Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
'Kelelawar Bayangan'


__ADS_3

Sunu Magani tinggal dan berlatih di dalam goa itu, ditemani oleh ribuan kelelawar yang sudah lama dan sudah lebih dulu menghuni goa itu.


Terkadang di sela sela waktu latihannya, Sunu Magani berjalan jalan melihat lihat kondisi goa itu.


Ternyata goa itu memiliki beberapa lorong. Ada yang pendek ada juga yang panjang.


Di salah satu lorong yang paling besar dan luas, menjadi pusat bersarangnya ribuan kelelawar itu.


Sejak pertama kali masuk dan tinggal di goa itu, sebenarnya Sunu Magani sudah penasaran kenapa ribuan kelelawar itu hanya bersarang di satu lorong itu saja, tidak menyebar ke lorong lorong yang lain.


Akhirnya pada suatu hari, Sunu Magani mencoba mencari tahu dengan nekat menerobos ribuan kelelawar yang memenuhi lorong itu. Dengan mengalirkan energinya ke seluruh tubuhnya, Sunu Magani mulai menelusuri setiap permukaan goa. Kadang harus menyibak sekumpulan kelelawar yang bergelantungan di langit langit.


Dalam berebut tempat dengan ribuan kelelawar itu, entah kenapa energi Sunu Magani cepat sekali habis seperti lenyap sehingga akhirnya Sunu Magani banyak sekali mendapatkan gigitan kelelawar di sekujur tubuhnya. Bahkan Sunu Magani sempat tidak sadarkan diri akibat dari luk luka tergigit kelelawar kelelawar itu, karena Sunu Magani tidak tahu kalau kelelawar kelelawar itu gigitannya mengandung racun kelelawar.


Sadar dari pingsannya, Sunu Magani memulai lagi. Dia menyibak setiap kelelawar yang menggantung di dinding dinding untuk mencari tahu, ada rahasia apakah di dinding dinding itu. Karena ribuan kelelawar itu tidak hanya bergelantungan di langit langit goa, tetapi menggantung memenuhi seluruh permukaan dinding goa. Bahkan di tengah tengah goa ada batu lancip menjulang ke atas setinggi dua meter pun, permukaannya dipenuhi oleh kelelawar yang menggantung. Hanya pada bagian puncak batu yang selebar badan orang dewasa saja yang tidak dihinggapi kelelawar.


Dengan seluruh permukaan tubuhnya yang terluka karena gigitan kelelawar, ditambah lantai goa yang menonjol batu batuan tidak beraturan, membuat Sunu Magani semakin kepayahan.


Sekali lagi Sunu Magani terjatuh tidak sadarkan diri selama sehari semalam.


Sunu Magani siuman ketika dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.


Dengan sisa sisa tenaganya, Sunu Magani mencoba bangkit dari posisinya yang tengkurap pingsan.


Sambil duduk bersimpuh, diperiksanya seluruh badannya yang terasa panas. Dicobanya mengerahkan energinya untuk menahan rasa panas yang mendera tubuhnya. Tetapi tidak ada energi yang keluar.

__ADS_1


Panas yang dirasakan pada tubuhnya, semakin lama semakin panas, hingga suatu saat Sunu Magani tidak sadar berteriak keras karena tidak tahan dengan panas yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.


"Hahhh .......... panas ..... !"


Ingatan Sunu Magani menjadi kacau, efek dari rasa panas yang luar biasa di seluruh tubuhnya yang ditimbulkan karena gigitan kelelawar.


Dengan penuh kemarahan karena kondisi tubuhnya yang merasakan kepanasan, ditambah rasa lapar yang sangat, Sunu Magani mengamuk. Dicengkeramnya kelelawar yang bisa di sambarnya, kemudian dibanting di lantai.


Suatu saat tangan Sunu Magani berhasil menyambar kelelawar yang besarnya seukuran sebutir kelapa besar.


Dengan tanpa sadar, digigitnya kelelawar itu dan dihisap darahnya karena terbawa rasa lapar.


Hal itu tanpa sadar dilakukan Sunu Magani berulang ulang.


Bukannya mereda rasa panas ditubuhnya, tetapi justru menambah tinggi tingkat panas yang Sunu Magani rasakan.


Pingsannya kali ini juga Sunu Magani alami sampai sehari semalam.


