
Tubuh keduanya sangat dekat dan hampir tidak berjarak, Alena membuang mukanya kesamping untuk menghindari tatapan mata Nickel, hembusan nafas laki-laki itu bahkan kini sangat terasa di wajah Alena
"Kau tau, seandainya hatiku tidak memujamu, aku pasti sudah membunuhmu saat ini Alena"
Alena perlahan menatap tajam Mata Nickel
"Kau kira aku takut dengan kematian?,Lakukan, asal kau membebaskan Anak ku" ucap Alena dan membuat mata Nickel melebar karena terkejut dengan jawaban Alena yang dikiranya akan takut dengannya
"Luar biasa, sepertinya aku tidak salah memilihmu untuk menjadi pendampingku, Wanita yang tidak takut mati sama sekali" ucap Nickel uang kini menatap lekat mata indah Alena
Dengan cepat tangan Nickel menyambar tengkuk Alena dan memeganginya dengan kuat, Otaknya sudah tidak bisa dikendalikan lagi hingga dirinya ingin sekali mencicipi manisnya bibir Alena, hampir saja hal itu berhasil, namun Alena sekuat tenaga mendorong tubuhnya hingga membuatnya terhuyung ke belakang
"Jangan berani kurang ajar Nickel!" Teriak Alena
Nickel langsung tersenyum iblis dan merapikan bajunya kembali, dia merasakan tenaga kuat dari tubuh Alena hingga membuat dirinya lebih berhati-hati
"Kali ini kau ku lepaskan, aku ingin menikmati tubuhmu dengan suka rela, sebentar lagi aku pastikan akan membawamu jauh dari semua orang yang kau kenal, pada akhirnya hanya ada aku dan dirimu, Alena"
"Kau sudah gila, masih banyak wanita di luar sana yang bisa kau miliki, kenapa harus memilihku?!"
"Karena aku tidak mau yang lain, dan hatiku hanya menginginkanmu, aku mencintaimu Alena!"
"Itu bukan cinta, dan kau tak tau apapun soal apa itu Cinta"
"Diam, jangan membantahku!, Aku tidak ingin menyakitimu, kau mengerti?!" Ucap Nickel dan segera pergi meninggalkan Alena dengan membanting pintu cukup keras
Alena terduduk di sofa, tubuhnya terasa lemas setelah menahan ketegangan saat menahan semua amarah dan ketakutan akan Perbuatan Nickel yang bisa saja menodainya
*
Sementara itu di kamar yang lain, Janeta membelai wajah cantik Alena yang masih tertidur, perasaan sayangnya akan putri cantik Alena itu masih tersimpan rapat dihatinya, dalam hati kecilnya yang terdalam dia berdoa akan keselamatan Ailina dari tangan Nickel
Sesaat kemudian Janeta dikejutkan dengan dengan langkah seseorang yang sudah mendekatinya, dirinya langsung berbalik dan ternyata Nickel sudah ada di sana
"Apa gadis kecil ini masih tertidur?" Tanya Nickel
"Iya Tuan Nickel, aku yakin sebentar lagi dia akan terbangun"
"Aku tidak perduli, bahkan dia menutup mata untuk selamanya, aku juga tidak ambil pusing, menyingkir lah, aku ingin melihat wajah anak ini"
Janeta termenung, tubuh dan pikirannya merasa tidak ingin laki-laki yang ada di depannya sekarang akan menyakiti Ailina, hingga dirinya enggan untuk beranjak
__ADS_1
"Janeta!, Apa kau tuli ha!, Minggir!" Teriak Nickel dan mendorong tubuh Janeta dengan keras hingga jatuh ke lantai
Nickel melangkah maju dan mengamati wajah gadis itu, disana sangat terlihat ada wajah Alena dan juga sedikit wajah Edward yang berpadu dengan apik, namun hal itu membuat otak tidak waras Nickel tidak bisa menerimanya
"Tidak ada yang boleh melebihi kecantikan Alena ku, dan aku juga tidak suka ada perpaduan wajah Edward Runcel Eagle di dalam wajah ini, maka aku akan membuatmu kelihatan lebih cantik lagi nona kecil" ucap lirih Nickel dan mengeluarkan pisau lipatnya
Dengan cepat Nickel menggerakkan tangannya ingin menggores wajah Ailina dan
"Jangan tuan!"
SRING..
"AH!"
Teriak Janeta sambil memegangi telapak tangannya yang kini sudah mengucurkan darah dengan luka sayatan yang cukup dalam
"Kau, berani melawanku!"
