
Diselimuti dua sinar sekaligus, tubuh Ki Pradah bergerak gerak seperti ditarik tarik dari dua arah. Semakin lama tubuh itu terlihat berubah ubah. Kadang terlihat memancarkan sinar kuning keemasan, terkadang menyala putih pekat tetapi kabur kadang tampak kadang tidak. Terkadang tubuh itu hilang tidak tampak sama sekali. Hal itu berlangsung selama beberapa waktu. Sampai kemudian tubuh Ki Pradah terlihat diam, tidak bergerak gerak lagi.
Setelah tubuh Ki Pradah tidak bergerak lagi, Lintang Rahina menambah aliran energi ke tangan kanannya. Dari telapak tangan kanannya keluar pendaran sinar putih pekat lebih banyak lagi.
Pendaran sinar putih pekat itu terus menerus menyelimuti tubuh Ki Pradah berulang ulang. Hingga akhirnya sinar putih pekat itu membentuk bola sebesar rumah dengan tubuh Ki Pradah di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, bola sinar putih pekat itu bergetar dan dari dalamnya keluar letupan letupan kecil seperti petir berwarna kuning keemasan di seluruh permukaan bola sinar putih pekat itu. Letupan letupan petir itu disertai timbulnya suara kilat. Hal itu berlangsung hingga beberapa saat dan letupan listrik itu semakin bertambah banyak.
Tubuh Lintang Rahina perlahan melayang semakin tinggi hingga sampai sedikit lebih tinggi dari bola sinar putih pekat.
Setelah melayangnya tubuhnya tidak bertambah tinggi lagi, Lintang Rahina menambah lagi aliran energi ke seluruh tubuhnya, hingga akhirnya seluruh tubuhnya mengeluarkan kilatan kilatan seperti petir berwarna kuning keemasan.
Kemudian, dengan gerakan pelan tapi mantap, Lintang Rahina mendorongkan telapak tangan kirinya ke arah bola sinar putih di depannya.
Dari telapak tangan kirinya keluar petir yang melesat dengan sangat cepat dan menyambar bola sinar putih.
Treeettt !!!
Begitu petir itu mengenai bola sinar putih, bola sinar putih itu meledak dan perlahan bertambah besar dan menyebar menyelimuti daerah tempat tinggal Ki Pradah.
Blaaammm !!!
Selama beberapa waktu, daerah tempat tinggal Ki Pradah, semuanya terlihat putih pekat. Sampai dengan Lintang Rahina menyerap kembali pendaran sinar putih pekat itu, semuanya kembali pulih seperti biasanya. Malam yang meremang, disinari oleh bintang bintang.
Di dasar lubang bekas ledakan luapan energi, tergeletak tubuh Ki Pradah yang tidak sadarkan diri. Terlihat beberapa luka goresan di tubuhnya dan pakaiannya banyak yang terkoyak.
__ADS_1
Lintang Rahina yang masih melayang, dengan tangan kiri yang masih mengeluarkan pendaran sinar kuning keemasan, perlahan turun ke tanah.
Di ujung sinar kuning keemasan, terdapat bola sinar berwarna hitam pekat sebesar kepalan tangan yang terbungkus oleh butiran sinar kuning keemasan.
Dengan tangan kirinya, Lintang Rahina menyerap membali butiran sinar kuning keemasan itu, sehingga bola sinar berwarna hitam pekat itu ikut mendekat ke telapak tangan kirinya.
Ketika bola sinar hitam pekat itu tepat berada di telapak tangan kirinya, Lintang Rahina segera meletakkan telapak tangan kanannya tepat di atasnya dan hanya berjarak satu jari.
Kemudian Lintang Rahina kembali mengalirkan energinya ke kedua tangannya. Butiran sinar kuning keemasan kembali keluar dari telapak tangan kanannya dan segera menyelimuti bola sinar hitam pekat dengan sangat rapat.
Sementara dari telapak tangan kanannya keluar pendaran sinar putih pekat yang menggulung butiran sinar kuning keemasan hingga terlihat menjadi bola sinar berwarna putih pekat dan padat.
Bola sinar putih itu semakin mengecil hingga menjadi sebesar ibu jari, yang akhirnya lenyap masuk ke dalam telapak tangan kiri Lintang Rahina.
Lintang Rahina sejenak memperhatikan telapak tangan kirinya. Di tengahnya terlihat ada sebuah garis berwarna hitam sebesar lidi dan sepanjang jari jempolnya.
Sesaat Lintang Rahina melihat ke sekeliling. Semuanya berantakan dan sepi. Dia teringat pada eyang, guru dan sahabat sahabat eyangnya. Sekar Ayu Ningrum dan Lian juga tidak ada.
Kembali Lintang Rahina menggunakan tehnik 'Nafas Raja'. Sambil mengalirkan energinya, telapak tangan kanannya diletakkan di depan dada, terbuka rapat menghadap ke arah kiri.
Dari dari dada dan telapak kanannya keluar pendaran sinar putih yang segera menyebar ke semua arah di daerah sekitar tempat tinggal Ki Pradah.
Setelah beberapa saat, Lintang Rahina merasakan keberadaan beberapa energi yang berpencar pencar.
Segera Lintang Rahina melesat menuju titik titik energi yang dirasakannya.
__ADS_1
Lintang menemukan semuanya dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dengan cepat Lintang Rahina membawa mereka semua ke halaman bekas tempat tinggal Ki Pradah.
Setelah membaringkan mereka semua di halaman, Lintang Rahina segera menyadarkan mereka semua dan membantu mereka semua memulihkan energi dan mengobati luka luka mereka semua.
Dengan bergantian, Lintang Rahina menyalurkan energi 'Nafas Raja' ke tubuh mereka semua hingga menjelang pagi. Dengan tehnik 'Nafas Raja', luka luka mereka sembuh dengan cepat. Sedangkan energi mereka sudah pulih sebagian.
Pada pagi hari itu juga, mereka semua di bawa ke tempat tinggal Ki Dipo Menggala. Di tempat Ki Dipo, Lintang Rahina kembali membantu mereka semua dengan menyalurkan energinya.
Tiga hari kemudian, semuanya telah pulih energinya dan sembuh semua luka luka mereka.
Berkat tehnik 'Nafas Raja', energi mereka tidak hanya pulih dengan cepat, tetapi mereka semua merasa sepertinya energi mereka meningkat.
Hal itu karena energi mereka dimurnikan, sehingga mereka semua merasa menjadi lebih kuat.
Dua hari kemudian, setelah mereka semua benar benar sembuh, mereka berpamitan pulang ke tempat tinggal mereka.
Ki Ageng Arisboyo yang berpamitan pertama, karena ada keperluan yang harus dia kerjakan. Sekar Ayu Ningrum menyertainya, karena tidak tega kakeknya melakukan perjalanan sendiri. Resi Nirartha Pradnya juga menyusul berpamitan. Tetapi Lian tidak ikut pulang ke Pulau Dewata karena ingin melakukan pengembaraan di Pulau Jawa Dwipa.
Sedangkan Ki Pradah, sebelum Lintang Rahina pamit menemani eyangnya, menanyakan keadaan benang jiwa iblis.
Dijawab oleh Lintang, kalau benang jiwa iblis sudah dia selimuti dengan benang jiwanya yang dia buat dengan tehnik 'Puspa Nagari' dan dia masukkan ke dalam tangan kirinya karena suatu saat Lintang Rahina akan melenyapkan benang jiwa iblis dengan membakarnya menggunakan energi benang jiwanya.
Ki Pradah dan Ki Penahun sangat setuju dengan rencana Lintang Rahina dan akan membantunya, karena membakar benang jiwa iblis memang membutuhkan energi yang sangat besar dan durasi waktu yang lama.
Akhirnya, Ki Ageng Arisboyo dan Sekar Ayu Ningrum, serta Ki Penahun dan Lintang Rahina melakukan perjalanan pulang bersama sama. Untuk menyingkat waktu, mereka berempat menggunakan tehnik meringankan tubuh terbang melayang di udara.
__ADS_1
Tidak lama, mereka berempat harus berpisah. Sekar Ayu Ningrum dan Ki Ageng Arisboyo ke arah kiri menuju Prangtritis. Sedangkan Lintang Rahina dan Ki Penahun, berbelok ke arah kanan dan menuju ke Gunung Merbabu.
__________ 0 __________