
Siang hari, Lintang dan Ki Pradah makan siang dengan menu seadanya. Sedangkan Lintang, makannya bubur dan minum ramuan yang dibuat oleh Ki Pradah untuk pengobatan.
"Lintang, setelah kondisimu pulih, kamu tinggal di sini beberapa waktu, maukah kau mempelajari satu dua jurus dari kakek ?" tanya Ki Pradah.
"Mau kek, Lintang bersedia. Terimakasih kek," jawab Lintang dengan perasaan senang.
"Selama kamu tidak sadarkan diri, setiap kakek akan mengobati kamu, kakek rasakan samar ada energi besar yang meliputi kamu yang berasal dari cincin yang kamu pakai. Apakah itu pemberian eyang kamu ?" tanya Ki Pradah.
"Benar kek. Cincin ini pemberian eyang. Sedangkan energi itu berasal dari siluman harimau yang dulu menguasai Merbabu," jawab Lintang Rahina.
"Kamu yang menundukkannya ya ? Makanya dia mau terikat dengan kamu. Baiklah, mulai saat ini, kamu tinggal di sini menemani kakek," kata Ki Pradah sambil sedikit tersenyum.
--------------- 0 ---------------
Ki Pradah sangat berbakat dalam ilmu pengobatan dan tehnik tehnik penyembuhan. Pengetahuannya tentang berbagai jenis tanaman obat, baik itu obat luar ataupun untuk dikonsumsi, sangat komplit. Juga cara cara membuat aneka macam ramuan juga hebat. Pengetahuannya tentang struktur tulang, simpul syaraf, otot dan peredaran darah tak tertandingi.
Dalam didikan Ki Pradah, Lintang Rahina tidak terlalu banyak mempelajari jurus jurus baru.
Lintang hanya mempelajari jurus ciptaan Ki Pradah dan jurus yang membuat Ki Pradah disegani kawan dan ditakuti lawan, terutama dari golongan sesat, yang sangat menghindari berurusan dengan Ki Pradah. Karena, walaupun sikapnya ramah dan baik hati, tetapi kalau pada para penjahat, Ki Pradah tidak akan mengampuninya.
Jurus kesayangannya itulah yang membuat Ki Pradah bisa sejajar dengan tokoh tokoh sakti lainnya.
Jurus tongkat yang bernama 'Ranting Pemungut Sampah' itulah yang diajarkan Ki Pradah pada Lintang Rahina.
Selain itu, Lintang Rahina juga diajari tehnik semedi, tehnik membuka simpul simpul syaraf, tehnik memperbesar massa otot dan syaraf, tehnik memperkuat sekaligus menambah massa dan kelenturan tulang dan sendi. Hasil dari mempelajari tehnik tehnik itu, membuat Lintang Rahina bisa menyerap energi alami di sekitarnya dalam jumlah tak terbatas, menjadi tenaga dalam dengan lebih sempurna, karena tulang, sendi, syaraf, otot, daging dan darah bahkan kulitnya bisa untuk menyimpan sel sel energi yang bisa dirubah menjadi tenaga dalam, dalam jumlah yang lebih banyak.
Maka dari itu, selama dua bulan Lintang Rahina dilarih oleh Ki Pradah, Lintang Rahina mengalami peningkatan tenaga dalam yang luar biasa.
Ditambah dengan selalu minum ramuan ramuan buatan Ki Pradah, membuat daya tahan tubuh Lintang menjadi tinggi.
Lintang pun juga belajar cara cara membuat berbagai ramuan dan juga pengetahuan tentang racun.
Hingga suatu pagi.
"Le, Lintang, kiranya sudah semuanya kakek ajarkan kepadamu. Tinggal mematangkannya dengan pengalaman. Sebelum kakek pergi menemui gurumu, ayo kita keliling di sekitar Lawu," kata Ki Pradah.
__ADS_1
"Baik kek," jawab Lintang Rahina.
Ki Pradah melangkah keluar. Baru berjalan sekitar empat atau lima langkah, tetapi tubuhnya sudah terlihat jauh. Bukan turun ke kaki gunung, tetapi ke arah puncak.
Lintang yang terkejut, langsung menyusul dengan ilmu meringankan tubuhnya. Dalam sekejap sampai di samping Ki Pradah yang tersenyum melihat keterkejutan Lintang Rahina.
Lintang kembali terkejut merasakan kemampuan ilmu meringankan tubuhnya yang meningkat pesat. Karena selama dua bulan dilatih Ki Pradah, Lintang Rahina tidak pernah memakai ilmu meringankan tubuhnya.
