Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 102


__ADS_3

Saat siang menjelang, semuanya berencana untuk melakukan Sholat Dhuhur berjamaah, sungguh suasana di rumah Alena sangat hidup dan penuh dengan kekuatan Doa, semua pengawal dan asisten rumah tangga juga merasakan sebuah keluarga yang utuh dan rasa syukur tak terhingga kepada Sang Pencipta


"Alhamdulillah ya Bik Asih ,kita bisa kerja di tempat tuan Edward, ternyata tidak seperti yang di katakan diluaran sana, kalau pak Edward itu orangnya keras dan kejam"


Ucap Bik Amah sambil menyiapkan makan siang


"Iya Amah, aku bersyukur sekali, keluarga ini ternyata sangat taat kepada Agama, biarpun kaya raya, terapi gak pernah lupa sama Sang Pencipta"


"Iya bik Asih, ikut Adem rasanya melihat ini semua, ternyata keluarga Nugraha dan Eagle luar biasa"


"Iya, mangkanya kita harus memberikan pelayanan yang terbaik buat mereka Amah, mereka itu orang-orang luar biasa dan sangat istimewa"


"Iya bik Asih, aku pengen mengabdi di sini sampai akhir hayat"


"Aku juga, insyaallah"


"Aku gak diajak?"


Ucap mang Ujang tiba-tiba ikut masuk ke dalam obrolan


"Hehehe, ya jelas to pak, kan ibu juga ada disini" sahut bik Amah


"Ya sudah, ayok aku bantu, bentar lagi dah makan siang ini" kata mang Ujang


*


Sementara itu ada seseorang yang sudah mengamuk di suatu tempat rahasia


"Bang*sat kalian semua Bo*doh, kenapa sampai gagal menghabisi Edward ha!, Percuma aku membayar kalian mahal tapi hasilnya Nol!"


"Maaf tuan, sebenarnya kita hampir berhasil waktu itu, tapi ada seseorang yang membantunya, kita sudah berusaha mengejar tapi kami tidak bisa mengambil resiko dengan mengorbankan kami semua tertangkap oleh pihak berwajib"


"Aku tidak perduli, misi kalian harus berhasil, dendam ku dengan Edward harus tuntas, aku ingin melihat dia mati dan perusahaan Diamond Eagle Company harus ada di genggamanku lagi"


"Baik tuan, saya akan lebih berhati-hati, apa anda tau kalau orang yang akan anda bunuh bukan orang biasa?"


"Maksudnya?"


"Tuan Edward manusia yang mempunyai kekutan tenaga dalam sangat luar biasa, semacam kekuatan yang tidak kasat mata, tapi bisa meremukkan badan manusia dengan mudah"


"Apa!, Maksudnya dia punya kekuatan supranatural?"


"Begitulah tuan"


"Ini akan semakin sulit, tapi aku tak peduli, apapun itu, bunuh Edward dengan cara apapun dan kau akan mendapatkan bayaran yang sangat memuaskan"


"Baik tuan, pasti akan saya lakukan"


Laki-laki yang menjadi dalang pembunuhan Edward itu pun langsung pergi, sementara itu ketua pasukan pembunuh bayaran itupun langsung menghubungi seseorang


"Halo, aku membutuhkan dirimu untuk menghadapi musuh yang mempunyai tenaga dalam sepertimu, kau akan bersenang-senang, musuh kita kali ini kekuatannya mungkin sebanding denganmu"


"Oke, aku terima tawaranmu, aku akan segera bergabung"


"Baiklah"


Sambungan telepon terputus

__ADS_1


"Jadi tuan meminta pertolongan Kaisar?" Ucap anak buah kepada ketua pembunuh bayaran


"Hem, tenaga dalam ku tidak sebanding dengan Edward, aku rasa Kaisar akan sangat menyukai misinya kali ini"


"Baik tuan, ini akan lebih mudah bagi kita"


*


Aditama sudah berada di suatu tempat dan merasakan hatinya lega


"Aku rasa di negara ini keberadaan ku akan sangat aman, Tante Amita akan membantuku untuk sementara waktu"


Sesaat kemudian Aditama menghubungi seorang wanita yang tak lain adalah adik dari ibu kandungnya


"Kau sudah sampai Dit?"


