Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Perjumpaan di Pantai Selatan


__ADS_3

Lintang Rahina diminta ikut berada di kereta, selama perjalanan mengantar Putri Nimas Waskita ke Kotagedhe. Dikawal oleh empat orang prajurit. Separoh lebih prajurit diperintahkan untuk menguburkan jasad Warok Bandring Saloka dan membersihkan dan membenahi kerusakan dampak pertempuran.


Selama perjalanan, awalnya mereka semua saling diam, tenggelam dalam alam pikiran masing masing.


Lintang Rahina sendiri juga merasa baru kali ini bersinggungan dengan adat kebiasaan keluarga ningrat ataupun pejabat. Jadi Lintang juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.


Walaupun selama diasuh oleh Ki Penahun, Lintang Rahina juga diajari adab dan sopan santun dalam berkomunikasi dengan orang lain.


Akhirnya, Putri Nimas Waskita yang membuka percakapan.


"Raden, maaf, siapa nama raden dan darimana raden berasal ?" tanya Putri Nimas Waskita.


"Saya Lintang Rahina, putri. Saya cucu sekaligus murid Ki Penahun dari Gunung Merbabu. Dan saya bukan raden, putri jangan memanggil saya dengan raden," jawab Lintang Rahina.


"Terus, raden....eh kakang Lintang sebenarnya hendak kemana ?" tanya Putri Nimas Waskita lagi.


"Sebenarnya saya tidak punya arah dan tujuan tertentu, putri. Saya hanya mengembara untuk mencari pengalaman hidup," jawab Lintang Rahina.


"Kenapa kakang Lintang tidak mengabdi ke kraton saja. Dengan kesaktian kakang, kakang bisa dengan mudah mendapatkan pangkat di keprajuritan. Kalau kakang berminat, saya bisa sampaikan ke ayahku," sambung Putri Nimas Waskita.


"Saya orang gunung, orang bodoh, putri. Saya tidak pantas mengabdi ke kraton," jawab Lintang lagi.


"Hi hi hi....kakang terlalu merendah," saut Putri Nimas Waskita sambil kedua tangannya menutupi mulutnya saat tertawa kecil.


Suasana hening lagi. Tanpa terasa sudah hampir setengah hari rombongan Putri Nimas Waskita melakukan perjalanan. Beruntung, selama perjalanan tidak ada gangguan lagi, sehingga perjalanan bisa lancar dan cepat.


Tepat siang hari, rombongan Putri Nimas Waskita memasuki Kotagedhe. Kereta pun berhenti di depan pendopo yang tidak terlalu besar.


Karena merasa tugasnya mengawal perjalanan atas permintaan Putri Nimas Waskita sudah selesai, Lintang pun berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.


"Kenapa kakang Lintang tidak menunggu dulu, untuk bertemu ayahku ?" kata Putri Nimas Waskita.


"Terimakasih putri," jawab Lintang Rahina.


Lintang pun beranjak dan melangkah hendak melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Tiba tiba datanglah serombongan orang mengendarai kuda dan berhenti di depan pendopo.


"Ayah," sambut Putri Nimas Waskita


.


"Nimas, kamu sudah sampai ? Apa yang terjadi dengan prajurit yang mengawalmu yang lain, ini kok hanya sedikit ? Dan siapa anak muda itu ?" tanya Ki Mertani ayah Putri Nimas Waskita.


"Perjalanan kami sempat dihadang perampok, ayah. Dan kakang Lintang ini yang telah menyelamatkanku," jawab Putri Nimas Waskita.


Ki Mertani menatap ke arah Lintang Rahina.


"Aku merasakan energi yang sngat besar dari anak muda ini," kata Ki Mertani dalam hati.


"Anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu ?" tanya Ki Mertani.


"Saya Lintang Rahina, murid dan sekaligus cucu Ki Penahun dari Merbabu," jawab Lintang.


"Ohh...Ki Penahun. Aku pernah mendengar namanya. Ayo kita masuk dulu," ajak Ki Mertani.


"Baiklah nak Lintang. Terimakasih telah menyelamatkan anakku," jawab Ki Mertani.


Lintang Rahina kembali meneruskan perjalanan. Tanpa di sadari, jalan yang Lintang Rahina tempuh menuju ke arah pesisir pantai lagi.


Sampai malam hari, barulah Lintang Rahina tiba di tebing yang menjulang tinggi yang menghadap ke pantai. Garis pantai yang sangat panjang dengan hamparan pasir yang sangat luas. Seolah menjadi peredam bagi deburan ombak yang begitu besar. Pantai Parangtritis, begitu penduduk setempat menamakannya.


