Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Kemunculan Para Tokoh Sakti


__ADS_3

Mendengar apa yang disampaikan oleh Ki Dipa Menggala, para hadirin menanggapinya dengan beragam.


"Bagi yang ingin memberikan usulan, dipersilahkan naik ke panggung," kata Ki Dipa Menggala.


Merasa ada kesempatan untuk membujuk para yang hadir, Ki Rekso segera naik ke panggung.


"Kita sebagian besar adalah para tokoh semasa kerajaan Majapahit. Sekarang kita sudah berkumpul, mari kita satukan tekad kita untuk merebut kekuasaan dan melanjutkan pemerintahan Majapahit !" teriak Ki Rekso.


Setuju !!!


Sahut sebagian para tamu yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ki Rekso.


Setelah Ki Rekso turun, Ki Ageng Arisboyo naik ke panggung.


"Jaman sudah berubah. Sekarang sudah muncul pemerintahan baru dengan tatanan dan ajaran yang baru. Itu sudah ditakdirkan. Bahkan Beliau Prabu Brawijaya pun sudah mendapatkan wangsit atas berdirinya kerajaan baru itu. Majapahit memang sudah saatnya surut, diteruskan oleh kerajaan baru dengan tatanan baru. Sebagai abdi Majapahit yang setia, kita harus memegang dan mentaati titah Beliau," kata Ki Ageng Arisboyo.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Ki Ageng Arisboyo, sebagian besar orang orang yang hadir mengangguk angguk.


Tetapi tiba tiba terdengar suara suara dari deretan belakang yang menimpali apa yang sudah disampaikan oleh Ki Ageng Arisboyo ataupun Ki Rekso.


"Tapi kita ingin mempertahankan dan meneruskan tradisi dan tatanan yang selama ini sudah kita lakukan !"


"Kami ingin kembali mengibarkan panji panji Majapahit !"


"Ingat ! Kita haru senjaga dan melaksanakan sabda dan titah raja !"


Dan banyak teriakan teriakan lain yang akhirnya membuat suasana pertemuan menjadi memanas dan akhirnya memunculkan ketegangan.


Ki Dipa Menggala sebagai seorang tokoh persilatan yang sudah kawakan, tidak ingin terjadi kekacauan dan keributan karena perbedaan pendapat. Ki Dipa Menggala tahu, di dunia persilatan, kekuatan adalah segalanya. Jadi, bagi para pendekar, membuat keputusan dengan adu kekuatan adalah lebih baik. Karena, mereka para ahli silat akan lebih menghargai hasilnya dan mengakui kemenangannya dengan adu kesaktian.


Tiba tiba terdengar suara alunan seruling yang mengandung energi yang mampu membuat semua orang yang berada di tempat pertemuan terdiam.

__ADS_1


Kemudian terdengar suara pelan tetapi sangat jelas terdengar oleh semua yang berada di ruangan itu, "kita semua hidup di dunia persilatan, kita tidak usah terlalu banyak berdebat. Keputusan kita ambil lewat jalan kekuatan saja. Saya kira, apapun hasilnya, kita semua akan menghormati keputusannya."


Setelah suara orang itu berhenti, terdengar lagi alunan seruling yang seakan membangkitkan hasrat orang untuk bertarung.


Tetapi beberapa saat kemudian, suasana terhanyut oleh suara alunan seruling itu terpecah oleh suara orang berkata, "tidak baik tidak baik. Segala sesuatu bisa dibicarakan dengan baik baik."


Wussshh !!!


Tiba tiba di atas panggung telah berdiri seorang biksu, dengan jubahnya yang berwarna kuning lusuh. Kepalanya plontos dan tangan kanannya memegang tasbih dari kayu yang bulatannya sebesar ibu jari kaki.


"Ki Goprak, jangan duduk di dahan pohon terus, nanti pegal pegal badanmu," kata biksu itu sambil melihat lurus jauh ke arah depan panggung.


Begitu suara seruling berhenti, Ki Goprak sudah berada di samping biksu yang memanggilnya.


"Biksu Wisnu Gatti, bukankah lebih enak melihat 'pemandangan' dari jauh ?" kata Ki Goprak.


Melihat dua orang yang dikenalnya tiba tiba berada di atas panggung, Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala segera naik ke panggung.


"Biksu Wisnu Gatti dan Ki Goprak, selamat datang. Maafkan kami yang tidak memberikan undangan sebelumnya dan kurang sopan dalam menerima tamu," kata Ki Dipa Menggala.


