
Setelah kepulangan keluarga Nugraha, Edward dan Alena segera masuk ke mobil menuju Apartemen Edward, sedangkan Delia mengantar Amaya pergi ke kontrakannya
"Ed, aku mau beresin barang-barang di kontrakan dulu sebelum ke Apartemen kamu, nanti biar jasa pindah barang tinggal ngambil dan ngantar ke Apartemen, gimana?"
"Boleh, aku antar kamu ya, sekalian nanti biar aku bantu"
"Kamu gak capek, biar aku ikut Kak Delia aja, sekalian bareng Amaya, nanti mereka bantu aku kok"
Kebetulan sekali, tiba-tiba handphone Edward berbunyi, rupanya panggilan masuk dari Dokter Bagas
"Halo dokter bagas, ada apa?"
"Ada hal penting yang ingin dirapatkan sehubungan dengan Rumah Sakit Royal Murrage Hospital pak Edward, ini tentang kabar keterlibatan dokter Amelia"
"Ok Dokter Bagas, aku kesana sekarang"
Edward segera menutup handphonenya
"Ada apa Ed, ada hal penting?" tanya Alena
"Iya Al, aku harus bertemu dokter Bagas sekarang, kamu ke kontrakan bareng Delia gak apa-apa ya, nanti kita ketemu di Apartemen, aku akan hubungi lagi nanti"
"Gak apa-apa Ed, pergilah" ucap Alena dan segera keluar dari mobil Edward, Alena menghubungi Delia untuk bareng ke kontrakan naik mobilnya bersama dengan Amaya
Di dalam mobil Delia
"Ada apa Al?, Kok ngelamun gitu, nanti kesambet lo" tanya Amaya
"Nggak ada, cuman aku kok kepikiran sama Amalia ya?" Jawab Alena
"Ngapain pakek dipikirin, dianya aja selalu jahatin kamu Al, gedek aku kalau mengingatnya" ucap Delia
"Kalian jangan gitu, dia itu lebih menderita daripada kita lo, kasian tau nggak" sahut Alena
"Menderita gimana maksudnya?" Ucap Amaya
Akhirnya Alena menceritakan bagaimana Amalia sangat menderita karena kelakuan brengsek ayah angkatnya yaitu Jordi Setiawan pemilik Setya Rajawali Company yang kini sudah tidak berdaya, begitu juga bagaimana Amalia berniat menolong Alena saat di bawah ancaman ayah angkatnya, Delia dan Amaya sampai melongo tak percaya dengan semua cerita Alena tentang keadaan Amalia yang sebenarnya
"Astagfirullah Al, aku gak nyangka Amalia mendapat penyiksaan seperti itu bertahun-tahun" ucap Delia
"Aku jadi gak tega sama Amalia Al, kasian banget tau nggak, jadi ilang rasa benciku ma tu orang, nasip nya gitu banget ya Al" kata Amaya
"Mangkanya aku juga pengen kita bantu Amalia, kasian juga dia, apalagi sekarang aku gak tau keadaanya gimana" sahut Alena
Sampai juga ketiga wanita ini di kontrakan Alena, ketiganya kini masuk ke kamar Alena dan memberi barang-barang Alena yang akan di pindahkan ke Apartemen Edward, Alena membawa beberapa baju ganti dan barang-barang yang akan dipakainya di dalam tas besar, sedangkan barang yang lain sudah di pak dan siap di bawa nanti oleh jasa pindah barang yang sudah di hubungi oleh Alena, setelah semua selesai, ketiganya langsung meluncur ke Apartemen Edward kali ini Amaya pun ikut dan akan nginep di Apartemen Delia
*
Edward segera masuk ke ruangan rapat direksi, dan benar saja disana sudah ada beberapa orang pemegang saham yang tengah berdebat soal sesuatu yang berhubungan dengan keterlibatan Amalia
__ADS_1
"Selamat siang semuanya" ucap Edward mengagetkan seisi ruangan dan semuanya langsung terdiam duduk ditempatnya masing-masing
"Baik, saya sudah disini, silahkan permasalahan di ajukan, dan akan saya dengarkan"
"Saya adalah salah satu pemegang saham di Rumah sakit ini pak Edward, dan kebetulan saya adalah adik dari istri Jordi Setiawan, terus terang disini saya tidak setuju dengan Amalia tetap bekerja di rumah Sakit ini sebagai dokter yang akan melayani banyak pasien"
"Baik, apa yang membuat anda tidak setuju?" tanya Edward tenang dan dingin
"Semua tau siapa Amalia, dia adalah ular di keluarga saya, bahkan di Rumah sakit ini juga"
"Maksut anda?" Ucap Edward makin dingin
"Wanita itu tidak pantas menjadi dokter, kelakuannya lebih mirip wanita murahan yang menjajakan tubuhnya untuk mencapai kepentingannya, dia sudah merayu dan menjebak ayah angkatnya sendiri, bahkan melakukan hubungan s*x tanpa tau malu"
"Dari mana anda mendapatkan penjelasan seperti itu?" Tanya Edward lagi, sementara semua yang ada disana langsung heboh mendengar penjelasan gamblang dari keluarga Jordi
"Tentu saja dari adikku, istri Jordi Setiawan, sekaligus ibu angkat Amalia yang kini sudah membuang Amalia dari daftar keluarga, kita sudah tidak sudi dengan wanita menjijikkan macam dokter Amalia"
