
Edward, Daniel dan Delia melihat pemandangan itu dan merasa Trenyuh
"Sepertinya Ambar sangat bahagia saat bersama dengan Anggel dan Raka" ucap Delia
"Iya, aku juga merasakan ketulusan hati Anggel dan Raka" sahut Daniel
"Anak kecil tidak bisa di bohongi, dia akan merasa nyaman ketika berada di dekat orang-orang yang ikhlas menyayanginya" kata Edward
Sesaat kemudian, Edward berjalan keruangan dokter yang bertanggung jawab dengan perawatan Arini dan menanyakan keadaanya
"Maaf tuan Edward, boleh saya tau pasien ini apa masih punya hubungan keluarga dengan anda?"
"Tidak dokter, tapi yang menanggung semua biaya pengobatan dan yang lainya adalah saya, jadi berikan pelayanan yang terbaik"
"Oh, jadi begitu, nanti biar saya bicarakan dengan pihak rumah sakit, tentang keadaan nona Arini, dia masih koma, luka di tubuhnya sangat mengerikan, bahkan kami dangat terkejut bagaimana bisa nona Arini mendapatkan luka di tubuhnya seperti itu"
"Hem, jadi pelariannya kesini, ada dua jenazah yang di temukan lokasi yang sama dokter?"
"Iya sepertinya begitu pak, polisi dalam penyelidikan sekarang ini dan kunci utamanya adalah nona Arini"
"Saya mengerti" ucap Edward
Kemudian Edward segera keluar dari ruangan dokter dan kembali lagi bergabung dengan yang lainnya, sesaat terlihat Ambar sudah tidur dalam gendongan Anggel, tampak raut wajah kecapekan dari Ambar yang mungkin karena lama menangis
"Apa sebaiknya aku sewa hotel dekat rumah sakit ini dulu ya, sementara saja, biar Ambar bisa istirahat dengan nyaman, kasian, anak ini kelelahan" ucap Anggel
"Aku setuju, ayok aku antar, kasian Ambar" ucap Delia
Kemudian keduanya pergi meninggalkan Rumah Sakit sambil membawa Ambar
Raka dan Daniel segera bertanya ke Edward tentang keadaan Arini, selain itu Edward terpaksa juga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Arini hingga membuat keduanya sangat terkejut
"Dasar wanita iblis, berani dia berbuat itu ke Alena?" Ucap Raka
"Beruntung sekali semua bisa segera tau dan Alena kini sudah terhindar dari bahaya itu" sahut Edward
"Aku tidak menyangka, ternyata Redrik bisa mati mengenaskan seperti ini, sangat mengerikan" kata Daniel
Tak lama kemudian terdengar suara teriakan dari salah satu perawat memanggil dokter jaga di ruang ICU, rupanya Arini tersadar dan kemudian berteriak histeris membuat suasana ruangan itu langsung mencekam, Suntikan penenang terpaksa di berikan untuk menenangkan Arini kembali
Dokter memberikan penjelasan bahwa sepertinya Arini mengalami gangguan mental dan harus di rawat lebih lama lagi di rumah sakit
"Bagaimana kalau Ambar tinggal di tempatku dulu, aku tidak tega kalau dia harus disini menunggu ibunya dengan pengasuh nya saja, dia masih terlalu kecil, apalagi rumahku yang jaraknya dekat dengan Rumah Sakit daripada tempat kalian" ucap Raka
"Setuju!" Ucap Daniel dan Edward bersamaan
"Ya sudah, aku sebaiknya pulang dulu" ucap Edward
__ADS_1
"Aku ikut denganmu nyusul ke hotel Ka, Delia ada bersama Anggel disana" kata Daniel
Raka mengangguk, kemudian ketiganya melangkah pergi meninggalkan Rumah Sakit
Kini Ambar dibawa oleh Raka pulang kerumahnya, Anggel sangat senang dengan keputusan yang diambil oleh Raka, Dimana untuk sementara Ambar di asuhnya dahulu
*
Edward berjalan masuk kerumahnya kembali tepat jam sembilan pagi, dirinya segera membersihkan diri lalu melihat keadaan istrinya yang masih tertidur pulas
Perlahan Edward membelai wajahnya kemudian mencium bibir Istrinya berniat usil agar Alena segera terbangun untuk makan paginya yang sudah terlambat
"Bee, bangun dulu, kita makan dulu ya, kasian anak-anak, nanti dia kelaparan Lo" Ucap Edward
Alena memgerjabkan mata indahnya hingga membuat Edward gemas dan menciumi mata hidung dan bibirnya
"Honey, sudah, jangan diciumi terus, aku mau ke kamar mandi"
"Okey, kali ini, biar aku yang menggendong mu dan memandikan mu Bee, sudah aku siapkan air hangatnya"ucap Edward dan kini sudah membopong tubuh istrinya untuk dimandikan
Setelah mandi dan berganti pakaian, kini keduanya sudah ada di lantai bawah untuk sarapan, tampak anggota keluarga yang lain berada di taman belakang, duduk santai sambil berbincang
