
Pagi menjelang. Suasana pagi di hutan kecil di punggung bukit itu biasanya sepi, tenang dan damai. Tetapi pagi itu jauh dari kata damai. Banyak pendekar yang berdatangan ke tempat Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum, Galuh Pramusita serta Ni Sriti beristirahat, setelah semalam mereka menyaksikan fenomena yang luar biasa saat terjadi pertarungan Lintang Rahina dengan Sunu Magani.
Melihat banyaknya orang yang datang, Lintang Rahina segera mendekat ke mereka.
"Sekarang, saudara semua pulang ke tempat masing masing. Di sini sudah tidak terjadi apa apa," kata Lintang Rahina pada mereka semua yang berdatangan.
Setelah para pendekar yang datang ke tempat itu sudah semuanya pergi, Lintang Rahina berkata pada mereka bertiga, "Ni, saya akan secepatnya ke Lawu untuk menghadap Ki Dipo Menggala dan kemudian ke Parangtritis menemui Ki Ageng Arisboyo. Dan tentunya eyang saya juga. Ada hal yang harus saya sampaikan dan tanyakan," kata Lintang Rahina.
Akhirnya mereka berpisah lagi, karena Ni Sriti ingin melanjutkan perjalanannya berkelana ke arah manapun yang kata hati inginkan. Galuh Pramusita memilih untuk ikut Ni Sriti sekaligus ingin lebih menimba pengalaman.
Sedangkan Sekar Ayu Ningrum berniat menemani Lintang Rahina, karena sekaligus bisa pulang ke Parangtritis.
Tanpa diketahui oleh siapapun, sesaat setelah Lintang Rahina berhasil menembus energi pelindung Sunu Magani, sehingga senjata trisulanya berhasil menghujam ke dada Sunu Magani, Lintang Rahina seperti masuk ke ruangan yang serba putih. Ruangan itu sangat terang walaupun tidak ada sumber penerangannya.
Di dalam ruangan itu Lintang Rahina mendengarkan sebuah suara yang berkata kepadanya.
"Ngger Lintang, senjata pusaka trisula itu sudah memakan korban lagi. Dan itu semakin jauh dengan sifat aura yang ada di dalamnya, yang bersifat mengayomi, bukan mematikan."
"Aura yang ada dalam senjata pusaka trisula itu akan tertidur untuk sementara waktu karena masuknya aura membunuh, setiap senjata trisula itu dipakai untuk membunuh."
"Dan sayangnya, aura senjata trisula itu tertidur tidak sendirian, tetapi ikut membawa serta sebagian energimu yang sudah menyatu dan yang kau pergunakan untuk menggunakan senjata trisula itu."
"Berjalanlah ke arah matahari terbit. Kamu akan menemukan dua tempat yang paling tinggi. Satu tempat berada di pulau ini dan satu tempat lagi berada di seberang wetan. Tancapkan senjata pusaka trisula itu di kedua tempat yang paling tinggi itu. Senjata pusaka trisula itu akan menyerap energi yang berasal dari atas dan dari bawah. Saat aura senjata pusaka itu telah bangun, energimu akan pulih kembali, bahkan jumlah energimu akan bertambah."
"Ngger Lintang, semoga kamu bisa melewati segala rintangan."
__ADS_1
Saat itu, Lintang Rahina ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak bisa mengeluarkan suara, bahkan menggerakkan tubuhpun dia tidak bisa.
Dalam sekejap ruangan serba putih itu lenyap menjadi serba hitam semuanya.
Tiba tiba Lintang Rahina sudah berada di tanah dengan posisi tangan kanan memegang gagang senjata trisula yang terhujam di dada Sunu Magani.
Pada saat itulah Lintang Rahina sejenak termenung. Lintang Rahina baru menyadari, dia baru saja dibawa seseorang masuk ke dunia lain dan teringat semua kata kata orang itu.
Kemudian Lintang Rahina mencoba menyimpan senjata trisulanya dengan mengayunkan tangan kanannya ke depan. Ternyata senjata trisula itu tidak mau disimpan ke dalam lengannya. Hal ini karena senjata itu tidak mau dialiri dengan energinya.