"Ki Dipa tidak usah sungkan sungkan. Tanpa undangan pun, dengan nama besar Ki Dipa Menggala, siapapun pasti akan tertarik untuk hadir," jawab Biksu Wisnu Gatti.


"Silahkan duduk Biksu Wisnu Gatti dan Ki Goprak," kata Ki Wangsa Menggala.


"He he he ... Ki Wangsa selalu setia mendampingi Ki Dipa," kata Ki Goprak, "ayo Biksu, kita duduk, giliran kita masih jauh."


Biksu Wisnu Gatti dan Ki Goprak kemudian duduk di deretan Ki Penahun.


Begitu Biksu Wisnu Gatti dan Ki Goprak duduk, tiba tiba datang kesiuran angin yang agak kencang, disertai munculnya suara seorang laki laki.


"Ha ha ha ha ..... di bawah perintahku, mari kita tumpas kerajaan baru itu,"

__ADS_1


Di depan Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala yang masih berada di atas panggung, telah berdiri seorang lelaki paruh baya. Tubuhnya tinggi besar, berkumis tebal. Memakai pakaian seperti seorang pembesar. Dilihat dari sepatu yang dia pakai, jubah yang dia kenakan, seperti pakaian seorang pangeran, atau raja yang tidak mengenakan mahkotanya.


"Prabu Wisa ! Kenapa dia tiba tiba muncul setelah sekian lama menghilang," kata Ki Dipa Menggala dalam hati.


Beberapa tokoh senior yang lainnya pun terkejut dengan kedatangannya.


Dikenal dengan julukan Prabu Wisa. Seorang tokoh dunia persilatan yang sangat misterius. Mengaku sebagai seorang pangeran, anak seorang raja. Kemampuan ilmu silatnya masuk pada golongan tingkat tinggi.


Menurut kabar burung yang beredar, Prabu Wisa adalah seorang pangeran yang pergi dari istana karena merasa kecewa bukan dia yang diangkat menjadi raja. Ilmu silatnya sangat tinggi, sangat ahli dalam ilmu racun. Kabarnya, mempelajari ilmu silat dari kitab kitab ilmu silat yang tersimpan di perpustakaan kerajaan. Maka dari itu dijuluki Prabu Wisa. Keberadaannya yang sangat misterius membuat sangat sulit untuk bertemu dengannya. Hanya beberapa orang yang pernah bertemu dengannya. Selebihnya, orang orang hanya mendengar namanya dari cerita cerita orang lain.


"Ki Dipa Menggala, segera umumkan pada semuanya, bahwa kita akan segera maju berperang, menyerbu kerajaan baru dengan tatanan yang baru itu.


"Prabu Wisa, jangan terburu buru mengambil keputusan. Kita bicarakan dulu," jawab Ki Dipa Menggala.


"Ki Dipa Menggala, segera umumkan !!! atau terpaksa aku menghukummu !!!" teriak Prabu Wisa.


Tiba tiba Ki Pradah berdiri di samping Ki Dipa Menggala.


"Ki Dipa, serahkan padaku, biar aku yang mengurusnya," kata Ki Pradah sambil menghadap ke arah Prabu Wisa.


"Hati hati Ki Pradah," jawab Ki Dipa Menggala sambil menuju ke deretan kursi di atas panggung, "energinya yang tersembunyi sangat tinggi."


Ki Pradah mengangguk mengiyakan. Ki Pradah adalah salah satu dari sedikit orang yang pernah bertemu dengan Prabu Wisa. Walaupun belum pernah berhadapan, Ki Pradah bisa merasakan energi yang terpancar dari tubuh Prabu Wisa.


"Prabu Wisa, sudah lama sekali, baru kali ini kita bertemu kembali. Mari kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin," kata Ki Pradah mencoba menahan Prabu Wisa.


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan !" jawab Prabu Wisa, "dibawah perintahku, kita akan menyerbu kerajaan baru itu !"


"Kita dengarkan saran dan usulan teman teman yang lain dahulu," kata Ki Pradah lagi, "jangan memutuskan sendiri."


"Mengikuti keputusanku, atau kuhancurkan !" teriak Prabu Wisa sambil mengeluarkan energinya.

__ADS_1


"Memang benar berita yang pernah aku dengar, energi milik Prabu Wisa memang sangat besar," kata Ki Pradah dalam hati.


__ADS_2