Kekuatan Di Luar Tembok Keraton

Kekuatan Di Luar Tembok Keraton
Pohon Keabadian


__ADS_3

Orangtua gemuk pendek berpakaian pendeta itu berhenti berjalan di depan Lintiang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum.


"Anak muda, maafkan orang tua ini menghalangi jalan kalian," kata orang gemuk pendek itu, "Dan maafkan kalau orang tua ini mengharap sekedar derma."


Mendengar ucapan orang tua itu, Lintang Rahina pun agak mendekat.


"Tidak apa apa paman," jawab Lintang Rahina.


Kemudian Lintang Rahina memberi tanda pada Sekar Ayu Ningrum untuk memberi derma.


Sekar Ayu Ningrum pun segera mengambil beberapa keping uang bekal yang dia simpan di kampil yang dia simoan di kantong bajunya.


Saat akan mendekat ke pendeta yang meminta derma itu, Sekar Ayu Ningrum merasakan tekanan energi yang sangat kuat yang mendorong tubuhnya. Untuk melawan energi yang memberikan tekanan pada dirinya itu, Sekar Ayu Ningrum berjalan mendekat sambil mengerahkan energinya.


Walaupun langkah kakinya sangat berat, tetapi Sekar Ayu Ningrum tetap berusaha berjalan seperti biasa, seperti tidak terjadi apa apa.


"Maaf paman, ini sedikit derma dari kami," kata Sekar Ayu Ningrum sambil memasukkan kepingan uang ke dalam batok di tangan pendeta itu.


Namun, saat melepaskannya, kepingan uang itu hanya mengambang di udara dan bergerak gerak seperti hendak kembali ke atas.


Melihat kepingan uang yang dia berikan masih mengambang di antara tangan kanannya dan batok kelapa di tangan pendeta itu, sambil tersenyum, Sekar Ayu Ningrum menambah aliran energi ke tangan kanannya.


"Mohon diterima sedikit derma dari kami, paman pendeta !" kata Sekar Ayu Ningrum.


Diam diam terjadi dorong mendorong antara tangan kanan Sekar Ayu Ningrum yang melepaskan beberapa keping uang, dengan tangan kiri Pendeta itu yang memegang batok kelapa.


Kepingan uang itu terkadang bergerak ke bawah, tetapi kemudian kembali naik ke atas mendekat ke telapak tangan kanan Sekar Ayu Ningrum.


"Gadis muda, kalau memberi derma pada kami yang tua ini, harap yang ikhlas," jawab pendeta itu sambil pandangan matanya menatap Sekar Ayu Ningrum dengan pandangan yang tajam.

__ADS_1


Merasa dilihat dengan tidak sopan, apalagi oleh seorang pendeta, membuat Sekar Ayu Ningrum jengah dan sedikit marah.


Maka sambil tetap berusaha tersenyum ramah, Sekar Ayu Ningrum meningkatkan aliran energinya.


Sementara itu, Lintang Rahina yang sudah sejak awal menyaksikan kejadian itu, masih membiarkan saja, asal tidak mengancam keselamatan Sekar Ayu Ningrum.


Namun, begitu menyaksikan, betapa orang tua gemuk pendek dan kepala plontos dengan berpakaian seperti pendeta itu memandang sekujur tubuh Sekar Ayu Ningrum dengan pandangan yang kurang ajar, Lintang Rahina segera mendekati Sekar Ayu Ningrum.


Sambil menepuk bahu kanan istrinya, Lintang Rahina berkata, "Sudahlah adik Sekar, benar yang diucapkan oleh paman pendeta, kalau berderma itu harus yang ikhlas."


Saat Lintang Rahina menepuk bahu kanan Sekar Ayu Ningrum, terdengar suara gemerincing kepingan uang jatuh ke dalam batok kelapa di tangan kiri orang tua berpakaian pendeta itu.


Criiing ! Criiing ! Criiing !


Jatuhnya kepingan uang ke dalam batok kelapa itu juga membuat tangan kiri orang tua berpakaian pendeta itu terdorong ke bawah.


Seketika orang berpakaian pendeta itu menarik tangan kirinya. Dengan wajah sedikit memucat, orang tua berpakaian pendeta itu tersenyum dengan sudut mata ke arah Lintang Rahina.


