
Aditama berusaha meronta melepaskan genggaman tangan seorang laki-laki yang sudah murka dengan sikapnya yang sudah melukai hati wanitanya
"Bang*sat, berani sekali kau Aditama, kau pikir dengan siapa kamu membuat masalah ha!"
Alena terkejut melihat Edward sudah mencekik leher Aditama dengan penuh emosi, Alena segera berlari dan memeluk Edward dari belakang
"Ed, tolong lepaskan, demi aku, demi sahabatku, tolong Ed, aku mohon" ucap Alena lembut sambil menangis
Mendengar permohonan dan tangisan Alena, hati Edward langsung luluh dan perlahan melepaskan Aditama, dengan nafas yang tersengal-sengal Aditama berusaha mengatur nafasnya kembali
"Aku peringatkan kau Aditama, berani kau berbuat kurang ajar dengan Alena lagi, aku tidak akan segan melenyapkan mu, Baji*ngan!"
Edward segera keluar dari ruangan Aditama dengan langkah cepat, Alena ikut berlari kecil mengikuti langkah Edward, hingga akhirnya Edward masuk ke ruangannya, Alena ikut menyusul di belakangnya dan merasa sangat khawatir
Dengan sekuat tenaga Edward langsung menghantam tembok dengan tangannya, aneh memang tangan dan tembok tidak terjadi apa-apa, tapi efeknya mampu menggetarkan gedung Rumah Sakit Royal Murrage Hospital walaupun tidak begitu kencang terasa
Alena langsung duduk dilantai sambil menangis, melihat kemarahan Edward yang sangat mengerikan bagi Alena
"Aku minta maaf Ed, aku benar-benar minta maaf"
Edward masih terdiam masih menghadap tembok
"Katakan, apa yang bisa aku lakukan untuk memberi pelajaran kepada Aditama, Alena!"
"Aku minta maaf Ed, aku tidak bisa melakukan apapun dengan Aditama, aku tidak ingin melihat Amaya menderita"
"Lalu, apa kau kira aku bisa menahan diriku melihat Bajin*an itu menghinamu dan menyakitimu!"
"Aku mohon Ed, kendalikan dirimu"
"Aku bisa menahan semuanya, tapi tidak dengan sesuatu yang menghinamu dan menyakitimu Alena, aku juga merasa lebih sakit!" Teriak Edward menahan Emosi
"Aku tau Ed, aku juga tidak ingin semua ini terjadi, aku tidak ingin menjadi penyebab orang-orang yang aku sayangi tersakiti terutama kamu, aku tidak pernah berharap di sukai banyak laki-laki dan menimbulkan masalah, bagiku cukup hanya kamu saja yang menyukaiku dan mencintaiku, tapi aku bisa berbuat apa, aku tidak bisa mengendalikan itu semua" teriak Alena menumpahkan isi hatinya sambil menangis dan menunduk memandang lantai
Edward membalikkan badannya dan sangat terkejut melihat Alena sudah bersimpuh di depannya
"Aku tidak ingin menjadi penyebab masalah apapun, aku tidak ingin menyakiti siapapun, aku tidak ingin melihatmu terluka Edward" ucap Alena lirih
Edward langsung mengambil tubuh Alena dan memeluknya dengan erat
"Maafkan aku Al, maaf membuatmu takut dan bersedih, maaf kalau kata-kataku melukai hatimu Al, aku minta maaf" ucap Edward sambil memeluk erat tubuh Alena
"Iya Ed, aku juga minta maaf, selalu membuatmu khawatir" jawab Alena masih dalam pelukan Edward
"Sudah, aku tidak apa-apa, sebaiknya kita pulang, ini sudah sore Al, kita bicarakan semuanya di Apartemen ok?"
