
Keesokan paginya terlihat Daniel sudah berada di ruang kerjanya dengan wajah yang aneh dan tidak sedap di pandang mata, Edward terkejut saat melintas dan melihat wajah mengenaskan sahabatnya, setelah sampai diruangan kerjanya Edward segera menghubungi Daniel untuk datang ke tempatnya
"Kamu ini kenapa?" Tanya Edward
"Badan agak meriang Ed, kayaknya masuk angin" jawab Daniel
"Kok bisa, semalam tidur diluar?" Tanya Edward asal tebak
"Kok tau Ed?" Jawab Daniel terkejut
"Kelihatan dari muka kamu, muka penuh dosa, kurang kasih sayang dan pelukan" ucap Edward
"Breng*sek, seneng benar kamu lihat penderitaan ku, jadi aku kesini cuma mau kamu kerjain doang" sahut Daniel emosi membuat Edward semakin tertawa
"Memangnya Delia masih marah sama kamu?" Tanya Edward
"Heh, semalam aku tidur di luar, kamar dikunci, pagi gak diajak ngomong sama sekali, heran aku sama wanita itu ya, aku udah jelasin semua, masih saja marah"
"Memang kemana Jurus rayuan maut kamu?"
"Sudah Ed, hampir berhasil, tapi saat aku ingatkan soal kejadian kemaren siang, eh, yang ada kepalaku di banting sama pintu, untung aku masih ngerem, kalau nggak, udah terbelah ini kepala kejepit pintu kamar"
Sontak Edward tertawa lebih keras lagi, hingga membuat Daniel makin dongkol dan melempar map ke muka Edward, seketika Edward menyudahi tertawanya saat sadar ada sorotan membunuh dari mata sahabatnya
"Sorry Niel, kelepasan" ucap Edward dengan menahan tawanya
"Aku mau hubungi Alena, aku ajak ketemuan"
"Eh bang*sat, ngapain mau ketemu istriku, berani macem-macem sama Alena, aku hajar kau ya!" Ucap Edward
"Hahaha, gitu aja sudah emosi, aku mau ketemu istri tercintamu itu minta tolong bujuk Delia, biar gak uring-uringan lagi, Dasar, cemburuan gak tau kondisi!" Sahut Daniel
"Biar aku yang telpon!" Ancam Edward langsung menghubungi istrinya
Edward berbicara dengan Alena tentang maksut Daniel yang meminta tolong untuk membujuk Delia
"Kok nggak Daniel sendiri yang menghubungi aku Honey?"
"Gak aku bolehin, dia lagi labil, takut khilaf malah merayu kamu nanti Bee"
"Ish honey, apaan sih, mana ada Daniel bisa berbuat seperti itu, udah cinta mati itu orang sama kak Delia"
"Ya siapa tau, kelihatan banget ini orang lagi stres kurang belaian dan kasih sayang, jadi perlu di waspadai Bee"
"Hadeh, sudah deh, bilang ke Daniel, nanti aku atasi kak Delia, tapi suruh janji, jangan buat ulah lagi, kalau diulangi, aku sendiri yang akan menghajar kudanil itu"
Edward tertawa puas, kemudian menyudahi sambungan teleponnya, sedangkan Daniel menatap Edward malas, namun Edward langsung membuatnya tersenyum secerah matahari pagi saat mengabarkan kalau Alena akan membantu mengatasi masalahnya
__ADS_1
*
Siang hari setelah pelayanan dirumah sakit selesai, Alena segera bergegas keluar menuju ke ruangan Delia, tampak masih ada satu pasien yang sedang di layani, setelah selesai, Alena segera masuk dan menyapa Delia dengan senyuman mautnya
"Kamu kenapa sih Al, senyum Sampek kayak layar lebar gitu?"
"Ya menghibur kak Del lah, biar ketularan sumringah kayak aku, gak jutek gitu mukanya"
"Mana ada mukaku jutek, dari tadi juga gini aja"
"Eleh, gak usah bohong, masih kesel kan sama Daniel?" Ucap Alena
"Tau dari mana?"
"Dari isi hati kak Del yang terdalam, hehe"
"Gak mungkin, Daniel telpon kamu ya?" Tanya Delia menyelidik
"Ih, nggak lah, ngapain suami kak Del nelpon istri orang, yang telpon tu suami tercintaku dong, ngasih kabar kalau sahabatnya lagi galau karena istrinya masih uring-uringan"
"Ya itu sama saja Alena, ngeselin banget sih kamu itu, dasar!"