"Sudah Tante, aku sedang beberes dan akan segera beristirahat dulu"


"Iya, nanti Tante akan ke tempatmu kalau sudah tidak repot"


"Baik Tante"


Aditama segera memutuskan sambungan telepon dan bersiap membersihkan diri untuk beristirahat


Saat merebahkan diri, Aditama memandang langit-langit kamar, membayangkan wajah Alena dan sesaat kemudian terlintas wajah Amaya, wajah yang pernah melewati malam panjang dan hangat di ranjang bersama dengan peluh keringat yang bercucuran saat menyatukan diri bersama, bahkan teriakan dan desa*han Amaya masih terngiang di ingatan Aditama


Aditama sesaat memejamkan mata dan mendesah seakan ada beban berat di hatinya yang kini sedang menghimpit dan membuatnya susah untuk bernafas, tanpa sadar keluar sebuah kata dari mulutnya


"Maafkan aku Amaya"


Dan Akhirnya Aditama pun tertidur


*


Setelah makan siang siap, semuanya segera berkumpul di halaman belakang, kali ini sengaja makan siang di luar rumah sambil menikmati suasana sejuk dan nyaman di hamparan rumput dan taman bunga serta pohon-pohon rindang di belakang rumah Edward


Alena dan Edward sangat bahagia melihat pemandangan semua keluarga bisa berkumpul dan menikmati makan siang dirumahnya, semua orang juga sangat senang melihat kemesraan penganten baru


"Ini terlalu pedes Bee, jangan di makan"


"Gak apa-apa Honey, aku pengen nyoba, kamu sama kak Alex aja suka"


"Tapi pedes banget ini Bee"


Alena segera mencoba makanan sangat pedas yang di sukai Edward, saat masuk mulutnya, reaksi Alena sangat Aneh, matanya melebar dan mukanya langsung memerah kepedesan


"Hah, hah, pedes, ampun air Honey!!"


"Kan, aku bilang tadi juga apa Bee, gak kuat pasti kamu ini"


Edward langsung panik dan mengambil air putih di minumkan ke Alena


"Hah, hah, masih pedes Honey, Aaaah!"


"Sini bentar"


CUP

__ADS_1


Edward langsung mencium dan ******* bibir Alena sambil mengeluarkan tenaga dalamnya beberapa saat


Reyna langsung menutupi kedua mata anaknya saat terkejut melihat kelakuan Edward dan Alena


Abraham dan Jasmine langsung melotot kaget tak percaya dengan apa yang dilakukan Edward


Alex berbalik dan menghadang pandangan Reyna biar tidak melihat apa yang dilakukan Edward terhadap Alena


Amaya menutupi mata dengan kedua tangannya sendiri


Daniel tanpa sengaja menutupi mata Delia dengan tangannya, sementara matanya malah menyorot tajam ke arah pemandangan H*ot di depannya


Semua pengawal dan asisten rumah tangga langsung berbalik menghindari pemandangan panas yang di lakukan tuannya


Hingga kemudian, Edward melepaskan ciuman dari bibir istrinya


"Sudah gak panas lagi mulut kamu kan Bee?"


"Hah, eh, iya iya, lumayan Honey, kok bisa langsung reda ya panasnya, hehe"


Edward dan Alena masih tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya hingga akhirnya, mereka saling pandang melihat kesunyian di sekitanya


"Oh, maaf semuanya, tadi saya kepedesan, gak kuat, hihi" ucap Alena malu dan gak enak hati


"Maaf, tadi saya membantu istriku untuk meredakan panas di mulutnya, silahkan dinikmati kembali makan siangnya" ucap Edward


Kini semuanya langsung ambyar dan menarik nafas dalam-dalam untuk mengurangi rasa campur aduk di dalam hati masing-masing


"Mommy, kenapa tadi mataku ditutup, mau lihat Aunty lagi diapain sama Om Edward" rengek manja Aftan


"Iya, Dady juga, ngapain ngehalangi pandangan kita, aku gak bisa lihat Aunty kesakitan tadi di gigit sama om Edward, nakal itu om Edward, nyakitin Aunty" ucap Afita polos


"Eh, sudah, tadi Aunty mulut nya cuma kepanasan kok, di tiupin sama om Edward sayang, yok kalian makan lagi ya mommy suapin nih" sahut Reyna


"Kalian itu harus lihat situasi, ada ponakan kamu yang masih kecil itu" ucap Alex


"Sorry kak" ucap Alena


"Ya ampun, kalian benar-benar membuat Dady hampir kena serangan jantung"


Ucap Edoardo


"Maaf Dad, aku hanya membantu Istriku saja" ucap Edward


Kini Edward menoleh aneh ke arah Daniel yang masih menutupi mata Delia


"Itu kenapa tangan kamu ada di wajah Delia?" Tanya Edward


Sontak Delia langsung melempar tangan Daniel asal, hingga membuat semua orang tertawa


(Yang merasa kepedasan, silahkan merapat ke pasangan masing-masing, cara Edward boleh di coba, hehehe)


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN

__ADS_1


HADIAH HADIAH HADIAH HADIAH


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE


__ADS_2