Akhirnya Lintang Rahina menyimpan senjata trisulanya di dalam buntalan bekal yang dia bawa dengan sebelumnya membungkusnya dengan kain.
Karena merasa ada hal penting yang harus segera dia lakukan, Lintang Rahina yang ditemani oleh Galuh Pramusita melakukan perjalanan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh.
Sedangkan Sekar Ayu Ningrum belum menyadari jika energi Lintang Rahina sudah berkurang hampir sepertiganya.
Hanya dalam waktu sehari, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum telah tiba di puncak Lawu, tempat tinggal Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala.
Kepada Ki Dipa Menggala dan Ki Wangsa Menggala, Lintang Rahina menceritakan tentang keadaan dirinya dan senjata pusaka trisula.
Lintang Rahina bersama Sekar Ayu Ningrum hanya sehari berada di tempat Ki Dipa Menggala. Setelah menyampaikan keperluannya, pada hari berikutnya, mereka berdua kembali melakukan perjalanan menuju Parangtritis.
Setelah dua hari mereka melakukan perjalanan, mereka tiba di Parangtritis.
Seperti biasa, di sana pun mereka berdua langsung menemui Ki Ageng Arisboyo. Lintang Rahina juga langsung menceritakan tentang keadaan dirinya dan juga tentang senjata trisula yang dia bawa.
__ADS_1
Pada suatu waktu, Lintang Rahina sedang mengobrol berdua dengan Ki Ageng Arisboyo. Mereka membicarakan tentang berbagai macam hal di teras dengan duduk agak berdekatan.
Tiba tiba Ki Ageng Arisboyo berbicara dengan mimik serius.
"Ngger Lintang, kapan kamu akan menikah ? Apakah sudah ada gadis yang jadi tambatan hatimu ?" tanya Ki Ageng Arisboyo.
Mendengar pertanyaan yang tidak diperkirakan itu membuat Lintang Rahina terkejut.
"Saya, .... belum memikirkannya Ki," jawab Lintang Rahina.
"He he he he ...... jadi belum ada gadis yang memikat hatimu ?" tanya Ki Ageng Arisboyo sambil tertawa senang.
Tiba tiba Ki Ageng duduknya agak mendekati Lintang Rahina sambil berbicara pelan tapi terlihat sangat serius.
"Ngger Lintang, maukah kamu aku jodohkan dengan cucuku Sekar ?" tanya Ki Ageng Arisboyo sambil menatap serius wajah Lintang Rahina.
Untuk beberapa saat Lintang Rahina tidak bisa menjawab. Dia merasakan mukanya panas.
"Saya ...... saya, .... maafkan, saya belum bisa menjawabnya Ki. Saya belum memikirkan jodoh Ki, saya sedang fokus mengembalikan kemau senjata trisula ini," jawab Lintang Rahina dengan kepala menunduk.
"Baiklah ngger Lintang, aku akan menunggu jawabanmu setelah kamu menyelesaikan kewajibanmu itu," kata Ki Ageng Arisboyo sambil menghela nafas, "suatu saat aku akan membicarakan hal ini dengan eyangmu."
Sejenak suasana menjadi hening, tidak ada yang bersuara. Suasana pembicaraan menjadi kaku. Akhirnya Lintang Rahina meminta ijin undur diri dengan alasan hendak mempersiapkan segala seuatu yang akan dibawa dalam melanjutkan perjalanan besok pagi.
Tanpa sepengetahuan Ki Ageng Arisboyo dan Lintang Rahina, Sekar Ayu Ningrum mendengarkan pembicaraan mereka.
Sekar Ayu Ningrum bisa mendengarkan pembicaraan itu dengan tidak sengaja. Sebenarnya dia baru saja hendak bergabung ikut mengobrol. Saat baru sampai di ruang tengah, tiba tiba dia mendengar perkataan Ki Ageng Arisboyo yang menjodohkan dirinya dengan Lintang Rahina. Tetapi dia merasa sangat kecewa dan mukanya menjadi merah padam karena malu mendengar jawaban Lintang Rahina. Saking malunya, Sekar Ayu Ningrum tidak jadi bergabung mengobrol di teras. Dia kembali masuk ke kamarnya.
__ADS_1
\_\_\_0\_\_\_