Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Empu Bajang Geni


__ADS_3

Galuh Pramusita melesat semakin cepat masuk ke dalam hutan yang semakin gelap karena pohon pohon yang semakin besar besar dan rapat.


"Adik Galuh, berhenti !" teriak Arga Manika.


Karena khawatir dengan keselamatan Galuh Pramusita, Arga Manika segera melesat cepat menyusul Galuh Pramusita.


Arga Manika mulai merasa curiga dengan situasinya. Dia baru saja akan memperingatkan Galuh Pramusita, tetapi terlambat karena Galuh Pramusita sudah terlanjur masuk ke hutan semakin dalam.


Ketika sampai di bagian hutan yang agak lapang, Arga Manika menghentikan larinya ketika melihat Galuh Pramusita sudah berhenti di depannya. Segera saja Arga Manika mendekat ke samping Galuh Pramusita yang sedang menatap ke depan.


Arga Manika melihat ke arah yang dilihat Galuh Pramusita. Terlihat anak kecil yang dikejar tadi berdiri memunggunginya dalam jarak sekitar dua puluh meter. Tetapi terlihat ada yang berbeda dengan anak kecil tadi.


Sekarang yang terlihat seperti anak kecil setinggi seratus dua puluh centimeteran. Tetapi kepalanya besar, rambutnya gondrong dan badannya terlihat gempal.


Tiba tiba anak kecil itu membalikkan badannya dengan merentangkan kedua tangannya.


Galuh Pramusita dan Arga Manika terkejut. Ternyata yang mereka kira seorang anak kecil, ternyata kakek cebol wajahnya tua, setua guru guru mereka. Alisnya tebal, kumis dan jenggotnya panjang. Di dadanya terdapat tiga garis merah sebesar ibu jari. Saat membuka mulut menyeringai, giginya tampak besar besar dan jarang jarang.


"Si ... siapa kau ?" tanya Galuh Pramusita.


"Kek kek kek ....," orang itu tertawa aneh kemudian balik bertanya, "bukankah kalian tadi memanggilku adik kecil, anak anak manis ?"


"Hati hati dik," bisik Arga Manika, "orang ini kelihatannya aneh dan berbahaya."


"Iya kakang," jawab Galuh Pramusita sambil mengangguk.


"Kakek, maafkan kami, kami telah salah orang," kata Arga Manika sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, "kami akan undur diri."


"Kek kek kek ... kalian telah mengejarku, tidak bisa pulang begitu saja," kata kakek itu.


"Sekali lagi maaf kakek, kami sedang ada urusan," jawab Arga Manika sambil menggandeng tangan Galuh Pramusita, kemudian membalikkan badan hendak pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Tetapi mereka berdua terkejut ketika mereka membalikkan badan, kakek itu sudah di depan mereka.


Mereka membalikkan badan lagi dan bersiap berlari, teryata lagi lagi kakek itu telah berdiri di depan mereka.


"Kek kek kek ...kalian tidak boleh pergi begitu saja," kata kakek itu sambil menyeringai.


"Adik, kita keroyok saja, begitu ada kesempatan, kita pergi dari sini," bisik Arga Manika.


Kemudian keduanya berlari ke arah kakek itu, berniat mendorong jatuh kemudian pergi dari tempat itu.


Tetapi bukannya kakek cebol itu yang terjatuh, tetapi mereka berdua yang tiba tiba terjatuh seperti didorong dengan keras.


Mereka kembali berlari ke arah kakek itu, tetapi sekarang dengan pukulan untuk menyingkirkan kakek yang menghalangi jalan mereka.


Begitu mereka melayangkan pukulan, bukan kakek itu yang terjatuh, tetapi kembali tubuh mereka berdua yang terhempas agak jauh ke belakang.


Arga Manika yang mulai dongkol merasa dikerjai kakek itu, menyerang kakek itu.


Sang kakek menangkis tendangan Arga Manika hanya dengan sentilan jarinya, yang membuat Arga Manika jatuh bergulingan.


Karena sudah emosi, Arga Manika jadi gelap mata dan tidak menyadari situasi. Dia mengajak Galuh Pramusita untuk mengeroyok dengan senjata mereka.


Mereka berdua segera mengeluarkan pedang mereka dan menyerang kakek itu dengan jurus jurus pedang mereka.