Alena tertawa melihat Delia makin kesal sama dirinya, akhirnya dengan tenang Alena mengajaknya bicara dari hati ke hati, menjelaskan sebenarnya itu bukan masalah yang perlu di besar-besaran kan dan harusnya sebagai seorang istri bisa membuat hati suami merasa nyaman biar kuat menghadapi godaan yang datang
"Coba deh kak Delia pikir, sudah untung Lo Daniel berusaha mengalah dan merayu kak Del untuk minta maaf, memangnya Daniel suruh gimana lagi?"
"Tau, tapi jangan dituruti dong, bayangin aja gimana kalian melewati segala rintangan sebelum akhirnya bersatu dalam ikatan suci sebuah pernikahan, gak kasian kak Del sama Daniel?"
Delia terdiam dan kemudian langsung memeluk Alena sambil meneteskan air mata, Alena sangat tau kalau sebenarnya hati Delia sangat lembut dan penuh kasih sayang
*
Seminggu berjalan, pekerjaan Edward beberapa hari kebelakang cukup menguras energi hingga saat weekend telah tiba, dia menggunakan waktu full untuk istri dan ketiga buah hatinya, perkembangan ilmu bela diri si kembar juga sangat pesat setelah segel kekuatan mereka di buka dan dilatih olehnya di bantu dengan istrinya
"Hari ini kita jadi ajak jalan mereka Honey?" Tanya Alena
"Tentu saja, segera bersiap Bee, biar kita tidak terlalu siang"
"Kita jalan-jalan di mall kan honey, anak-anak pengen kesana katanya, cari mainan sama buku cerita"
"Terserah mereka Bee, aku akan ikuti kemauan ketiga jagoan kita itu"
"Okey honey, aku akan bersiap"
Alena segera melihat keadaan anak-anaknya yang sedang ada di kamar, saat melihat Mommy nya masuk ketiganya langsung berhamburan ingin memeluk Alena, mereka semua tertawa saat melihat Mommy nya sampai terjungkal ke lantai
"Kalian ini, jangan terlalu kuat dorong Mommy, lihat ini Mommy sampai jatuh"
__ADS_1
"Sorry Mom, kita gemes sama Mommy" ucap Ethan
"Eh, kok malah kalian yang gemes sama Mommy, harusnya Mommy dong yang gemes sama kalian, sini aku cubit pipi kalian!" Teriak Alena yang kini sambil berkejaran dengan ketiga anaknya
Tak lama Edward ikut masuk ke kamar dan tersenyum melihat pemandangan di mana orang-orang yang dicintainya berlarian kesana kemari sambil tertawa bahagia, Edward langsung menangkap tubuh Alena saat berlari di depannya
"Hap, ini Daddy sudah tangkap Mommy, kalian mau apain?"
"Mau nyium pipi Mommy Sampek merah Dad, tadi habis nyubitin pipi kita tu Mommy" jawab Ailina
"Gak usah, kasian Mommy, nanti biar Daddy aja yang nyium pipi Mommy buat kalian" ucap Edward sambil tersenyum penuh maksud
"Ye, itu sih Daddy sengaja, paling seneng tu Daddy kalau suruh nyium Mommy" ucap Ethan
"Sudah-sudah, ayok kita berangkat, katanya mau puas jalan ke mall, sudah jam sepuluh ini" ucap Edward
Ketiga anaknya langsung berlarian keluar dari kamar di ikuti oleh kedua orang tuanya, hari ini Edward dan keluarga hanya di dampingi oleh beberapa pengawal saja, karena hari Minggu baik Kaisar ataupun Raka diliburkan kecuali ada hal yang penting
Dua puluh menit kemudian mereka sudah berjalan di dalam Mall, sudah menjadi kebiasaan bagi ketiga buah hatinya untuk bebas berjalan kemanapun, asalkan masih bisa di lihat oleh kedua orang tuanya
Ailina melihat pernak pernik yang menarik perhatiannya, hingga dia masuk ke dan melihatnya, tampak dirinya tersenyum senang saat melihat gelang kembar dengan berbagai model dan warna
"Mbak, ini bagus, aku mau yang ini" ucap Ailina
"Eh adik kecil jangan di pegangi gitu ya, gelang ini mahal, kamu mau beli, dimana orang tua kamu?"
"Ada, bentar lagi mereka lewat sini, aku pegang bentar boleh ya mbak?" Tanya Ailina lagi
"Gak boleh, tunggu orang tua adik dulu, jangan-jangan kamu bohong ya, sana agak jauhan!" Ucap ketus mbak pelayan toko itu
Yang namanya anak kecil bergerak mendadak begitu saja itu hal biasa, dan saat itulah Ailina hendak berbalik pergi hingga tanpa sengaja menubruk tubuh seseorang wanita dan tubuhnya menyenggol pernak pernik hingga berjatuhan
PRANG
"Hei Kamu!, Dasar anak nakal!'
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE