Dokter ALENA

Dokter ALENA
Episode 67


__ADS_3

Edward segera keluar dari perusahaan dan melajukan mobilnya menuju ke Rumah Sakit Royal Murrage Hospital, sampai di sana, dengan langkah cepat Edward menuju ke Ruang IGD, tentu saja semua pegawai yang sedang sibuk disana sangat terkejut dengan kedatangan bos mereka, merasa tidak enak, Edward segera keluar dan menuju ke ruangannya


Tak lama kemudian Delia dan Amaya datang mengetuk pintu ruangan Edward, keduanya di persilahkan duduk


"Kalian gak tau Alena ada dimana?" Tanya Edward


"Beneran pak, tadi masih sama saya kok makan siangnya, terus kok ngilang gitu aja si Alena" ucap Amaya


"Handphone nya juga gak di bawa kayaknya pak, tadi waktu saya hubungi, kayak dengar nada dering dari handphone Alena yang ada dalam lokernya" sahut Delia


"Mungkin bentar lagi nyari kita kok pak, barangkali itu anak masih jalan-jalan kemana gitu" ucap Amaya


"Hem, baiklah, makasih info kalian, ini bocah emang suka seenaknya sendiri" ucap Edward


Delia dan Amaya pun pamit dan segera keluar dari ruangan Edward, tak lama kemudian Edward pun keluar dari ruangannya dan menuju ke tempat perawatan Erdinan Murrage untuk melihat keadaannya


Edward segera masuk ke kamar itu, Erdinan langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan Edward di kamarnya


"Apa kabar tuan Erdinan, apa anda sudah baikan?" Tanya Edward


"Iya, aku sudah merasa lebih baik sekarang, aku tadinya kesini sebenarnya mau menemui mu nak Edward, aku ingin tau seperti apa Edward Runcel Eagle sang pemilik rumah sakit yang aku bangun dulu"


"Oh iya tuan, dan beginilah saya"


"Kau sangat berwibawa nak, kepribadianmu sangat tegas, pantas kau mampu mengambil alih Rumah Sakit ini dengan cepat, karena lawanmu hanya anak dan cucuku yang bodoh"


"Jangan seperti itu tuan Erdinan, mereka sebenarnya orang-orang yang berkompeten, hanya saja tidak bisa mengendalikan dirinya"


"Yah, kamu benar, aku terlalu memanjakannya, cucu laki-laki ku satu-satunya juga kini semakin merusak dirinya sendiri, setelah keluar dari rumah sakit ini"


"Memangnya apa yang terjadi dengan Exel tuan?"


"Jangan panggil aku tuan, panggil saja aku kakek, itu lebih enak didengar"


"Baiklah kek, apa yang terjadi dengan Exel?"


"Kerjanya hanya keluar masuk diskotik dan pulang-pulang sudah mabuk, keadaannya makin memprihatinkan, aku benar-benar sudah tidak bisa menyadarkannya"


"Oh, sampai seperti itu rupanya, maaf kek, sebenarnya saya tidak ada niat mengeluarkan nya, itu pilihan Exel sendiri karena tidak mau di tempatkan menjadi dokter biasa yang melayani pasien di Rumah Sakit ini"


"Aku tau, itu bukan salahmu, Exel memang tidak bisa mandiri, dan terlalu dimanja oleh ibunya, jadinya sering berbuat seenaknya sendiri, untuk itu aku ingin kau membantuku nak Edward, bantulah Exel mencari jati dirinya, aku mohon padamu, umurku mungkin tidak lama lagi, aku menggantungkan harapanku padamu nak Edward"


Edward menatap mata Erdinan dalam-dalam, dilihatnya sorot mata penuh harap dari Erdinan, Edward benar-benar tidak tega melihat seorang kakek memohon padanya


"Baiklah kek, aku akan membantu sebisaku" ucap Edward


Erdinan langsung memeluk tubuh Edward cukup lama sambil meneteskan air mata, Edward merasakan tubuh Erdinan terguncang menangis, Edward membiarkan Erdinan memeluknya lebih lama dan menumpahkan segala beban dihatinya


"Terimakasih nak Edward"


"Iya kek, beristirahatlah, aku akan kembali ke ruangan ku"


"Baiklah"


Erdinan merebahkan kembali badannya ke tempat tidur


Edward segera keluar dari kamar perawatan Erdinan Murrage dan berniat menuju ke ruangannya sambil menunggu Alena, kebetulan Edward melewati jalan yang berbeda dengan maksut agar lebih cepat sampai di ruangannya, saat melewati beberapa kamar VIP, Edward tanpa sengaja melihat sosok Alena berada di sebuah kamar perawatan, Edward menghentikan langkahnya dan mendekati kamar tersebut, benar saja, disana terlihat Alena sedang berbincang dan menyuapi seseorang

__ADS_1


Edward mendekat dan membuka pintu kamar itu, jantung Edward rasanya mau berhenti berdetak melihat Alena menyuapi Raka dengan berbincang dan sesekali tersenyum


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku Al?!" ucap Edward


Alena terkejut mendengar suara keras Edward dari belakang dan langsung menoleh


"Bangs*t kau Raka, berani kau berniat mengambil milikku rupanya" batin Edward sudah tidak tahan dan langsung masuk dan menarik Alena dari tempat duduknya


Makanan yang ada di tangan Alenapun tumpah berceceran


"Astagfirullah, Edward, apaan sih kamu, ini makanan Raka tumpah semua"


"Oh, masih mikirin makanan laki-laki lain, dari pada suamimu"


"Husst, jangan keras-keras ngomongnya, nanti kedengaran yang lain Ed"


"Aku gak peduli, ngapain kamu disini, mesra-mesraan nyuapin laki-laki lain, ikut aku, pulang!"