"Jalan saja....santai. Kamu atur keluarnya energi ke kakimu. Sambil kau aktifkan seluruh pori pori kulitmu. Sambil berjalan, serap energi alam melalui kulit dan pernafasanmu. Sama seperti saat semedi. Cuma ini sambl berjalan," Kata Ki Pradah pada Lintang sambil berjalan.
"Iya ki," jawab Lintang Rahina.
Ki Pradah mempercepat jalannya. Walaupun seperti melangkah biasa, tetapi kecepatan Ki Pradah seperti orang berlari dengan ilmu meringankan tubuh.
Lintang pun mencoba mengimbangi kecepatan Ki Pradah.
Tanpa Lintang Rahina sadari, dirinya sedang diuji oleh Ki Pradah dengan mengelilingi lereng terjal di bawahnya puncak gunung.
Kira kira lima belas menit, Lintang sudah terbiasa dalam menyelaraskan langkah kakinya dengan pengaturan nafas dan penyaluran energi untuk membuka pori pori kulit seluruh tubuhnya.
Begitu Ki Pradah melihat Lintang sudah bisa mengatur tehnik ilmu meringankan tubuhnya, Ki Pradah pun melesat menuruni lereng dan tebing gunung. Lintang pun mengikutinya. Tidak sampai satu jam, mereka berdua sudah sampai di kaki gunung Lawu, di jalan menuju perkampungan.
Mereka berdua berjalan biasa menyusuri jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya.
"Le, sekarang apakah kamu punya tujuan tertentu dalam perjalananmu ini ?" tanya Ki Pradah sambil berjalan.
"Sebenarnya tidak kek. Tetapi, Lintang masih penasaran dengan Warok Bandring Saloka. Apakah masih hidup dan sekarang berada si daerah mana. Karena praktik ilmunya dan juga perbuatannya sangat membahayakan rakyat kek," jawab Lintang Rahina.
"Jadi kamu mau mencarinya dulu ?" tanya Ki Pradah lagi.
"Iya kek," Lintang menjawab.
"Baiklah, kakek temani dulu perjalananmu mencari Warok Bandring Saloka. Karena kakek juga penasaran, apakah benar Ki Rekso yang menyelamatkan warok itu," kata Ki Pradah.
"Terimakasih kek," jawab Lintang Rahina.
__ADS_1
Setelah menjelang siang, di depan mereka tampak persimpangan jalan.
"Sepertinya ada banyak orang bersembunyi di semak semak pinggir jalan" kata Lintang.
Ki Pradah hanya sedikit mengangguk dan tersenyum.
Sesampainya mereka di persimpangan jalan, tiba tiba muncul lima orang berpakaian hitam dan memakai penutup muka dari kain hitam.
"Orang tua, berhenti dulu. Katakan, kemana tujuanmu ?" tanya salah satu penghadang.
"Kami mau ke pesisir, menjenguk saudara," jawab Ki Pradah.
"Kalian boleh lewat, tapi bayar pajak sepuluh koin emas perorang, dan tinggalkan disini barang barang yang kalian bawa" kata salah seorang penghadang tadi.
"Kalian hendak merampok kami ?" tanya Lintang Rahina sambil maju selangkah.
"Ha ha ha ha....kalau kalian menyerahkan barang barang kalian dengan sukarela, kami tidak perlu mengambil dengan paksa," jawab orang yang tadi diiringi tawa teman temannya.
"Kalau barang barang ini yang kalian inginkan, ambilah kalau kalian bisa," kata Lintang Rahina sambil menyodorkan buntalan kain putih di bahu kirinya.
"Ho ho ho....anak muda....jadi kamu tidak mau menyerahkan dengan sukarela ? Teman teman, rampas barang barang mereka !" orang tadi memberi aba aba.
Empat orang temannya maju dan membuat gerakan menampar kepala dan ada yang hendak mengambil buntalan yang dibawa Lintang.
Tuk tuk tuk....tuk...!!!
Tiba tiba saja empat orang itu terjengkang tanpa tahu apa yang menjadi penyebabnya. Mereka pun merasakan sakit sekali di pelipis mereka.
"Kenapa kalian sembrono ? Hajar mereka" teriak orang yang sepertinya pemimpinnya.
Sring !!!
Mereka berlima serentak mencabut golok mereka.
\_\_\_ 0 \_\_\_
__ADS_1