"Makan dulu, aku suapi" ucap Edward
"Nggak usah honey, kamu kan belum makan juga" jawab Alena
Edward mengambil sarapannya dalam satu tempat kemudian makan bersama dengan istrinya
Alena tidak bisa menolaknya lagi kali ini, dan makan bersama penuh mesra dan cinta pun terjadi, Edward tersenyum sambil sesekali menggoda istrinya dengan membelokkan suapannya masuk ke dalam mulutnya sendiri, Alena jengkel dan Edward pun terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya
Alena terkejut ketika mengecek handphone nya ternyata ada panggilan masuk dan lesan dari Raka yang menceritakan soal Ambar
"Honey, apa ada apa dengan Ambar dan Arini?" Tanya Alena panik
"Hei, sudah, semua teratasi dengan baik Bee, Ambar ada bersama dengan Raka dan Anggel, Arini kini masih dirawat di Rumah Sakit, biaya pengobatan aku yang tanggung" ucap Edward
"Ya Alloh, syukurlah Honey, lalu Arini keadaanya bagaimana?" Tanya Alena
Edward kemudian menceritakan semua tentang Arini, bahkan pihak kepolisian juga masih menyelidikinya, Arini mengalami luka serius di tubuhnya dan gangguan mental yang membuatnya terus menjerit seperti orang ketakutan hingga dokter harus terus memasukkan obat pemenang ke dalam tubuhnya
Alena dipeluk oleh Edward agar kecemasannya berkurang, Edward sangat tau sifat istrinya yang begitu gampang tersentuh saat melihat kemalangan orang lain
"Kalau sampai Arini tidak bisa kembali normal, Ambar biar hidup bersama kita ya honey, aku gak tega, kasian sekali" ucap Alena
"Iya, tapi Angel dan Raka juga sangat menyayangi nya, aku tidak yakin kalau mereka akan melepaskan Ambar begitu saja New, apalagi Anggel di vonis dokter susah untuk punya anak, apa kamu tidak kasian?" Tanya Edward
"Iya honey, kalau mereka menginginkan Ambar aku ikhlas, karena aku tau Anggel sangat tulus menyayangi Ambar"
__ADS_1
"Hem, ya sudah, jangan dipikirkan lagi, nanti kita akan jenguk Arini bersama Bee"
Alena mengangguk kemudian memeluk Edward agak lama kemudian melepasnya kembali, saat Alex masuk ke dalam dan memastikan Alena baik-baik saja
"Kita akan pamit untuk pulang dulu Bee, nantinya kami akan sering kesini lagi" ucap Alex
"Iya kak, makasih ya, selalu ada dan membantu Alena"
"Hei, itu sudah kewajiban Kakak Al, kami itu ngomong apa, kami akan selalu ada untuk kalian berdua" ucap Alex
Jasmine yang juga baru masuk ke dalam rumah tersenyum senang melihat anak perempuannya sudah segar kembali, dan merekapun saling berpelukan
"Aku ingatkan pada kalian berdua, selalu dekatkan diri dengan sang pencipta, sesibuk apapun kalian dalam mengurusi urusan dunia" ucap Kyai Rahmad
Alena dan Edward mengangguk kemudian memeluk kakeknya, begitu juga dengan Abraham yang memberikan nasehat agar selalu berhati-hati dan jangan sampai lengah
Edoardo juga ikut berpamitan dan memeluk keduanya
"Dady pulang dulu boy, ingat, jaga baik-baik menantu dan ketiga calon cucuku Edward" ucap Edoardo
"Tentu Dad, jangan khawatir, aku akan selalu menjaga istri dan anak-anak dengan baik" jawab Edward
Tak lama kemudian semuanya sudah bersiap meninggalkan kediaman Edward dan Alena
Tampak juga di sana Kaisar yang membantu memasukkan barang-barang kedalam mobil rombongan keluarga Nugraha, Kirana juga membantu Jasmine untuk bersiap pulang, sejenak mereka juga saling berpelukan kemudian Jasmine masuk ke dalam mobil
Alena dan yang lainya melambaikan tangan kepada semua anggota keluarga Nugraha yang kini sudah kembali pulang dan sesaat kemudian Alena dan Edward masuk kembali ke dalam Rumah dan diikuti olek Kaisar dan Kirana
"Kau sudah sehat Al?" Tanya Kaisar
"Tentu saja sehat Kai, Makasih kalian sudah membantu dan support kita ya" ucap Alena
"Itu sudah kewajiban kita kak Al" ucap Kirana
Kini perbincangan hangat terjadi antara keempatnya di taman belakang, pemandangan taman yang sagat indah untuk dinikmati Bersama-sama membuat semuanya makin kerasan dan tanpa terasa hari beranjak sore
Bersambung
Author hari ini UPDATE SETIAP HARI
Ikuti juga cerita "SAHABATKU KEKASIHKU" yang semakin seru
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE