
Alena diam sesaat kemudian berusaha menghubungi Delia, sayang sekali Delia tidak juga mengangkat panggilan telepon Alena, Edward yang merasa masih belum paham dengan kecemasan Alena segera duduk di sofa di kamar Alena
"Gimana ini Ed, kak Delia ditelepon gak diangkat juga"
"Ya sibuk kali Al, sudah, sini, tenang dulu dan ceritakan semuanya, sebenarnya kamu itu cemas kenapa, memang Aditama kenapa, kamu kok jadi aneh gitu"
Alena berpikir sebentar, menimbang-nimbang perlu cerita ke Edward apa tidak, Alena khawatir Edward akan marah kalau Aditama juga habis menyatakan cinta, bahkan memaksa Alena untuk menerimanya
"Hei, kok malah ngelamun gitu kenapa?" Tanya Edward
"Aku lagi mikir, cerita nggak soal Aditama yang habis nembak aku"
"Tunggu-tunggu, nembak versi yang mana ini Al?" ucap Edward terkejut dan langsung menegakkan posisi duduknya
"Tuh kan, kamu gitu aja udah mau marah tu, aku gak jadi cerita deh, males ribut sama kamu"
"Berani kamu gak cerita soal ini, jangan harap bisa keluar dari Apartemen sampai seminggu"
"Ih, emang kamu mau ngapain, menyekap istri sendiri?"
"Aku gak peduli, ayo cerita!" Ucap Edward agak emosi
"Kalau kamu ujung-ujungnya emosi, gak mau aku cerita"
"Oke, fix, kamu gak akan bisa keluar apartemen lagi" ucap Edward beranjak keluar dari kamar Alena
"Eh, Ed, Edward!, Jangan marah dulu, kamu mau kemana?!" Alena menyusul langkah Edward
"Mau ganti kode pintu Apartemen, biar kamu gak bisa keluar lagi dari sini"
"Heh, apaan sih, jangan kayak anak kecil deh, kalau mau ganti ya sudah, ganti aja, lagian aku juga gak suka sama kode pintunya yang pakek nama cewek kamu itu, si ELEN"
"Kamu itu sok tau, memangnya aku punya cewek namanya ELEN?"
"Lah itu kenapa kode pintu pakek kata ELEN"
"Itu singkatan nama kita, Edward ma Alena, jadi aku gabung jadi ELEN, dah paham?"
"Oh, gitu ya, hehehe" Alena nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali
Edward akan mengganti password pintu apartemennya, namun Alena langsung mencegahnya
"Tunggu, baiklah aku akan ceritakan semuanya, tapi janji jangan emosi ya, harus tenang, janji?"
"Iya aku janji, kayaknya gak baik ini cerita kamu pasti ya?"
Sudah yok, kita duduk dulu di ruang tengah dekat Tv tu, lebih nyaman" ucap Alena
Alena mengambil air dalan botol besar dan dua gelas untuk dirinya dan Edward
"Ngapain bawa air dingin banyak banget ke sini?" Tanya Edward yang merasa aneh dengan tingkah Alena
__ADS_1
"Buat kita minum, biar adem hatinya, gak emosian"
"Ya masak banyak banget gitu, yang ada bukan emosi malah kembung"
"Ya jangan diminum semua, di sisakanlah"
"Buat apa?"
"Buat nyiram kamu, kalau nanti masih saja emosi"
"Heh, sama suami kayak gitu, kualat kamu nanti ya!"
"Ya mangkanya jangan emosian Edward"
"Ya sudah, mangkanya cepat kamu cerita, Alpan"
"Eh, ngarang banget manggil aku Alpan, itu kan nama cowok"
"Ya kan emang, nama kamu itu kalau gak di gabung cuma di panggil depannya doang, kayak nama cowok kan, Al, Alpan"
"Dasar reseh kamu ya, Edita"
"Eh, apaan itu Edita, ngarang kamu ya"
"Ya biar sama, Alpan ma Edita, Cocok dah itu"
"Jangan berani panggil nama itu ya Al!"
"Sudah, cepetan cerita, jangan muter-muter saja kamu dari tadi"
Akhirnya Alena menceritakan semuanya, Bagaimana Aditama menyatakan Cinta dan memaksanya untuk menerima cintanya, bahkan tidak mau menerima alasan Alena yang menolaknya karena tidak ada cinta untuk Aditama, Alena juga menjelaskan bahwa bukan Amaya alasan dia menolak Aditama, namun Aditama tetap menyalahkan posisi Amaya yang menyukainya
Edward menghela nafas panjang berkali-kali, mencoba menenangkan dan mengontrol dirinya untuk tidak emosi
"Jadi itu yang terjadi Al, sebaiknya kamu hati-hati, aku khawatir terjadi sesuatu denganmu dan Amaya"
"Apa sebaiknya aku ceritakan ke Amaya ya Ed, menurut kamu gimana?"
"Boleh, tapi harus hati-hati, pilih momen yang tepat menceritakan ini semua ke Amaya, bisa jadi kan Aditama menggunakan segala cara untuk mempengaruhi pemikiran Amaya, seakan kamu tidak suka dengan hubungan mereka"
"Iya juga sih, kenapa tadi gak kepikiran gitu ya, jadi bingung ini akunya Ed"
"Sabar dulu aja Al, bergeraklah pelan dan hati-hati, apalagi sekarang Amaya masih di mabuk Cinta sama Aditama kayaknya"
"Iya Ed, aku harus gimana lagi, bingung akunya"
"Sebaiknya kamu harus dapat dukungan dulu dari Delia, itu akan lebih mudah kayaknya"
"Iya, bener Ed, aku rasa itu jalan yang terbaik untuk saat ini"
Saat sedang asik berdiskusi tiba-tiba saja, Edward di kejutkan dengan suara handphonenya sedang berbunyi , Edward segera mengambil dan menjawab panggilannya di depan Alena
__ADS_1
"Iya, bagaimana Tante?" Ucap Edward
"Maaf Edward, Tante merepotkan mu, ini Monalisa, masih tidak mau menyentuh makanannya" ucap Marina
"Maaf Tante, tapi saya sedang beristirahat, coba Mona Tante bujuk pelan-pelan dulu"
"Sudah Ed, sejak sadar semalam sampai siang begini, semua makanan gak ada yang dia sentuh, mungkin dengan kamu, Mona mau makan, tolonglah Tante ya"
"Baiklah Tante, aku akan kesana sebentar lagi, tapi maaf mungkin tidak bisa lama"
"Iya gak apa-apa, makasih atas waktunya ya" ucap Marina
Edward segera menutup handphone dan menghela nafas panjang, sambil kembali duduk di samping Alena
"Siapa?" Tanya Alena
"Tante Marina, mommy nya Mona"
"Mau ngapain?"
"Minta tolong aku untuk membujuk Mona makan, dari semalam katanya gak mau menyentuh makanannya"
"Manja, makan aja minta pilih-pilih yang nungguin, di luar banyak yang kurang makan noh, kalau gak mau makan bisa di kasihkan sama yang membutuhkan" ucap Alena gemes
"Al, kan aku dah cerita semua, gimana kondisi psikis Mona sekarang, semalam aja udah pengen mati aja itu orang"
"Terus, kamu mau ke sana?"
"Iya, bentar, sampai dia sudah mau makan, kamu mau ikut?"
"Memang masih dirawat di Royal Murrage Hospital?"
"Katanya sudah minta pulang paksa tadi pagi, pengen di Apartemennya sendiri, tapi ada perawat pribadi yang di bayar untuk merawat Mona di sana"
"Nggak ah, ngapain aku ikut, kamu berangkat sendiri aja, aku mau main ke tempat kak Delia, sekalian mau ngomongin soal Amaya"
"Oke. Kita keluar barengan ya, nanti aku juga cuma bentar aja nemuin Mona kok, nggak apa-apa kan Al, kamu nggak keberatan?"
"Nggak, aku gak berat kok, beratku masih standart normal, jangan khawatir"
"Kamu itu suka gitu kalau diajak ngomong serius Al"
"Ya kan bener Ed, aku masih punya berat standar lo, gak berat banget ini" celoteh Alena menggoda Edward
Edward makin gemas dengan tingkah Alena, dengan tiba-tiba Edward menyambar tubuh Alena dan membopong di pundaknya seperti karung beras
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE