Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Jawaban Lintang Rahina


__ADS_3

Akhirnya bola sinar putih pekat yang di dalamnya ada benang jiwa iblis yang dikurung butiran sinar kuning keemasan, bisa ditekan menjadi sebesar biji kates.


Oleh Ki Pradah disarankan untuk menyimpannya di lengan kiri bagian dalam persis di belakang pergelangan tangan. Hal itu bertujuan agar saat Lintang Rahina sedang bertarung ataupun melakukan hal hal yang mengharuskan dia menggunakan energinya, tidak mengganggu penggunaan energinya.


"Tapi itu semua hanya bersifat sementara ngger. Kamu jangan terlalu lama menyimpan benang jiwa iblis di dalam tubuhmu. Bukan karena energimu akan kalah darinya, tetapi selama benang jiwa iblis berada di dalam tubuhmu, kamu tidak bisa menggunakan energimu secara penuh. Hal itu akan sangat berbahaya saat kamu menemui lawan yang energinya sudah masuk golongan sangat tinggi, seperti Jalu Samodra dan Jenar Samodra kemaren," Ki Pradah menjelaskan dengan panjang lebar.


"Iya guru," jawab Lintang Rahina.


"Kalau bisa, secepatnya kita pergi kawah Merapi. Kita harus segera membakar benang jiwa iblis itu dengan panasnya lahar Merapi !" lanjut Ki Pradah.


"He he he he ......sebentar .... sebentar. Urusan pergi ke kawah Merapi, itu hal yang mudah. Namun sebelum berangkat, ada yang hendak ku tagih padamu anak muda !" sahut Ki Ageng Arisboyo sambil menatap tajam Lintang Rahina.


Lintang Rahina terkejut ketika tiba tiba topik pembicaraan berganti, membicarakan tentang dirinya. Tetapi, walaupun terkejut, dia sudah paham apa yang dimaksud oleh Ki Ageng Arisboyo.


"Apakah kamu sudah siap jawabannya, dengan pertanyaanku anak muda ?" tanya Ki Ageng Arisboyo lagi.


Lintang Rahina mengangguk dan kemudian menjawab pertanyaan Ki Ageng Arisboyo.


"Iya Ki," jawab Lintang Rahina.


"Sekarang, apa jawabanmu anak muda ?" tanya Ki Ageng Arisboyo dengan suara agak dikeraskan.


Ki Penahun dan Ki Pradah masih belum paham dengan apa yang dibicarakan Ki Ageng Arisboyo. Sehingga mereka masih diam saja dan tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Saya minta ijin untuk memberitahu eyang dulu Ki, eh ... guru," jawab Lintang Rahina.


"He he he he ..... iya ... iya. Tapi aku ingin, yang menjawab kamu sendiri," sahut Ki Ageng Arisboyo.

__ADS_1


Lintang Rahina mengangguk dan mengiyakan permintaan Ki Ageng Arisboyo.


Kemudian, Lintang Rahina segera mendekat ke arah Ki Penahun dan menceritakan tentang semua pembicaraannya dengan Ki Ageng Arisboyo dan tentang janjinya pada Ki Ageng Arisboyo, saat dulu Lintang Rahina mengantarkan Sekar Ayu Ningrum pulang.


Mendengar cerita Lintang Rahina, Ki Penahun terkejut, walaupun sebenarnya hatinya merasa gembira.


"Apa .... !?! Tua bangka sialan ! Kenapa tidak cerita langsung seperti biasanya ? Terus, kemaren kemaren apa yang kau kerjakan ?" kata Ki Penahun mendekat ke arah Ki Ageng Arisboyo, berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.


"Yang ku kerjakan ...., ya .... sama dengan kamu !" jawab Ki Ageng Arisboyo sambil melompat dari tempat duduknya dan berdiri di depan Ki Penahun.


"Tidak bisa begitu ! Biar tua tua begini, jangan remehkan aku !" sahut Ki Penahun.


Tiba tiba mereka berdua melesat keluar dan saling menyerang sambil melayang ke atas.


Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum sangat terkejut melihat yang dilakukan oleh kakek mereka. Mereka hendak ikut keluar, tetapi dicegah oleh Ki Pradah.


"Ngger, biarkan mereka para tua bangka bermain main. Daripada kaku semua tulang tulangnya !" kata Ki Pradah yang sudah paham akan kebiasaan mereka semua, termasuk Ki Pradah sendiri.


Seperti halnya sekarang ini. Mereka membicarakan hal yang tadi ditanyakan oleh Ki Ageng Arisboyo pada Lintang Rahina.


Setelah beberapa saat, akhirnya Ki Ageng Arisboyo dan Ki Penahun turun dan berjalan bersama, masuk kembali ke rumah, seperti tidak terjadi apa apa.


Begitu mereka berdua duduk kembali, Ki Ageng Arisboyo bertanya lagi pada Lintang Rahina, yang saat ini duduknya berdekatan dengan Sekar Ayu Ningrum, karena tadi mereka berdua berniat menyusul keluar.


"Bagaimana ngger, aku ingin mendengar sendiri jawaban dari mulutmu sendiri," kata Ki Ageng Arisboyo.


"Saya siap Ki. Saya akan melamar dan menikahi adik Sekar, karena memang saya mencintainya," jawab Lintang Rahina.

__ADS_1


"He he he he .... Bagus. Dan ngger Sekar, sekarang apa jawabanmu ?" tanya Ki Ageng Arisboyo pada Sekar Ayu Ningrum cucunya.


"Saya juga siap kek," jawab Sekar Ayu Ningrum.


"He he he he ..... Ki Pradah ! Kita akan segera pergi ke kawah Merapi ! Tetapi setelah mereka berdua menikah. Dan kita akan menikahkan mereka secepatnya !" kata Ki Ageng Arisboyo lagi.


Saat Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo melayang sambil saling serang, sebenarnya mereka sedang membahas rencana pernikahan antara cucu mereka. Dan mereka berdua sepakat untuk menikahkan cucu mereka sebelum mereka berangkat ke kawah Merapi.


"Semakin cepat semakin baik. Aku khawatir, masih ada orang yang kekuatannya setingkat Jalu Samodra dan Jenar Samodra, mencari Lintang dan Sekar untuk balas dendam," jawab Ki Pradah yang sepertinya sudah paham pembicaraan Ki Penahun dan Ki Ageng Arisboyo saat melayang keluar.


Akhirnya mereka semua sepakat, akan secepatnya menikahkan Sekar Ayu Ningrum dengan Lintang Rahina di Parangtritis, di kediaman Ki Ageng Arisboyo. Dan akan mengadakan pesta pernikahan sederhana, untuk sekedar menjamu para warga di sekitar tempat kediaman Ki Ageng Arisboyo.


----- o -----


Dalam waktu yang bersamaan, di tempat lain, jauh di sebelah timur Pantai Parangtritis, Jalu Samodra dan Jenar Samodra sudah sadar, walaupun luka luka dalamnya belum sembuh dan energi mereka baru seperempatnya pulih. Namun mereka berdua sudah bisa duduk dan berbicara.


Memang sejak selesai pertarungan di Pantai Parangtritis, oleh Badak Suro dan Lembu Suro, mereka semua yang terluka parah, dibawa ke goa karang di tepi pantai, sebelah timur Pantai Parangtritis. Selain itu, Badak Suro dan Lembu Suro menyempatkan diri mencari senjata Jalu Samodra dan Jenar Samodra yang terjatuh ke dalam lautan.


Badak Suro dan Lembu Suro, yang lukanya paling ringan, merawat Jalu Samodra dan Jenar Samodra yang tidak sadarkan diri berhari hari karena menderita luka dalam yang parah dan habis energinya.


Setelah mereka berdua sadar dan bisa mengurus diri sendiri, mereka menyuruh Badak Suro dan Lembu Suro untuk kembali ke kapal mereka, yang berlabuh di Pantai utara pulau Jawa Dwipa.


Kepada mereka berdua, Jalu Samodra menitipkan satu senjata roda besi bergeriginya untuk diserahkan pada guru mereka. Sebelumnya, Jalu Samodra sudah mengisikan sedikit energinya ke dalam senjata roda besi bergerigi yang sekarang dibawa oleh Lembu Suro dan Badak Suro.


Pada hari berikutnya, di malam hari, Lembu Suro dan Badak Suro melesat pergi ke arah utara meninggalkan Jalu Samodra dan Jenar Samodra di dalam goa karang di tepi pantai.


__________ 0 __________

__ADS_1


Dear pembaca yang budiman dan berbahagia, kemungkinan Lintang Rahina sudah memasuki masa skripsi dan mengerjakan tugas akhir. Mungkin, kecuali dosennya masih banyak ide, semester Lintang Rahina bisa diperpanjang 😄😁


Semoga para pembaca semua selalu sehat dan mendapatkan berlimpah keberkahan dari Allah SWT. Amin.


__ADS_2