PLAK
Tamparan kuat menghantam wajah Janeta hingga tubuhnya terpelanting ke samping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah, tidak ingin Nickel berbuat gila lagi dengan Ailina, Janeta langsung merangkak dan memohon ke Nickel untuk tidak melukai Ailina
"Aku mohon tuan Nickel, kali ini aku meminta, jangan menyakiti gadis kecil ini, aku mohon?" Ucap Janeta dengan memegangi kaki Nickel
Janeta masih terduduk di lantai dengan tubuh yang lemas, dia berusaha mengatur nafas dan irama jantungnya Kembali, dengan susah payah dirinya bangkit dan mencari sesuatu untuk menghentikan perdarahan di telapak tangannya
Tanpa di duga Ailina membuka matanya perlahan dan menoleh ke arah Janeta, dilihatnya bajunya sekilas yang terdapat bercak darah dari tangan Janeta, Ailina tersenyum, rupanya gadis kecil itu sebenarnya sudah terbangun dari tadi dan hanya pura-pura tertidur, semua kejadian yang baru saja dialami terekam jelas olehnya
Perlahan Ailina bangun dan beranjak dari tempat tidur melangkah ke arah Janeta yang masih berjongkok dan sibuk membalutkan sesuatu di telapak tangannya, terdengar jelas bagaimana Janeta mendesis kuat menahan sakit yang luar biasa
Ailina menegang pundak Janeta dengan lembut dan membuat dirinya sangat terkejut dan langsung membalikkan badannya
"Ailina!"
Janeta memundurkan tubuhnya tak percaya kini sudah ada Ailina ada di depannya, gadis kecil itu tersenyum dan maju memeluk Janeta yang masih menahan sakit di tangannya
"Maaf, aku menyusahkan Tante Janeta" ucap Ailina pelan
Janeta masih terdiam tak percaya mendengar permintaan maaf dari Ailina, hatinya merasakan sakit yang luar biasa, harusnya dirinya yang meminta maaf atas kejahatannya, tapi justru sebaliknya, perlahan pertahanan diri Janeta sebagai sosok wanita yang kuat selama ini runtuh, air matanya mengalir deras hingga tubuhnya terguncang oleh isak tangisnya dan Alina mengeratkan pelukannya
"Tenanglah Tante jangan menangis, kita akan keluar dari sini"
__ADS_1
"Bukan itu sayang, Tante sudah berbuat jahat padamu, Tante yang sudah menculik mu, harusnya kamu membenciku"
"Aku mengerti Tante terpaksa melakukannya, dan Ailin tau Tante sangat menyayangiku"
Janeta makin membalas pelukan erat Ailina, setelah tak berapa lama, keduanya sudah tenang kembali dan Ailin melihat luka yang ada di telapak tangan Janeta masih merembeskan darah
"Tante, kita obati dulu lukanya"
"Gak usah sayang, disini tidak ada apapun untuk mengobatinya, biar aku balut seperti ini saja"
"Sini Tante, biar aku bantu, aku tidak bisa sepenuhnya menghilangkan lukanya, tapi setidaknya bisa menghentikan perdarahannya" ucap Ailina
Tangan Janeta perlahan diraih oleh Ailina dan di buka ikatan kain yang membalut lukanya, tampak luka menganga yang masih mengeluarkan darah, perlahan telapak tangan Ailina di tempelkan ke telapak tangan Janeta yang terluka sambil memejamkan matanya
Detik berikutnya Janeta sangat terkejut dengan apa yang dirasakan, suhu dingin dirasakan dari tangan Ailina dan sesaat kemudian berganti dengan suhu hangat yang membuat telapak tangannya kini merasa nyaman, nyeri yang tadi dirasakan perlahan juga menghilang
Ailina membuka matanya dan tersenyum kearah Janeta, tangannya di lepaskan perlahan dan Janeta langsung melebarkan matanya tak percaya, melihat luka di telapak tangannya bisa di bilang hampir saja sembuh
"Ya Tuhan, apa yang sudah kau lakukan Ailin?" Tanya Janeta nampak bingung dan takut
"Aku hanya mebyalurkan tenaga dalam ku untuk menyembuhkan luka Tante Janeta, kenapa Tante kelihatan takut denganku?"
"Ini_, Apa kau_, Aku_"
"Kami sekeluarga punya kekuatan seperti ini Tante, dan kami sering melakukan hal ini saat diantara kami terluka, Mommy bahkan lebih jago, dia bisa melakukanya lebih cepat dan bisa sembuh total tanpa meninggalkan bekas"
"Apa!, Kalian semua manusia dengan kekuatan super?"
"Tidak ada kekuatan super tante, kami hanya mewarisi kekuatan tenaga dalam dari klan keluarga Nugraha dan Eagle"
"Jadi, rumor dari para anggota Mafia tentang kekuatan keluarga mereka itu benar adanya, lalu, bukankah bagi mereka akan dengan mudah menghancurkan Tuan Nickel Hodmer?" Batin Janeta
BERSAMBUNG
Author akan UPDATE SETIAP HARI
Jangan lupa Dukung Author dengan
LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE