
Saat Mahagni sudah hampir putus asa, tiba tiba dia merasakan tubuh bagian belakangnya tidak terlalu sakit dan perih terkena kurungan dari benang jiwa. Kemudian Mahagni merasakan, kedua lengannya bisa digerakkan. Hal itu dia manfaatkan untuk menahan pedang dan mencekik Lintang Rahina.
Hal itu bisa terjadi, karena tanpa Lintang Rahina dan Mahagni sadari, ada kejadian yang membuat benang jiwa yang dibuat oleh Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya melemah.
Saat ketiga orang tua yaitu eyang dan kedua gurunya konsentrasi mengalirkan energinya untuk menjaga kurungan benang jiwa yang mereka buat, tanpa mereka duga datanglah tiga orang berpakaian serba hitam, yang tidak lain adalah Pedang Pembelah Rembulan dan kedua rekannya. Kemudian muncul juga Prabu Wisa.
Begitu mereka melihat Lintang Rahina yang sedang bertarung, mereka teringat lagi akan senjata pusaka yang terlepas dari buntalan Lintang Rahina.
Apalagi Prabu Wisa, yang pernah punya urusan dwngan Ki Pradah dan Ki Penahun.
Merasa punya kesempatan untuk membalas, karena mereka melihat, ketiganya sedang konsentrasi dengan benang jiwa, tanpa ragu dan malu, mereka menyerang Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya.
Sekar Ayu Ningrum yang melihat datangnya orang orang yang hendak menyerang ketiga kakek tua itu, segeda mencoba menghadang mereka. Tetapi, menghadapi Prabu Wisa saja, Sekar Ayu Ningrum sudah mendapatkan lawan yang membutuhkan konsentrasi penuh. Sehingga akhirnya, Pedang Pembelah Rembulan dan dua rekannya leluasa menyerang ketiga kakek tua itu.
Diserang oleh tiga orang, eyang dan kedua guru Lintang Rahina terkejut. Mereka bertiga terpaksa melawan hanya dengan tangan kanan, sedangkan sedangkan tangan kiri mereka tetap mereka gunakan untuk menjaga benang jiwa yang mereka buat.
Karena eyang dan kedua gurunya harus membagi energi dan konsentrasinya, ditambah lagi ada tiga orang yang menyerang mereka, membuat ketiga orang tua itu mendapatkan banyak luka.
Lintang Rahina dan Mahagni yang sedang bertarung di dalam kurungan energi, akhirnya menyadari situasinya.
Mahagni yang merasa diuntungkan, tertawa senang walau masih dengan nafas yang terputus putus. Tetapi dia merasa memperoleh harapan, karena luka lukanya mulai menutup walau dengan perlahan.
Sedangkan Lintang Rahina, masih bertahan dengan keadaan leher tercekik cakar kanan Mahagni dan pedang yang tertahan oleh cakar kiri Mahagni.
Lintang Rahina baru saja berniat hendak melepaskan Mahagni dan menolong eyang dan gurunya. Tetapi tiba tiba terdengar lagi suara eyangnya di telinganya.
"Jangan hiraukan keadaan kami ngger. Tetap selesaikan tugasmu untuk memusnahkan iblis itu !" kata Ki Penahun.
Keadaan belum berubah saat di kejauhan terlihat tiga orang berpakaian serba putih melesat ke arah mereka semua.
Sesaat kemudian, tiga orang berpakaian serba putih yang ternyata Dewi Kematian dan dua saudaranya tiba ditempat itu.
Begitu sampai ditempat itu, mereka terdiam dan melihat ke semua yang berada disitu, seolah membaca situasinya.
__ADS_1
Mahagni yang berada di dalam kurungan energi, walaupun hanya dari jauh, melihat kedatangan Dewi Kematian dan dua saudaranya.
"Hah ha ha ha ..... ayolah ! Bunuh tiga orang tua itu ! Yang bisa membunuhnya, akan aku hadiahi dengan kekuatanku !" teriak Mahagni walau masih lemah.
Setelah sesaat Dewi Kematian dan dua saudaranya hanya terdiam, Dewi Kematian memandang ke medua saudaranya. Mereka bertiga saling mengangguk.
Tiba tiba, Dewi Kematian dan kedua saudaranya melesat menyebar ke tiga tempat dimana berada Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya.
Mereka bertiga segera menyerang Pedang Pembelah Rembulan dan dua rekannya.
Hal itu diluar perkiraan mereka semua. Terutama Mahagni yang tadinya merasa punya harapan.
Karena lawan lawan mereka sudah ada yang menghadapi, Ki Penahun, Ki Pradah dan Resi Nirartha Pradnya segera menambah dan menstabilkan aliran energi mereka ke benang jiwa yang mereka buat bertiga, dengan tidak menghiraukan kondisi tubuh mereka.
Beberapa saat kemudian, benang benang jiwa yang berwarna putih itu membesar dan bertambah kuat lagi. Hal itu membuat Mahagni merasakan tubuh bagian belakangnya seperti tersayat sayat.
Energi Mahagni pun semakin melemah. Hingga jepitan cakar kirinya yang menahan pedang Lintang Rahina terlepas.
Lintang Rahina yang melihat ada peluang terbuka, segera menambah aliran energi ke seluruh tubuhnya.
Craaasss ! Craaasss !
Kedua cakar Mahagni putus tepat di bagian sikunya terkena babatan pedang Lintang Rahina.
Tidak berhenti sampai di situ, Lintang Rahina segera memutar pedangnya mengarah ke dua leher Mahagni.
Craaakkk ! Craaakkk !
Hanya dengan dua kali sabetan pedang, kepala Mahagni, dua duanya terlepas dari tubuhnya.
Anehnya, walau sudah terlepas dari tubuhnya, kedua kepala Mahagni tidak menggelinding ke bawah, tetapi melayang ke atas.
Melihat hal itu, Lintang Rahina segera melesat melayang mengejar dua kepala Mahagni yang semakin menjauh dari tubuhnya.
__ADS_1
Dari ujung pedangnya dan dari jari tengah dan jari telunjuk kirinya, keluar pendaran sinar kuning keemasan.
Lintang Rahina segera mengarahkan ujung pedang dan jari telunjuk kirinya ke arah kedua kepala Mahagni.
Sreeettt ! Sreeettt !
Sinar kuning keemasan segera melesat dari ujung pedang dan jari telunjuk kiri Lintang Rahina dan tepat mengenai kedua kepala yang melayang itu.
Begitu terkena sinar kuning keemasan, kedua kepala itu berhenti bergerak dan hanya melayang di tempat.
Kemudian, dari dada Lintang Rahina keluar butiran butiran kecil seperti pasir yang berpendar kuning keemasan, yang dengan cepat melesat ke arah dua kepala yang melayang tidak bergerak.
Butiran yang berpendar itu menyelimuti kedua kepala Mahagni. Makin lama semakin banyak, hingga akhirnya kedua kepala itu tidak terlihat dan hanya tampak dua bulatan sebesar kepala yang melayang dan mengeluarkan pendaran kuning keemasan.
Setelah beberapa waktu, dua bulatan yang berpendar kuning keemasan sebesar kepala itu meledak.
Blaaappp ! Blaaappp !
Begitu ledakan yang mengeluarkan suara tidak terlalu keras itu selesai, dengan cepat butiran sebesar pasir yang berpendar kuning keemasan itu melesat kembali dan masuk ke dada Lintang Rahina.
Kemudian Lintang Rahina menyimpan kembali pedangnya.
Masih dalam keadaan melayang, Lintang Rahina kembali menambah aliran energinya. Seluruh tubuhnya seperti diselimuti pendaran sinar kuning keemasan.
Kemudian kedua tangan Lintang Rahina melakukan gerakan gerakan tertentu. Dari kedua telapak tangannya kembali melesat pendaran sinar kuning keemasan yang mengarah ke tubuh Mahagni dan kedua lengan Mahagni yang terpotong.
Begitu terkena pendaran sinar kuning keemasan, kedua potongan lengan itu melayang mendekat ke arah tubuh Mahagni.
Sinar kuning keemasan yang menyelimuti tubuh Mahagni, semakin lama semakin pekat sehingga akhirnya tubuh Mahagni dan kedua potongan lengan Mahagni tidak lagi terlihat. Yang tampak hanyalah bulatan yang sangat besar yang melayang mengeluarkan sinar kuning keemasan.
Beberapa saat kemudian, bulatan besar yang berselimut sinar kuning keemasan itu meledak dan mengeluarkan suara yang cukup keras.
Blaaammm !!!
__ADS_1
Sesaat setelah ledakan yang membuat kurungan benang jiwa itu terguncang hebat, pendaran sinar kuning keemasan dengan cepat kembali melayang dan masuk ke tubuh Lintang Rahina.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_