"Apaan sih Ed, aku cuman bantu Raka aja, kasian dia_"


"Diam, ikut aku sekarang!" Edward langsung menarik Alena


"Iya, jangan tarik-tarik gini, sakit Ed" Alena menepis tangan Edward


"Maaf Ka, aku panggil perawat dulu buat bantu kamu makan ya, sekali lagi maaf" ucap Alena gak enak hati


"Sudahlah Al, aku gak apa-apa" sahut Raka


"Aku ingatkan, jangan panggil istriku Al, panggil dia nona atau nyonya, mengerti!" Bentak Edward


Edward langsung menggandeng tangan Alena berjalan keluar meninggalkan kamar Raka


"Hemh, bucin nah lo, pak Edward" batin Raka


Alena segera memaksa Edward untuk melepaskan pegangan tangannya ketika melintas di tempat yang agak ramai, Edward melotot ke arah Alena, Alena pun tak mau kalah, melototkan matanya balik ke Edward, beruntung keramaian bisa menutupi sikap ganjal kedua manusia itu, sampai di ruangan Edward, Alena segera di seret masuk dan terduduk di sofa


"Ngapain kamu sampek segitunya sama Raka?"


"Segitunya gimana, Aku cuma bantu nyuapin dia doang"


"Oh, nyuapin laki-laki lain, itu kamu anggap biasa gitu?!"


"Apa sih Ed, gak perlu tinggi gitu nada suara kamu, pendengaran ku masih cukup baik"


"Gak usah ngalihkan topik pembicaraan" ucap Edward masih emosi


"Aku cuma bantu pasien aja Ed, gak lebih"


"O, jadi kalau ada 50 pasien butuh bantuan kamu untuk makan, kamu ladeni semua gitu?"


"Ya nggak lah, mana ada kayak gitu"


"Terus, tadi itu apa?"


"Tadi itu Raka, masak kamu lupa"


"Bukan itu maksudku Al, malah muter-muter aja diajak ngomong serius kamu ini ya"

__ADS_1


"Ed, itu tadi Raka, dia luka parah kena tembak dan tusukan di beberapa tubuhnya, sementara dia gak bisa gerakkan tangannya untuk makan, dia juga gak ada sanak saudara di sini, aku cuma bantu aja tadi, gak ada maksud apa-apa" ucap Alena lagi, dan kali ini Edward terduduk diam sambil menarik nafas panjang


"Jangan lakukan hal seperti itu lagi Al, aku bisa gila" ucap Edward lirih berusaha mengendalikan emosinya


Alena terdiam dan mengambilkan air minum untuk Edward


"Nih minum dulu, biar kamu gak emosian gitu"


"Emosian gini juga gara-gara kamu" jawab Edward sambil menyambar gelas berisi air putih dari tangan Alena, namun saking banternya tangan Edward menyahut gelasnya, air malah tumpah ke tubuh Edward


BYUR


"Akh!, Sia*an ini air ,ngapain pakek tumpah sih" ucap Edward kesal


"Airnya demo, gak mau dipegang sama orang yang lagi emosi" sahut Alena sambil ngambil tissue dan memberikan ke Edward


"Emosi juga kamu yang bikin" sahut Edward sambil membersihkan bajunya


"Eleh, salah paham di gedein"


"Ya kamu nya mesra-mesraan gitu sama laki-laki lain"


"Siapa yang mesra, perasaan biasa saja"


"Kalau biasa, akunya gak mungkin murka"


"Cuma bantu nyuapin, pakek tangan dan sendok aja, itu biasa Ed"


"Emang harus pakek kaki kalau yang gak biasa?"


Alena makin Gedeg sama kelakuan Edward, dan akhirnya meminum air dan memasukkan air itu ke dalam mulut Edward dengan mulutnya


Cup


"Emh"


GLEK


Air berhasil masuk di mulut Edward dan menelannya


"Nah itu baru yang namanya gak biasa, paham?" ucap Alena santai sambil membenarkan posisi duduknya lagi


Edward masih terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja Alena lakukan padanya, sesaat kemudian Edward tersadar


"Oh, rupanya mulai berani ya" ucap Edward langsung berdiri siap menerkam Alena


"Eh, mau ngapain kamu Ed, jangan aneh-aneh ya, ini di kantor lo" ucap Alena yang sudah bersiap lari, namun Edward tidak membiarkan Alena begitu saja, Edward langsung menarik dan memeluk Alena hingga keduanya terjatuh di sofa, posisi Edward kini berada di bawah Alena


Alena meronta berusaha melepaskan diri, Edward tersenyum dan meraih muka Alena, tentu saja kini Edward sudah berhasil melu*at bibir Alena, namun tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan pintu yang terbuka


Bersambung


LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE


KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN


VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE

__ADS_1


__ADS_2