Di hari berikutnya, Sunu Magani siuman lagi. Rasa panas di sekujur tubuhnya sudah hilang. Hanya rasa lapar yang sangat yang dia rasakan. Dengan kesadaran akal pikiran yang masih kacau, Sunu Magani memakan kelelawar kelelawar yang telah mati dan berserakan di sekelilingnya. Sunu Magani juga tidak menyadari jika ribuan kelelawar itu telah lenyap sejak dia pingsan yang terakhir kemaren


Setelah semua kelelawar di sekitarnya yang dia kunyah habis, barulah Sunu Magani menyadari kalau ribuan kelelawar yang menutupi seluruh dinding dan langit langit lorong goa itu telah lenyap semua.


Di seluruh permukaan dinding terbentuk garis garis tak beraturan, entah karena memang garis serat bebatuan atau karena disebabkan oleh kelelawar yang hinggap disitu.


Sunu Magani menyusuri seluruh permukaan dinding. Tetapi tidak ada yang menarik.

__ADS_1


Kemudian Sunu Magani mencoba naik ke batu yang menjulang ke atas yang berada di tengah ruangan goa.


Wusss !!!


Tap !!!


Sunu Magani masih belum menyadari kalau dia dengan mudah melompat ke batu itu, karena energinya sudah pulih bahkan energinya meningkat dengan pesat.


Begitu sampai di puncak batu yang menjulang itu, Sunu Magani mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


Betapa terkejutnya Sunu Magani, begitu melihat ke permukaan dinding dan dasar goa.


Garis garis tak beraturan di seluruh permukaan dinding goa dan bebatuan di dasar goa yang menonjol tak beraturan, setelah dilihat dari puncak batu yang menonjol di tengah ruangan, membentuk tulisan yang kalau diperhatikan, merupakan tulisan tentang jurus silat kelelawar lengkap.


"Ha ha ha ha ha ....... " Sunu Magani tertawa lepas dan berkata, "terbayar lunas sakit dan penderitaanku ini."


Sebenarnya Sunu Magani orang yang sangat beruntung, masuk ke goa yang dihuni ribuan kelelawar. Karena energi dan jenis darahnya adalah energi dan jenis darah yang sesuai dengan keadaan di goa itu.


Ratusan tahun yang lalu, goa itu tempat tinggal seorang resi yang sakti dengan ilmu silat jurus kelelawar yaitu 'Kelelawar Bayangan'. Saat saat terakhir hidupnya, resi itu takut untuk mengangkat murid. Tetapi resi itu juga tidak ingin ilmu silat 'Kelelawar Bayangan' ciptaannya lenyap bersamaan dengan kematiannya. Maka resi itu menulis semua jurus ilmu 'Kelelawar Bayangan' di seluruh dinding dan lantai tempat tinggalnya. Uniknya, tulisan di dinding dan lantai goa hanya bisa dibaca dengan posisi berdiri di ujung batu yang menjulang setinggi dua meter. Yang akan mewarisinya adalah orang yang jenis energi dan jenis darahnya sama dengan resi itu.


Orang dengan jenis energi ataupun jenis darah atau dua duanya tidak sama, kalau masuk ke goa itu tidak akan kehilangan energinya. Kalaupun memaksa menyingkirkan seluruh kelelawar, bangkai kelelawar akan menutupi lantai dan sebagian dinding, sehingga tidak akan tulisan di lantai dan di dinding. Sedangkan Sunu Magani, saat masuk ke dalam lorong goa, energinya semakin berkurang dan akhirnya habis. Hal ini karena energinya diserap oleh kelelawar induk dan akan dikirimkan ke pemimpin kelelawar. Diduga pemimpin kelelawar itu adalah sang resi yang telah moksa dan raganya berubah menjadi kelelawar penjaga tulisan ilmu silat 'Kelelawar Bayangan' di goa itu.


Sunu Magani saat digigit kelelawar tidak bisa menolak karena tidak ada energi untuk melawan.


Sebenarnya gigitan kelelawar itu proses memasukkan racun kelelawar ke dalam tubuhnya. Racun kelelawar yang sudah menggigitnya akan berubah menjadi energi kelelawar saat orang yang digigit makan daging kelelawar itu.

__ADS_1


Maka dari itu, Sunu Magani merasa seperti meningkat energinya.


___0___


__ADS_2