Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Saudara Dari Negeri Campa


__ADS_3

Setelah pedang mereka berkali kali berbenturan dalam setiap serangan mereka, dalam gebrakan yang terakhir Sekar Ayu Ningrum dan Rekta Aruna saling menebaskan pedang dalam waktu yang nyaris bersamaan, dan kemudian sama sama terdorong ke belakang.


Sreeettt ! Sreeettt !


Taaaakkkssss !


Sesaat mereka berdua terdiam. Namun, sebentar kemudian, bibir Rekata Aruna yang selalu tersenyum, semakin bertambah lebar senyumnya, saat melihat ujung lengan baju sebelah kiri sobek cukup lebar dan bagian yang terpotong melayang jatuh, memperlihatkan kulit lengannya yang kuning langsat dan bersih, tanpa ada suatu apapun yang mengotorinya.


Selain itu, sebagian rambut Sekar Ayu Ningrum terlepas dari penjepitnya hingga terurai di pundak dan dadanya.


Melihat hal itu, muka Sekar Ayu Ningrum merah padam karena menahan malu dan marah.


Hal itu menambah lebar senyum Rekta Aruna.


Haahhh ha ... haaccckkk !


Tetapi senyum lebar Rekta Aruna dalam sesaat berubah menjadi seringai kesakitan.


Aaaccckkhhh !!!


----- o -----


Sementara itu, melihat pimpinannya kembali bertarung, Pasukan Bagaspati pun kembali merangsek menyerang.


Namun, baru saja mereka bergerak maju, pedang mereka semua membentur senjata pedang yang digerakkan dengan sangat cepat.


Trang trang trang trang !


Trang trang trang trang !


Pasukan Bagaspati itu semuanya merasakan kedua telapak tangannya seperti kesemutan dan pegangan pedangnya hampir terlepas.


"Kalau kalian semua tidak menghentikan serangan kalian, akan aku patahkan semua pedang kalian !" kata Lintang Rahina yang tadi menangkis semua serangan Pasukan Bagaspati.


Para anggota Pasukan Bagaspati saling memandang dan kemudian saling mengangguk.


"Bagaimana kalau, leher dan tubuhmu yang kami patahkan !!!" jawab salah satu anggota Pasukan Bagaspati.

__ADS_1


Mereka yang tergabung dalam Pasukan Bagaspati segera membentuk formasi setengah lingkaran mengepung Lintang Rahina.


Kemudian, dengan cepat mereka bergerak maju menyerang secara bergantian sehingga membuat serangan mereka terus menerus tanpa terputus. Tehnik ini membuat lawannya harus terus menerus bertahan dengan menangkis atau menghindar, tanpa memberi kesempatan kepada lawannya untuk balas menyerang.


Namun, kali ini yang mereka hadapi adalah Lintang Rahina. Seorang pendekar dengan tingkat energi yang sudah sangat tinggi, sehingga serangan dengan formasi seperti itu, tidak membuatnya kesulitan dalam menghadapinya.


Setelah beberapa jurus selalu menghindar, Lintang Rahina menambah sedikit energinya. Kemudian, dengan gerakan yang juga ditambah kecepatannya, Lintang Rahina berkelebat dengan sangat cepatnya sehingga seluruh Pasukan Bagaspati hanya bisa melihat kelebatan bayangan. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, semua pedang anggota Pasukan Bagaspati terjatuh dalam keadaan patah.


Trang ! Trang ! Trang ! Trang !


Belum habis rasa kaget mereka karena pedang mereka terlepas dari genggaman mereka dan patah bilahnya, tiba tiba kulit dada mereka terasa pedih dan nafas mereka terasa sesak, terkena pukulan telapak yang tidak bisa mereka hindari karena datangnya begitu cepat.


Plak ! Plak ! Plak ! Plak !


Plak plak plak !!!


Tubuh mereka pun terlempar ke belakang hingga jatuh bergulingan.


Mereka semua hanya bisa terlentang sambil memegangi dada mereka.


----- o -----


Dengan kedua lutut yang sedikit gemetar, Rekta Aruna terduduk dengan bertumpu pada kedua lututnya. Tangan kanannya masih memegang pedangnya yang sekarang dia pegang dengan posisi terbalik dengan ujung menancap di tanah. Tangan kirinya menekan dadanya yang terasa semakin nyeri.


Tiba tiba mulutnya sedikit terbuka dan langsung menyemburkan darah segar. Dadanya yang tadi hanya ada garis merah, juga mulai mengalirkan darah.


Dengan kedua lutut gemetar, Rekta Aruna mencoba berdiri. Tangan kanannya dengan cepat melakukan totokan di sekitar lukanya. Kemudian, tangan kirinya menarik keluar pedang pendeknya. Sehingga sekarang Rekta Aruna memegang pedang panjang di tangan kanan dan pedang pendek di tangan kirinya.


Rekta Aruna bersiap untuk melakukan pertarungan hidup mati.


