
Edward sempat terkejut saat mobilnya berhenti mendadak
Sh*it, ada apa ini?" Tanya Edward
"Maaf tuan kita menabrak seorang wanita" ucap sang sopir
Edward segera keluar mobil untuk ikut melihat keadaan Winata itu, seorang wanita sedang meringis kesakitan saat di bantu oleh pengawal Edward pindah ke tepian jalan
"Nona, sebaiknya kita ke rumah sakit, sepertinya kakimu mengalami luka serius?" Ucap Edward
"Maaf tuan, tidak usah, tadi saya yang salah, menyeberang tidak pada tempatnya"
"Hei sudahlah, lihat kakimu membengkak, aku antar ke Rumah Sakit terbaik ya"
"Jangan tuan, saya tidak punya biaya lagi, kaki saya habis dioperasi beberapa waktu lalu, saya kehabisan uang, ini hanya cukup untuk makan saya dan anak saya beberapa minggu ke depan"
DEG
Hati Edward ikut merasa sakit saat mendengar perkataan wanita itu
Tanpa berkata apapun Edward langsung menggendong wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan membawanya ke Rumah Sakit terdekat, penanganan dan layanan kamar terbaik diminta oleh Edward saat dokter mengatakan kalau wanita itu harus rawat inap beberapa hari lagi
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan VVIP, Edward menemuinya sebentar untuk meminta maaf atas kejadian yang menimpanya, pintu kamar perawatan di buka oleh Edward, tampak wajah kelelahan dari wanita itu yang tengah memijat sendiri tangannya
"Maaf nona, boleh saya masuk?" Ucap Edward
"Silahkan tuan, maaf saya malah merepotkan Anda" ucap si Wanita
"Boleh saya tau identitas anda nona, karena saya harus mengetahuinya saat nanti mengurus administrasi biaya perawatan anda di Rumah Sakit ini"
Wanita itu lalu merogoh tas kecilnya yang lusuh untuk mengambil dompet dan kemudian menyerahkan KTPnya, disana tertulis nama singkatnya ARINI, dan melihat tanggal lahirnya, rupanya wanita ini berusia 20 tahun
"Jadi nama anda Arini?"
"ya tuan, saya biasa dipanggil Arini"
Dan tak lama kemudian tiba-tiba saja terdengar suara telpon dari handphone jadul Arini
"Iya kang, aku masih belum bisa pulang, kecelakaan, baru di rawat di rumah sakit ini kang"
"Terus ini gimana, anak kamu sama siapa, aku harus pulang, gak bisa jaga dia lagi"
"Maaf kang, saya juga bingung, ya sudah aku mau pulang paksa saja kang, biar bisa pulang"
Edward sangat terkejut mendengar pembicaraan Arini, dirinya sangat kasihan melihat wanita di depannya begitu sangat berat memikul beban hidupnya, hingga akhirnya Edward memutuskan untuk membantunya
"Jadi kamu sudah punya anak?"
"Iya tuan, namanya Ambar, sudah berusia 3 tahun, kini sedang sendirian di rumah, saya bingung mau bagaimana"
"Suami kamu?"
"Maaf, saya tidak punya suami, Ambar adalah korban perkosaan waktu saya masih berusia 16 tahun"
DEG
Edward sangat terkejut dan tak sengaja memegangi dadanya
"Saya gak apa-apa tuan, sudah biasa"
__ADS_1
"Baiklah, dimana alamat kamu, biar aku menjemput nya untuk di bawa kesini, nanti akan aku carikan orang untuk menjagamu dan Ambar selama masa penyembuhan di Rumah Sakit" ucap Edward
"Ha!, Tapi tuan, saya gak enak merepotkan Anda terus" ucap Arini terkejut
"Panggil aku Edward, dan aku akan membawa anakmu ke sini, berikan alamatnya" ucap Edward
Edward segera pergi meninggalkan Arini setelah mendapatkan alamat tempat tinggalnya, dengan di antar oleh pengawal dan sopir pribadinya Edward langsung meluncur ke tempat tujuan, beberapa kali pengawal Edward terpaksa harus turun dan menanyakan alamat tersebut kepada beberapa orang dan akhirnya ketemu juga, ternyata alamat itu berada di sebuah gang sempit hingga mengharuskan siapapun yang masuk harus berjalan kaki
Saat tiba di depan rumah kecil yang bagi Edward sudah tidak layak huni, di ketuk nya pintu kemudian seorang laki-laki mengenakan pakaian lusuh membuka Pintu dan keluar
"Maaf, ada apa ya tuan?"
"Saya temannya Arini, dan ingin membawa anaknya untuk ikut ke Rumah Sakit"
" Oh iya, jadi anda tuan Edward?, Tadi Arini sudah menelpon saya juga, Agar mempersiapkan Ambar untuk ikut dengan anda, Mari pak, masuk dulu"
Edward mengangguk dan kemudian masuk ke dalam rumah kecil dan agak kumuh, kepala Edward hampir saya terbentur pintu masuk rumah yang tingginya tidak seberapa, beruntung pengawal langsung memperingatkannya
Betapa terkejutnya Edward melihat isi rumah Arini yang tidak ada apa-apa nya, hanya ada sebuah tikar, kasur yang di lengkapi 3 meja kecil disana, dan di pojokan rumah ada lemari plastik kecil, Edward sangat tidak menyangka keberadaan Arini dan anaknya akan separah ini, anak kecil berusia 3 tahun itu tersenyum saat Edward mendekatinya
"Apa nama anda tuan Edward?"