Untuk beberapa waktu, Lintang hanya berdiri sambil memandangi pantai dari atas tebing. Pikirannya teringat kejadian saat Lintang bertemu dengan ratu siluman Naga Wilis Kencana.


Kemudian Lintang meluncur turun dan mendarat persis di bibir pantai.


Kembali Lintang Rahina hanya berdiam diri, matanya memandang ke arah lautan. Seolah sedang menikmati hembusan angin yang membuat rambut dan ujung ujung pakaiannya melambai lambai. Ombak yang terkadang datang membasahi kakinya.


Untuk sesaat Lintang Rahina seperti tenggelam dalam kedamaian suasana pantai.


Hingga kemudian samar samar Lintang Rahina mendengar teriakan teriakan suara perempuan yang kadang terdengar jelas kadang tertutup suara deburan ombak.

__ADS_1


Penasaran dengan suara suara teriakan itu, Lintang Rahina mencoba mencari dari mana suara itu berasal.


Sampai di cerukan yang hampir keselueuhan dikelilingi tebing yang tidak terlalu tinggi, Lintang Rahina melihat seorang wanita muda yang sedang melakukan gerakan gerakan silat sambil sesekali berteriak. Wanita itu berpakaian seperti halnya pendekar wanita. Dengan celana selutut, kain yang menutup bagian atasnya yang diberi ikat pinggang. Tangan kanan memegang pedang.


Sungguh gerakan jurus pedang yang sangat indah. Dibalik keindahan gerakan jurus pedang itu menyimpan gerakan gerakan tertentu yang sangat membahayakan.


Lintang Rahina yang sangat kagum dengan keindahan gerakan silat wanita itu, sampai terpana sehingga secara tidak sadar, Lintang Rahina tetap memandangi wanita itu walaupun wanita itu sudah selesai dalam berlatih ilmu pedang.


Sampai kemudian terdengar suara teriakan.


"Hai....dasar pemuda kurang ajar. Kenapa kamu terus terusan memandangiku. Kamu mengintip ya. Kamu ingin meniru ilmu pedangku ya ? Hayo mengaku saja. Sebelum kamu aku memberitahukan kakekku !" bentak wanita itu.


"Eh...anu.....itu...aku...." Lintang Rahina gelagapan dalam menjawab berondongan pertanyaan dari wanita itu. Dia tidak mengira kalau wanita itu akan memergokinya saat dia memandanginya.


Wanita muda itu dengan cepat tiba dan berdiri didepan Lintang Rahina. Kemudian tiba tiba ujung pedangnya sudah menempel di leher Lintang Rahina.


"Anu anu apa ? Ayo berlutut dan letakkan kedua tanganmu di belakang kepala," bentak wanita muda itu.


Lintang Rahina semakin terpana setelah melihat raut wajah wanita itu dari dekat.


Seorang wanita yang sangat cantik. Dengan alis yang tebal, tatapan mata yang tajam. Dagunya lancip, rambutnya yang panjang dan dikuncir ekor kuda.


"Hayo....." wanita itu baru hendak bicara lagi.Tiba tiba datang seorang laki laki seumuran dengan Ki Penahun. Badannya tinggi dan kekar. Matanya tajam dan berkumis besar. Tampak sangat berwibawa dengan memakai pakaian seperti pakaian warok.


"Ada apa nduk, kok berteriak begitu ? Kalau sudah selesai latihannya, cepat pulang," kata laki laki tua itu.


Laki laki itu adalah Ki Ageng Arisboyo. Orang yang melakukan pertapaan di sekitar pantai Parangtritis.


Ki Ageng Arisboyo adalah putra Majapahit akhir. Semasa mudanya Ki Ageng Arisboyo juga termasuk anggota prajurit elite 'Adhyasta Bhumi'. Dahulu pemimpin kelompok pertama ' Bhumi Acalapati' yang bertugas menjaga keselamatan raja secara rahasia, di luar prajurit kerajaan biasa.


Kedepannya, selama Mataram Islam di pegang oleh Danang Sutowijoyo atau yang terkenal dengan julukan Panembahan Senopati, Ki Ageng Arisboyo menjadi penasehat spiritual dari Danang Sutowijoyo.


"Kakek, ini.....pemuda ini....hendak berlaku jahat padaku. Pemuda ini mengintip latihanku. Dia harus dihukum," jawab Sekar Ayu Ningrum cucunya.


--- 0 ---

__ADS_1


__ADS_2