
Lintang Rahina menahan Sekar Ayu Ningrum agar tidak melanjutkan menyerang Putri Dyah Pawatu, karena Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa sudah melihat Putri Dyah Pawatu terdesak hebat oleh Sekar Ayu Ningrum. Sehingga mereka mengancam, kalau sampai Putri Dyah Pawatu terluka atau bahkan tewas, mereka tidak akan memberitahukan di mana mereka mengurung guru guru Lintang Rahina.
Lintang Rahina bersedia membebaskan mereka, namun dia juga memberikan peringatan kepada Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa. Jika sampai dia menemukan guru gurunya dalam keadaan terluka parah atau terancam jiwanya, Lintang Rahina tidak akan segan segan lagi akan mencari dan menghabisi mereka berdua termasuk Putri Dyah Pawatu.
Karena itulah, dengan terpaksa Lintang Rahina menahan diri dan mengalah dan kemudian menghentikan serangan Sekar Ayu Ningrum.
"Sekarang tunjukkan dimana kalian mengurung guru kami ! Jangan coba coba untuk menipu kami !" kata Lintang Rahina.
"Ikutlah dengan kami," jawab Putri Dyah Pawatu yang langsung melesat menyisir pinggiran hutan menuju ke arah gunung.
Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera mengikuti arah lari Putri Dyah Pawatu, disusul dibelakangnya ada Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa.
Setelah menaiki tebing yang cukup tinggi, sampailah mereka di suatu tanah datar yang cukup luas.
Di ujung tanah datar itu terdapat satu bangunan yang cukup besar dan megah yang dikelilingi oleh benteng yang cukup tinggi. Setelah melewati benteng, sampailah mereka di bangunan utama. Bangunan itu sepi, karena penghuninya memang hanya Putri Dyah Pawatu.
Sejak menaiki tebing hingga sampai di benteng yang mengelilingi bangunan utama, entah kenapa, Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa terlihat gelisah dan wajah mereka memucat.
Sesampai di bangunan itu, Putri Dyah Pawatu segera memasuki bangunan itu lewat pintu utama, mengikuti di belakangnya, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Sedangkan Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa tidak berani ikut masuk ke dalam bangunan utama.
Saat memasuki bangunan utama itu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum merasakan energi siluman yang sangat banyak dan kuat.
Langkah mereka terhenti di suatu ruangan di tengah tengah bangunan. Ruangan itu sangat luas, namun hawa energi siluman sangat kental. Di depan ruangan itu, ada dua ruangan lagi yang pintunya tertutup rapat. Dari arah kedua ruangan itu, Lintang Rahina dapat merasakan datangnya energi siluman.
"Mereka semua yang kalian cari, ada di dalam ruangan itu. Kami sudah menepati janji kami. Jadi kami akan pergi. Kalian berdua sudah tidak ada hak menahan kami !" kata Putri Dyah Pawatu.
"Baiklah. Tetapi kalau mereka semua sampai mengalami sesuatu, akan kucari kalian kemanapun kalian sembunyi !" jawab Lintang Rahina.
Tanpa menjawab lagi, Putri Dyah Pawatu langsung kembali keluar dengan cepat.
Sesampai di luar bangunan, langsung menemui Ki Ujang Galih dan Ki Buyut Jalu Wisesa.
"Kalian menjauh dari sini secepatnya. Biar aku sendiri yang menunggu di sini. Besok kita lihat hasilnya !" kata Putri Dyah Pawatu.
__ADS_1
"Baiklah Putri," jawab Ki Buyut Jalu Wisesa.
Kemudian tanpa mengulur waktu lagi, mereka berdua melesat turun dari tebing dengan cepat.
----- o -----
Sementara itu, di dalam bangunan utama, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum mulai merasakan datangnya tekanan dari getaran energi siluman yang sangat besar.
Mereka berdua segera meningkatkan aliran energinya ke seluruh tubuhnya untuk menangkal tekanan dari getaran energi siluman itu.
"Adik Sekar tunggu di sini, biar kakang yang membuka pintu itu," kata Lintang Rahina.
"Hati hati kakang," jawab Sekar Ayu Ningrum.
Dengan langkah perlahan, Lintang Rahina mendekati pintu ruangan yang sebelah kiri. Ternyata pintu itu tidak terkunci. Begitu pintu terbuka, tekanan dari getaran energi siluman segera menyeruak keluar dan semakin memberikan tekanan pada mereka berdua, terutama pada Lintang Rahina yang berada dekat dengan pintu itu.
Sambil mengaktifkan energi dengan tehnik ilmu 'Bramaseta', Lintang Rahina masuk ke ruangan gelap itu agak ke dalam. Dia merasakan adanya getaran energi yang sangat kuat keluar dari ujung ruangan.
Namun Lintang Rahina tidak sempat memperhatikan sumber keluarnya energi yang menekan dengan sangat kuat itu, karena dia melihat keempat gurunya duduk bersila dengan tubuh yang terlihat sangat lemah.
Setelah keempat gurunya sudah kembali duduk bersila di tengah ruangan luas itu, Lintang Rahina berniat menyalurkan energinya untuk memancing agar energi keempat gurunya bangkit lagi.
Baru saja Lintang Rahina hendak duduk bersila, tiba tiba terdengar suara berat tapi lemah di belakangnya.
"Heeh he he ..... akhirnya kutemukan orang dengan energi yang sangat besar dan masih muda pula," kata seseorang yang suaranya serak dan berat.
Lintang dengan cepat membalikkan badannya. Diam diam dia sangat terkejut, ada seseorang yang tiba tiba berdiri agak jauh di belakangnya sedangkan dia belum sempat merasakan kehadirannya.
"Siapa kisanak ? Apa hubungan kisanak dengan Putri Dyah Pawatu ?" tanya Lintang Rahina sambil memberi isyarat pada Sekar Ayu Ningrum untuk segera membawa guru guru mereka menjauh dari seseorang yang baru datang itu.
"Heeh he he ... aku adalah seorang tua renta yang sangat senang, bertemu dengan seseorang yang energinya sangat kuat," jawab orang tua itu.
"Maafkan kami kalau sudah mengganggu istirahat kakek," kata Lintang Rahina lagi, "Permisi, kami akan membawa keluar guru guru kami dari ruangan ini."
__ADS_1
"Heeh he he .... silahkan bawa mereka, anak muda. Tetapi, hanya kalau kau bisa memuaskan aku dalam bertarung," tukas kakek yang terlihat lemah itu.
Baru saja suara serak dan berat itu selesai, tiba tiba Lintang Rahina merasakan ada energi yang mengarah ke dadanya.
Duuukkk !!!
Lintang Rahina tersurut ke belakang tiga langkah dengan posisi kaki yang tetap posisi kuda kuda.
"Heeh he he .... nampaknya kau bisa membuatku bersenang senang, anak muda," kata kakek renta itu yang tiba tiba tubuhnya seperti lenyap karena begitu cepat gerakannya.
Plaaakkk ! Plaaakkk ! Plaaakkk !
Dalam waktu sesaat, Lintang Rahina mendapatkan serangan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata. Lintang Rahina berusaha secepatnya untuk bisa menangkis dan menghindari serangan kakek renta itu.
Plaaakkk Plaaakkk !!! Deeesss !
Kembali Lintang Rahina tersurut ke belakang saat dadanya terkena satu pukulan.
"Heeh he he ... bagus anak muda !" kata kakek renta itu sambil tangan kanannya mengebut kebutkan bajunya seolah seperti terkena debu, "Bawalah mereka semua. Kutunggu kau besok lusa di halaman rumah ini untuk bertarung. Akan aku berikan obat pemulih energi untuk guru gurumu itu, jika kau bisa datang."
"Apa .......,"
Belum selesai Lintang Rahina berkata, kakek renta itu sudah lenyap dari depan Lintang Rahina.
"Jangan lupa anak muda. Besok lusa kita bertemu di sini !" terdengar suara kakek renta itu seperti berkata dekat telinga.
Selain itu, Lintang Rahina juga merasakan keanehan. Getaran energi siluman yang menekan itu juga hilang bersamaan dengan lenyapnya kakek renta tadi.
__________ 0 __________
Para pembaca yang berbahagia
Mohon maaf kalau dalam beberapa hari ini tidak ada update. Seminggu ini dan seminggu ke depan, banyak sekali kegiatan yang harus author selesaikan. Tetapi author akan selalu berusaha bisa update chapter.
__ADS_1
Atas kesabaran dan pengertiannya, authot ucapkan banyak terimakasih. Semoga kita semua selalu mendapatkan keberkahan dari Allah ta'ala. Aamiin.