
Suara gemerincing itu belum hilang ketika di depan anak murid Padepokan Macan Putih tiba tiba sudah berdiri tiga sosok orang tua berjubah putih. Jubah mereka juga bergambar kepala harimau di dada kirinya.
Yang berdiri paling depan, seorang kakek berusia sekitar tujuh puluh tahun, berkumis dan berjenggot panjang. Seluruh rambut, kumis dan jenggotnya sudah berwarna putih semua. Tangan kirinya memegang tongkat baja sepanjang satu setengah depa. Di ujung tongkat bergantungan tiga golok dengan warna yang berbeda beda, yang terangkai pada bagian gagangnya dengan menggunakan cincin baja besar. Tiga golok yang menggantung pada tongkat itu masing masing berwarna putih, hitam dan merah. Di masing masing golok, pada punggung bilahnya terangkai cincin cincin kecil sepanjang bilah golok. Dia adalah Resi Kapigotra wakil ketua Padepokan Macan Putih.
Dua orang di belakangnya, seorang laki laki berumur sekitar 50 tahun. Badannya tidak terlalu tinggi tetapi gempal. Pupil matanya kecil. Dengan bibir yang selalu tersenyum, membuat wajahnya terlihat aneh. Kedua punggung lengannya bersisik. Di punggungnya terselempang golok besar sepanjang setengah depa. Pada sepanjang punggung bilahnya juga penuh dengan cincin.
Yang satunya seorang perempuan berumur sekitar lima puluhan tahun juga. Wajahnya putih pucat tanpa ekspresi. Tetapi masih terlihat gurat gurat kecantikannya. Di punggungnya juga terselempang dua golok dengan masing masing panjang bilahnya satu lengan dan gagangnya juga satu lengan. Goloknya bisa dimainkan dengan berpasangan kiri dan kanan, tetapi gagangnya juga bisa disambungkan sehingga membentuk tombak pendek dengan dua mata tajam berbentuk golok.
Kedua orang itu dikenal dengan sebutan Sepasang Golok Neraka, juga sebagai wakil ketua Padepokan Macan Putih. Nama asli mereka adalah Parastra dan Parastri.
Mereka berdua punya kesaktian sendiri sendiri dan sudah masuk tataran tinggi. Tetapi, kalau mereka sudah bertarung bersama, kerja sama mereka sangat dahsyat, bsa mengalahkan lawan yang tingkatannya lebih tinggi dari mereka berdua.
Lintang Rahina yang masih duduk di warung makan, bisa melihat dengan jelas semua kejadian di seberang dari tempat dia duduk.
Lintang juga bisa merasakan pancaran energi yang sangat besar dari ketiga orang tua yang baru datang itu, terutama energi dari orang yang rambut kepala, kumis dan jenggotnya sudah memutih semua.
Terlihat Resi Kapigotra mengebutkan tangan kanannya. Kemudian dua orang yang terkenal dengan sebutan Sepasang Golok Neraka maju ke depan Resi Kapi Gotra.
"Hemmm ... kaliankah yang telah melukai murid murid Padepokan Macan Putih ?" tanya Pararastra sambil tersenyum senyum.
"Benar. Karena mereka berbuat sewenang wenang pada pedagang di pasar ini," jawab Sindunata.
"Kalian memang harus diajari agar tahu tingginya langit !" kata Parastra lagi.
Tanpa menunggu lawannya siap, Parastra langsung melesat ke arah Sindunata berdiri.
Siuttt ! Siuttt ! Siuttt !
Dalam sekejap tiga pukulan dilayangkan oleh Parastra, dan tiga tiganya bisa dihindari oleh Sindunata.
"Bangsat ! Sekarang rasakan ini !" teriak Parastra.
Tiba tiba tubuhnya sudah berada di depan Sindunata lagi sambil melancarkan pukulan dan tendangan setelah menambah aliran energinya.
__ADS_1
Plakkk ! Plakkk ! Plakkk !
Duggg !
Kali ini Sindunata tidak mengelak, setiap pukulan dan tendangan Parastra dihadapi juga dengan pukulan dan tendangan.
Setelah adu pukulan dan tendangan, mereka berdua sama sama melompat mundur beberapa langkah.
Parastra diam diam terkejut. Tangan dsn kakinya sedikit bergetar. Ternyata, penjual daging di depannya itu mempunyai energi yang bisa mengimbanginya.
"Bagus, sekarang saatnya serius !" kata Parastra sambil menghunus senjatanya.
Sringgg !
Cringgg ! Cringgg ! Cringgg ! Cringgg !