"Oh, jadi anda hanya mendengar kabar dari keluarga anda saja, sebaiknya anda tanyakan apa yang sudah Jordi lakukan kepada dokter Amalia sejak dia Remaja, penyiksaan sekeji apa yang sudah kakak anda itu lakukan, setelah itu baru saya akan merapatkan kembali masalah ini" ucap Edward
Akhirnya rapat ditutup dan semua orang masih bingung dengan peringatan dan penjelasan Edward, merekapun akhirnya mencari kebenaran cerita yang sebenarnya
Edward dan Dokter Bagas berjalan keluar ruang rapat dan Edward menceritakan semua yang diketahui tentang Amalia, Dokter Bagas sempat terkejut mengetahui kenyataan yang menimpa Dokter Amalia
Kebetulan sekali Edward melewati sebelah ruang IGD untuk mempercepat jalan menuju ke tempat parkir mobilnya, tiba-tiba saja ada seorang laki-laki tua yang memegang dadanya meminta pertolongan Edward dan langsung ambruk, beruntung Edward langsung menyambar tubuh kakek itu dan langsung mengangkatnya masuk ke IGD, petugas IGD langsung berlarian membantu sang Bos yang sedang membawa seorang kakek yang tak sadarkan diri, salah satu dokter senior terperanjat melihat siapa yang telah di bawa oleh Edward
"Jadi ini tuan Erdinan Murrage Sang pendiri Royal Murrage Hospital?" tanya Edward ikut terkejut
"Iya pak Edward"
"Selamatkan dia, berikan pelayanan terbaik, dan tolong beri pelayanan khusus, dia adalah orang paling berjasa dalam mendirikan Rumah Sakit ini"
Kata-kata Edward terdengar jelas di telinga kakek Erdinan yang sudah mulai sadar kembali, semua petugas memberikan penanganan yang cepat dan tepat untuk Erdinan Murrage
Setelah sadar, Edward segera mendekat dan mendapatkan senyuman dari Erdinan
"Apa kau Edward Runcel Eagle, Pemilik baru Rumah sakit ini?" tanya Erdinan
"Iya tuan Erdinan, salam kenal, maaf saya belum sempat untuk berkunjung ke tempat anda"
"Hem, sudah aku duga, kamu bukanlah orang jahat seperti yang di bilang anak dan menantu ku, aku sudah lega sekarang bisa melihat siapa yang menjadi pemilik Rumah Sakit yang aku dirikan dulu"
"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda tuan Erdinan" ucap Edward
"Nanti kau akan mengerti, aku ingin berbincang banyak, tapi aku ngantuk sekali"
"Istirahatlah tuan, kita akan bertemu lagi nanti" ucap Edward sambil melangkah pergi melihat Erdinan yang perlahan memejamkan matanya karena pengaruh obat yang dimasukkan ke tubuhnya dan segera di bawa ke ruang perawatan
Sementara itu ada teriakan aneh di Ruang IGD itu, Edward sampai bingung karena suara itu mirip lenguhan kesakitan yang kadang mende*ah dan berteriak, saat Edward berjalan keluar ternyata di ruang sebelahnya lagi, ada pasien sudah pembukaan lengkap akan segera melahirkan dan tidak sempat dibawa keruangan persalinan
__ADS_1
*
Akhirnya Alena dan kedua temannya sudah sampai di depan pintu Apartemen Edward
"Sampai juga nih Al, di Apartemen pak Edward, kamu tau kode pintunya kan?" Tanya Delia
"Tau, sini biar aku buka" Alena langsung memasukkan pas code ke pintu Apartemennya, namun hasilnya ditolak, berkali-kali Alena memasukkan kode yang dulu dikasih oleh Edward, namun hasilnya masih sama
"Ini kenapa jadi gak bisa gini sih, perasaan dulu ini deh kodenya, masak aku yang salah" Alena bergumam dan bingung sendiri
"Bisa gak sih Al kamu itu, jangan-jangan kamu gak tau nih kodenya" ucap Amaya ikutan panik
"Ya taulah, kalau gak tau, masak dulu aku bisa kabur" jawab Alena kesal
"Berarti sekarang pasti di ganti ma pak Edward, biar kamu gak seenaknya main kabur-kaburan lagi" sahut Delia
"Duh ribet deh ah, kamu telpon pak Edward dulu gih, tanya kodenya berubah apa nggak, pegel ni, dah lama berdiri disini" ucap Amaya kesal
Alena segera menghubungi Edward
"Halo Al, ada apa?" Tanya Edward
"Kamu dimana Ed, mau tanya kode pintu apartemen, kamu ganti?"
"Iya, maaf lupa bilang"
"Ough, Ah, ah, ah, ough!"
Tiba-tiba suara keras pasien mau melahirkan masuk di handphone Alek dan terdengar oleh Alena
"Ed, kamu di mana ini, suara apa itu, Ed!"
teriak Alena mengagetkan Edward yang masih terpaku dengan teriakan pasien yang akan melahirkan
"Pas kodenya ELEN" ucap Edward terdengar lagi suara teriakan
"Akh, Sakit sekali sayang, ah, ah, ah, ough!" dan tentu saja Alena makin murka
"Edward!, Katakan kamu dimana!, Edward!"
Teriak Alena lagi dan Edward tak sengaja menutup panggilan Alena
Bersambung
LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE LIKE
KOMEN KOMEN KOMEN KOMEN
VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE VOTE
__ADS_1