Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 68


__ADS_3

"Hah, maaf pak Edward"


Ucap dokter Bagas dengan tubuh yang agak gemetaran dan segera keluar lagi


"Edward!, Ih, ih, Rasain kamu ya!" Teriak Alena memukuli tubuh Edward bertubi-tubi


"Apa sih Al, sakit ini, main pukul sembarangan" ucap Edward menghentikan aksi Alena dan segera merapikan diri


Alena mengambil tissue dan bersiap mengelap mulut Edward


"Heh, mau ngapain kamu Al, minta cium lagi?" ucap Edward


"Ish, diam, mesum aja pikirannya, ini bibir kamu banyak lipstik ku pada nempel" sahut Alena dan segera membersihkan bibir Edward


Alena segera merapikan diri dan bersiap keluar dari ruangan Edward dengan menahan malu, saat berpapasan dengan Dokter Bagas yang akan masuk di ruangan Edward


"Silahkan Dokter Bagas, ditunggu pak Edward di dalam" ucap Alena kikuk


"Iya Dokter Alena, saya akan masuk" jawab Dokter Bagas, sampai didalam Edward langsung mempersilahkan Dokter Bagas duduk


"Ada apa Dokter Bagas?"


"Soal Dokter Amalia pak Edward, beliaunya menyerahkan surat pengunduran diri, dan saya sempat melihatnya tadi keadaanya sangat kacau dengan beberapa luka lebam di wajahnya"


"Oh ya, apa yang terjadi dengannya?"


"Saya juga tidak tau pasti pak Edward"


"Ya sudah pak, kalau memang Dokter Amalia sendiri yang mengajukan pengunduran diri, kita tidak bisa berbuat apa-apa, mudah-mudahan dia mendapat tempat kerja yang lebih baik"


"Iya, saya harap juga begitu ,terus terang saya sangat miris melihat penderitaannya selama ini"


"Iya, apa ada lagi yan akan kita bicarakan?"


"Ehm, maaf pak Edward, apa dokter Alena ada hubungan khusus dengan anda?"


"Oh, itu, memangnya ada apa Dokter Bagas menanyakan hal itu?"


"Saya hanya berusaha klarifikasi saja, karena mendengar gosip kalau Dokter Alena dekat dengan Dokter Aditama dan juga salah satu pasien yang tadi menjalani perawatan di Rumah Sakit ini, tapi beberapa kali saya menjumpai anda berdua sedang dalam kondisi yang sangat intim, jadi saya_"


"Saya hanya bisa bilang, saya tidak akan biarkan Dokter Alena dekat dengan laki-laki manapun di belakang saya, jadi kalau ada yang mencurigakan, tolong anda kabari saya, apa pembicaraan ini masih akan berlanjut?" Ucap Edward dingin karena moodnya langsung menurun


"Oh, tidak, tentu saja tidak pak Edward, saya permisi dulu" ucap Dokter Bagas dan langsung permisi keluar


Edward pun akhirnya keluar dan segera menghubungi Alena


"Halo, kamu dimana Al?"


"Dimana-mana, memang kenapa?"


"Aku lapar, belum makan siang"


"Ya makan Ed, lapar aja masak pakek laporan"


"Aku tunggu di parkiran, jangan pulang dulu, ikut aku ke Perusahaan, mobilmu biar Amaya yang bawakan atau tinggal saja disini"


Tut Tut


Sambungan telepon diputus oleh Edward


Sementara itu Alena langsung mencak-mencak


"Halo ,Ed!, Edward!, Halo!"


"Ada apa sih Al, teriak-teriak aja kamu tu, ini kupingku sakit tau!" ucap Amaya sambil menggosok telinganya


"Edward Am, seenaknya sendiri aku gak boleh pulang, malah nyuruh aku nemani dia ke kantornya, males kan aku"


"Dosa lo kamu, kalau gak nurut sama suami "


"Husst, jangan keras-keras Am, aku lakban mulut kamu kalau sampai ada yang lain denger"


"Eh iya, sorry, kelepasan Al, maaf" ucap Amaya

__ADS_1


"Ya udah, aku ke parkiran dulu, nemuin Edward, nanti mobilku kamu bawa aja Am, aku pulang bareng Edward"


"Siap, Cantik"


"Heleh, seneng kalau di bawain mobilku, awas kalau sampai lecet, aku sleding bokong kamu"


"Eh kok bokong?"


"Kepala kamu kan dah sering"


"O, dasar Bocah laknat"


"Ha ha ha" Alena tertawa melihat wajah jutek Amaya sambil melangkah pergi


Ketika Alena berjalan melewati Kantin, Alena langsung teringat dengan Edward yang masih belum makan siang, Alena pun segera masuk ke kantin memesan makanan dan minuman untuk Edward, Alena juga memesan salad buah karena dia tau itu kesukaan Edward, setelah semuanya terbungkus rapi, Alena langsung melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran, disana ternyata Edward sudah bersedekap dengan muka kesel menunggu Alena


"Lama banget, memang ke pasar dulu baru kemari?" ucap Edward


"Sabar bos, tadi ke Jakarta dulu baru kesini"


"Dasar!"