Terdengar suara gemerincing saat Parastra menggerakkan goloknya yang besar.
Melihat lawannya mengeluarkan senjata, Sindunata pun mulai mengeluarkan senjatanya.
Blarrr !!!
Sindunata dengan cepat menghunus kedua golok besarnya masing masing di tangan kiri dan tangan kanan.
Bersamaan dengan menghunus senjatanya, terdengar suara ledakan di tubuhnya saat Sindunata meningkatkan aliran energinya.
Melihat hal itu, diam diam Parastri terkejut, ternyata selama ini lawannya masih menyimpan kekuatannya.
Hal itu semakin membuat Parastri jengkel, sehingga tanpa ragu ragu lagi, Parastri kembali melesat menyerang Sindunata.
Sesaat kemudian terjadi saling tukar serangan antara Parastra dan Sindunata. Suara dentingan katena benturan kedua senjata pun terjadi berkali kali.
Sementara itu, melihat rekannya sudah menyerang lawan, Parastri menghampiri Puruhita yang masih diam saja.
__ADS_1
"Jangan cemaskan temanmu ! Akulah yang harus kau cemaskan. Karena aku yang akan mencabik cabik tubuhmu !" kata Parastri.
"Justru kalian semua yang harus cemas !" jawab Puruhita.
"Jangan terlalu banyak basa basi, ayo kita mulai saja !" tantang Paratri sambil langsung melesat menyerang Puruhita.
Saling serang dengan pukulan dan tendangan pun berlangsung sengit antara mereka berdua.
Pada benturan pukulan yang kesekian kalinya, mereka berdua sama sama melompat mundur.
Sebenarnya Parastri sangat terkejut. Karena setiap pukulan ataupun tendangan mereka bertemu, Parastri merasakan lengan dan kakinya bergetar.
Tanpa menunggu lawannya, Parastri segera menarik kedua senjatanya.
Melihat lawannya sudah mencabut senjata, Puruhita pun segera mengeluarkan senjatanya, dua pisau kecil sepanjang dua jengkal.
Kemudian mereka pun saling melesat melayangkan serangan hingga sering menimbulkan suara berdentingan karena dua senjata bertemu.
Resi Kapigotra yang menonton dari samping, mengernyitkan alisnya melihat gerakan jurua jurus Sindunata dan Puruhita. Setelah beberapa saat berusaha mengingat, akhirnya tahu siapa mereka. Dia sempat mendengar reputasi mereka dan seberapa tinggi tingkat mereka.
Mereka berdua adalah sepasang suami istri pendekar ahli golok. Sindunata terkenal dengan julukan Pendekar Golok Pembelah Angin. Karena walaupun goloknya besar dan lebar, tetapi sangat cepat gerakannya. Bila kedua goloknya sudah mengelilingi lawannya, membuat ruang di dalam kepungan goloknya habis udaranya membuat lawannya kesulitan bernafas. Sedangkan istrinya dikenal dengan julukan Golok Pengambil sukma. Karena sangat cepat gerakannya dan sangat rapi hasil serangannya, sehingga lawan belum menyadari terkena luka, lawannya sudah lebih dahulu tewas karena tertusuk jantungnya atau kepalanya. Bahkan orang lain yang memeriksa lawannya yang sudah tewas, kesulitan untuk menemukan di mana lukanya.
Resi Kapigotra terlihat cemas. Dia melihat, setelah lewat lima puluh jurus, kedua temannya mulai terdesak. Kalau dia tidak segera turun tangan, kedua temannya akan kalah.
Saat kedua temannya terdesak hebat, Resi Kapigotra segera menggetarkan tongkatnya. Seketika terdengar suara gemerincing yang menyakitkan gendang telinga hingga memecah konsentrasi.
Parastra dan Parastri segera meloncat ke belakang ketika gerakan serangan lawannya sejenak sedikit melambat karena tidak menduga akan mendapat serangan energi suara dari gemerincing cincin pada golok Resi Kapigotra.
Sindunata dan Puruhita melihat ke arah Resi Kapigotra setelah masing masing lawannya mundur.
"Adi Parastra, kau bantu adi Parastri. Biar aku yang menghadapi Pendekar Golok Pembelah Angin ini," kata Resi Kapigotra sambil mendekat ke arah Sindunata.
Parastra dan Parastri terkejut mendengar nama itu. Mereka berdua pernah mendengar cerita tentang sepasang suami istri itu, tetapi belum pernah bertemu.
__ADS_1
\_\_\_◇\_\_\_