Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Mempelajari Kitab 'Nafas Raja'


__ADS_3

Pada hari berikutnya, Ki Penahun menyuruh Lintang untuk mengeluarkan kitabnya yang disimpan.


"Ngger, kunci mempelajari kitab itu adalah pada energi yang kamu miliki," kata Ki Penahun yang kemudian menjelaskan pada Lintang Rahina, "kitab itu berisi ilmu silat yang bernama 'Nafas Raja', tulisan dan bahasanya bisa dibaca semua orang. Tetapi hanya orang yang terpilih dan yang mempunyai energi dari pemilik kitab sebelumnya saja yang bisa memunculkan kalimat kalimat penjelasan dalam kitab itu, hingga akhirnya mendapatkan pemahaman. Dan satu satunya orang yang berhak mewarisi ilmu dalam kitab itu adalah kamu ngger."


Ki Penahun tidak tahu kenapa kitab itu dinamakan kitab 'Nafas Raja'. Tetapi menurut sabda Prabu Brawijaya, kitab itu sudah turun temurun diwariskan dari raja raja terdahulu.


Kemudian Ki Penahun menyuruh Lintang Rahina untuk meletakkan telapak tangan kanannya di atas kitab itu. Lalu mengalirkan tenaga dalamnya ke tangan kanannya. Dari telapak tangan kanannya keluar pendaran cahaya seperti kabut berwarna kuning keemasan. Pendaran cahaya kuning keemasan itu kemudian menyelimuti kitab tersebut.


Tiba tiba dari kitab tersebut muncul seberkas sinar berwarna putih yang kemudian sinar tersebut masuk ke dalam telapak tangan Lintang Rahina.


Lintang Rahina merasakan ada getaran lembut yang merembet melalui telapak tangannya masuk ke seluruh tubuhnya hingga ke kepalanya.


Begitu getaran itu sampai di kepala Lintang Rahina, tiba tiba rembetan getaran itu semakin cepat.


Tubuh Lintang Rahina menjadi ikut bergetar. Dalam ingatannya mengalir deras semua hal tentang kitab itu. Mulai dari kisah kisah kitab itu dari pemilik pemilik sebelumnya hingga kalimat kalimat cara memahaminya.


Semua itu berlangsung dalam waktu sekitar lima menit. Setelah itu getaran itu berhenti dan pancaran sinar putih dari kitab itu menghilang.


Kemudian Lintang Rahina menghentikan aliran tenaga dalamnya ke kitab itu.


Melihat Lintang Rahina selesai melakukan apa yang dia perintahkan, Ki Penahun berkata lagi, "semua informasi tentang kitab itu sudah kamu ketahui. Kitab tersebut sekarang kosong tidak ada tulisannya, cobalah buka."


Lintang Rahina yang penasaran mencoba membuka lembaran kitab tipis di tangannya. Benar, tidak ada tulisannya sama sekali.


"Besok suatu saat kalau sudah tiba masanya, kamu harus mengalirkan tenaga dalam kamu kembali ke kitab ini. Kitab ini akan kembali muncul tulisan tulisannya," kata Ki Penahun menjelaskan, "tetapi itu akan terjadi kalau kamu sudah mendapatkan petunjuk melalui wangsit yang kamu terima. Itu artinya sudah tiba waktunya kitab itu pindah ke pewarisnya yang baru."

__ADS_1


Mendengar semua yang dikatakan oleh Ki Penahun, kemudian Lintang Rahina bertanya, "bagaimana cara mempelajari isi kitab ini eyang ?"


"Setiap akan memulai mempelajarinya, kamu cukup alirkan sedikit tenaga dalammu ke kepala. Nantinya akan muncul ingatan ingatan tentang semua yang kamu butuhkan dan semua yang harus kamu lakukan. Seolah kamu dulunya pernah melakukan," jawab Ki Penahun.


"Kamu sudah paham ngger ?" tanya Ki Penahun.


"Sudah eyang," jawab Lintang Rahina.


"Baiklah, sekarang ada yang perlu eyang sampaikan kepadamu," kata Ki Penahun lagi, "kamu melatih isi kitab itu di sini, jangan tergesa gesa biar ilmu itu menyatu dalam ragamu. Eyang akan harus pergi ke Lawu, eyang akan menemui Ki Pradah dan Ki Ageng Arisboyo, gurumu juga. Setelah kamu selesai melatih ilmu dalam kitab itu, segeralah menyusul eyang ke Lawu, tempat gurumu Ki Pradah tinggal."


"Baik eyang," jawab Lintang Rahina, "Lintang akan berlatih sebaik baiknya dan akan segera menyusul eyang."


"Kamu jaga diri baik baik, eyang akan berangkat siang ini," kata Ki Penahun lagi sambil menyiapkan barang yang perlu dibawa.


 


Sedangkan Ki Jiwo dan Ki Brata meneruskan perjalanan dangan membawa serta Sekar Ayu Ningrum.


Ki Jiwo dan Ki Brata berencana untuk pergi ke tlatah wetan yang lumayan jauh, lereng Semeru, untuk menemui kenalan mereka selama mereka melanglang sebagai pendekar di tlatah wetan.


Kepergian Ki Jiwo dan Ki Brata ke lereng Semeru dengan membawa serta Sekar Ayu Ningrum sebagai tahanan bukannya tidak ada tujuan.


Mereka ingin minta tolong pada Ni Sriti, seorang tokoh pendekar wanita aliran hitam yang usianya masih lebih muda dibanding seangkatan mereka.


Dan mereka berdua akan menghadiahkan Sekar Ayu Ningrum kepada Ni Sriti yang telah bersedia menolong mereka.

__ADS_1


Ni Sriti masih tampak muda seperti wanita berusia empat puluh tahunan walaupun usianya sudah lebih dari seratus tahun. Hal itu disebabkan karena ilmu yang dipelajarinya dan ritual ritual yang rutin dilakukannya untuk menunjang peningkatan ilmunya.


 


Setelah melakukan perjalanan selama dua hari, sampailah Ki Jiwo dan Ki Brata di Lereng Semeru. Mereka berdua segera mencari tempat tinggal Ni Sriti. Setelah beberapa waktu mereka berdua mencari tempat tinggal Ni Sriti di hutan di lereng Semeru sampailah mereka di bagian hutan yang pohonnya jarang jarang dan hanya berwujud batang dan ranting, seperti tidak punya daun. Di tengah tengah bagian hutan yang gersang itu ada bangunan tempat tinggal Ni Sriti.


Tempat Ni Sriti tinggal merupakan bangunan candi pemujaan yang sudah tidak pernah digunakan. Hingga dipakai Ni Sriti sebagai tempat tinggal. Bangunan itu diberi lampu lampu obor. Ditambah nyala dupa yang yang menyebarkan aroma kemenyan. Membuat suasana tempat tinggal Ni Sriti terasa sangat mistis dan menyeramkan.


Ki Jiwo dan Ki Brata baru saja memasuki bagian hutan yang gersang itu, ketika tiba tiba terdengar suara tertawa seorang perempuan yang terdengar aneh dan menakutkan.


"Hih hi hi hi hi...., kalian berdua memang egois. Ke sini hanya kalau ada yang diinginkan," kata seorang perempuan.


"Ni Sriti semakin sakti saja," kata Ki Jiwo, "sudah tahu maksud kami ke sini meskipun kami berdua belum mengatakannya."


"Cepat serahkan anak perempuan itu !" kata Ni Sriti dengan nada galak, "dan lekas katakan apa yang kalian berdua inginkan !"


"Sabarlah Ni," kata Ki Brata, "kami belum menyampaikan maksud kedatangan kami. Ni Sriti jangan galak galak. Nanti berkurang kecantikannya he he he he."


"Hih hi hi hi hi.... siapa yang bilang aku tidak cantik !" teriak Ni Sriti dengan nada melengking, "akan kucabut jantungnya untuk ramuanku !"


"Bukan tidak cantik," sahut Ki Brata, "tapi berkurang cantiknya. Tetapi bagaimanapun, Ni Sriti tetap terlihat cantik. Dan maafkan kami kalau kedatangan kami selalu merepotkan Ni Sriti."


Hih hi hi hi hi..... ," Ni Sriti tertawa lagi, kali ini dengan nada yang senang karena dipuji oleh Ki Brata, "masuklah ke istanaku. Kalian tidak lupa jalan masuknya kan ?"


"Baiklah Ni, kami masuk," jawab Ki Jiwo sambil melihat ke arah Ki Brata.

__ADS_1


Mereka berdua saling melihat dan saling mengangguk. Kemudian mereka berdua melangkah masuk ke bangunan bekas candi yang sekarang terlihat mengerikan dengan suasana mistisnya.


__ADS_2