Di saat yang bersamaan, melihat lawannya masih bisa berdiri dan bersiap untuk bertarung lagi, Sekar Ayu Ningrum segera menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.


Pedangnya pun ikut berubah menjadi pendaran sinar putih pekat dengan diselimuti pendaran tipis sehingga sekilas seperti mengeluarkan kabut.


Tepat saat Rekta Aruna baru saja tegak berdiri dengan kedua pedang di tangannya, Sekar Ayu Ningrum mengayunkan pedangnya ke depan beberapa kali. Seketika, dari ujung pedangnya, melesat dengan cepat beberapa pendaran putih pekat berbentuk ujung pedang ke arah beberapa bagian tubuh Rekta Aruna.


Melihat datangnya serangan energi yang mengarah ke tubuhnya, Rekta Aruna segera mengayunkan memutar kedua pedangnya sehingga membentuk tameng dari bayangan pedang yang bergerak memutar, menahan laju pendaran energi yang menuju ke arahnya.

__ADS_1


Pendaran energi yang dibuat Sekar Ayu Ningrum itu membentur tameng dari pedang yang berputar cepat.


Traaannnggg ! Traaannnggg ! Trang !!!


Setiap pendaran energi itu membentur pedang Rekta Aruna yang diputar kencang, tubuh Rekta Aruna berguncang seperti dihempas angin kencang.


Guncangan tubuhnya belum berhenti ketika serangan pedang Sekar Ayu Ningrum mendekat dan membentur kedua pedang Rekta Aruna. Membuat tubuh Rekta Aruna terpental ke belakang.


Trang trang !!!


Sraaattt ! Sraaattt !


Rekta Aruna terhempas jatuh ke tanah. Luka memanjang terlihat pada leher dan dadanya, yang mengeluarkan banyak darah, yang membuat Rekta Aruna tewas seketika.


Melihat lawannya sudah tewas, Sekar Ayu Ningrum melihat ke sekelilingnya. Terlihat olehnya, banyak tubuh tergeletak dengan tangan memegangi dada.


Baru saja kedua tangannya bergerak hendak membetulkan rambutnya, tiba tiba dari belakangnya muncul dua tangan yang kekar dan terlihat kuat, namun tidak kasar gerakan dan tindakannya.


"Biar kakang rapikan rambut kamu yang terlepas, adik," kata Lintang Rahina sambil meraih rambut Sekar Ayu Ningrum yang tergerai dan jatuh di pundak dan dada.


Sekar Ayu Ningrum yang tadinya hendak menoleh, tidak jadi menoleh. Hanya tersenyum dan membiarkan Lintang Rahina, suaminya, membetulkan rambutnya yang terlepas dari penjepitnya. Rona kemerahan terlihat pada kedua pipinya, yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik, kecantikan khas negeri tanah Jawadwipa.


Setelah rambut Sekar Ayu Ningrum selesai dibetulkan, mereka berdua segera menjura dengan menelangkupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada, ke arah Sindu Amarajati serta saudara saudaranya yang telah berdiri di depan mereka.


"Terimakasih pada tuan berdua, yang telah menolong kami semua," ucap Sindu Amarajati sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan hidung seperti orang menyembah, "Perkenalkan, kami yang tua tua ini, namaku Sindu Amarajati dan mereka semua pengikut dan saudara saudaraku. Kami semua dari negeri Campa. Kami ke sini hanya ingin mengunjungi saudara tua kami yang sudah lebih dulu datang dan menetap di tanah ini. Kalau berkenan, siapa nama tuan berdua ?"


"Nama saya Lintang dan ini istri saya, Sekar," jawab Lintang Rahina yang sebenarnya terkejut. Orang di depannya ini, yang mengaku berasal dari negeri Campa dan bernama Sindu Amarajati, dari getaran energi yang Lintang Rahina rasakan, sebenarnya memiliki energi yang lebih tinggi dari Rekta Aruna. Bahkan ada beberapa orang yang mengikutinya juga mempunyai energi yang tinggi. Tetapi, kenapa mereka semua tidak mau melakukan perlawanan, saat diserang oleh Rekta Aruna dan pengikutnya.


Kemudian pada kesempatan itu, Sindu Amarajati menyampaikan jika dirinya dan pengikutnya masih ada hubungan saudara dengan seorang putri dari negeri Campa yang diperistri oleh Prabu Brawijaya, pada masa lalu. Mereka datang ke tanah Jawadwipa, hanya ingin mengetahui nasib saudara saudara mereka dan anak turunnya, setelah surutnya negeri Majapahit.


__________ 0 __________


Author mohon maaf apabila dalam meng update chapter, tidak teratur waktunya. Namun author selalu berusaha untuk bisa update chapter, walau terkadang tidak bisa maksimal.


Terimakasih atas dukungan dan kesabarannya dalam menunggu lanjutan cerita.


Special thanks pada Kak Rudi Hendrik atas suport coin nya. Semoga mendapatkan balasan yang lebih berlimpah dari Yang Maha Kuasa. Amin.

__ADS_1


__ADS_2