Alena berusaha menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya, sesaat kemudian keduanya sudah masuk ke mobil dan melajukan nya ke arah pulang, sampai di Apartemen Alena masih tampak diam, Edward menyadari keresahan dan kesedihan Alena
"Al, kamu bersihkan badan dulu, aku tadi sudah pesan makanan, jadi nanti kamu gak usah masak"
__ADS_1
"Hem, makasih Ed"
Alena langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri, setelah itu keduanya duduk santai di balkon
"Masih sedih?" Tanya Edward
"Lebih ke khawatir sama Amaya, rasanya aku salah banget sama dia Ed, gara-gara aku Amaya jadi korban balas dendam Aditama"
"Sudah, sini aku peluk" Edward menarik tubuh Alena kedalam pangkuannya
"Harus bersabar Al, kadang itulah kehidupan, kita hanya menjalani dan mencari solusi di setiap cobaannya, kita tidak bisa mengubah apa yang sudah digariskan"
"Hem, makasih suportnya Ed, aku akan berusaha ngomong dan menyadarkan Amaya"
"Bagus, istri seorang Edward Runcel Eagle, harus selalu kuat"
"Hem, suami seorang Alena Bilqis Nugraha juga harus selalu kuat"
"Pasti, kalau gak percaya boleh di coba" ucap Edward sambil berbisik di telinga Alena
"Maksudnya?" Tanta Alena ambigu
"Aku kuat melayani mu Al, mau coba sekarang, gak nolak aku loh"
"Ish, dasar mesum aja pikiranya!" Ucap Alena membuat Edward makin tertawa
*
"Alena breng*sek, kau berani menyakiti hatiku lagi dan lagi, baik jangan salahkan aku" ucap Aditama lirih
Sesaat kemudian Aditama langsung menghubungi Amaya, dan memintanya untuk datang ke Apartemennya karena beralasan sakit, tentu saja perkataan Aditama di anggap serius oleh Amaya, dan akhirnya Amaya ke Apartemen Aditama, sampai di apartemen, Amaya segera masuk dan mencari keberadaan aditama
"Dit, halo, kamu dimana?" Tanya Amaya
"Aku dikamar Am, masuk aja" ucap Aditama
Amaya langsung masuk ke dalam kamar Aditama dan mendekat
"Kamu sakit Dit?"
"Hem, tapi dah enak'an kok"
"Oh, syukurlah, aku Sampek pontang panting ke sini" ucap Amaya
"Maaf Am, aku merepotkan mu"
"Kamu itu ngomong apa sih Adit, sudah gak perlu berpikir yang aneh-aneh"
"Ya sudah sini peluk" ucap Aditama
__ADS_1
" Dikasur mu?"
"Iya sini, mau dimana lagi?" Ucap Aditama langsung menarik tubuh Amaya
"Am, apa kau mencintaiku?" Tanya Aditama
"Tentu Dit, kenapa?"
Adit langsung membanting pelan tubuh Amaya di atas tempat tidur , Aditama langsung meng*lum, melu*at bibir Amaya dengan penuh naf*su, tangan Aditama tidak tinggal diam, dengan lincah langsung masuk dan meremas gunung kembar Amaya
"Akh!," Amaya memekik saat mendapatkan serangan nikmat dari Aditama
"Shh, Jangan Dit" ucap Amaya sambil mendesah
"Kau percaya padaku bukan?" Ucap Aditama sambil terus membuka baju Amaya
"Iya, tapi, Akh!!"
Amaya memekik saat sesuatu menyentuh miliknya yang sangat berharga
"Teriak lah Am, kita akan melaluinya bersama" ucap Aditama lirih sambil men*ilati telinga amaya
Tangan Aditama semakin tidak terkendali, kini tubuh keduanya sudah polos, Amaya semakin melayang hingga ikut arus permainan Aditama dan tidak bisa mengendalikan diri, pengalaman pertamanya dengan seorang laki-laki membuatnya mengge*injang tidak karuan, de*sahan keluar dari mulutnya, hingga teriakan kesakitan keluar dari mulut Amaya saat Aditama berusaha memasukkan miliknya
"Akh!, Sakit Dit, Akh!"
Teriak Amaya
"Tenang Am, jangan tegang, buka kakimu lagi sayang, aku akan memasukkannya pelan-pelan" ucap Aditama berusaha membuka lebih lebar paha Amaya
Kali ini Aditama berhasil menembus Mahkota Amaya, dalam hati Aditama merasa sangat puas karena rencananya berhasil, sedangkan Amaya merintih merasakan sakit sekaligus kenikmatan yang tiada tara, sejenak Aditama mendiamkan miliknya di dalam diri Amaya
"Apa masih sangat sakit?" tanya Aditama
"Sakit Dit, sungguh, Rasanya perih sekali, aku takut"
"Aku tau, karena kau masih Vir*gin Am, rileks, aku akan mulai membawamu terbang, tahan sedikit lagi"
Amaya hanya mengangguk pelan dan tangganya masih meremas apapaun yang dapat diraihnya untuk menahan sakit saat Aditama memulai gerakan maju mundurnya, gerakan Aditama semakin menggila dan Amaya bergerak sesuai istingnya untuk menyeimbangi kenikmatan yang diberikan oleh Aditama, hingga akhirnya
"Akh!"
Suara jeritan pelepasan sebuah kenikmatan keluar dari mulut keduanya
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE