, aku sangat suka mendengarnya"
"Benarkah, nama panggilan yang manis, ok Lia, untuk sementara pakek kartuku ini dulu ya, sampai kamu nantinya bisa menghidupi dirimu sendiri, aku tau kamu pasti belum mendapatkan pekerjaan lagi"
"Tapi, ini berlebihan Al, aku_"
"Sudahlah, anggap ini rasa terimakasih ku waktu itu kamu sudah mau mengorbankan dirimu untukku"
"Makasih Al"
"Oh iya, kamu jangan tinggal di motel, aku takut keluarga angkat mu itu bertindak jahat lagi"
"Tapi Al, aku tidak punya tempat lagi"
"Gini, aku punya kontrakan yang aku tinggalkan, sekarang kosong, sayangkan kalau dibiarkan gitu aja, masa kontraknya masih 4 tahun lagi"
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1