Tetapi anehnya, semua serangan mereka berdua ketika hampir sampai di tubuh kakek itu seperti membabat udara.


Setiap sabetan dan tusukan pedang mereka selalu bisa dihindari kakek itu dengan hanya menggoyangkan sedikit tubuhnya ke kanan, ke kiri, ke belakang dan terkadang dengan sedikit menundukkan badan.


"Kek kek kek ..." kakek itu tertawa menyeringai, "aku senang, aku senang, aku senang ...."


Arga Manika dan Galuh Pramusita terpancing dan tidak menyadarinya menyerang dengan sepenuh kemampuannya.

__ADS_1


Setelah hampir satu jam mereka berdua menyerang dan tidak pernah sekalipun serangan mereka mengenai sasaran. Anehnya, selama itu pula kakek cebol itu hanya menghindar dengan menggoyangkan ataupun menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, ke kanan, ke belakang. Tidak pernah sekalipun kakek cebol itu membalas menyerang.


Akhirnya setelah energi keduanya terkuras lebih dari delapan puluh persen, Arga Manika menyadari itu semua. Arga Manika menduga, kakek cebol ini tidak hendak berbuat jahat kepada mereka berdua. Karena kalau memang bertujuan jahat, sudah sejak tadi mereka dilumpuhkan.


Tiba tiba Arga Manika membuang senjatanya dan kemudian duduk bersujud di depan kakek cebol itu.


Galuh Pramusita yang kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh Arga Manika, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan pedang menggantung di tangan kanan karena sudah kelelahan.


"Kek kek kek .... "kakek cebol itu tertawa dan berkata, "apa yang kau lakukan bocah, kamu putus asa ?"


"Kakek, maafkan kami yang sudah berlaku tidak sopan pada orang tua," jawab Arga Manika sambil tetap bersujud, "kami ingin belajar dari kakek."


"Kek kek kek ..... kalian ingin jadi murid Empu Bajang Geni?" tanya kakek cebol itu.


Arga Manika tetap dalam bersujud, berpikir, kakek cebol ini namanya Empu Bajang Geni.


"Kami mohon kakek Empu Bajang Geni mau mengajari kami," jawab Arga Manika lagi.


"Coba kalian berdiri," kata kakek cebol itu, "kek kek kek .... lihat sekeliling kalian. Kalian tetap mau jadi muridku ?"


Kemudian Empu Bajang Geni merentangkan kedua tangannya. Dari dua telapak tangannya keluar energi berwarna hitam yang kemudian energi hitam itu bertemu dan membentuk lingkaran berdiameter sepuluh meteran mengelilingi mereka. Dari energi hitam yang membentuk lingkaran itu muncul makhluk makhluk aneh beraneka rupa, melayang layang seperti terbang. Semuanya tampak sangat menyeramkan.


Galuh Pramusita yang tadinya berdiri, begitu melihat di sekelilingnya banyak makhluk makhluk aneh dan menyeramkan, seketika terduduk. Bukan karena takut, tetapi karena jijik.


Sedangkan Arga Manika begitu melihat banyak makhluk aneh dan menyeramkan di sekelilingnya, awalnya kaget, tetapi begitu melihat makhluk makhluk itu berasal dari energi berwarna hitam yang keluar dari kedua tangan Empu Bajang Geni, semakin mantap untuk berguru pada kakek cebol bernama Empu Bajang Geni itu.


Arga Manika kembali bersujud sambil berkata, "kami siap menjadi murid kakek Bajang Geni."


"Kek kek kek ...," Empu Bajang Geni berkata, "aku suka auramu bocah. Aura yang penuh dengan sakit hati dan dendam."


Sambil menuding ke makhluk makhluk aneh itu, Empu Bajang Geni berkata, "kalau kalian tidak takut berteman dengan makhluk makhluk penghuni neraka itu, kalian lulus jadi muridku, kek kek kek ..."

__ADS_1


Kemudian Empu Bajang Geni menggerakkan tangannya dengan gerakan gerakan tertentu, sesaat kemudian makhluk makhluk aneh itu semuanya masuk kembali ke energi berwarna hitam, dan kemudian energi itu masuk kembali ke dalam kedua tangan Empu Bajang Geni.


__ADS_2