"Hihihi"


Alena tersenyum geli melihat Edward yang uring-uringan


Didalam perjalanan Edward hanya diam menahan dongkol sekaligus lapar


"Ini si Alena gak peka banget aku kelaparan, bukannya cari makan buat suaminya malah diam saja"


Sampai di perusahaan Diamond Eagle Company, Alena segera turun dan mengikuti langkah Edward


"Ini orang jalan cepet banget, gak nyadar apa kakinya panjang gitu, jadi susahkan aku nyusulnya" batin Alena


Sampai di depan pintu lif, Edward menengok ke belakang dan baru menyadari kalau Alena jauh tertinggal, Edward makin kesal menunggu Alena yang jalannya makin di pelan kan seolah disengaja


"Lama banget sih Al, jalannya" ucap Edward saat Alena sudah di dekatnya dan keduanya langsung masuk ke lif


"Kamu nya aja yang jalannya kecepetan, kayak orang lagi ngambek, mana kaki kamu panjang kayak jerapah gitu"


"Emang lehernya doang, kakinya juga kan, gak percaya, ukur saja sendiri Sono"


"Ngapain ngukur kakinya jerapah, Kurang kerjaan" ucap Edward


"Aku tambahin"


Sahut Alena asal


"Maksutnya?" Edward makin tidak nyambung


"Kan kamu bilang kurang kerjaan, ya aku tambahin nanti buat suamiku"


"Nggak perlu, aku dah dapat kerjaan baru buat istriku"


"Apa coba, aku aja belum ngasih kamu petunjuk, sok tau"


"Memuaskan istriku tercinta"


Alena langsung melototkan matanya ke Edward, sedangkan Edward tersenyum puas bisa membalas Alena dan membuatnya terbungkam, sesaat kemudian diliriknya Alena sedang memanyunkan mulutnya sambil menunduk, ada raut khawatir dan sedih disana, Edward segera menarik dan memeluk Alena


"Aku hanya bercanda tadi, aku akan melakukannya saat kamu siap Al, lagian kamu juga masih datang bulan kan, gak lucu kalau aku bingung mana darah keperawanan sama darah datang bulan"


"Ish, omongan kamu itu vulgar banget Ed, menyebalkan"


"Hehehe"


Edward terkekeh dan menciumi kepala Alena dalam pelukannya


Kini Alena berjalan duluan keluar dari lif, Edward langsung menyusul langkah Alena dan mengambil alih barang bawaannya ketika melihat istrinya itu kerepotan, Edward segera melangkah ke sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa pegawai yang duduk di mejanya masing-masing


Semua orang disana langsung menunduk dan menyapa saat Edward melewatinya, sementara Alena hanya senyum-senyum gak jelas di belakang Edward, saat keduanya sudah masuk di dalam ruangan


Berr

__ADS_1


Semua pegawai langsung saling pandang, dan tak lama kemudian ramailah dunia group persilatan antar pegawai yang bekerja di Diamond Eagle Company


Isi komentar group Cewek di Wa


"Hancur hatiku, lihat pak bos nggondol gadis belia diruangannya"


"Bukan lagi, nyesek dadaku nih"


"Pupus harapanku"


"Musnahlah sudah"


"Mana kinclong banget tu bocah"


"Aku mah apa, atuh"


"Ternyata bos suka yang belia"


"Tapi kayak masih bocah itu mah"


"Usia berapa kira-kira ya?"


"Masih di bawah umur Anjai"


"Masak sih?"


"Wes jangan nge gosip, ini aku kirim foto siapa itu perempuan kinclong, dia pernah ngerawat papaku waktu luka kecelakaan"


"Anjir, tu bocah seorang dokter"


"Bukan lagi Cin, Spesialis Bedah malah"


"Akh!, Kalah telak deh aku"


Sedangkan isi komentar group Wa Cowok


"Gila, pak bos, sukanya Bocil"


"Yang bocil itu yang enak"


"Masih rapet banget"


"Anj*ng, pikiran gue jadi traveling"


"Sabun mana sabun"


"Bangs*t, gue makin horny kalian nyebut sabun"


"Jangan macem-macem, ketauan bos, bisa digantung kita"


"Habis cantik banget itu bocah"


"Ada info group sebelah, si bocil dokter spesialis bedah bro"


"Yang bener?"


"Masak masih kecil gitu dah spesialis aja"


"Dia mah umur dan tubuhnya aja yang kecil, otaknya gede"


"Gak kayak kita, badannya aja yang gede, otaknya kecil"


"Mangkanya nasip jadi anak buah mulu"


"Udah, ayok kerja, ada pak Hari, bisa gawat kalau ketauan"


Begitulah ramainya gosip para pegawai di perusahaan Diamond Eagle Company


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN

__ADS_1


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2