Lintang Rahina sambil tersenyum, membungkukkan badan dan memberi jalan pada orang tua berpakaian pendeta itu.


Setelah orang tua berpakaian pendeta itu berlalu, Sekar Ayu Ningrum segera mendekati Lintang Rahina.


"Orang asing dengan tingkat energi yang sangat tinggi. Akan menjadi lawan yang berat jika berseberangan dengannya," kata Sekar Ayu Ningrum.


"Kelihatannya masih akan ada lagi orang asing yang datang ke tanah Jawadwipa ini," jawab Lintang Rahina.


Kemudian, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan biasa menyusuri jalan setapak yang ada di hutan Panjalu. Karena berjalan biasa, pada tengah hari mereka berdua baru sampai di tepi danau Panjalu. Sebuah danau yang berada di tengah tengah hutan Panjalu. Di atas perairan danau Panjalu itulah berdiri kerajaan gaib, kerajaan siluman yang diperintah oleh ratu Putri Kalistra.


Sesampai di tepi danau Panjalu, Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera memasuki kerajaan gaib. Dengan tehnik yang Lintang Rahina miliki serta dengan tingginya tingkat energi mereka, dengan mudah mereka berdua sudah memasuki alam siluman dan sudah berada di dekat pintu gerbang kerajaan siluman hutan Panjalu.

__ADS_1


Pemimpin pasukan penjaga pintu gerbang kerajaan siluman sudah paham dengan Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum. Maka mereka berdua segera diantar oleh pimpinan pasukan penjaga.


Sesampai di pintu masuk menuju istana, Lintang Rahina seperti merasakan suatu keanehan.


"Apakah sebelum ini, Putri Kalistra menerima banyak tamu ?" tanya Lintang Rahina pada pimpinan pasukan penjaga.


"Dua hari ini, Ratu menerima banyak sekali tamu," jawab Pemimpin penjaga itu, "Tetapi, sejak menerima tamu yang pertama, Ratu tidak pernah lagi menemui semua tamu berikutnya yang datang, di luar. Semua tamu langsung diminta masuk ke istana."


Mendengar informasi dari pemimpin penjaga, kecurigaan Lintang Rahina ada sesuatu yang aneh yang terjadi di dalam istana kerajaan siluman, semakin besar.


Begitu mereka sampai di bagian istana tempat ratu berada, mereka disambut oleh pemimpin penjaga bagian dalam. Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum segera diantar masuk ke bangunan istana tempat ratu Putri Kalistra berada.


Sesampai di ruangan yang sangat besar, tempat diadakannya pertemuan, terlihat singgasana kosong, tidak ada Putri Kalistra duduk di sana seperti biasanya. Lintang Rahina semakin curiga dengan keadaan itu.


"Adik Sekar, ada yang aneh di istana ini. Tidak seperti yang biasanya kita temui kalau kita datang ke sini," kata Sekar Ayu Ningrum.


"Kakang Lintang benar. Kita harus selalu waspada," jawab Sekar Ayu Ningrum.


Kemudian Lintang Rahina dan Sekar Ayu Ningrum berjalan ke tengah ruangan.


Ketika sampai di tengah ruangan, mereka berdua merasakan ada beberapa getaran energi yang berasal dari belakang singgasana.


"Selamat datang di tempat ini anak muda," kata seorang perempuan cantik berusia empat puluhan yang mengenakan jubah berbulu tebal. Di belakang perempuan itu, berjalan di belakangnya dua orang perempuan kembar yang masih berusia muda.


"Siapa kalian ? Ada urusan apa kalian di sini ?" tanya Lintang Rahina.


"Rupanya kalian tidak suka basa basi," jawab perempuan berjubah itu, "Namaku Gulizar. Mereka berdua yang berdiri di belakangku adalah wakil wakilku yang bernama Akasma dan Lunara. Kami dari daratan besar di kaki Himalaya."


"Apa kepentingan kalian di sini ?" tanya Lintang Rahina.

__ADS_1


"Kami akan mengambil pohon keabadian dan memindahkannya ke puncak Himalaya," jawab Gulizar, "Pohon yang tumbuh di ruangan luas di samping itu adalah pohon keabadian milik kami yang hilang selama berabad abad."


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ 0 \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2