Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Dihadang Ugra Asipatra


__ADS_3

Lintang Rahina yang ditemani Sekar Ayu Ningrum terus saja memasuki pedalaman pulau. Mereka berdua ingin segera menyelesaikan tugas yang berhubungan dengan senjata pusaka trisula yang dibawa Lintang Rahina.


Mereka berdua melakukan perjalanannya pada malam hari. Sedangkan terang hari mereka gunakan untuk beristirahat memulihkan energi mereka.


Dengan melayang menggunakan ilmu meringankan tubuh, membuat perjalanan mereka berdua bisa lebih cepat dan tidak ada gangguan yang mereka temui.


Sehingga hanya dalam dua malam mereka sampai di punggung Gunung Agung bagian selatan.


Tepat menjelang pagi mereka turun dan berhenti di punggung gunung. Kemudian Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum beristirahat untuk memulihkan energi mereka.


Lintang Rahina berencana, malam nanti akan naik ke puncak gunung mencari tempat tertinggi di Pulau Dewata itu.


Saat menjelang sore, Lintang Rahina merasakan ada energi yang sangat besar sedang menuju ke tempatnya. Energi yang besarnya sama dengan energi milik Resi Aksa Bagawanta, bahkan lebih tinggi.


Beberapa saat kemudian, Lintang Rahina melihat, dari langit arah selatan, ada seorang yang melesat sangat cepat menuju ke arahnya berdiri.


Setelah hanya tinggal berjarak sepuluh depa, orang itu berdiri melayang setinggi satu lengan.


Huh hu hu hu ... anak muda, selamat bertemu kembali," kata Orang itu yang ternyata Ugra Asipatra.


"Iya paman," jawab Lintang Rahina. Kemudian Lintang Rahina mendekat ke arah Ugra Asipatra berhenti.


"Apakah paman ada keperluan dengan kami ?" tanya Lintang Rahina, kalau sudah tidak ada, maaf kami permisi dulu."


"Kalian boleh pergi anak muda, tetapi tinggalkan apa yang ada di dalam buntalanmu itu !" kata Ugra Asipatra.


"Maaf paman, terpaksa kami tidak bisa mengindahkan permintaan paman," jawab Lintang Rahina.


"Kalau begitu biar aku ambil sendiri !" kata Ugra Asipatra sambil langsung melesat ke arah Lintang Rahina dan tiba tiba tangannya sudah berada dekat dengan buntalan yang Lintang Rahina bawa.

__ADS_1


Plak ! Plak !


Terdengar suara benturan telapak tangan saat Sekar Ayu Ningrum tiba tiba menangkis tangan Ugra Asipatra, yang kemudian dilanjutkan Sekar Ayu ningrum dengan pukulan ke arah dada Ugra Asipatra.


Desss !!!


Keduanya sama sama terdorong mundur saat Ugra Asipatra menangkis pukulan Sekar Ayu Ningrum.


"Hati hati dengan pengendalian energi miliknya, adik Sekar ! " kata Lintang Rahina.


Lintang berpesan begitu karena dia merasakan, energi yang sangat besar saat Ugra Asipatra mengedalikan air laut hingga bisa setinggi lebih dari dua kali tinggi pphon kelapa.


Kalau untuk kecepatan, Lintang Rahina merasa Sekar Ayu Ningrum bisa mengimbanginya. Karena sejak dulu Sekar Ayu Ningrum punya tehnik meringankan tubuh tingkat tinggi yang diajarkan oleh kakeknya, Ki Ageng Arisboyo. Sedangkan Lintang Rahina punya tehnik meringankan tubuh yang beda lagi dan bisa dikatakan termasuk kelompok tehnik meringankan tubuh terbaik, yang dulu diajarkan oleh Ki Pradah.


Beberapa saat kemudian, terjadi saling serang antara Sekar Ayu Ningrum dengan Ugra Asipatra yang terjadi dalam kecepatan yang sangat tinggi.


Walaupun sebenarnya Ugra Asipatra sudah memperkirakan, kalau dua anak muda di depannya itu pastinya memiliki ilmu kanuragan yang tinggi, karena berani menyeberang lautan tlatah wetan. Tetapi Ugra Asipatra tetap saja masih terkejut. Anak perempuan yang sekarang sedang melawannya mampu mengimbangi energi dan kecepatannya.


Apalagi akhir akhir ini banyak pendekar ataupun resi yang datang dari tlatah Pulau Jawa Dwipa menuju ke Pulau Dewata ataupun pulau pulau lain di sebelah timurnya. Dan kemudian memutuskan untuk tinggal dan menetap di daerah yang mereka tuju.


Ugra Asipatra juga mengetahui adanya akan turunnya sebuah pusaka. Dan dia termasuk tokoh persilatan yang tertarik dengan berita itu. Kemudian ditambah lagi dia diajak kerjasama oleh Resi Jalada Mawa dan Nyi Mahiya Keswari untuk merebut senjata pusaka itu.


Makanya saat bertemu dengan Lintang Rahina, Ugra Asipatra langsung bisa merasakan suatu getaran energi dari pusaka yang dibawa Lintang Rahina dalam buntalannya.


Seperti halnya sekarang ini, tanpa basa basi Ugra Asipatra langsung menyatakan menginginkan barang bawaan yang dibawa Lintang Rahina hingga kemudian bertarung dengan Sekar Ayu Ningrum.


Sudah lima puluh jurus lebih pertarungan Sekar Ayu Ningrum melawan Ugra Asipatra. Pertarungan itu masih berjalan seimbang.


Merasa belum bisa mengungguli lawannya yang masih muda, Ugra Asipatra tiba tiba bergerak lambat. Kedua tangannya menbuat gerakan melingkar berkali kali dengan telapak tangan terbuka dari arah samping kiri kanan menuju ke depan dada.

__ADS_1


Sekar Ayu Ningrum teringat pesan Lintang Rahina tadi, untuk mewaspadai tehnik pengendalian energi lawannya.


Tiba tiba Sekar Ayu Ningrum merasakan suatu keanehan. Dia melihat di sekelilingnya, di daun dan batang pohon, di rerumputan bahkan di tanah. Terlihat kerlip kerlip sangat kecil dalam posisi mengambang. Sekar Ayu Ningrum segera menghunus pedangnya.


"Pengendalian energi air," kata Sekar Ayu Ningrum dalam hati.


Ketika Ugra Asipatra melanjutkan gerakannya dengan mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Sekar Ayu Ningrum, tiba tiba dari segala penjuru melesat sangat cepat kerlipan kerlipan sangat kecil itu.


Plas ! Plas ! Plas ! Plas !


Kerlipan kerlipan itu ternyata sisa embun ataupun titik air yang terdapat di dalam daun dan batang pohon, dalam rerumputan bahkan dari dalam tanah yang di padatkan dan dikendalikan menjadi senjata yang bisa menyerang dari arah mana saja.


Melihat ada bahaya yang sedang meluncur sangat cepat ke arahnya dari segala arah, Sekar Ayu Ningrum segera melesat ke atas dan kemudian dengan cepat meluncur lagi ke bawah dengan posisi kepala di bawah dan kedua kakinya di atas.


Kemudian pedangnya diputar dengan sedemikian cepatnya hingga membentuk pusaran angin selebar satu depa.


Dengan segera, kerlipan titik air itu membentur pusaran angin yang keluar dari pedangnya yang diputar dwngan sangat cepat.


Tring !!! Ting ! Ting ! Ting ! Ting !


Kerlipan titik air itu sebagian besar hancur berubah menjadi air lagi, bahkan ada yang langsung menjadi kabut.


Sekar Ayu Ningrum tidak berhenti di situ. Tubuhnya yang masih dalam posisi melayang, meluncur cepat ke arah Ugra Asipatra. Pedangnya dengan cepat mengarah ke dada kiri Ugra Asipatra tanpa bisa dibendung lagi.


Trakkk !!!


Pyarrr !!!


Ujung pedang Sekar Ayu Ningrum seperti tertahan oleh sesuatu ketika sampai di permukaan baju Ugra Asipatra. Kembali keduanya terdorong ke belakang. Bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang tipis yang pecah terkena ujung pedang Sekar Ayu Ningrum.

__ADS_1


Ugra Asipatra menarik nafas lega saat mengetahui nyawanya selamat dari tusukan pedang lawannya walaupun tameng tipis yang dia buat dari sekumpulan titik air itu pecah.


___◇___


__ADS_2