"Iya sayang, apa kamu Ambar?" Tanya Edward trenyuh dengan sikap anak sekecil ini namun tampak lebih dewasa
"Iya, saya Ambar, siap menemui ibu tuan"
"Jangan panggil aku tuan ya" ucap Edward
"Boleh saya panggil ayah Edward, soalnya kata ibu, aku gak punya ayah"
Edward hampir meneteskan air matanya, dan untung masih dapat dia tahan, di peluk ya anak itu kemudian di gendong di bawa ke mobil
"Asik, aku punya ayah sekarang, nanti teman-teman aku kasih tau, biar gak ngeledek in aku terus ayah"
"Iya, sekarang kita masuk mobil dulu ya"
Anak itu terkejut ketika sudah berada di dalam mobil, Edward tersenyum melihat wajah mungil nan lucu sedang terbengong sambil mengelus-elus bagian dalam mobilnya, di belainya sesekali kepala anak itu hingga membuat Ambar tersenyum senang
"Apa kau sudah makan?, Ucap Edward bertanya ke Ambar karena kini dilihatnya sudah jam 7 malam
"Belum ayah, kata ibu, Ambar harus kuat nahan lapar sampai ada makanan datang"
"Ya sudah, kita cari makan dulu, nanti di makan bareng sama ibumu ya"
Ambar mengangguk senang, Edward memberikan perintah kepada sopir untuk mencari makanan dulu sebelum kembali menuju Rumah Sakit, saking sibuknya dengan Ambar dan Arini, Edward sampai tidak sadar dengan handphone nya yang mati kehabisan baterai dan lupa membelikan pesanan makanan Alena
Dan disaat sedang memesan makanan di sebuah Resto tanpa di duga Daniel datang menyapa
"Edward?, Ngapain kamu ada disini, tumben?"
"Cari makan, emang mau cari apa lagi"
Tiba-tiba terdengar suara manja seorang anak kecil memanggil Edward
"Ayah, sudah aku pilih semua makanan yang enak"
"Oke, kamu masuk dulu ke mobil ya" kemudian Edward memerintahkan pengawalnya membawa masuk Ambar ke dalam mobil
"Itu anak kamu, emang Alena sudah lahirin anak langsung segede gitu?"
__ADS_1
"Bang*sat, kau kira Alena gajah, bisa lahirin anak langsung bongsor gitu"
"Hehe, terus itu tadi siapa?, jangan bilang kamu sudah punya anak dengan wanita lain sebelum menikah dengan Alena"
PLAK
Daniel meringis saat tangan Edward memukulnya
"Jaga mulut kamu, aku tidak sebe*jat itu Daneil!"
Akhirnya Edward menceritakan masalah yang baru saja dialaminya, hingga Daniel akhirnya mengerti siapa Ambar dan juga Arini
"Oh jadi seperti itu, kasian sekali nasip anak itu dan ibunya Ed"
"Begitulah, aku juga sangat kasihan"
"Oh ,iya Ed, besok ada hal penting yang ingin aku bicarakan, kau ada waktu?, Aku butuh saran mu"
"Tentu saja, hubungi saja aku besok Niel, aku ke Rumah Sakit dulu, besok kita ketemu"
"Ok, hati-hati Ed, salam untuk istri cantikmu" goda Daniel sengaja membuat Edward cemburu
"Iya, Dasar kau ini!" Ucap Edward, kemudian masuk ke dalam mobilnya dan bergegas melanjutkan perjalanan
Sampai di Rumah Sakit Edward membawa anak itu menemui ibunya, terlihat mereka kini berpelukan dengan erat, Edward kembali Trenyuh melihat kebersamaan anak dan ibu yang ada di depan matanya, kemudian Edward mendekat dan memberikan makanan untuk mereka nikmati
"Ayah ikut makan bersama kita ya, aku pengen di temani ayah Edward makan ibu"
"Ayah?, Jangan bicara sembarangan Ambar!" Bentak Arini dan membuat Ambar ketakutan
"Jangan membentak anak kecil, Ambar masih belum mengerti, aku tidak keberatan dia memanggilku ayah Arini"
"Tapi pak_?"
"Sudahlah, lihat Ambar menagis karena ketakutan"
"Maafkan ibu ya sayang, ibu akan menemanimu makan, biarkan Ayah Edward pulang ya, ini sudah malam" ucap Arini
Ambar tidak menjawab dan hanya memegangi tangan Edward sambil mendongak menatap mata Edward, hati Edward tentu saja tidak bisa menolaknya melihat mata seorang bocah yang penuh penderitaan dan kini berharap hanya di temani untuk makan
"Baik lah, aku akan menemani mu makan ya" ucap Edward dan nampak gadis kecil itu langsung tersenyum bahagia
*
Di dalam rumah megah milik sang Milyarder muda Edward Runcel Eagle, terlihat sosok wanita cantik yang tengah hamil sedang mencoba menghubungi kembali Suaminya, Alena heran karena handphone suaminya kali ini tidak juga aktif, hingga akhirnya dia tertidur di sofa menunggu kedatangan Edward
Bersambung
Author akan tetap UPDATE SETIAP HARI
Sampai Novel ini tamat
Author minta tolong ya..mampir dong di karyaku"SAHABATKU KEKASIHKU", aku ucapin makasih sekebon buat pembaca setiaku yang udah mampir, yang belum, ayoo buruan,.muach muach
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH
__ADS_1
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE