
Pada saat Sekar Ayu Ningrum sedang berjuang untuk menghilangkan pengaruh asap tipis yang beraroma harum, di dalam pernafasan dan peredaran darahnya, Lintang Rahina segera melesat mendekati Tuan Muda Kim. Lintang Rahina sejenak menatap Tuan Muda Kim.
"Pakaian orang ini mirip dengan Klan Kemala Hijau dari negeri daratan besar. Ada hubungan apa dia dengan mereka ?" kata Lintang Rahina dalam hati.
"Apa hubunganmu dengan Nona Kim ?" tanya Lintang Rahina.
"Akulah kakak kandungnya," jawab Tuan Muda Kim sambil berdiri lagi. Tangan kirinya memegang dada kirinya yang terasa sesak.
"Berikan obat penawarnya, dan kau bisa pulang ke negerimu," kata Lintang Rahina lagi.
"Hhh he he ... Kau masih bisa berkata begitu, setelah semua yang kau lakukan pada Klan Kemala Hijau ?" tanya Tuan Muda Kim dengan tertawa getir.
"Itu semua karena ketamakan adikmu yang didukung oleh kedua orangtuamu. Mereka meminta yang bukan haknya," jawab Lintang Rahina.
Sebenarnya Tuan Muda Kim sudah tahu dari cerita ketua biksuni. Namun, bagaimanapun dia harus membalaskan kematian Klan Kemala Hijau.
"Aku tidak urusan dengan itu semua. Aku hanya ingin membalaskan kematian mereka semua !" kata Tuan Muda Kim.
Sesaat kemudian, terjadi lonjakan energi di seluruh tubuhnya. Sekilas terlihat pendaran sinar hijau tipis menyelimuti seluruh tubuhnya.
Sebenarnya, pewaris sah kepemimpinan Klan Kemala Hijau adalah Tuan Muda Kim. Namun dia tidak mau menerimanya dan memilih menyerahkan posisi itu pada adiknya.
Tetapi, sebagai pewaris sah, Tuan Muda Kim berhak mewarisi ilmu bela diri inti Klan Kemala Hijau yaitu ilmu Pedang Kemala.
Ilmu Pedang Kemala belum pernah dia gunakan, karena Tuan Muda Kim lebih memilih untuk bertapa.
Namun kali ini, dia akan menggunakan ilmu pedang itu untuk menegakkan nama besar Klan Kemala Hijau.
Saat Tuan Muda Kim menambah lagi aliran energinya, samar samar terdengar suara berdenging, ketika tiba tiba di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang berwarna hijau terang dan mengeluarkan pendaran sinar hijau.
"Keluarkan senjatamu anak muda. Lawanlah aku selayaknya seorang pendekar. Aku hanya akan menegakkan kembali nama besar Klan Kemala Hijau !" ucap Tuan Muda Kim.
Melihat Tuan Muda Kim mengeluarkan senjatanya, Lintang Rahina pun melepaskan sebagian besar energinya. Seketika seluruh tubuhnya diselimuti oleh pendaran sinar putih yang dilapisi oleh butiran butiran sinar kuning keemasan. Di tangan kanannya telah tergenggam sebatang pedang yang terbentuk dari pendaran sinar putih yang dipadatkan, dan diselimuti oleh butiran sinar kuning keemasan.
Kemudian, seolah seperti dua sinar yang saling mendekat dengan sangat cepatnya, tubuh Tuan Muda Kim dan tubuh Lintang Rahina sama sama melesat ke arah lawan.
Sesaat kemudian terjadi benturan pedang berkali kali dengan sangat cepatnya. Dimana setiap benturan pedang mereka, menciptakan percikan percikan api laksana petir petir kecil yang menyambar.
__ADS_1
Traaannnggg ! Traaannnggg !
Trang ! Trang trang !
"Memang bukan isapan jempol, cerita tentang ketajaman Pedang Kemala Hijau," kata Lintang Rahina.
Di negeri daratan besar, memang beredar cerita, jika Pedang Kemala Hijau termasuk senjata pedang yang paling tajam. Belum ada senjata yang mampu bertahan menghadapi benturan Pedang Kemala Hijau lebih dari lima puluh jurus. Bahkan permata yang paling keras pun, mampu dibelah dengan Pedang Kemala Hijau.
Demikian juga dengan pedang Lintang Rahina yang dibentuk dari pendaran energi. Setiap beberapa kali berbenturan dengan pedang Kemala Hijau, pedang yang dipergunakan oleh Lintang Rahina menjadi retak retak dan kemudian patah. Walaupun dengan cepat, bilah pedang itu bisa pulih lagi, terbentuk oleh pendaran energi.
Namun, bagi Lintang Rahina, hal itu menjadi sedikit menghambat. Karena dengan retak atau patahnya bilah pedang, mengurangi daya tekan pada lawannya. Sehingga walaupun Tuan Muda Kim kalah dalam tingkat energi, tetap bisa mengimbangi Lintang Rahina.
Pertarungan Lintang Rahina melawan Tuan Muda Kim tanpa terasa sudah berlangsung sekitar seratus jurus. Keduanya sudah mendapatkan beberapa luka sayatan di beberapa bagian tubuh mereka. Namun belum bisa diketahui siapa yang akan unggul. Apalagi energi dan kecepatan mereka belum ada yang menunjukkan tanda tanda mulai menurun.
Lintang Rahina mencoba menggabungkan dengan tehnik tapak wulung. Bilah pedangnya berubah menjadi berwarna ungu kehitaman. Namun tetap saja, setiap beberapa kali benturan, pedang Lintang Rahina menjadi retak dan patah.
Karena masih belum ada perubahan, kemudian Lintang Rahina mencoba menggabungkannya dengan tehnik 'Bramaseta'. Seluruh tubuh Lintang Rahina diselimuti oleh api putih. Demikian juga bilah pedangnya, berubah menjadi agak transparan seperti halnya api putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya.
Dengan bilah pedang yang terbentuk dari api putih, Lintang Rahina kembali memapaki kemanapun arah serangan Tuan Muda Kim.
Trang ! Trang ! Trang !
Traaannngg ! Traaannnggg !
Dengan pedangnya yang mampu menghadapi tajamnya pedang Kemala Hijau, Lintang Rahina sedikit demi sedikit mulai memberikan tekanan pada Tuan Muda Kim.
Tuan Muda Kim pun mulai merasakan, tangannya menjadi kebas dan bergetar setiap kali senjata mereka berbenturan.
Bahkan tubuh Tuan Muda Kim mulai terdorong mundur pada setiap benturan senjata.
----- * -----
Sementara itu pada waktu yang bersamaan. Sekar Ayu Ningrum sedang berjuang untuk menghilangkan pengaruh asap yang beraroma wangi yang yang muncul pada setiap ledakan mesiu yang dilemparkan oleh Tuan Muda Kim, yang sempat terhirup olehnya, dengan cara menggiring dan mendorong sisa racun dan membuang melalui kulit kepala.
Asap tipis terlihat keluar dari tubuh Sekar Ayu Ningrum, terutama dari kepalanya. Hal ini karena Sekar Ayu Ningrum langsung mengeluarkan energinya dalam jumlah besar.
Sebagian energinya dia pergunakan untuk mempertahankan kesadarannya dan untuk menjaga kejernihan pikiran dan perasaannya, agar tidak tergerus oleh asap beracun yang beraroma harum.
__ADS_1
Sebagian lagi energinya dia salurkan untuk menggiring dan membakar sisa sisa racun yang masih berada di dalam syaraf syaraf dan peredaran darahnya dan mengeluarkannya lewat kulit kepala dalam bentuk asap tipis.
Asap yang keluar dari kulit kepala Sekar Ayu Ningrum, perlahan lahan menipis dan akhirnya hilang.
Sekar Ayu Ningrum pun menghentikan penyaluran tenaga dalamnya, dan kemudian berdiri. Saat berdiri itulah, Sekar Ayu Ningrum mendapati Lintang Rahina sedang menghadapi Tuan Muda Kim, dan perlahan lahan mulai bisa mendesaknya.
Terlihat, dalam setiap benturan senjata, pedang Lintang Rahina mampu menekan pedang Kemala Hijau yang dipergunakan oleh Tuan Muda Kim.
Dengan bilah pedang yang tidak lagi terpengaruh dengan ketajaman Pedang Kemala Hijau, Lintang Rahina mampu memberikan tekanan energi melalui bilah pedangnya. Hal itu membuat tangan Tuan Muda Kim terasa kebas setiap berbenturan dengan pedang Lintang Rahina.
Merasa mulai terdesak, Tuan Muda Kim tidak ada pilihan lain, akhirnya mulai mengeluarkan bubuk mesiunya yang diam diam sudah dia campur dengan cairan racun yang beraroma harum.
Semua itu tidak lepas dari pengamatan Sekar Ayu Ningrum. Melihat bahaya yang akan mengancam suaminya, Sekar Ayu Ningrum pun segera memberikan peringatan pada Lintang Rahina.
"Waspada dengan kepulan asap ledakannya, kakang. Jangan sampai terhirup sedikitpun !" teriak Sekar Ayu Ningrum memperingatkan Lintang Rahina.
Mendapatkan peringatan itu, Lintang Rahina pun menambah aliran energinya. Di sekitar tubuh Lintang Rahina mulai muncul hembusan angin yang berputar mengitarinya. Hal itu terjadi karena Lintang Rahina juga mulai menggunakan tehnik Sindhung Alit.
Dalam serangan dengan sabetan ataupun tusukan pedang, Tuan Muda Kim mulai menyertai dengan lemparan senjata mesiunya yang sudah dicampur dengan cairan racun beraroma harum.
Namun, kali ini, setiap lemparan senjata mesiu itu, disambut Lintang Rahina dengan kebasan telapak tangan kirinya yang mengeluarkan angin yang sangat panas dan berputar. Sehingga setiap ledakan senjata mesiu itu tidak sempat menyebar, karena tergulung oleh angin yang berputar dan terbakar oleh panasnya api putih.
Merasa sudah tidak ada jalan lain karena semua tehniknya sudah dia keluarkan, membuat Tuan Muda Kim menjadi nekat.
Saat ada sedikit kesempatan, tiba tiba tubuh Tuan Muda Kim melesat ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Dengan kekuatan luncuran tubuhnya yang sangat cepat, Tuan Muda Kim menghujamkan senjata pedangnya ke arah Sekar Ayu Ningrum.
Sekar Ayu Ningrum yang selalu waspada sejak tadi, memapaki datangnya serangan pedang Tuan Muda Kim dengan mengeluarkan energi dalam jumlah yang cukup besar. Di kedua tangan Sekar Ayu Ningrum segera terbentuk bilah pedang berwarna putih keperakan.
Kemudian, tanpa bisa dihindarkan lagi, terjadilah benturan energi yang menimbulkan ledakan disertai meluncurnya pedang.
Blaaammm !!!
Claaappp !!!
__________ 0 __________
__ADS_1